
Vanilla harus tidur larut malam karena Ia memiliki tugas kuliah yang harus segera diselesaikan.
Ia melibatkan beberapa makanan ringan untuk menjadi temannya ketika mengerjakan tugas. Mata perempuan itu melirik jam dinding.
"Hah sudah jam dua malam? Astaga, tugasku belum selesai. Kenapa banyak sekali sih?"
"Oh iya, ingat-ingat tidak boleh mengeluh," Ia menepuk mulutnya yang baru saja mengeluh karena merasa tugas yang diberikan dosen sangat banyak sampai Ia belum tidur di tengah malam seperti ini.
Vanilla menenggelamkan kepalanya di meja. Ia menghembuskan napas pelan. "Semangat, Vanilla." Ia menyemangati dirinya sendiri agar lelah nya hilang.
Vanilla kembali fokus dengan apa yang Ia kerjakan. Detak jarum jam menjadi pengiring tangannya yang sedang bergerak di atas papan ketik laptop. Kesunyian malam membuat Ia bisa konsentrasi mengerjakan semuanya. Dan ketidak hadiran Grizelle di samping nya juga membuat Ia tenang menyelesaikan kewajiban nya.
Grizelle tentu masih tidur dengan Jhico. Hanya Vanilla saja di rumah itu yang masih terbangun.
"Yess tinggal sedikit lagi,"
Vanilla semakin semangat. Ia bahkan tidak lagi mengunyah agar kali ini benar-benar fokus.
Setelah selesai, Ia menghembuskan napas lega. Beban nya terasa hilang semua. Itu merupakan tugas yang harus Vanilla serahkan pagi nanti.
Vanilla belum membereskan laptop dan binder nya tapi Ia tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya. Sedari tadi Ia sudah menguap.
Ia terlelap di depan laptop yang masih menyala. Beruntung nya file tugas yang Ia buat sudah disimpan.
*******
Jhico keluar dari kamar saat fajar menjemput. Ia tidak heran bila tidak menemukan istrinya di sampingnya karena pasti Vanilla sudah turun ke dapur.
Ia dibuat terkejut saat mendapati istrinya tertidur di temani dengan alat perang nya. Ia segera mendekati Vanilla.
"Astaga, Nilla..."
Tangannya menyentuh lembut kepala Vanilla untuk membangunkan. Bibi baru keluar dari kamarnya dan Ia pun terkejut mendapati Vanilla yang tertidur di meja pantry dengan posisi duduk dan kepala yang ditumpu oleh kedua lengannya.
"Nilla, bangun."
"Hmm... Jhi,"
"Iya, bangun, Nilla. Ini sudah pagi. Semalam kamu mengerjakan tugas sampai jam berapa?"
Vanilla mengangkat kepalanya lalu meregangkan otot-otot nya yang terasa kebas.
"Maaf tidak menemani kamu mengerjakan tugas,"
"Aku sengaja mengerjakan tugas saat kamu dan Griz sudah tidur. Aku akan jauh lebih tenang,"
"Vanilla kuliah hari ini? kalau tidak, lanjutkan tidur saja," ujar Bibi yang merasa tidak tega melihat mata Vanilla yang memerah pertanda Ia masih mengantuk.
"Iya, aku kuliah pagi ini, Bi."
"Ya sudah, kamu langsung bersiap saja. Biar Bibi sendiri yang masak,"
"Masih sempat, Bi. Tenang saja,"
Vanilla tersenyum sejenak lalu Ia membereskan barang-barang nya yang berserakan di meja.
"Biar aku yang membereskan ini," ujar Jhico mencegah istrinya.
__ADS_1
"Tidak---"
"Aku saja, Nilla. Tadi kamu ingin tetap memasak 'kan? ya sudah, kamu masak saja setelah itu bersiap untuk ke kampus. Biarkan aku yang membereskan ini,"
"Okay, terimakasih kalau begitu,"
Jhico merasa kasihan dengan perempuan itu. Tidak ada suntuk di wajah Vanilla padahal Jhico tahu seperti apa kondisi badan nya sekarang, pasti sangat kelelahan. Tapi Vanilla tetap menampilkan ekspresi wajah berseri khas nya yang selalu cantik di mata Jhico sekalipun ini masih pagi dan Vanilla belum menyentuh make up apapun.
******
"Kenapa sih memperhatikan Vanilla terus? kerja dulu yang benar,"
"Permisi,"
Vanilla melewati Renald dan Anneth yang sedang membersihkan lantai di depan kelas Vanilla.
"Iya, silahkan."
Anneth memutar bola matanya saat Renald tersenyum mempersilahkan Vanilla untuk melangkahi lantai yang sudah Ia bersihkan.
Anneth mendengus lalu menjauh dari Renald untuk membersihkan bagian lain.
"Nanti pulang jam berapa, Vanilla?" tanya Renald.
"Hmm belum tahu,"
Vanilla menoleh sebentar untuk menjawab lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kelas. Ia tentu tahu jadwal nya untuk pulang namun Ia rasa tidak perlu Renald bertanya seperti itu.
******
Jhico pergi ke klinik setelah Rena datang ke rumahnya untuk menemani Grizelle sementara waktu atas keinginan Rena sendiri.
"Sstt bicara apa sih? kenapa harus berterima kasih? wajar saja kalau Mama mau dekat dengan cucunya. Kamu hati-hati ya, ini pertama kalinya kamu kembali bekerja di klinik. Tetap ingat bahwa kamu itu belum seratus persen pulih,"
"Iya, Ma."
Jhico keluar dari rumahnya dengan langkah cepat. Ia begitu semangat hari ini. Akhirnya Ia bisa datang ke klinik dan bekerja sebagai pemilik klinik sekaligus dokter di klinik tersebut.
"Hati-hati, Jhico." pesan laki-laki yang bertugas sebagai penjaga keamanan di rumahnya.
"Iya, terimakasih. Aku berangkat dulu,"
Mobil Jhico sudah menjauh dari kediamannya. Hari ini Ia dan Vanilla disibukkan dengan kegiatan masing-masing.
Sementara Grizelle bersama dengan neneknya dulu sampai Vanilla selesai kuliah jam sepuluh menjelang siang nanti.
*******
Jhico menelpon istrinya disela kesibukan. Kebetulan Vanilla sedang mengisi perutnya sebentar sebelum masuk mata kuliah selanjutnya.
"Hallo, Nilla."
"Jhi, kamu tidak memasukkan binder ku yang berwarna biru,"
"Binder berwarna biru?"
"Iya, seingatku tadi binder itu ada didekat laptop. Tadi kamu yang membereskan laptop dan alat-alat belajar ku yang lain,"
__ADS_1
"Semua yang ada di meja tempatmu tidur tadi, aku masukkan ke dalam tas, Nilla. Aku yakin tidak ada yang tertinggal,"
"Huh,"
Vanilla menghela napas kesal. Entah siapa yang salah di sini. Yang jelas begitu panggilan Jhico masuk, Ia langsung menggerutu kesal.
"Jadi bagaimana? kamu diberi hukuman? lari berapa putaran?"
"Kamu pikir aku anak sekolah?"
Jhico tertawa kecil berusaha membuat suasana hati istrinya kembali membaik. Ia menelpon untuk tahu kabar Vanilla. Baru sebentar berpisah, Ia sudah rindu.
"Lain kali kamu tidak usah membantu aku membereskan perlengkapan kuliah ku ya,"
"Bukan salah aku, Nilla. Mungkin kamu lupa letak binder itu. Sumpah, tadi saat aku membereskan semuanya, tidak ada binder yang kamu maksud,"
"Ya sudah, aku yang salah."
"Tidak-tidak, aku yang salah,"
"Jadi siapa yang salah? tadi katamu---"
"Sebenarnya bukan aku tapi---"
Jhico menggaruk keningnya yang tak gatal. Berat sekali mengakui hal yang menurutnya bukan merupakan kesalahannya.
"Ck! kamu bagaimana sih? kenapa berubah-ubah?"
Joana melirik Vanilla yang menggerutu dengan suaminya di telepon. Biasanya kalau mendapat panggilan dari Jhico, Vanilla akan senang sekali. Kali ini berbeda karena Vanilla merasa masih sangat mengantuk dan ada saja yang membuat suasana hatinya memburuk. Ia ditegur oleh dosen karena tidak membawa binder berisi materi yang akan dibahas pada pertemuan tadi.
"Kamu sedang makan? lanjutkan ya, biar perut kenyang dan tidak kesal lagi,"
"Ishh Jhico!"
"Hahhah bye, Nilla. Sampai bertemu di rumah nanti ya. Kamu mau aku jemput?"
"Memang tidak sibuk?"
"Mau atau tidak? kalau mau, akan aku usahakan,"
"Kalau ditanya mau atau tidak, jelas saja jawabanku mau,"
"Okay, kamu kabari aku kalau sudah pulang, semoga tidak banyak pasien nanti,"
"Bye, hati-hati dan semangat mencari uang,"
"Ya, terimakasih sayang,"
"Cih sayang, sudah punya anak satu dan aku jarang sekali mendengar panggilan itu,"
"Nillaku itu lebih dari panggilan sayang. Aku lebih suka memanggil mu itu, jujur saja."
Vanilla menahan senyumnya. Rona merah mewarnai pipi nya hingga Joana yang melihat itu langsung mengerinyit bingung.
"Aku yakin, pasti Jhico sedang mengucapkan hal-hal yang manis pada Vanilla. Aduh, kapan aku memiliki pasangan ya," gumam Joana dalam hati. Melihat suasana hati Vanilla yang begitu cepat berubah hanya karena Jhico, Ia jadi semakin menginginkan hadirnya pasangan. Selama ini kalau Ia sedang badmood, tidak ada yang berusaha memperbaikinya kalau bukan Ia sendiri yang mencari cara atau sering juga dibantu oleh Vanilla.
__ADS_1
-----------
Hellawww selamat tengah malam guysss. Kalian baca ini tengah malam atau udh pagi?