Nillaku

Nillaku
Nillaku 343 Tidak mau ke ruangan Lovi


__ADS_3

"Sudah dua hari aku tidak bekerja,"


Selalu itu yang dipikirkan Thanatan. Bahkan sekalipun Ia berbaring di atas ranjang.


"Pa, kenapa tidak istirahat?"


"Darimana? katanya tidak bekerja hari ini,"


"Buat puding untuk Griz. Dia suka dengan puding,"


Karina menghilang setelah memberikan sarapan untuk suaminya. Ia menyuruh suaminya untuk beristirahat.


Tapi ternyata begitu Ia kembali, Thanatan tidak terpejam padahal Ia kira Thanatan tidur.


"Bukannya tidur. Apa yang dipikirkan?"


"Aku benar-benar bosan diam di kamar saja. Mati kutu kalau tidak bekerja,"


"Ah kalau ada Grizelle tidak pernah bilang bosan. Giliran dia tidak ada, malah bilang bosan,"


"Ya memang bosan," cetusnya pada Karina yang mengoloknya. Ia menatap sinis pada Karina yang kini tertawa. Karina sudah berhasil membuat Ia terkurung dua hari di kamar seperti ini.


"Aku ingin keluar,"


"Kemana? jangan karna sudah turun demamnya, kamu bisa lelah-lelah ya,"


"Di luar saja. Hanya duduk," katanya.


Karina membuka mulutnya untuk menjawab, "Tidak boleh." tapi belum keluar suaranya, Thanatan sudah beranjak.


"Jangan melarangku," tegas Thanatan.


Ia mengenakan alas kakinya kemudian bergegas keluar dari kamar. "Aku bantu," Niat Karina ingin memapah suaminya namun Ia menolak.


"Tidak usah. Aku tidak sakit parah, Ma,"


"Ya ampun, tetap saja aku khawatir kamu terjatuh. Kenapa menolak terus sih?"


"Aku bisa jalan sendiri," sekali lagi Thanatan berkata lugas.


Karina menghembuskan napas kasar. Kemudian Ia membiarkan suaminya untuk melangkah seorang diri, sesuai dengan keinginan pria dengan satu cucu itu.


Thanatan memilih halaman rumahnya untuk duduk. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bersantai di sana. Biasanya, setiap hari hanya sekedar melewati halaman lalu masuk mobil dan pergi ke kantor atau ketika pulang langsung masuk ke dalam rumah setelah keluar dari mobil.


"Mau sambil minum apa?" tawar Karina yang berada di samping Thanatan kini.


"Kamu kenapa mengikuti aku? aku ingin sendiri di sini,"


"Baik, Tuan. Saya pergi. Saya tadi hanya ingin memastikan Tuan sampai di sini dengan selamat,"


Karina kelewat kesal dengan sikap ketus suaminya yang tidak mau Ia awasi. Padahal apa salahnya kalau Ia mengikuti supaya Ia bisa memastikan suaminya bisa berjalan dengan baik karena Ia takut suaminya itu masih sakit kepala dan tubuhnya maaih lemah.

__ADS_1


"Kamu masih sakit kepala?" Karina bertanya sebelum pergi meninggalkan suaminya seorang diri di kursi.


"Sedikit,"


"Oh ya sudah. Aku masuk ya,"


Thanatan mengangguk, memang itu yang ia inginkan. Ia hanya perlu kesendirian untuk saat ini, karena jarang-jarang Ia bisa seperti ini.


Karina memilih untuk melihat puding yang telah Ia masukkan ke dalam lemari pendingin.


"Oh masih belum jadi,"


"Baru dimasukkan, Nyonya,"


Karina terkekeh malu ketika maidnya bicara seperti itu. Ketahuan sekali kalau ia tidak sabaran untuk mencicipi puding yang masih belum jadi sempurna itu.


"Padahal sebenarnya itu untuk cucuku. Tapi kenapa aku yang semangat sekali untuk mencobanya ya? mungkin karena aku jarang membuat sesuatu," kekeh Karina lagi.


"Pasti rasanya lezat, Nyonya. Grizelle pasti suka,"


"Ya, semoga dia mamaklumi buatan Neneknya yang jarang memasak ini,"


*****


"Lovi, suamimu sudah menungu di luar,"


"Oh iya, tunggu sebentar,"


Lovi yang sedang memperhatikan detail baju rancangannya yang sudah hampir jadi langsung menoleh begitu seorang pekerjanya masuk ke ruangan dan melaporkan mengenai kehadiran suaminya saat ini.


Lovi kira di luar maksdu pegawainya adalah di luar ruangannya biasanya Devan duduk di kursi yang tersedia untuk klien nya. Tapi ternyata Devan menunggu di mobil.


Lovi membuka pintu mobil dan mengajukan protes. "Biasanya masuk ke dalam,"


"Tadi aku masuk, lalu aku minta tolong pegawaimu untuk memanggil kamu, Lov,"


"Iya, kenapa tidak masuk saja ke ruanganku. Panggil aku langsung,"


Lovi senang kalau sudah dihampiri suaminya di butik. Bila Ia masih ada pekerjaan Devan akan sabar menunggu.


"Malas masuk ke ruangan kamu,"


"Kenapa?" tanya Lovi melotot tajam. Devan terbahak melihat ekspresi Lovi.


"Ruanganku bersih, harum, tertata sempurna. Kenapa kamu tidak mau ke sana? malas karena apa?" tanya Lovi tanpa jeda. Hatinya panas mendengar ucapan Devan yang dengan jelas-jelas mengatakan bahwa Ia malas ke ruangannya tapi tanpa menyebutkan alasan.


"Kalau aku masuk ke ruangan kamu, nanti malah lama keluarnya,"


Devan tersenyum jenakan. Ia menaik turunkan alisnya. Lovi mencubit otot bisep suaminya.


"Nanti kita semakin lama menjemput anak-anak kita kalau aku masuk ke ruangan kamu. Pasti kita bermesraan dulu 'kan,"

__ADS_1


Lovi berdecak pelan. Ia merotasikan bola matanya setelah mendengar penuturan suaminya itu.


"Kita pergi sekarang ya?"


Lovi mengangguk setuju. Tunggu apalagi mereka kalau tidak berangkat sekarang. Anak-anak mereka mungkin sudah menunggu mereka datang.


"Bagaimana hari ini?"


"Ya...seperti biasa,"


"Sibuk sekali? tapi sepertinya tidak. Karena kamu benar-benar datang menjemputku,"


*****


"Vanilla, kamu kelihatan pucat. Kenapa? kamu sakit?"


Vanilla merasa bosan maka Ia memutuskan untuk menghubungi Joana, sahabatnya yang sudah cukup lama tidak berinteraksi secara langsung dengannya sejak Ia memutuskan untuk istirahat sejenak dari pekerjaannya.


"Sakit kepala saja, Jo,"


"Ya ampun, baru keluar dari rumah sakit, Van. Sekarang sudah begitu lagi kondisimu,"


Joana belum sempat datang menjenguk ke rumah sakit saat vanilla masuk rumah sakit btempo lalu karena Vanilla sudah keluar dari rumah sakit, hanya sehari saja di sana. Joana merasa bersalah sekali. Namun Vanilla sangat memahami kesibukan Joana saat ini yang fokus membantu ibunya dalam mengembangkan bisnis makanan berupa waffle.


"Tidak apa. Jangan khawatir. aku baik-baik aja,"


"Maka kalau diatur jangan susah, Van. Kamu itu tidak sendiri. Ada anakmu dalam perutmu. Kalau terjadi sesuatu padamu otomatis berpengaruh juga pada anakmu,"


"Iya, Jo. Aku mengerti,"


"Jadi sekarang kamu hanya di rumah saja 'kan?"


"Iya, tidak kemanapun. Jhico tidak mungkin mengizinkan aku keluar,"


"Grizelle kemana?"


"Di rumah kakek dan neneknya,"


"Oh pantas tidak terdengar suaranya. Aku pikir sedang sekolah atau tidur,"


Joana tahu sekali kalau grizelle sedang tidak bersama Vanilla. Karena bila ada di dekat Vanilla dan Vanilla bicara dengannya, pasti Grizelle akan menyapa.


"Oh iya, Jane kemarin menelponku. Sepupumu itu rindu denganku katanya,"


"Ah dia jarang menghubungiku. Lupa denganku sepertinya,"


Vanilla merindukan sepupunya yang dulu menggilai Devan itu. Jane setelah menikah dan sempat hidup beberapa waktu di negara yang sama dengannya memilih untuk ikut suaminya pindah ke negara lain.


Jarang sekali mereka berkabar. Vanilla ingin sering-sering menghubungi Jane tapi Ia sungkan. Takut mengganggu Jane.


Tapi meski begitu Ia tetap menghubungi Jane terlebih dahulu dan beruntungnya dijawab. Sementara Jane jarang sekali menghubunginya lebih dulu maka Vanilla pikir sepupunya sudah lupa dengan tanah kelahiran serta saudara-saudaranya di sini.

__ADS_1


"Dia sibuk dengan keluarganya, Van,"


"Ya, aku mengerti. Dia juga bilang begitu padaku. Nanti aku mau bicara dengan dia lah. Aku sudah rindu sekali dengan dia,"


__ADS_2