
"Nona, Ponsel Nona tidak bisa dihubungi?"
Vanilla dan Hawra sedang duduk bersama di taman. Mereka menikmati teh dan cookies di taman sembari berbincang ditemani juga dengan kicau burung yang saling bersahut.
"Ponselku di kamar. Memang ada apa?"
"Tuan Jhico menghubungi Nona sejak tadi, tapi tidak ada jawaban,"
"Anak itu tidak bisa tenang jauh dari kamu,"
Vanilla hanya tersenyum kecil mendengar Hawra bicara seperti itu. Lantas Vanilla bangkit dan memasuki kamar dibantu oleh pelayan yang tadi memberikan informasi untuknya.
"Saya keluar dulu, Nona." pamitnya sebelum suara Jhico terdengar dari seberang sana.
"Kenapa tidak menjawab panggilanku?"
"Maaf, aku sedang bersama Nenek di taman. Tidak membawa ponsel,"
"Aku hanya khawatir. Semalaman aku tidak bisa tidur karena meninggalkan kamu,"
Semburat hadir di pipinya. Vanilla mengusap kasar di sana agar hilang. Menjijikan sekali respon tubuhnya. Tidak ada yang istimewa dari ucapan Jhico, jadi kenapa harus merasa senang?
"Bagaimana kondisi Papa?"
"Sudah sadar, tapi sekarang sedang istirahat lagi setelah sarapan. Aku tutup teleponnya ya? kamu hati-hati di sana. Tunggu aku pulang,"
*****
Jhico menghubungi istrinya karena Ia perlu mendengar suara itu untuk menghapus jejak sakit hati karena ucapan Opanya beberapa saat lalu. Vanilla adalah penenang yang paling bisa diandalkan setiap kali Jhico mengalami tekanan batin.
"Apa lagi yang kau lakukan pada ayahmu sendiri?"
"Semua sepupumu tidak ada yang sampai membuat orangtuanya celaka, Jhico. Kamu memang paling berbeda diantara cucuku yang lain,"
Itu sekelumit kalimat Arlan yang masih Jhico ingat. Ia kembali dibandingkan. Ia berbeda, tidak seperti sepupunya, yang mengangguk saja ketika dijadikan robot. Seharusnya kalimat yang diucapkan seperti itu.
"Ma, lebih baik Mama makan dulu. Ini sudah aku belikan,"
Karina tidak menatap sedikitpun. Ia tetap berada di samping Thanatan. Waktu istirahatnya benar-benar terganggu, sama seperti Jhico. Tapi yang membuat Jhico tidak habis pikir, tetap saja ada waktu untuk bekerja. Itulah yang membuat Jhico mengkhawatirkan kondisi kesehatan sang Mama. Karena biar bagaimana pun Karina tidak muda lagi, bila tenaganya terlalu dikuras untuk mengurus Thanatan, lalu harus mengerjakan desainnya juga, bukan tidak mungkin Ia juga akan tumbang.
Setelah Thanatan sadar dan dokter mengatakan kondisi Thanatan sudah lebih baik, Karina langsung meminta supir untuk mengambil semua perlengkapan untuknya mendesain agar Ia bisa mengisi waktu luang ketika menunggui Thanatan. Jhico sempat menegur Karina namun tidak berpengaruh apapun. Karina dan Thanatan benar-benar ambisius.
"Kamu kerja saja. Tinggalkan Mama sendiri di sini, tidak masalah."
__ADS_1
Pengusiran itu jelas dikenali Jhico. Namun Ia memilih untuk tetap di sini, menemani Karina yang menjaga Thanatan. Walaupun kemungkinan perdebatan yang lain akan terjadi beberapa waktu ke depan, Jhico tidak masalah.
Tadi, Opanya datang untuk menjenguk sekaligus menyerang Jhico. Nanti siang, Jhico yakin keluarganya yang lain akan datang dan melakukan hal yang sama. Ia sudah terbiasa disindir. Mereka hanya ramah ketika Jhico menikah, mungkin karena suasana kala itu benar-benar mengharuskan mereka untuk berubah dalam waktu yang singkat.
"Nanti Mama sakit. Makan dulu, Ma." sekali lagi Ia menyuruh Mamanya makan. Kali ini tanggapan Karina jauh lebih tegas.
"Mama tidak lapar. Kalau kamu banyak bicara seperti ini, lebih baik pergi. Jangan ganggu!"
Suasana hati Karina belum kembali setelah kejadian semalam. Biasanya Ia lebih baik daripada Thanatan. Tapi kali ini benar-benar pemarah. Karina sangat kesal karena Ia masih beranggapan bahwa Jhico lah yang menyebabkan ini semua.
******
"Kenapa Jhico menghubungimu?"
"Hanya memberi tahu kondisi Papa, Nek."
Hawra mengangguk dan menarik lembut tangan Vanilla agar kembali duduk di sampingnya.
"Hanya Nenek yang banyak bercerita selama ini. Kamu sangat jarang melakukan itu,"
Vanilla terkekeh seraya mengusap pelipisnya bingung. Ia tidak punya cerita yang menarik dalam hidupnya.
"Kamu pasti memiliki mantan kekasih ya? karena kamu sangat cantik. Nenek yakin bukan hanya Jhico yang menyukai kamu,"
"Ya, Nek. Aku memilikinya. Bahkan lebih dari dua,"
Hawra memandang Vanilla dengan takjub. Tidak heran sebenarnya. Gadis di dekatnya ini merupakan bentuk perempuan yang mendekati kata sempurna. Kondisinya yang kekurangan saja benar-benar memikat. Apa lagi saat kondisinya normal?
Vanilla jujur bukan bermaksud apa-apa. Kalimat itu keluar secara spontan. Mungkin karena pembawaan Hawra yang santai, jadi Vanilla lebih terbuka. Dan Hawra memancing hingga akhirnya keluar juga rahasia umum itu. Rahasia yang sudah diketahui oleh orang-orang disekitar Vanilla tidak termasuk keluarga Jhico.
"Tapi dari sekian banyak mantan kekasihmu, hanya Jhico yang beruntung. Nenek bersyukur,"
"Aduh Nenek, jangan mengatakan 'banyak'. Aku malu, Nek."
Keduanya tertawa keras. Hawra dan Vanilla benar-benar memiliki kesamaan. Awalnya kaku namun setelah lebih dekat mengenal, seolah tidak ada batasan lagi.
"Nenek sangat cantik, tapi aku yakin saat muda, Nenek tidak sepertiku,"
"Kamu memuji Nenek tua ini? oh, terima kasih Vanilla,"
Hawra mengusap salah satu sisi wajah Vanilla masih dengan derai tawa yang belum hilang. Belum lama mengenal, tapi Ia sudah menyayangi gadis ini. Sampai rasanya tidak rela bila suatu saat nanti berpisah dengan teman curhatnya selain Jhico.
"Mantan kekasih Nenek hanya Opa," ucapnya dengan pelan seraya memandang ke depan.
__ADS_1
"Hebat, Nenek setia hanya dengan satu laki-laki,"
"Itulah yang Nenek inginkan darimu. Semoga kamu bisa setia hanya pada Jhico,"
Vanilla terbungkam dengan tubuhnya yang tiba-tiba saja kaku. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain.
"Nenek dan Opa harus berpisah. Opa sama dengan Nenek. Dia sangat setia. Tapi terkadang lupa bahwa tidak selamanya Nenek bisa hidup dalam penekanan,"
"Opa begitu mencintai Nenek,"
"Ya, karena itulah Ia begitu takut kehilangan Nenek sampai segala cara dia lakukan agar Nenek tetap bersamanya. Lama-lama Nenek tidak kuat lagi,"
"Opa juga selalu memaksa orang untuk menjadi apa yang dia inginkan. Bukan hanya diterapkan pada Nenek, semua anak-anak kami mendapat penekanan itu. Karina yang perempuan sekalipun harus menjadi korban juga, bukan hanya kakak laki-lakinya saja. Sampai akhirnya Karina menikah dengan Thanatan yang justru memiliki sikap tidak berbeda jauh dengan Opa,"
Dari sinilah Vanilla mulai membuka pikirannya agar lebih luas dalam menilai keluarga suaminya yang selama ini Ia anggap baik-baik saja, sangat harmonis, dan hangat.
Sama seperti keluarganya, keluarga Jhico juga memiliki jalan cerita sendiri. Ia dibesarkan dalam situasi keluarga yang hampir hancur karena Raihan menjalin hubungan gelap dengan wanita selain Rena, dan Jhico sama seperti Karina yang hidup dibawah perintah ayahnya.
Tidak sampai pada anak, Arlan pun memperlakukan cucu-cucunya seperti itu. Tidak ada yang bisa protes karena mereka sudah mendapatkan hasil yang begitu baik dari didikan Arlan. Semua anak-anak Hawra dan Arlan menjadi orang yang sukses, sehingga ketika mereka memiliki anak dan Arlan terkadang ikut campur dalam menentukan masa depan mereka, tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. Karena mereka sudah terbiasa dan yakin bahwa Arlan akan menjadikan semua cucunya sebagai orang terpandang berkat pencapaiannya.
******
"Aku yakin, nama yang keluar sebagai pemenang nanti adalah namaku,"
"Tidak ada yang menjadi pemenang. Proyek taman bermain itu akan dikelola bersama, kata Opa. Kita akan memberikan dana yang sama banyak untuk pembangunan,"
Jhico benar-benar tidak mengerti dengan pembicaraan mereka. Proyek, pemenang, pembangunan, semua itu begitu lekat kaitannya dengan bisnis. Huh! Jhico hanya menjadi pendengar saja ketika sepupu-sepupunya yang datang sore ini membicarakan hal selain kondisi Thanatan. Perkiraan Jhico bahwa mereka akan datang siang hari rupanya salah. Jhico baru ingat kalau mereka orang yang sangat sibuk bekerja.
"Co, tidak ingin bergabung?"
Jhico tidak menanggapi saat Shein menegurnya dengan nada geli. Jhico tetap saja fokus menatap Mamanya yang sedang menggambar. Padahal mereka semua berisik, tapi Karina tidak menegur sama sekali.
"Kalau ingin membahas pekerjaan, lebih baik di kantor. Jangan di ruang perawatan. Papaku sedang sakit dan kalian dengan kurang ajarnya berbincang hal tidak penting di sini,"
"Hey! ini penting. Kalau tidak mengerti, diam saja!" Dinata menyanggahnya dan itu membuat emosi Jhico tiba-tiba melonjak.
"Kalian yang diam! keluar dari sini sebelum aku melakukan pengusiran yang lebih memalukan,"
Ativan menyentuh lengan Dinata lalu mengisyartkan sepupunya itu untuk diam. Qany, Alex, Barvi, dan Hellena juga melakukan hal yang sama. Karena mereka tahu bahwa sepupu mereka yang bernama Jhico itu akan berubah menjadi menyebalkan ketika diusik dengan keterlaluan.
---------
SELAMAT SARAPAN SEMUAAA. BACA INI KL UDH LUANG AJA YAAA. JD GK GANGGU KEGIATAN PAGI HARI KALIAN. TERIMA KASIH UNTUK DUKUNGANNYA😘💙
__ADS_1