Nillaku

Nillaku
Nillaku 218 Grizelle membujuk Vanilla yang menyendiri di kamar


__ADS_3

Karina membuka pelan pintu kamar. Ia tak melihat sosok suaminya di atas ranjang, di sofa, dan di kamar mandi pun tak ada suara aktifitas.


Matanya beralih pada balkon kamar mereka. Pintunya tertutup, Ia membuka tirai dan barulah Ia bisa melihat Thanatan yang berdiri membelakanginya.


Karina menghampiri Thanatan dengan langkah pelan. Ia berdehem untuk memperoleh atensi sang suami.


"Aku kira kamu tidak pulang sekarang. Aku dan Ibu sengaja mengajak Grizelle datang kesini saat kamu tidak ada,"


Thanatan yang sedang menyesap nikotin, menghembuskan asap dengan tenang sebelum bertanya, "Kenapa?"


"Aku tidak ingin Grizelle tahu bahwa kamu sebenarnya kurang nyaman bila dia datang,"


"Aku tidak nyaman?" tanya Thanatan seraya tersenyum miring. Memang selama ini Ia kelihatan tidak nyaman?


Flashback on


"Kakek, boleh temani aku belajal (belajar) sepeda? aku bawa sepeda ke sini,"


"Sendiri saja. Kakek banyak pekerjaan,"


Hanya mendengar satu kalimat bernada dingin itu saja, Grizelle langsung melangkah mundur, berbalik keluar dari ruang kerja kakeknya.


*****


"Kakek, kita makan belsama (bersama) ya?"


Thanatan hanya mengangguk, dan membiarkan anak itu naik dengan susah payah ke atas kursi setelah sebelumnya Grizelle menggeser kursi tersebut agar lebih dekat dengan dirinya.


"Mau kakek suapi?" tanya Thanatan dengan datar. Raut wajahnya yang tidak tersenyum hangat, layaknya orang yang sedang menawarkan, Grizelle rasa ada baiknya Ia tidak disuapi kakeknya walaupun Ia ingin sekali.


"Tidak usah, Kakek. Aku makan sendili (sendiri) saja,"


"Kakek, kemalin (kemarin) aku melewati exam dengan baik. Nilaku juga sudah kelual (keluar) Dan hasilnya bagus-bagus,"


Thanatan hanya berdehem menanggapi cucunya itu bercerita. Meski tanggapannya berbeda dari semua orang yang menjadi temannya bercerita, dimana kali ini Thanatan justru tidak menampilkan raut bahagia, tapi Grizelle tetap antusias bercerita.

__ADS_1


"Kakek, kapan hali (hari) kita belenang (berenang) ya,"


Lagi-lagi hanya anggukan yang diberikan Thanatan sebagai respon terhadap ucapan cucunya.


Tapi, diakhir pekan, Ia menyuruh istrinya untuk mengajak Grizelle datang ke rumah karena mereka akan berenang bersama.


Reaksi Grizelle sudah dalam bayangannya. Ia datang ke rumah dengan diantar Vanilla. Raut wajahnya bahagia sekali. Karena kakeknya jarang ingin menghabiskan akhir pekan bersamanya. Bahkan rela menemaninya berenang, memenuhi keinginannya tempo hari.


Thanatan mungkin memang tidak sebaik yang lain, tapi Ia juga seorang kakek yang memiliki rasa kasih sayang untuk cucunya sekalipun saat hadir ke dunia, Ia tidak begitu mengharapkannya. Ia tidak bisa sepenuhnya mengabaikan Grizelle. Sesekali, Ia akan bereaksi diluar dugaan Grizelle. Salah satunya adalah ini. Grizelle tidak menyangka kakeknya akan benar-benar mendengarkan keinginannya kemudian tidak lama memenuhinya. Permintaan sederhana, ingin berenang bersama saja.


Thanatan sudah menolak untuk menemani anak itu bersepeda. Ada rasa tidak tega bila harus menolak lagi.


Mereka berenang bersama. Saat Grizelle akan mencoba untuk melompat, Thanatan melarang. Karena Ia khawatir.


Namun Grizelle punya nyali dan penasaran dengan reaksi kakeknya bila Ia nekat memutuskan untuk tetap melompat ke dalam kolam berenang.


Dan saat itu juga Thanatan berusaha meraih cucunya yang ternyata bisa berenang. Melihat kepanikan di raut kakeknya yang selama ini sering memberikan ekspresi dingin, datar, dan tak tersentuh, Grizelle terkekeh.


"Jangan tertawa kamu! kenapa membuat kakek khawatir?! hah?!" Ia senang mengetahui bahwa kakeknya khawatir. Meskipun pada akhirnya Ia harus dimarahi sang kakek.


Ia yang memang memiliki sifat tak acuh seperti itu dipertemukan dengan orang yang sebelumnya tidak begitu Ia harapkan kehadirannya ke dunia karena Ia ingin cucu laki-laki, jadi Ia rasa wajar jika tidak selamanya Ia bersikap manis terhadap Grizelle. Tanpa dirinya sadari itu menyakiti Grizelle dan membuat anak itu selalu bertanya-tanya dalam hati kalau kakeknya mengabaikannya.


"Aku ini salah apa ya? telkadang (terkadang) Kakek baik, telkadang kakek galak. Tapi aku tahu, kakek sayang padaku,"


Flashback off


Thanatan mengakhiri penjelajahannya terhadap kilas-kilas momen yang pernah Ia lalui bersama Grizelle.


Tadi, anak itu benar-bebar membuat debaran lain dalam hatinya hadir. Disaat ayahnya sendiri mengatakan bahwa dirinya tak berharap lebih pada sosok Thanatan, tapi dengan yakinnya, Grizelle mengatakan bahwa Ia akan bahagia kalau punya kakek dua. Seolah mematahkan ucapan Jhico bahwa hanya dengan Raihan saja Ia sudah merasa bahagia.


Debaran aneh itu adalah debar terharu. Ia tak menyangka bahwa Grizelle akan bersikap begitu bijaksana menengahi ayah dan kakeknya.


"Aku harap kamu bisa lebih dewasa lagi menerima semuanya. Ingat usiamu, Thanatan. Sudah tua. Perbanyak kenangan bersama anak dan cucumu. Jadi, kalau kamu mati, kamu meninggalkan kesan yang baik untuk mereka," tukas Karina. Ucapannya terbilang kasar dan sudah sering sekali Ia mengatakan itu, namun tak ada yang berubah.


*****

__ADS_1


"Mumu, kita pelgi dinnel (pergi dinner) ya. Mumu kelual (keluar) ya,"


Grizelle mengetuk pintu kamar yang akan menjadi kamar adiknya. Di sanalah Vanilla berada sejak Ia tiba di rumah bersama Pupunya.


Jhico sudah mencoba untuk mengajak Vanilla keluar dari kamar itu. Tapi tidak ada hasil. Vanilla tetap nyaman di sana. Jujur Jhico khawatir. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak Ia harapkan pada istrinya. Namun saat Jhico akan membuka paksa pintu kamar itu, suara Vanilla terdengar dan itu membuat Jhico sedikit tenang.


Karena sebelumnya Vanilla tidak sedikitpun mengeluarkan suara meskipun Ia sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar seraya memanggilnya.


"Griz, tinggalkan Mumu sendiri ya," terdengar permintaan seperti itu dari dalam kamar.


Grizelle menghela napas pelan. Jujur, Ia keberatan dengan permintaan Ibunya. Ia tidak tidak tenang bila membiarkan Vanilla sendirian di kamar. Ia tidak tahu penyebab Vanilla memilih untuk menyendiri di dalam kamar adiknya.


"Hmm pasti Mumu lindu (rindu) adik. Biasanya kalau ke sini, pasti Mumu lindu dengan adik,"


"Mu, Pupu mengajak kita dinnel (dinner) di lual (luar) kapan lagi 'kan, Mu? aku mohon, Mumu kelual (keluar) ya. Mumu halus (harus) makan. Nanti sakit,"


Masih tak ada jawaban dari Mumunya. Kemudian Grizelle kembali berujar, " Kalau tidak mau dinner di lual (luar) ya sudah, kita dinnelnya di meja makan saja sepelti (seperti) biasa. Mungkin Mumu lelah ya kalau kita kelual (keluar)?"


Jhico setia berdiri di belakang anaknya, memperhatikan bagaimana putrinya itu membujuk sang Ibu.


Grizelle pasti sangat bingung kenapa Mumunya langsung mengurung diri bahkan sejak Ia dan Jhico tiba di kediaman mereka. Vanilla sudah tidak ada dimana pun. Dan Grizelle yakin Mumunya ada disuatu tempat yang sejak tidak jadi digunakan, menjadi sering dikunjungi Vanilla.


Setelah Jhico tak berhasil membuat Istrinya keluar dari kamar tersebut, tanpa diminta, Grizelle mengajukan dirinya untuk membujuk sang Ibu.


Grizelle mendongak saat pintu terbuka dan sosok Vanilla berdiri menjulang di hadapannya.


Grizelle berhasil membuat Vanilla yakin untuk keluar dari kamar setelah beberapa saat membutuhkan waktu untuk merenung sendirian.


"Mu, kita makan ya?"


Vanilla mengangguk tersenyum tipis. Grizelle melihat wajah sembab Vanilla. Namun Ia tak kuasa bertanya. Bukan waktu yang tepat, ujar anak yang sudah dewasa sebelum waktunya itu. Ia memposisikan dirinya di situasi Vanilla sekarang. Saat Ia sedih, menangis, Ia tidak ingin orang lain banyak bertanya. Karena terkadang lebih baik orang disekitar diam seolah tak tahu apapun daripada bertanya lalu belum tentu bisa menghilangkan kesedihan yang dirasakan.


 -------


Heyooo pembaca Nillaku. Kebanyakan yg baca Nillaku ini msh sekolah atau udh berkeluarga? trs menurut kalian keluarga si Icelle ini gmn?

__ADS_1


__ADS_2