Nillaku

Nillaku
Nillaku 178


__ADS_3

Saat itu, Adrian hanya sendirian berada di apartemen Vanilla dan Jhico, tanpa kakak dan adiknya. Setelah pulang sekolah, Ia langsung bergegas ke apartemen untuk bertemu dengan Grizelle karena kebetulan seminggu sebelumnya Ia tidak bertemu Grizelle sama sekali.


Keyfa pun hadir di apartemen. Ia dan Keyfa bermain bersama. "Adrian, aku pinjam mainan itu,"


"Ini mainan untuk anak laki-laki," ujar Adrian mempertahankan mainan kereta dan juga rel nya dari jangkauan Keyfa.


"Aku pinjam sekali. Kenapa kamu tidak baik seperti Griz? dia selalu meminjam kan semuanya mainan nya padaku,"


"Kamu bukan meminjam kalau dengan Griz, tapi kamu memaksa nya agar meminjamkan mainan yang kamu ingin,"


"Tidak, aku tidak memaksa nya,"


"Hmm..." Adrian bergumam seraya memutar bola matanya sehingga terlihat sangat menyebalkan.


Karena tidak dipinjamkan oleh Adrian, akhirnya Keyfa kembali mendekati Grizelle yang tengah sibuk memasukkan sebuah mainan berbahan lunak ke dalam mulut, beruntungnya semua barang-barang yang digunakan Grizelle sudah disterilkan oleh Vanilla.


"Ihh kenapa digigit, Griz? apa kamu lapar? bukankah tadi sudah diberikan susu?"


Keyfa merampas mainan lunak itu dari Grizelle dan akhirnya Grizelle pun menangis. Adrian yang tengah sibuk bermain langsung beranjak mendekati adik sepupunya, sementara Jhico yang tadi asik menonton pun langsung mengalihkan fokus pada anaknya yang menangis untuk ketiga kalinya.


"Kenapa, Griz?"


Jhico sengaja menyuruh mereka bertiga untuk bermain di ruang televisi saja agar Ia bisa memantau.


"Uncle, Keyfa merebut mainan Griz lagi sepertinya," ujar Adrian melihat Keyfa memegang apa yang sedari tadi dipegang oleh adiknya yaitu mainan berbentuk rubah dan berbahan lunak itu.


Jhico terlalu fokus menonton sampai tidak menyadari kalau Keyfa mengganggu Grizelle.


"Padahal aku sengaja meminta kalian tidak bermain di playground agar aku mudah memantau kalian,"


"Keyfa pulang saja lah. Kamu kenapa sih merebut mainan Griz terus? bawa mainan kamu sendiri dari rumah. Aku saja seperti itu,"


"Karena kamu laki-laki jadi tidak ada mainan untukmu di sini. Aku perempuan, sama seperti Griz. Jadi mainan nya bisa berbagi,"


"Ck! Keyfa---"


"Ssstt sudah-sudah," Jhico dengan sabar menegur mereka yang malah berdebat ditengah tangisan Grizelle.


"Dari tadi buat Griz menangis terus. Lagi-lagi karena mainan. Huh!"


Untuk menghilangkan rasa kesalnya, Anak kedua Devan dan Lovi itu memutuskan untuk lanjut bermain.


Keyfa mengembalikan mainan yang Ia kuasai pada Grizelle. "Ini mainan nya, Griz. Maaf, aku sudah membuatmu menangis,"


"Tidak apa, Keyfa. Grizelle sepertinya juga mengantuk jadi mudah menangis,"


Adrian melirik Jhico yang menjawab Keyfa dengan penuh ketenangan. Inginnya Adrian, Jhico menegur Grizelle agar tidak mengulanginya lagi.


Suara bel apartemen berbunyi. "Adrian, coba tolong dilihat siapa yang datang,"


"Iya, Uncle."


Adrian segera berlari menuju pintu. Vivy ada di depan pintu, tersenyum padanya. Adrian menghela napas," Aku kira Aunty Vanilla yang datang. Ternyata Ibu nya Keyfa," gumam nya.

__ADS_1


"Adrian, Keyfa dimana? sudah waktunya Ia pulang,"


"Ada di dalam, Ibu. Silahkan masuk dulu, nanti aku panggilkan Keyfa,"


Meskipun Ia kesal dengan Keyfa tapi tetap orangtua Keyfa dihormatinya, karena memang itulah pesan kedua orangtuanya selama ini agar menghormati semua orang.


Adrian memanggil Keyfa yang sudah kembali membaik dengan Grizelle. Sepupunya ternyata tidak ingin tidur. Padahal kata Jhico, Ia sepertinya mengantuk.


"Keyfa, Ibumu sudah datang untuk menjemput,"


"Hah? benar?"


"Iya lah, untuk apa aku berbohong," ujarnya setengah menggerutu.


Keyfa segera berpamitan pada Jhico karena memang hanya Jhico saja yang sedang berada di apartemen itu, sementara Vanilla belum pulang dari kampusnya.


"Bye, Griz. Muach," Keyfa mencium Grizelle di pipinya bergantian kanan dan kiri lalu puncak kepala Grizelle juga.


Ia terlalu gemas dengan Grizelle yang akan berpisah dengannya sekarang. Sebagai salam perpisahan sebelum Ia benar-benar pulang, Ia mencubit pipi Grizelle hingga Grizelle kembali menangis. Adrian melihat apa yang Ia lakukan itu.


"Keyfa, kenapa kamu mencubit Griz?"


"Astaga," Jhico jengah sendiri melihat anaknya lagi-lagi menangis dan itu kembali karena Keyfa.


"Aku gemas,"


"Tapi kamu sudah berlebihan mencubitnya. Itu bukan gemas lagi, tapi memang sudah niat menyakiti nya. Iya 'kan?"


"Yang aku lihat, kamu bukan gemas lagi tapi memang sudah berniat untuk membuat adikku menangis,"


"Tidak---"


"Keyfa, Ibumu sudah menjemput 'kan? silahkan pulang," Jhico mengatakan hal itu seraya tersenyum dan menenangkan anaknya.


"Iya, aku pulang dulu ya Kakak dokter, Griz, Adrian. Bye..."


Ia beranjak ke ruang tamu dimana Vivy menunggu sejak tadi. Jhico dan Adrian turut mengantar Keyfa sampai di luar pintu unit apartemen.


"Griz kenapa menangis?" tanya Vivy begitu melihat Grizelle menangis hingga napasnya tersengal.


"Karena anak Ibu. Katanya Ia mencubit pipi Griz karena gemas, tapi aku lihat kencang sekali mencubitnya. Entah benar karena--" ucapan Adrian disela oleh Jhico.


"Tidak apa, Ibu. Griz hanya sedang mengantuk saja jadi beginilah,"


Adrian menggertakan gigi nya kesal karena Jhico tidak membela Grizelle. Ia tidak menegur Keyfa sejak tadi padahal jelas-jelas Keyfa itu sudah keterlaluan pada Grizelle.


******


Adrian menceritakan semuanya pada sang kakek selama di perjalanan. Raihan mendengarkan apa yang disampaikan cucunya dengan seksama lalu menanggapi dengan dewasa. Adrian kesal dengan Keyfa karena Ia merasa Grizelle disakiti.


"Keyfa hanya gemas dengan Griz artinya dia juga menyayangi Griz. Jangan lagi kesal dengan Keyfa. Kalian bisa berteman dengan baik, Adrian."


Adrian menggeleng keras kepala. Ia enggan sekali berteman dengan Keyfa. Kecuali kalau Ia sudah melihat secara langsung Keyfa benar-benar menyayangi Grizelle.

__ADS_1


Raihan mengantar cucunya ke rumah. Senata dan Lucas terkejut mendapati Adrian sudah pulang.


"Adrian tidak jadi ke rumah Aunty Vanilla?"


"Tidak jadi, aku mau di sini saja," jawabnya dengan singkat lalu segera berlari masuk ke dalam rumah. Lucas menatap Raihan yang menghembuskan napas pelan seraya menggeleng pelan melihat tingkah Adrian.


"Dia sedang kesal dengan seorang anak. Dan tadi Ia bertemu dengan anak itu,"


"Bertemu siapa?"


"Tanyakan langsung padanya. Aku juga kurang mengenal anak bernama Keyfa itu,"


Lucas mengangguk. Lalu Ia melepas kepergian Raihan sementara Senata menghampiri Adrian yang duduk di sofa dan menyalakan televisi.


"Ada apa denganmu, Adrian? tadi berangkat latihan sepak bola baik-baik saja,"


"Aku tidak suka Keyfa datang ke rumah Griz lalu bermain dengan Griz. Nanti dia membuat Griz menangis lagi. Untuk apa dia datang? dia bukan siapa-siapa tapi kenapa sering sekali bertemu Griz,"


Senata mengusap kepala cucunya yang menggerutu. "Sudah, jangan marah-marah begitu. Tadi latihan nya bagaimana?"


Senata mengalihkan pembahasan. Adrian akan semakin kesal kalau Ia tanyai lagi sekarang.


"Ya begitulah, Grandma. Daddy belum pulang bekerja ya?"


"Su--"


"Hey, Boy."


Devan datang dari arah belakang Adrian dan langsung mencium kepala belakang putra keduanya. Lelaki yang terlihat segar usai mandi itu, duduk di samping anaknya.


"Kakak dan adikmu dimana? kenapa kamu tidak pulang bersama mereka? Mommy juga seharusnya bersama kalian. Dan apa kamu tidak jadi datang ke rumah Griz?"


"Tidak jadi, aku pulang diantar Grandpa Rai,"


Adrian menjawab berbagai pertanyaan Devan hanya dengan satu kalimat. Hal itu membuat Devan bingung, ditambah lagi dengan raut wajahnya yang gelap.


"Okay, Daddy tahu kamu sedang kesal entah dengan siapa. Bagaimana kalau sekarang kamu berenang saja?"


"Hey jangan-jangan. Adrian baru latihan sepak bola. Nanti dia kelelahan, Devan." cegah Senata yang khawatir Adrian akan kelelahan bila berenang sekarang padahal sebelumnya berlatih sepak bola.


"Berenang dengan Daddy?"


"Daddy sudah mandi,"


Lucas kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil Raihan meninggalkan pekarangan. Ia langsung mengajukan diri ingin menjadi teman Adrian untuk berenang sekarang.


"Ayo, kita berenang bersama. Kebetulan Grandpa belum mandi, kamu juga 'kan? tadi kita hanya berganti baju saja setelah latihan,"


Adrian mengangguk dan berlari menuju kolam renang. Ia membuka bajunya lalu melompat ke dalam kolam, disusul oleh kakek nya.


 --------


Hai hai temu lg sama Adrian, si temen gelut nya Auris😂 ada yg kangeun?

__ADS_1


__ADS_2