Nillaku

Nillaku
Nillaku 284 Grizelle mau mobil


__ADS_3

"Griz jangan dikejar terus kucingnya,"


Vanilla sampai pusing sendiri melihat putrinya yang tak bisa berhenti mengejar kucing milik kakeknya yang berlari kesana kemari.


"Aku gemas, ingin menggendongnya, Mu. Tapi aku keberrlalatan (keberatan),"


"Biarkan saja dia bermain. Jangan dikejar terus. Dia ketakutan itu,"


"Tidak, aku 'kan tidak jahat. Kenapa dia harrlus (harus) takut?"


Raihan mengisyaratkan Vanilla agar membiarkan Grizelle melakukan apa yang Ia inginkan. Grizelle sedang senang-senangnya bermain dengan kucing. Ia bermain tidak akan lama. Nanti saat kakeknya pulang, kucing itu juga akan pulang, meninggalkan rumahnya dan Ia kehilangan mainan barunya.


"Griz sering-sering saja datang ke rumah Grandpa ya. Biar bisa bermain dengan kucing di rumah Grandpa,"


"Okay, Grandpa. Oh iya, nama kucingnya siapa, Grandpa?"


"Griz mau beri nama?"


"Memang boleh?"


"Boleh saja, ayo Grizelle beri dia nama,"


"Hmm..."


Grizelle berpikir dulu. Ia menggerak-gerakkan matanya berpikir, kemudian menatap kucing berwarna abu gelap yang masih berlarian di rumahnya itu.


"Seperrltinya (sepertinya) aku berrli (beri) dia nama She saja,"


"Okay, dia sudah punya nama,"


"Yeayy namanya pemberrlian darrliku (pemberian dariku),"


Grizelle bertepuk tangan senang karena Ia dipersilahkan untuk turut andil memberi saran nama untuk kucing cantik itu.


"Grandpa pulang dulu ya,"


"Yah...cepat sekali,"


"Iya biar Griz istirahat, tidak bermain dengan kucingnya terus. Nanti kalau mau bermain dengannya, datang saja ke rumah Grandpa. Kapanpun Griz mau, silahkan datang,"


"Iya, Grrlandpa. Hati-hati ya,"


Grizelle mengembalikan hewan berkaki empat itu ke dalam tempat tinggal versi kecilnya. Karena versi yang besar ada di rumah kakeknya itu. Lalu Grizelle membawanya kembali ke dalam mobil Raihan.


"Bye, She. Nanti aku akan mendatangimu. Jangan rrlindu (rindu) denganku ya," katanya seraya terkekeh kecil melambai pada She yang menatapnya dari dalam.


"Jangan menatapku sedih begitu, She. Nanti kita akan berrltemu (bertemu) lagi, tenang saja,"


Grizelle dan Vanilla melepas kepergian Raihan. Grizelle menghembuskan napas pelan.


"Haah, padahal aku senang sekali kalau ada She di sini. Tapi Mumu tidak bolehkan She tinggal di rumah kita,"


"Kalau mau, boneka berupa She saja yang tinggal di rumah,"


"Haaaa itu beda, Mumu,"

__ADS_1


"Daripada She yang tinggal di sini. Lebih baik boneka yang menyerupai She saja,"


Grizelle merengut mendengar ucapan Mumunya yang memang benar-benar tak akan mengizinkan She untuk tinggal di rumah mereka.


"Padahal dia mainan barrluku (baruku),"


"Begitu banyak mainan yang kamu punya masih saja mau kucing untuk dijadikan mainan,"


"Ah maksudku kucing itu temanku, Mu,"


"Banyak teman di sini. Ada Mumu, Pupu, Nada---"


"Haaa bukan teman yang seperrlti (seperti) itu maksudku, Mu,"


"Yang Mumu sebut tadi manusia semua," tambah anak itu.


"Lalu kami yang ada di rumah ini harus menjadi kucing supaya bisa menjadi teman Griz?"


Grizelle langsung tertawa mendengar cibiran Ibunya. Ia langsung memeluk Vanilla dengan erat dan melekatkan kepalanya di perut sang Ibu.


"Adik sedang apa sih? cepat keluarrl (keluar), Adik,"


"Ah biar saja adik di perut Mumu. Griz lebih sayang pada kucing,"


"Tidak, aku pasti lebih sayang Adik, Mu. Tidak mungkin aku lebih sayang kucing,"


"Tapi sekarang kelihatan sedih sekali saat She pulang,"


"Nanti juga akan sangat sedih kalau adik lama keluarrlnya (keluarnya),"


Jhico keluar dari kamarnya berjalan menuju meja makan. Tadi, Ia terlelap menunggu istrinya menyiapkan makan malam.


"Kenapa tidak membangunkan Pupu?" tanya Jhico pada anaknya yang sudah bersiap akan menyantap makan malam.


"Tadi mau aku bangunkan. Tapi kata Mumu biarrlkan (biarkan) saja Pupu tidurrl (tidur). Nanti kalau laparrl (lapar) juga tinggal datang ke sini,"


"Tidak tega membangunkan kamu," kata Vanilla pada Jhico.


Jhico mengangguk mengerti. Benar apa yang dikatakan Vanilla. Kalau lapar, Ia tinggal mendatangi ruang makan. Buktinya sekarang Ia sudah datang karena rasa lapar yang menuntunnya ke sini.


"Ayo, Pu. Makan yang banyak," ucap Grizelle.


"Iya, Sayang. Pasti, Pupu sudah laparrl (lapar),"


"Jhi, Griz ingin berlibur saja sebagai hadiah ulang tahun,"


Jhico menatap anaknya saat Vanilla bercerita seperti itu. "Hanya berlibur?" tanya lelaki itu pada malaikat kecilnya.


"Iya, kadoku tahun lalu sudah diberrlikan (diberikan) Tuhan yaitu aku ingin adik. Untuk tahun ini aku hanya ingin berliburrl (berlibur) saja,"


Jhico menganggukkan kepalanya. Ia kembali menyuap makanan ke dalam mulut, membuatnya halus kemudian bertanya, "Berlibur kemana, Sayang?"


"Aku diberrlikan brosurrl (diberikan brosur) tempat liburrlan (liburan) oleh temanku. Aku mau datang ke sana saja, Pu,"


"Nanti aku berikan brosurnya," kata Vanilla pada suaminya.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti kita atur waktunya. Griz ingin tepat di hari ulang tahun atau bagaimana?"


"Terrlserrlah (terserah) Pupu,"


Ia menyerahkan keputusan pada ayahnya. Diajak berlibur saja, Ia sudah senang, jadi Grizelle tak menuntut waktunya kapan.


"Setelah perayaan ulang tahun saja ya, Sayang?"


Grizelle mengangguk atas pertanyaan Mumunya. Kapanpun boleh, asalkan berlibur.


"Besok harinya setelah perayaan ulang tahun saja ya?"


Jhico meminta persetujuan karena ia tak ingin anaknya merasa keberatan dengan keputusan yang Ia ambil. Maka Ia meminta pendapat Grizelle juga.


"Iya, Pupu. Kapanpun tidak masalah,"


"Okay, selain itu, Griz mau hadiah apa lagi dari Mumu?"


"Tidak mau hadiah apa-apa lagi. Sudah cukup berrliburrl (berlibur) saja,"


Saat Grizelle berharap adik sebagai hadiah ulang tahunnya, Mumu dan Pupunya seperti biasa memberikan mainan dan juga sepeda lagi karena yang mereka lihat, Grizelle ingin sepeda lagi dengan model yang berbeda.


Tapi tahun ini sepertinya memang benar-benar hanya berlibur yang diinginkan anak pertama Jhico dan Vanilla itu.


"Tidak mau barang?"


"Mobil-mobilan mungkin," cetus Jhico yang mengundang lirikan kesal dari istrinya.


"Sudah lupa ya kalau Griz itu perempuan?"


Jhico terkekeh pelan. Ia menggeleng, tentu saja Ia tidak lupa.


"Ya boleh. Aku mau mobil,"


"Mobil atau mobil-mobilan?"


"Mobil-mobilan, Pupu. Aku tidak bisa membawa mobil,"


"Kalau mobil-mobilan bisa?"


"Nanti belajarrl (belajar) dulu, tapi sebenarrlnya (sebenarnya) sudah sedikit bisa. Waktu itu diajarrlkan Grrlandpa (diajarkan Grandpa),"


"Griz bisa juga belajar mobil. Maksud Pupu mobil yang asli,"


Vanilla berdecak mendengar suaminya yang semakin aneh. "Griz masih belum cukup umur. Untuk apa kamu menawarinya mobil?"


"Aku hanya bertanya saja, tidak niat menawari," elak Jhico dengan santai.


"Aku mau mobil-mobilan. Kalau mobil yang asli lebih susah dipelajarrli (dipelajari), Pu,"


"Tidak juga,"


Grizelle menggeleng enggan. Ia ingin mobil-mobilan saja alias mainan, bukan mobil asli seperti yang setiap saat dikendarai ayah atau ibunya.


"Jangan mobil-mobilan. Kamu itu perempuan. Cari mainan yang lain,"

__ADS_1


"Aku ingin punya juga setelah melihat milik Ian di rrlumah Grrlandpa (rumah Grandpa)," kata Grizelle memohon pada ibunya agar mengizinkan Ia memiliki mobil kecil seperti punya Adrian yang pernah Ia kendarai dan hampir saja menabrak bila saja Raihan tak mencoba untuk menghalanginya dengan berdiri di depan mobil kecil milik Adrian yang Ia coba kendarai itu.


__ADS_2