
"Jhi..." gumam Vanilla seraya mengerjap. Ketika matanya terbuka secara perlahan, Ia langsung mencari sosok suaminya.
Jhico menggenggam tangan Vanilla seerat mungkin untuk memberikan kekuatan dan sebagai permintaan maaf karena Ia baru saja datang.
Suara Vanilla membuat perdebatan antara Jane dan Deni terhenti. Mereka semua menatap Vanilla yang sudah sadar dan nampak kebingungan begitu melihat suasana di sekitarnya.
"Aku di rumah sakit?"
"Iya, kamu pingsan tadi."
"Bagaimana kondisimu, Vanilla?"
Deni melepas genggaman tangan istrinya lau mendekati Vanilla. Ia mengusap kepala Vanilla dengan lembut. Jane yang melihatnya saja merasa kesal dan tak habis pikir apa lagi Keynie yang menjadi istrinya. Vanilla menghindar dengan pelan, tak mau membuat Deni tersinggung. Ia sadar kalau ada Jhico di sini dan sebagai perempuan, Ia harus memposisikan dirinya sebagai Keynie yang pasti akan sakit hati melihat suaminya bersikap seperti itu pada perempuan lain sekalipun hanya dianggap adik.
"Aku yang membawamu ke sini,"
Entah apa maksudnya Deni mengatakan hal itu. "Ingin mendapat penghargaan apa, heh?" sinis Jane seraya membanting tubuhnya di sofa. Menatap malas interaksi antara Deni dan Vanilla.
"Terima kasih, Deni."
"Aku harap kamu bisa lebih menjaga kesehatanmu lagi, Vanilla. Karena kamu sedang mengandung,"
Mata Vanilla mengerjap dan berkaca-kaca. Ia segera menatap Jhico seolah bertanya 'apakah benar?' Jhico mengangguk lalu memeluk Vanilla.
Tadinya Ia yang akan memberi tahu hal itu pada Vanilla dan la juga yang ingin memberi nasihat pada Vanilla agar tidak mengulangi kesalahannya lagi, namun Deni sudah melakukannya.
*****
Di tengah teror yang mendera, keluarga Vanilla seolah mendapat angin segar ketika mendengar kabar bahwa Vanilla tengah mengandung.
Rena dan Raihan sangat antusias untuk berangkat ke rumah sakit, menjenguk putri mereka. Bahkan Adrian dan Andrean pun tak ingin kalah. Akhirnya Kakek dan Nenek itu membawa kedua cucunya untuk turut serta melihat kondisi Vanilla.
"Bagaimana ceritanya sampai Jhico tahu kalau Vanilla hamil ya, Pa? padahal Vanilla tidak menunjukkan gejala kehamilan sama sekali saat empat hari lalu dia datang ke mansion,"
"Nanti kita tanya pada mereka,"
"Jadi, sebentar lagi aku punya adik lagi ya?" Tanya Andrean dalam perjalanan mereka.
"Ya, sayang."
"YEAAYY SENANGNYA. TIDAK SABAR MENUNGGU ADIK BAYI LAHIR," seru Adrian seraya melompat-lompat di atas jok mobil sampai kepalanya terantuk.
Ketiganya menoleh pada Adrian. Andrean langsung bertanya dengan datar, "Salah siapa?"
Adrian merengut seraya mengusap kepalanya. "Salah atap mobil. Grandpa, marahi atap mobilnya. Nakal sekali membuat kepalaku sakit,"
Rena membawa kepala Adrian ke atas pangkuan untuk diusapnya. Adrian terkekeh sementara Andrean hanya tersenyum tipis. Raihan menatap kedua cucunya dari kaca yang berada di depannya.
__ADS_1
Ia ikut bahagia melihat kedua cucunya tersenyum seperti saat ini. Mereka hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa tapi kenapa kemarin ada orang yang tega membuat mereka ketakutan seperti itu.
Rena menghubungi Karina karena Ia pikir Karina dan Thanatan juga sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Hallo, Rena."
"Karina, bagaimana perasaanmu sekarang? sama seperti aku kah bahagianya?"
Karina mengerinyit tidak mengerti. Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Rena. "Bahagia karena apa?"
"Huh?" kali ini Rena yang bingung. Sepertinya hanya Ia yang mengerti topik pembicaraan sementara Karina tidak.
"Kamu sudah tahu 'kan kalau Vanilla hamil? dia sedang berada di rumah sakit sekarang," jelas Rena langsung pada intinya.
"Aku tidak tahu,"
Rena benar-benar tidak menyangka kalau Karina tidak diberi tahu sama sekali oleh Jhico. Apakah hanya dirinya dan Raihan yang tahu kehamilan Vanilla ini?
"Aku turut bahagia mendengarnya. Aku dan Thanatan akan kesana,"
********
Jhico sengaja tak memberi tahu keluarganya dulu. Karena sepertinya mereka lah yang menjadi penyebab stress-nya Vanilla beberapa hari belakangan ini.
Saat Rena menasihatinya agar tak membeda-bedakan perlakuannya terhadap keluarga Vanilla dan keluarganya sendiri, Jhico hanya bisa menunduk.
"Kami keluargamu, apa lagi mereka."
"Memang apa yang terjadi? kenapa kamu seperti itu pada Papa dan Mama-mu?"
Jhico menggeleng seraya tersenyum. Ia malu menceritakan permasalahan yang terjadi dalam keluarganya. Menurut pandangannya, keluarga Vanilla tak pernah terjadi prahara, tidak seperti keluarganya. Bisa jadi Raihan akan pusing sendiri bila mendengar ceritanya nanti. Jhico juga tipe laki-laki yang malas membahas permasalahan hidup. Ia hanya ingin orang lain melihat kebahagianya saja jangan kesedihannya.
Lagipula itu semua tidak penting. Yang patut mereka utamakan saat ini adalah Vanilla dan juga calon anak mereka.
"Aku pulang bersama kalian ya," ujar Jane yang memang belum pulang sedari tadi. Berbeda dengan Deni dan Keynie. Sebenarnya Deni juga masih ingin berada di samping Vanilla, tetapi karena Jane sudah mengusirnya dengan terang-teragan, maka ia tak bisa lagi menolak. Begitu keluar dari ruangan vanilla, Deni tak henti menggerutu. Ia kesal karena Jane seperti sengaja menjauh kan dirinya dari Vanilla.
"Ada suaminya, Deniele. Kamu jangan khawatir lagi dengan Vanilla."
"Aku tidak meminta kamu bicara, Keynie!" sampai Ia membentak istrinya di depan orang yang melintas di hadapan mereka.
Jane yang menutup pintu usai mereka keluar masih bisa mendengar Deni yang seperti itu pada istrinya. Ia hanya bisa menggeleng pelan. "Sayang sekali, istri sebaik Keynie diperlakukan seperti itu. Ingin sekali rasanya aku melihat Keynie meninggalkan Deni, pasti dia akan merasa sangat kehilangan sekalipun belum mencintai,"
"Iya, Aunty pulang bersama kami. Jangan mengganggu Aunty Vanilla dan Uncle Jhico di sini,"
"Maaf ya, Aunty ini bukan pengganggu." cibir Jane pada Adrian yang baru saja menjulurkan lidah ke arahnya.
"Kapan Vanilla bisa pulang?"
__ADS_1
"Besok atau lusa, Ma. Tergantung kondisinya,"
"Harus bed rest ya?"
"Iya, Ma."
Sedari tadi yang lebih banyak berinteraksi dengan Rena dan Raihan adalah Jhico karena kondisi Vanilla masih lemah.
Tok
Tok
Tok
"Jane, tolong buka pintunya!" titah Raihan pada keponakannya itu. Jane terpaksa bangun dari posisi berbaringnya.
"Tenang, sedari tadi aku memang menjadi palang pintu,"
Ucapannya itu membuat Jhico dan kedua mertuanya tertawa. Begitu pintu dibuka, rupanya Thanatan dan Karina lah yang datang.
Sama halnya dengan Raihan dan Rena, mereka juga sangat bahagia mendengar kabar bahwa Vanilla tengah mengandung. Thanatan dan Karina akan memiliki cucu pertama dari anak tunggal mereka.
"Selamat Vanilla, Jhico. Semoga segala prosesnya dipermudah,"
"Terima kasih, Ma." jawab Vanilla dan Jhico bersamaan saat Karina berucap demikian.
"Bagaimana awal mula sebelum kalian tahu tentang kabar bahagia ini?"
"Nah, itu juga yang ingin aku tanyakan. Karena empat hari yang lalu Vanilla datang ke mansion, dia tidak menunjukkan gejala kehamilan sama sekali,"
Sebenarnya hamil tanpa tanda atau gejala itu sudah biasa terjadi. Tetapi Rena sangat penasaran dengan cerita sebelum Vanilla dinyatakan hamil.
"Sebenarnya tadi Vanilla pingsan,"
"Astaga,"
Keempat orangtua itu nampak terkejut dan menatap Jhico, menunggu kelanjutan dari kalimat Jhico.
"Jhico dikabari Jane,"
"Lalu kamu dimana? kenapa bisa tidak tahu kalau istrimu sakit?" Thanatan mencerca putranya.
"Aku bekerja, dan aku tahu kalau Vanilla sakit. Oleh sebab itu aku melarang dia untuk berkegiatan,"
"Dan Mama tau kelanjutannya. Pasti Vanilla tidak mengindahkan larangan kamu. Sampai akhirnya dia mengalami ini," tatapan Rena kini beralih pada Vanilla yang mengangguk lemah.
"Beruntung kamu tidak kenapa-kenapa, Vanilla."
__ADS_1
Vanilla juga tak henti mengucap syukur. Karena kelalaiannya tak menyebabkan sang anak mengalami sesuatu yang membahayakan. Hanya saja, Ia diminta untuk istirahat total karena kandungannya melemah.
"Jagalah anugrah ini dengan baik, Vanilla." pesan Karina seraya mengusap perut Vanilla dengan lembut.