
Grizelle mengenakan A-line dress berwarna biru dengan aksen ruffles di lengan dan bagian bawah. Sepatu dan bandana nya berwarna senada dengan dress nya. Sementara Jhico mengenakan suit berwarna hitam dengan kaus berwarna putih di dalamnya. Penampilannya malam ini tidak terlalu formal sebab bukan kemeja yang Ia pakai sebagai pembalut tubuh atletisnya sebelum suit.
Grizelle menolak untuk digendong oleh Jhico. Ia ingin berjalan sendiri, memperhatikan suasana di sekitar sembari mencari Mumu nya.
Jhico tahu anaknya kurang nyaman dengan situasi sekarang. Ditambah lagi anaknya itu sudah mengantuk. Saat ini sedang berlangsung sesi dansa. Entah berdansa dengan siapa istrinya itu, Jhico bingung.
"Untuk apa sih ada dansa sepelti ini, Pu? Mumu dansa dengan siapa? Pupu 'kan tidak ada,"
"Mungkin Mumu tidak berdansa,"
"Tapi sepeltinya (sepertinya) semua olang (orang) di sini beldansa (berdansa) dengan pasangannya masing-masing,"
Jhico dan Grizelle sedikit kesulitan mencari Vanilla karena semua orang di sana memang sibuk menari, menikmati lantunan lagu romantis yang sangat tepat sebagai pengiring gerakan dansa mereka.
"Itu sepelti baju Mumu, Pu."
"Yang mana?"
Grizelle menunjuk suatu arah dan Jhico langsung menatap yang ditunjuk buah hatinya itu. Ia bingung dengan Grizelle yang bisa hafal baju Mumu nya. Ia sendiri tidak pernah hafal karena memang baju istrinya banyak sekali. Tapi kalau dilihat dari postur tubuhnya yang sedang berdiri membelakangi mereka itu, sepertinya dia memang Vanilla.
"Aku hafal bajunya kalena itu seling (karena itu sering) dipakai Mumu. Itu salah satu baju kesukaan Mumu,"
"Ayo, kita ke sana, Pu."
Grizelle menarik tangan Jhico yang sedari tadi terus menggenggam nya. Grizelle merasa tidak sabaran untuk mengetahui apakah benar Ia adalah Mumunya karena sekarang Ia melihat perempuan yang Ia tunjuk itu sedang berdansa dengan seorang laki-laki.
"Mumu," panggilnya.
Perempuan itu menoleh, dan benar dia adalah Vanilla. Raut wajah Grizelle langsung berubah. Ia melirik tajam laki-laki yang sedang berhadapan dengan Mumu nya.
Rahang Jhico mengetat melihat istrinya berdansa. Ia merasa itu bukanlah hal yang pantas dilakukan oleh perempuan yang sudah menikah seperti Vanilla. Kalau memang tidak membawa pasangan, kenapa harus memaksakan diri untuk berdansa? Lagipula, kalaupun Vanilla tidak ikut dalam sesi dansa, Ia melihat tidak jauh dari keberadaan Vanilla sekarang ada beberapa orang yang berkumpul karena mereka tidak memiliki teman untuk berdansa. Vanilla seharusnya bisa bergabung dengan mereka, mengobrol, tanpa perlu ikut serta dalam sesi dansa itu.
"Griz, astaga kamu kenapa datang ke sini? ini sudah malam, Sayang."
Vanilla tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya atas kehadiran suami serta buah hatinya yang saat ini menatapnya penuh kekecewaan. Vanilla bisa melihat itu di sorot mata Grizelle. Padahal Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Apa yang membuat Grizelle kecewa?
"Jhi, kenalkan, dia Xendi rekan kerjaku. Dia merupakan salah satu bagian dari beauty shoes,"
Jhico dengan senang hati mengulurkan tangannya. Sekesal apapun suasana hatinya sekarang, secemburu apapun Ia, bersikap menghargai adalah prinsip Jhico.
"Xendi, Perkenalkan, Dia Jhico suamiku,"
Xendi menerima uluran tangan Jhico. Jhico tersenyum tipis padanya dan Xendi pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Griz, ini---"
"Namaku Gliz (Griz), lengkapnya Glizelle (Grizelle)," ujar anak itu namun Ia enggan untuk bersalaman. Ia hanya melambai singkat seraya mengucapkan kalimat sapa itu. Tapi Grizelle tetap tersenyum hingga mata nya yang bulat dan jernih itu sedikit menyipit.
"Mu, ayo kita pulang. Jangan lama-lama di sini. Sekalang (sekarang) sudah malam. Tidak baik pelempuan kelual malam-malam nanti ada yang culik,"
Vanilla terkekeh mendengar anaknya bicara seperti itu. Sementara Jhico melirik Vanilla dengan kesal. Grizelle sepertinya sedang menyindir Vanilla yang nyaman sekali berada di pesta padahal waktu semakin malam. Tapi Vanilla tidak menyadari hal itu.
"Kami pulang dulu, Xendi." ucap Vanilla.
"Sesi dansa nya belum berakhir. Apa kamu tidak ingin melanjutkannya bersama suamimu?"
Vanilla menatap suaminya yang langsung mengalihkan pandangan, tak ingin bertemu tatap dengan sang istri yang membuatnya kesal malam ini. Ia lelah, lalu datang ke sini untuk menjemput Vanilla meskipun memang Vanilla tidak meminta. Tapi yang Ia lihat malah membuat hatinya panas, tidak sesuai dengan cuaca malam ini yang begitu dingin.
"Tidak, kasihan anakku kalau terlalu lama di sini. Mereka datang untuk menjemput aku,"
Joana yang sedari tadi memilih berbincang dengan beberapa orang yang tidak berdansa, akhirnya memilih untuk menghampiri sahabatnya. Begitu ada di dekat Grizelle, Ia mengusap rambut Grizelle.
"Jo, aku pulang dulu ya,"
"Ya, hati-hati, Van."
"Bye, Aunty. Telimakasih sudah menjadi teman Mumu malam ini dan menjaga Mumu,"
Jhico berdecak pelan dalam hati. Entah kenapa hatinya mengatakan kalau Vanilla lah yang menenggak itu. Keputusannya untuk datang malam ini sangat tepat.
"Iya, sama-sama, Grizelle."
"Griz mau bertemu dengan Aunty yang baru saja menikah?"
"Iya, setelah itu kita pulang 'kan, Mu?"
Vanilla mengangguk. Ia mengajak Jhico dan Grizelle menemui sepasang suami istri yang menjadi penyelenggara acara dan baru saja meresmikan status mereka yaitu Ellin dan Youtha.
*******
"Jhi, sejak kita sampai di rumah, kamu diam saja. Kenapa sih?"
Vanilla baru selesai mandi dan sekarang Ia sedang duduk di hadapan cermin menggunakan skincare nya.
Jhico masuk kamar setelah melihat anaknya yang sudah tidur di kamarnya sendiri. Menjauhi Vanilla untuk saat ini adalah pilihan terbaik karena rasa kesalnya belum juga hilang. Ia pikir setelah Ia keluar dari kamar Grizelle, istrinya sudah selesai mandi dan tertidur. Ternyata tidak.
"Dia itu Xendi, yang kemarin meeting dengan aku. Dia---"
__ADS_1
"Kamu sudah jelaskan tadi,"
"Hmm...iya, jadi kamu jangan salah paham,"
"Aku hanya bingung saja. Banyak yang tidak ikut dansa karena mungkin mereka tidak membawa pasangan, tapi kenapa kamu memaksa? dan aku ingin bertanya, kamu minum alkohol tadi?"
"Dia mengajak aku, Jhi. Aku pikir, agar kami lebih akrab, tidak ada salahnya aku terima. Aku minum itu tapi tidak banyak,"
Jhico menghembuskan napas kasar. Tidak banyak tapi tetap saja itu artinya Vanilla belum sepenuhnya bisa lepas dari minuman itu. Padahal Ia sudah senang bertahun-tahun Vanilla tidak lagi meneguk nya.
"Lebih akrab dengan dia? oh iya, kalian terlibat kontrak ya? kamu tetap pada keinginan kamu ternyata, tidak menghiraukan larangan aku,"
"Kita sudah bicarakan ini sebelumnya, Jhi. Aku benar-benar menginginkan kerja sama itu,"
"Sampai tidak jadi menjemput Grizelle hanya karena meeting,"
"Tapi aku tetap menepati janjiku. Selesai meeting, aku menuruti keinginan Grizelle yang ingin ditemani olehku ke dokter gigi dan juga belanja," nada bicara Vanilla sudah berubah. Oleh sebab itu Jhico menatapnya tajam.
"Besok kamu ingat ada undangan untuk orangtua datang ke sekolah? ingat tidak? jangan katakan kalau kamu lupa,"
Jhico membuat mulut Vanilla terbungkam. Secepat kilat perempuan itu meraih ponselnya untuk memeriksa apakah besok ada jadwal untuknya pemotretan atau yang lainnya.
Ia menghela napas lega saat tidak menemukan jadwal pekerjaan apapun untuk besok. Ia segera meletakkan ponselnya lalu menatap Jhico.
"Aku lupa, tapi besok aku bisa datang,"
Jhico tersenyum tipis sembari menggeleng. Jadwal datang ke sekolah anaknya saja Vanilla bisa lupa padahal itu terbilang rutin sebagai cara sekolah untuk berkomunikasi dengan orangtua mengenai perkembangan putra putri mereka.
"Jangan sampai kamu lupa tanggal berapa anakmu lahir ya," sindir Jhico yang membuat Vanilla mendengkus. Vanilla menggertakkan giginya, menatap punggung suaminya yang kini bersiap untuk berbaring di ranjang.
"Menyebalkan sekali dia," gumam Vanilla yang kembali menghadap ke cermin.
"Kamu yang menyebalkan," sahut Jhico yang ternyata mendengar ucapan pelan istrinya.
"Kamu!"
"Lanjutkan terus nada bicara mu yang kencang itu, Vanilla."
Jhico memberikan peringatan melalui tatapannya yang tajam. Vanilla dan suaminya beradu pandang di cermin tapi posisi Jhico duduk di tepi ranjang. Vanilla segera menunduk saat suaminya itu terlihat kesal sekali karena Ia yang hilang kendali menimpali Jhico dengan nada bicara yang kencang.
"Lanjutkan juga mengonsumsi minuman itu dan kamu akan memberikan contoh yang buruk untuk anakmu sendiri,"
---------
__ADS_1
Hellawww semuaa. Akyuu dtg lageee seperti biasa. Udh baca ADDICTED blm? kemaren yg nungguin lapak itu Up siapa? hayoo ngaku. Cusss mampir ke sana yaa. Aku tunggu jejak kaliaaannn. Babaaayy🙋