Nillaku

Nillaku
Nillaku 381 Kabar tentang jenis kelamin adik Grizelle disambut bahagia


__ADS_3

"Itu dengarkan apa kata Daddy. Jangan marah-marah terus,"


"Berisik kamu," Adrian menyorot tajam adiknya yang bicara seperti itu padanya.


"Sudah ssekarang waktunya Mommy yang bicara,"


Devan, dan ketiga putra putrinya langsung berlaih padanya yang kini memasang wajah serius. Mereka penasaran dibuat Lovi.


"Kenapa, Mom?" Auristella bertanya tidak sabaran. Apalagi melihat Lovi yang kini seperti ingin berseru tapi ditahannya.


"Kenapa, Lov? kamu jangan buat aku penasaran. Kenapa? kamu mengandung lagi?" seringan itu Devan bertanya. Langsung saja Lovi mendorong wajah suaminya dengan kesalĀ  Ia meletakkan tangannya di kening sang suami kemudian mendorongnya pelan.


"Bukan, Sayang!"


"Lalu apa? cepat beri tahu kami," sesak suaminya yang membuat Lovi terkekeh geli.


"Eh sebentar-sebentar. Aku juga ingin memberi tahu sesuatu,"


"Apa itu? Auris saja dulu yang bicara," kata Lovi mempersilahkan anaknya dulu yang bicara, memberitahukan sesuatu.


"Adiknya Icelle perempuan," Aueistella berseru memberi tahu. Adrian langsung menyoraki dan itu membuat Auristella bingung. Seharusnya Ia disambut dengan antusias. Kenapa malah disoraki oleh kakaknya itu?


"Aku sudah tahu! terlambat beri tahunya! Huuuu turunkan Auris dari sini, turunkan!"


Devan terbahak melihat kelakukan Adrian yang kini masih menyoraki bahkan sampai berdiri di atas ranjang dan menunjuk adiknya. Semangat sekali ia menyoraki adiknya.


"Sudah, jangan begitu. Nanti bertengkar," Lovi menarik tangan anaknya agar kembali duduk dan berhenti mengejek adiknya itu yang Ia anggap terlambat memberi kabar tentang jenis kelamin adiknya Grizelle.


"Turunkan!" Adrjan masih mengejek dan itu membuat dada Auristella panas sekali. Ia meraih bantal kemudian melemparnya pada sang kakak.


"Hah bertengkar nanti. Terus ya, lanjutkan, nanti yang ada dua-duanya Daddy turunkan dari sini,"


"Turunkan bagaimana maksudnya, Dad?"


"Ya diturunkan dari sini, dari ranjang,"


Adrian terkekeh mendengar penuturan sang ayah. Ia menjulurkan lidahnya pada Auristella.


"Mom, Dad, lihat itu! Ian masih mengejekku," Auristella menunjuk wajah kakaknya yang langsung normal lagi, tak menjulurkan lidahnya lagi. Sebab kedua orangtuanya tengah menatap ke arahnya.


"Huuu!" Auristella menubruk tubuh kakaknya dan memeluk erat hingga kakakanya merasa sesak dan mengusir.


"Jangan memelukku! Auris menyingkir!"

__ADS_1


Sengaja Auristella tetap memeluk erat kakaknya agar Ia kesal. Sebagai balasan tadi sudah mengejeknya.


"Tidak mau,"


Lovi dan Devan hrus turun tangan sebelum terjssu persng dunis. Takutnya kalau Adrian sudah kelewat kesal, Ia mengusir Auristella dengan cara yang kasar.


Auristella dan Adrian berhasil dipisahkan. Adrian menatap tajam Auristella. Geram sekali dengan adiknya yang menggemaskan ini.


"Kalau Mommy mau bicara apa tadi?" tanya Andrean mengalihkan. Sakit kepalanya menyaksikan perdebatan kedua adiknya. Lebih baik mendengar sesuatu hal yang memang ingin sampaikan mommy tadi.


"Sebenarnya yang mau Mommy bicarakan itu sama seperti yang dikatakan Auris,"


"Oh tentang adiknya Icelle?"


Lovi mengangguk membenarkan pertanyaan anak tertuanya. "Jadi adik sepupu kalian perempuan, Sayang,"


"Iya, aku senang sekali saat mendengarnya,"


"Nanti semoga kalau Aunty dan Uncle punya anak lagi jenis kelaminnya laki-laki,"


Lovi dan Devan mengamini ucapan Adrian yang sepertinya masih mengincar adik laki-laki supaya tak hanya Auristella saja yang pasukannya bertambah, tapi dirinya juga.


******


Beberapa lama terdiam menikmati makan malam, Grizelle akhirnya mengeluarkan suara. Ia melaporkan pada Pupunya mengenai undangan yang ia lihat tempo lalu di ponsel Mumunya.


"Siapa yang menikah, Nilla?"


"Renald, Jhi,"


Alis Jhico bertaut. Ia baru tahu mengenai hal itu. Vanilla belum bicara padanya mungkin sedang menunggu waktu yang tepat atau Vanilla lupa.


"Kamu bilang dia sudah menikah?"


"Ya mungkin foto yang aku lihat waktu itu baru tunangan. Hmm...kalau tidak salah kurang dari satu minggu acara pernikahannya berlangsung. Kita diundang, Aku ingin memberi tahumu, tapi aku lupa," kata Vanilla menjelaskan agar suaminya tak penasaran dan menganggap Ia tidak mau cerita.


"Makanya aku yang bicarrla (bicara) pada Pupu karrlena (karena) takutnya Mumu lupa lagi,"


Grizelle menepuk keningnya pelan. Kemudian Ia tersenyum menatap ayahnya juga menatap padanya.


"Pupu bolehkan Mumu datang?kalau Mumu datang, aku juga mau ikut datang ya? aku mau ke pesta," kata anak itu dengan sorot permohonan.


Jhico mengangguk, tentu saja Ia mengizinkan Vanilla dan datang bersama anaknya tapi Ia pun akan datang. Tidak akan membiarkan mereka berdua saja.

__ADS_1


"Pupu akan datang juga,"


"Yeayy okay, Pu. Jangan lupa ya. Satu minggu lagi tadi kata Mumu,"


"Iya, nanti Mumu pasti ingatkan Pupu lagi,"


"Kenapa Kakak Icelle mau datang juga?"


"Aku 'kan senang datang ke pesta,"


"Apalagi ke pesta teman Mumu," imbuhnya.


*****


"Kenapa masuk ke dalam? tersinggung dengan perkataan keluargaku ya?"


Jane berusaha tersenyum. Tanpa Ia mengangguk Richard pasti tahu kalau ia tengah merasa tersinggung akibat ucapan sinis keluarganya yang seolah menyalahkan Ia yang belum bisa memberikan keturunan.


Suaminya, Richard mendekat. Ia duuk di samping Jane. Kemudian merengkuh Jane dengan hangat.


"Lagi-lagi aku hanya bisa menenangkan kamu. Aku minta jangan jadikan ucapan mereka sebagai tombak yang menyakitimu. Anggap saja angin lalu. Kita juga masih berusaha," kata Jane yang tanpa menyadari kalau air matanya sudah mengalir cukup deras. Ricjard memejam, merasakan sakit juga ketika melihat istrinya seperti ini.


"Kenapa ya, kita belum juga diberikan keturunan. Sementara Vanilla saja sudah punya dua. Aku kapan ya, Ri,"


"Ssttt,"


Richard berdesis melepas pelukannya kemudian merangkum wajah istrinya, menghapus air mata di sana.


"Jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang lain. Kamu akan lelah sendiri, karena sampai kapanpun setiap manusia itu pasti diciptakan berbeda-beda oleh tuhan. Tidak bisa disamakan. Ini ujian untuk kita. Sementara ujian Vanilla dan Jhico, kita tidak tahu apa,"


Jane menggeleng pelan. Ia merasa begitu ingin memiliki anak. Vanilla sepupunya yang dulu begitu dekat dengannya tapi kini terpaksa jauh sebab Ia harus mengikuti suaminya, sudah akan memiliki dua anak. Sementara Ia satu saja belum. Padahal pernikahannya sudah hampir sama dengan usia pernikahan Jhico dan Vanilla.


"Kita pindah saja ya? aku ingin dekat dengan keluargaku," Jane menangis lagi. Merasa bahwa di sisi keluarga lebih baik daripada di belahan dunia yang sedang ia tempati kini dimana Ia mendapat lebih banyak rasa sakit. Keluarga Richard semakin sinis saja padanya.


"Aku tidak bisa,"


"Bisa, Ri. Kamu bisa bekerja di sana. Kenapa kamu begitu nyaman di sini? sementara aku ingin sekali kembali. Sudah cukup lama juga kita di sini,"


Richard menghela napas pelan. Sudah berulang kali Ia menjelaskan pada Jane mereka tak bisa pulang untuk saat ini sebab pekerjaannya semua ada di sini.


"Kalau begitu, aku saja yang kembali ke sana ya? Kamu bisa mengunjungi aku kapanpun di sana. Atau, aku yang akan datang ke sini. Yang terpenting aku tidak--"


"Jangan kekanakan seperti ini, Jane. Kamu hanya perlu tutup telinga kalau kamu merasa terganggu,"

__ADS_1


Richard keluar dari kamar meninggalkan Jane yang semakin terisak. Sudah disakiti keluarganya, kini suaminya pun demikian. Tak mengerti perasaannya dan selalu melindungi keluarganya dan memaklumi apa yang mereka lakukan terhadap Jane.


__ADS_2