
Andrean keluar dari mobil dengan menjinjing sebuah kanvas yang sudah dilukisnya. Ia baru saja pulang berlatih melukis, yang merupakan kegiatan rutin untuk setiap siswa yang memiliki bakat di bidang itu.
Andrean langsung bergegas masuk ke kamarnya. Ia tidak menemukan kedua orangtua nya dan Ia yakin mereka tengah bersama Auristella. Maka Ia putuskan segera membersihkan badannya. Tidak lama, usai mandi dan berpakaian Ia melangkah ke kamar adiknya.
Benar, adik-adiknya dan kedua orangtuanya sedang berada di sana.
"Hei Sayang. Sudah pulang ternyata. Bagaimana latihannya? Mana lukisan yang kamu buat?Mommy ingin melihatnya,"
"Sebentar, aku ambilkan,"
Andrean tidak membawa kanvasnya ke kamar Auristella. Maka ketika Mommy nya ingin mepihat hsil karyanya, Ia harus mengambilnya terlebih dahulu di kamar.
Ia kembali lagi dengan sebuah kanvas. Ia segera memberikannya pada Lovi dan Devan.
"Wow kamu gambar galaksi ini ya,"
"Ya, masih buruk hasilnya,"
"Itu sudah bagus, Ean" puji Devan. Ia saja belum twntu bisa membuatnya. Sementara hasil karya putranya itu sudah termasuk dalam kategori bagus.
"Aku juga bisa buat itu,"
"Hih apaan? main piano saja kamu sudah malas sekarang. Tidak mau datang ke private clas piano lagi. Sekarang mengaku bisa melukis,"
Adrian mengejek adiknya yang Ia yakini hanya asal bicara saja. Auristella ini sudah jarang menekan tuts piano padahal Ia suka sekali dan memang terbilang berbakat. Tapi belakang sudah tak Ia tekuni lagi bakatnya itu.
"Bisa dalam mimpi, maksudku. Maka dengarkan dulu ucapanku sampai selesai," ujarnya pada sang kakak.
"Kalau dalam mimpi, semua juga bisa,"
"Hanya itu hasilmu hari ini?" Adrian bertanya dengan eskpresi menyabalkan selali seperti tengah meremehkan orang.
"Hanya itu?" tanya Andrean gemas. Adrian mengangguk.
"Hanya itu tapi cukup melelahkan," tukas Andrean. Tidak tahu saja dia bagaimana kerasnya Ia berusaha untuk berlatih hari ini dan berusaha untuk mendapatkan hasil yang sempurna.
"Ini sudah bagus. Setiap harinya kamu sudah semakin pintar melukis sesuatu,"
"Coba sesekali buat sketsa wajahku, Ean. Aku mau, dan kamu pasti bisa. Iya 'kan?"
"Susah,"
"Susah bagaimana? kamu itu bisa semuanya,"
"Ya, tapi susah,"
"Ah kamu jahat. Icelle saja sudah pernah kamu buatkan,"
__ADS_1
"Ya, dan kamu juga sudah pernah aku buatkan. Kurang apalagi?"
"Tapi aku mau dibuat lagi," rengek Auristella menatap kakaknya dengan sorot pemaksaan.
"Ya nati saja,kalau Ean sudah mau," ujar Lovi.
"Lagipula kamu sudah dibuatkan sketsa wajahmu sendiri oleh Ean. Mau dibuatkan lagi? memang apa bedanya? kamu tetap saja jelek-jelek juga di sketsa waktu itu dan di sketsa nanti yang akan dibuat--- aarghhh! sakit, Auris!" Adrian tak mampu mepanjutkan ucapannya karena lengannya dicubit oleh Auristella. Puas sekali Auristella mencubitnya, pakai tenaga dan ada dendam yang terselubung sebab rasanya benar-benar perih di kulit.
Adrian merengkum wajah Auristella dengan gemas. Matanya melotot dan giginya bergemelutuk. Kalau Auristella bukan adiknya, sudah Ia makan anak itu. Seenaknya mencubit sampai ia kesakitan.
"Sudah, nanti bertengkar lagi. Kepala Daddy sakit lagi, Lalu daddy marah lagi. Begitu terus polanya," ucap Devan menengahi. Lagi membahas lukisan Andrean, mereka berdua malah sibuk dengan hal lain.
"Dad, ayo buatkan aku dan ean mac and cheese juga. Ean 'kan sudah datang. Tadi kata Daddy, Daddy akan membuat itu kalau Ean sudah sampai di rumah biar adil dibuatkan semua mac and cheese nya,"
Devan menghela napas pelan. Ia mengangkat kedua tangannya seolah menyerahkan diri. "Ya, saya pasrah menuruti permibtaan Tuan muda,"
Addian terbahak melihat ayahnya yang seperti iu. "Tulus tidak, Dad?" tanya Andrean kini. Ia senang begitu mendnegar penuturan adiknya kalau Daddy mereka akan membuatkan mac and cheese. Tapi Ia khawatir ayahnya keberatan.
"Tulus, Sayang. Tulus sekali. Sebentar ya, Daddy buatkan dulu. Dan berdoa supaya hasilnya lezat seperti tadi. Dan berdoa juga untuk kebaikan dapur serta peralatan masak di dapur Mommy,"
Usai mengatakan itu Devan keluar dari kamar Auristella hari ini ia tidak bekerja di kantor. Tapi malah bekerja di dapur. Tak apa, sesekali memang harus memanjakan lidah anak dengan masakannya.
"Semoga Daddy bisa,"
"Bisa, tadi saja bisa. Kamu tidak ckba rasanya tadi. Lezat!" Auristella memberikan ibu jarinya menggambarkan bagaimana masakan ayahnya tadi.
"Seharusnya kamu itu tidak dkbuatkan lagi, Auris. Karena kamu 'kan tadi sudah,"
"Sudah, jangan berdebat. Kita tunggu Daddy di sini dengan tenang,"
*****
Vanilla berdecak pelan menghela napasnya juga. Tadi Grizelle mengaku dingin, sekarang badannya malah panas.
"Ya ampun, sepertinya tiap hari aku dibuat cemas dengan Griz. Belum sembuh lukanya, sekarang malah demam,"
Berhubung Grizelle terlelap dan Vanilla tidak tega membangunkannya untuk minum obat, maka Vanilla memutuskan untuk memasang kompres di dahi anaknya terlebih dahulu. Nanti ketika Ia sudah bangun, Vanilla akan memintanya untuk makan kemudian minum obat penurun demam.
"Sehat, Sayang. Jangan sakit terus. Mommy khawatir sekali," gumam Vanilla meletakkan pipinya di pipi Grizelle.
Vanilla bersyukur tidak jadi periksa kandungan hari ini. Ia bisa langsung tahu kalau anaknya demam dan perlu kehadirannya.
*****
"Kalau minum ini, aku jadi ingat cucuku,"
Karina sedang berkumpul dengan teman-teman masa sekolahnya di sebuah restaurant. Mereka makan bersama di sana. Sekaligus banyak mengbrol tentang kilas balik saat masa sekolah dulu.
__ADS_1
"Suka ice cream ya?"
"Ya, cucuku suka sekali dengan minuman dingin ini,"
"Aku rasa anak kecil memang rata-rata menyukai minuman sejenis itu,"
"Cucumu berapa, Kar?"
"Baru satu, yang kedua belum lahir,"
"Oh, usia berapa yang pertama?"
"Lima tahun,"
"Perempuan ya?"
Karina mengangguk pelan dengan senyumannya. Selalu senang kalau sudah membahas cucu dengan teman-temannya.
"Senangnya kalau punya cucu perempuan. Sebentar lagi sudah bisa diajak kemana-mana itu, Karm Belanja, liburan, perawatan,"
Karina tertawa membenarkan. Jangankan belanja, diajak liburan saja Grizelle bersedia.
"Sudah pernah berlibur denganku,"
"Menyenangkan akalu berlibur dengan cucu. Kita jadi merasa semakin dekat dengan mereka,"
"Ya, benar. Kebetulan waktu itu dia hanya pergi bersamaku saja tanpa orangtuanya. Jadi selama liburan itu benar-benar aku yang ada di sampingnya,"
"Kalau yang kedua perempuan juga atau laki-laki kabar-kabarnya dari dokter?" Tanya salah satu temannya penasaran.
Karina menggeleng, menjawab belum tahu. Sebab dari jhico maupun Vanilla juga belum mengetahui.
"Yang kedua usia berapa?"
"Sebentar lagi tiga empat bulan,"
"Oh sudah bisa tahu jenis kelamin itu,"
"Ya, tapi belum kelihatan juga,"
"Aduh aku jadi ikut penasaran. Padahal bukan aku yang mau punya cucu," Karina ikut terkekeh. Temannya saja penasaran, apalagi Ia yang merupakan neneknya.
"Semoga laki-laki,"
"Aku doakan begitu ya, Kar. Biar lengkap. Ada laki-laki dan perempuan,"
"Tapi apapun itu, aku akan menyanbutnya denga senang hati dan penuh rasa syukur,"
__ADS_1
Karina tahu perjuangan Vanilla tidaklah mudah. Baik saat mengandung Grizelle maupun saat mengandung sekarang.
Setiap ibu pasti memiliki perjuangan yang besar untuk anak mereka tak terkecuali Vanilla. Apalagi saat akan mengandung anak kedua ini. Ada cobaannya dulu, yaitu kegagalan pada kandungan yang sebelumnya, kemudian saat mengandung pun kondisi Vanila kerap menurun.