
Bermain dengan boneka hidupnya yang bernama She adalah satu kegemaran untuk Grizelle yang terbilang belum lama.
Grizelle akan mengikuti kemanapun kucing itu berjalan. Ketika Ia bersembunyi, Grizelle akan mengeluarkannya.
"HEEEII SAKIT-SAKIT,"
She mungkin merasa geram karena diikuti terus. Saat Ia bersembunyi di dekat kaki sofa, Grizelle lagi-lagi meraihnya ke dalam gendongan. Maka Ia cakarlah kulit tangan Grizelle hingga anak itu berteriak dan segera melepaskan She.
Rena yang sedang memperhatikan cucunya bermain itu langsung saja bergerak menghampiri.
"Ya ampun, berdarah begini,"
Reja segera mengobatinya. Berutung hanya ada tiga goresan dan yang mngeluarkan darah hanya satu goresan saja.
Rena berdecak memarahi hewan berkaki empat yang menggenaskan itu.
"Kamu benar-benar keterlaluan, She. Berani sekali menyakiti cucuku ya,"
Saat Rena akan mengincar She yang masih bermain saja, Grizelle langsung menahan langkah neneknya.
"Grlandma jangan dimarrlahi (dimarahi) She tidak salah,"
"Tidak salah bagaimana? dia membuat kamu terluka begitu,"
Dalah hati Rena bahkan sudah memaki She. Sebab Ia benar-benar kesal karena She sudah membuat Grizelle terluka.
"Mau Grandma tarik telinganya itu. Dia nakal sekali,"
"Jangan, Grlandma. Itu namanya penyiksaan,"
"Tapi tidak kencang biar dia jera saja,"
"Jangan, tidak boleh," Grizele bersikukuh tidak mengizinkan Rena melakukan itu sekalipun katanya tidak menyakiti tapi tetap saja Ia tidak mau melihat neneknya marah pada hewan.
"Yasudah, kalau hewannya tidak boleh Grandma marahi. Maka yang punya saja yang akan Grandma marahi,"
Dengan langkah cepat Rena menghampiri ruang kerja suaminya dimana sosok pemilik She berada.
Grizelle mengikuti, Ia melarang Neneknya untuk mengganggu sang kakek.
"Grlandma jangan. Tidak bokeh marralahi Grlandpa (marahi Grandpa)," kata Grizelle pada neneknya.
Rena tetap masuk usai mengetuk pintu. Tapi sebelum itu Ia menyahuti ucapan Grizelle. "Semuanya tidak boleh kamu marahi. Kucingnya, pemiliknya juga. Tidak bisa! Grandma harus katakan pada Grandpa agar segera membawa She kembali ke tempat tinggalnya dan biar Grandpa tahu kalau kucing itu sudah melukai cucunya,"
__ADS_1
Raihan mengangkat pandangannya dari laptop setelah mendapati pintunya terbuka dan menampilkan sosok Rena diikuti Grizelle.
"Ada apa?" tanya lelaki itu yang membuat Rena mendengkus. Rena meraih tangan cucunya yng sudah diobati kemudian ditunjukkannya pada sang suami.
"Tanganmu kenapa, Sayang?"
"Tanya pada kucingmu itu,"
Alis Raihan bertaut bingung. Masih belum mengerti dengan ucapan istrinya yang secara mengejutkan datang ke ruangannya, memperlihatkan luka Grizelle kemudian membawa She dalam pembicaraannya.
"Dia yang mencakar Icelle sampai begini,"
"Astaga"
Raihan segera bangkit menarik cucunya agar mendekat. Wajahnya cemas sekaligus merasa bersalah. Grizelle justru tersenyum. Bukan malah meringis padahal Raihan tahu itu lumayan menyakitkan untuk Grizelle. Sebab sampai mengeluarkan cairan berwarna merah segar.
"Akan aku kembalikan dia," ujr Raihan seraya bangkit dari kursinya. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari kucingnya yang tadi bermain diruang tamu tapi She tidak bisa diam. Entah dimana dia sekarang.
Grizelle dan Rena mengikuti Raihan. Grizelle langsung ikut mencari begitu kakeknya bertanya padanya mengenai keberadaan She.
"Tadi aku lepas di sini,"
Katannya menunjuk lantai dimana Ia melepas She tepat di dekat sofa.
Grizelle membuka-buka bantal sofa yang ternyata benar dijadkan tempat untuk memejamkan mata bagi She. Kucing itu tidur dibalik bantal sofa. Grizelle terkekeh mendapati She terkejut sebab bantal yang menutupinya diangkat olehnya.
Grizelle menunjuk hewan itu pada kakeknya yang dengan sigap menggendong She dan membawanya kembali ke tempat tinggal untuknya.
"Erghh akhirnya dia dikembalikan. Kesal sekali Grandma melihatnya," gerutu Rena menta suaminya yang sudah berjalan membawa She.
Grizelle tertawa geli. Memang kelihatan sekali Rena kurang menyukai hewan kemudian ditambah lagi hewan itu baru saja melukai cucunya.
"Kamu itu jangan nakal, She. Cucuku baik padamu 'kan? errgh berani sekali kamu menyakitinya,"
Raihan bermonolog sembari meletakkan She di tempatnya kemudian Ia menguncinya sebelum Ia kembali pada Rena dan Grizelle.
"Grlandpa sebenarlnya (Grand sebenarnya) aku yang salah, Aku mengikuti She kemanapun dia berrlmain (brmain) mungkin she kesal denganku," jelas Grizelle pada kakeknya yang kini memperhatikan lukanya lagi.
"Tetap saja dia galak pdamu," kata Raihan yang tidak bisa berhenti lesal pada apapun yang menyakiti cucunya sekalipun iu kucing menggemaskan.
"Ini masih perih?"
"Tidak, Grlandpa,"
__ADS_1
"Makanya jangn diajak bermain lagi. Tadi Icelle sampai berteriak saat dicakarnya. Beruntung Icelle melepaskan gendongannya. Kalau tidak, badan cucuku sudah penuh dengan coretan abstrak She,"
Grizelle terkekeh menggeleng merasa tidak mungkin She sejahat itu padanya. Tadi She sedang kesal saja. Biasanya dia baik dan aktif. Tidak sampai melukai.
"Kasihan cucu Grandpa. Sakit tangannya. Aduh gimana kalau Mumu dan Pupu tidak bolehkan Icelle bermain dengan She lagi setelah ini,"
"Jangan bilang Mumu dan Pupu kalau She habis nakal,"
Raihan dan Rena terkekeh pelan melihat Grizelle yang berbicara sangat pelan dan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.
"Okay, Grlandpa Grlandma?"
"Tapi ini pasti akan berbekas," ujar Raihan.
"Iya, besok sudah bertemu Mumu dan Pupu," sahut Rena yang tidak yakin luka di tangan anak ini tidak luput dari perhatian kedua orangtuanya. Mererka berdua pasti menyadari kalau Grizelle habis dicakar. Sebab bentuk lukanya kelihatan sekali.
*****
Jane tadinya masuk ke kamar ingin istirahat tapi karena telepon dari suaminya masuk, maka Ia harus mengurungkan keinginannya itu.
Tapi pikirnya bagus Richard menghubunginya sekarang sebab Ia ingin bicara dengan laki-laki itu perihal rumah yang akan Ia beli.
"Hallo, Jane. Aku mengganggu istirahatmu?"
"Tidak, kebetulan kamu menghubungiku. Ada yang ingin aku tanyakan,"
"Apa itu, Sayang?"
"Aku sudah menemukan rumah yang menarik untukku dari desain sampai harga yang ditawarkan. Aku ingin meminta pendapatmu karena Vanilla dan keluargaku juga memintaku untuk meminta pendapatmu sebelum aku membelinya,"
Richard mendengar dengan seksama kalimat demi kalimat yang dikatakan istrinya.
Jane menanyai pendapatnya tentang rumah itu? bolehkan Ia mengatakan bahwa Ia tidak setuju Jane tinggal di sana, tidak di sampingnya.
"Aku akan kirimkan fotonya padamu. Aku dan Vanilla sudah melihatnya langsung dan aku---"
"Kalau aku tidak setuju kamu membelinya bagaimana? kamu keberatan mendengarkan pendapatku?"
Jane langsung terdiam ketika suaminya menyela kalimatnya yang belum selesai diucapkan seluruhnya.
"Aku tetap akan membeli," lugas Jane yang membuat Richard tersenyum tipis.
"Lalu untuk apa meminta pendapatku kalau pada akhirnya kamu tetap keras kepala dengan pilihanmu sendiri?"
__ADS_1
Jane berdecak, apa suaminya lupa pembicaraan mereka sebelum Ia pergi?
"Aku sudah katakan, aku tinggal di rumah yang sudah aku beli lalu kalau memang kamu ingin datang ke rumah itu, aku akan menerima kamu. Jadi maksudku, yang bertahan di sana hanya kamu saja. Aku akan kembali menetap di sini,"