Nillaku

Nillaku
Nillaku 382 Vanilla dibuat terkejut saat Jane mengatakan ingin kembali


__ADS_3

"Kakak Icelle, hei, turun-turun,"


"Itu ada serrlangga (serangga) naik, kasihan dia terrljebak (terjebak), Mu,"


Grizelle menunjuk almari pakaiannya dimana ada serangga menempati celah pintu almari. Menurut Grizelle dia terjebak karena serangga itu tidak kunjung pergi meskipun sudah Ia suruh pergi dengan cara melemparinya menggunakan boneka.


Vanilla yang akan memberi tahu pada anaknya bahwa sang ayah sudah pulang, dibuat terkejut ketika melihat anaknya itu naik ke atas kursi berhadapan dengan almarinya. Meskipun Ia telah menggunakan kursinya untuk belajar, tapi tetap saja Grizelle tidak akan bisa mencapai serangga itu.


"Icelle turun!" titah Vanilla lebih tegas lagi yang langsung membuat Grizelle menurut. Anak itu turun dari kursi tapi maaih menatap serangga yang masih nyaman di sana.


"Bisa-bisanya kamu naik ke atas sana dengan kondisi kaki yang belum sepenuhnya sembuh,"


"Tapi kasihan dia, Mu. Dia terrljebak (terjebak) itu,"


"Ya sudah, biarkan saja. Dia tidak terjebak memang ingin diam saja di sana"


"Itu Pupu sudah pulang," imbuh Vanilla agar anaknya tak lagi memedulikan serangga itu.


Akan Ia minta pada siapapun agar mengusir serangga tersebut yang takutnya menggigit Grizelle berhubung serangganya ada di kamar sang putri.


"Sayang, Pupu pulang. Tidak menyambut Pupu?:


Jhico menghampiri kamar anaknya dan langsung bicara seperti itu pada putrinya.


"Pupu,"


Grizele terbiasa berlari maka saat ia akan lari ke arah Jhico, Jhico langsung menatapnya penuh peringatan.


"Kakimu belum sembuh," ujar lelaki itu pada anaknya yang langsung mengangguk pelan.


Jhico masuk ke dalam dan ia mengerinyit saat melihat kursi di depan almari.


"Kursinya kenapa di sini? Icelle belajar di depan almari?"


"Bu--"


"Dia naik ke atas sana, Jhi, untuk membantu serangga yang katanya terjebak," belum sempat Grizelle menjawab, Vanilla sudah mendahului.


"Serangga terjebak?"


"Iya, di sana, Pu,"


Grizelle menunjuk serangga yang masih ada di cela pintu almari miliknya.


"Ya ampun, untuk apa kamu sampai naik ke tas kursi, Grizelle? hmm? tahu 'kan bahwa itu berbahaya. Dan kakimu belum sembuh. Harus bagaimana Pupu memberi tahumu agar mengerti ya,"


Sudah terlampau kesal dengan Grizelle yang tak jarang membuatnya khawatir.


"Iya, maaf, Pu. Habisnya aku kasihan pada serrlangga (serangga) itu,"


Grizelle mendekat pada ayahnya ingin memeluk tapi Jhico melarangnya sebab Ia belum membersihkan tubuh sehabis pulang bekerja.


"Haaa Pupu tidak usah menemui aku dulu kalau belum boleh aku peluk," rengeknya tak terima ketika Jhico bergegas ke kamarnya.


"Sebentar, Sayang,"

__ADS_1


Vanilla mengajak anaknya keluar dari kamar tapi sebelum itu, Ia mengembalikan kursi yang digunakan Grizelle tadi ke tempatnya.


"Aku ada tugas,"


"Tugas apa? perlu bantuan Mumu?"


"Hmm tidak. Nanti saja diselesaikannya kalau sudah makan,"


Vanilla dan Grizelle menunggu Jhico selesai mandi barulah mereka makan bersama.


Vanilla mengambil ponselnya terlebih dahulu di kamar kemudian mengajak anaknya untuk ke ruang makan.


"Mumu, nanti aku mau minum yang dingin itu ya,"


Tanpa mengatakan secara langsung bahwa yang ia maksud itu ice cream, tapi Mumunya pasti paham.


"Ya, tapi besok siang pulang sekolah,"


"Haa sekarrlang, Mu,"


"Sekarang kita lagi mau makan malam,"


"Tapi aku mau sekarrlang (sekarang),"


Grizelle masih merengek pada Mumunya yang tetap dijawab dengan geleng tegas oleh Vanilla.


Akhirnya Grizelle cemberut tapi ia tidak merengek lagi. "Kalau Mumu bolehkan besok, berarti harus besok,"


Wajah Grizelle kian mendung. Tapi Vanilla tidak peduli. Biarkan saja anaknya merajuk. Yang terpenting malam hari Grizelle tidak menikmati minuman dingin itu.


Layar ponsel Vanilla menyala dan juga terdengar getar. Ia menoleh untuk melihatnya.


"Mumu saja,"


Grizele masih jengkel rupanya karena dilarang untuk minum ice cream. Vanilla menatap datar pada anaknya yang langsung beringsut takut.


"Ya sudah, aku jawab,"


Vanilla lebih cepat meraih ponselnya, sehingga niat Grizelle yang akan menjawab panggilan itu, tidak terlaksana.


"Hallo, Jane, ada apa? tidak biasanya menghubungi aku lagi padahal baru beberapa hari yang lalu,"


Biasanya lama sekali mereka akan berkomunikasi tapi kali ini Jane kembali menghubungi setelah beberapa hari lalu bicara dengannya melalui sambungan telepon.


"Tidak apa, aku hanya ingin punya teman bicara saja,"


Vanilla mengerinyit dengan alis bertaut. Vanilla menduga ada yang sedang terjadi pada Jane sebab tak biasanya Jane seperti ini. Suaranya juga kefengaran serak.


"Ada apa?kamu bisa cerita padaku,"


"Vanilla, aku ingin sekali pulang ke sana,"


Jane akhirnya menangis. Selama ini kalau Ia merasa sedih atau tertekan, hampir tidak pernah bercerita pada Vanilla, Ia memilih bungkam sampai kondisi hatinya membaik kembali.


"Hei, ada apa sebenarnya?"

__ADS_1


"Aku ingin kembali ke sana,"


"Iya, tapi kenapa tiba-tiba menangis seperti ini, Jane?"


Vanilla melirik Grizelle yang kini menatap padanya, kelihatan penasaran dengan topik pembicaraannya bersama sepupunya.


Vanila akhirnya memilih bangkit, tak ingin anaknya mendengar cerita Jane atau tanggapan dirinya terhadap permasalahan yang akan disampaikan Jane.


Grizelle mengangkat alisnya saat Mumunya bangkit. "Huh, kenapa aku tidak boleh dengarrl (dengar) sih?" gumam anak itu.


Padahal Ia penasaran sekali kenapa Aunty Jane nya menangis. Sayang, Mumunya tidak mengizinkan Ia untuk penasaran.


Grizelle akhirnya sendirian di meja makan. Ia memainkan sendok dengan cara mengadunya dengan gelas hingga menimbulkan suara.


"Hmm lama lama lama lama. Pupu lama, Mumu juga lama. Aku sendirrlian (sendirian)," Ia bersenandung dengan lirik yang ia buat sendiri dan nada yang ia ciptakan sendiri juga.


"Lama-lama, aku sudah lapar. Lama sekali, oh lama sekali,"


Ting


Ting


Ting


Ia membuat irama dari ketukan gelas dan sendok. Sambil terus bersenandung pelan.


Sampai akhirnya Jhico datang dan tersenyum geli melihat anaknya yang seperti itu.


"Lama ya?"


"Iya, lama-lama sampai aku kelaparrlalan (kelaparan),"


Jhico terkekeh akhirnya. Ia duduk dan mengedarkan pandangan,"Mumu dimana?"


"Aunty Jane telepon Mumu. Jadi, Mumu sedang bicarrla (bicara) dengan Aunty Jane,"


Jhico menganggukkan kepalanya. Kemudian Ia mengajak anaknya untuk makan sekarang, tidak perlu menunggu Mumunya sebab entah sampai kapan Vanilla selesai bicara dengan Jane.


"Kakak Icelle kenapa tidak makan duluan saja tadi?"


"Tidak mau, aku lebih suka kalau berrlsama (bersama),"


Jhico tersenyum, meksipun lapar ternyata anaknya itu tetap mengutamakan kebersamaan.


******


"Aku besok berangkat,"


"Hah? secepat itu, Jane?kamu tidak bicara baik-baik dulu pada Richard?"


"Dia pergi saat aku mengatakan ingin pulang. Ya sudah, aku anggap dia mengizinkan. Biarkan saja lah dia di sini dengan keluarga yang selalu Ia maklumi itu sikapnya. Aku tidak nyaman lagi terlalu lama di sini. Kamu bayangkan Vanilla, aku ditekan karena belum memiliki keturunan untuk dijadikan pewaris keluarga mereka. Memang salahku kalau aku belum memiliki keturunan? aku juga ingin! aku ingin punya anak tapi belum diberikan. Aku harus bagaimana?"


"Astaga," Vanilla menggigit bibirnya ikutan cemas mengetahui permasalahn Jane.


"Jane, kamu harus bicara lagi pada Richard. Kalaupun memang kamu ingin kembali ke sini, pastikan Richard benar-benar memberi kamu izin. Lalu, kalau seandainya dia meminta kamu untuk kembali atau mungkin dia yang ingin menghampirimu saat kamu di sini, kamu harus terima itu,"

__ADS_1


"Aku tidak mau kembali lagi ke sini, kalau aku sudah pulang,"


"Jane, kamu ke sini hanya untuk menenangkan pikiran kamu. Tempat kamu itu ada di samping Richard. Mengerti maksudku 'kan?"


__ADS_2