
Adrian tidak menyadari kedatangan ayahnya sampai Ia menoleh ketika ayahnya menghentak badannya tepat di sampingnya.
"Oh Daddy sudah pulang ternyata,"
"Sepi, Auris dan Mommy kemana?"
Devan mengedarkan pandangan mencari keberadaan Lovi dan anaknya yang suka berisik selain Adrian yaitu Auristella.
"Ean sakit jadi Mommy menjaga Ean di kamarnya,"
"Sudah Daddy larang sekolah supaya bisa istirahat penuh di rumah tapi tetap saja mau sekolah," gumam lelaki dengan tiga anak itu seraya bangkit dari sofa.
Devan memilih untuk beranjak ke kamarnya. Ingin tahu bagaimana kondisi anak tertuanya yang bersikeras untuk hadir sekolah.
"Lov, Ean,"
Andrean dengan kening terkompres menoleh pada ayahnya yang baru datang.
"Tinggi demamnya?"
Devan menyentuh dahi dan kening Andrean. Ia berdecak pelan. "Sudah Daddy larang tadi. Kamu tidak mau mendengar,"
Lovi mengusap lengan Devan yang kelihatan sekali cemas tapi Ia juga kesal karena Andrean tak mengindahkan ucapannya.
"Bawa ke rumah sakit,"
"Tidak mau, Dad. Aku baik-baik saja,"
Devan merunduk mencium singkat kening anaknya. "Sembuh, harus sembuh," katanya menyemangati anaknya yang tak banyak bicara ini dan paling bertolak belakang kepribadiannya dengan kedua adiknya terutama kembarannya sendiri.
"Ganti baju dulu,"
Devan mengangguk singkat kemudin melakukan apa yang dikatakan istrinya. Ia ke kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaian kerjanya. Setelah itu kembali lagi mendampingi Andrean yang sedang menatap sesuatu di iPad nya.
"Apa itu?"
"Aku sedang melihat tugas,"
"Ck! sembuh saja dulu. Baru pikirkan tugas,"
"Iya dia sudah aku tegur tadi. Tapi teta saja melakukannya. Biar tidak bosan katanya,"
Lovi ikut melihat apa yang sedang dilihat anaknya. Penasaran dengan tugas Andrean. Apakah banyak atau hanya sedikit dan materi apa juga.
******
Jane menemani Vanilla yang sedang menyajikan makan malam seraya duduk menikmati mman ringan.
__ADS_1
"Berhubung aku tamu, jadi aku tidak bantu ya, Van,"
"Ya, aku tahu kamu memang tidak bisa diandalkan dalam urusan seperti ini,"
Jane terkekeh melempari chips yang akan masuk ke mulutnya namun berhubung Vanilla bicara seperti itu, maka Ia melempari Vanilla dengan makanan ringan yang sedang Ia nikmati itu.
"Aku pikir kamu sudah berubah, Jane. Tidak malas lagi,"
"Aku sudah bisa memasak! tapi sekarang aku tamu. Jadi aku tidak mau berurusan dengan masakan sama sekali. Itu sudah seharusnya dilakukan oleh tuan rumah. Bukan begitu?"
Vanilla mendengkus, Ia menggeleng melihat Jane yang keihatan suka sekali dengan yang ia makan.
"Richard menghubungiku, Van,"
"Jawab, jangan menghindar terus. Dia ingin mengetahui kabarmu,"
"Ah nanti malam saja aku bicara dengannya,"
"Memang kenapa kalau sekarang?"
"Ada kamu,"
Alis Vanilla menukik. Ia menoleh pada Jane yang ada di pantry. Tidak mengerti Jane mempermasalahkan kehadirannya.
"Kasihan kamu. Aku takutnya nanti kamu juga ingin bermesraan seperti aku dan Richard sementara Jhico 'kan belum pulang,"
"Bercanda, Van,"
"Ck! kamu memang niat mengejekku. Sebentar lagi Jhico pulang. Aku tidak mau bermesraan lewat telepon. Aku lebih mengasihani kamu, sepupuku,"
Jane tertawa setelah mendengar itu, ucapannya dibalas telak oleh Vanilla dengan membawa-bawa masalah hubungan jarak jauh yang sedang ia jalani bersama Richard.
Jane menjawab panggilan Richard yang sudah empat kali menghubunginya.
"Hallo,"
Vanilla mencibir melihat sepupunya yang kelihatan tak acuh ketika menjawab panggilan. Padahal wajahnya kelihatan senang sekali Richard menelponnya.
"Kenapa menghubungiku?"
Vanill semakin mencibir, "Pakai tanya kenapa menghubungi. Kamu kelihatan senang begitu,"
Jane melotot pada Vanilla seraya berdesis tajam, "Diam!"
Vanilla merotasikan bola matanya, mengejek Jane. Ia kini mendekatkan telinganya ke ponsel Jane yang langsung beringsut menjauh.
"Kamu baik-baik saja 'kan?"
__ADS_1
"Bagiman harimu di sana?"
"Jaga kesehatanmu. Jangan terlalu malam kalau tidur,"
Vanilla kembali menjauh. Ia senang sekali mendengar Richard yang begitu perhatian dengan Jane menandakan kalau lelaki itu sangat mencintai Jane dan Ia tidak tenang membiarkan Jane di sini tanpa dirinya.
"Aduh manisnya. Jadi ingin melempar piring," cetus Vanilla seraya terkekeh kecil.
"Aku baik-baik saja,"
"Tanya padanya, 'kamu pun baik-baik saja?' cepat tanya," Vanilla menitah, Ia sepertinya bisa memperbaiki hubungan Jane dan Richard. Semoga bisa!
Ia sangat berharap mereka bisa kembali baik-baik saja, saing melengkapi satu saa lain tidak berjauhan seperi ini dan terlibat perang dingin meskipun memang itu datangnya dari Jane. Sebab Richard tidak dingin sama sekali sejak jane pergi. Ia rajin menanyakan kabar istrinya itu, bahkan setiap berapa jam sekali ia akan mengirimi pesan untuk jane yang terkadang sengaja dihiraukan Jane atau sekalipun merespon, Jane tidak seperti biasanya yang akan dengan senang hati menjawab semua pertanyaan suaminya bila suaminya itu sedang menanyakan kabarnya.
"Apa sih? aku tidak mau bertanya seperti itu!" bisik Jane menolak keras suruhan Vanilla.
"Erghh, ditinggal barulah kamu menangis darah nanti,"
"Ck! mulutmu itu, Van!"
"Ya lagipula kenapa harus gengsi menanyakan kabar suami? dia itu sudah peduli!"
Mereka berbisik sementara Richard terus mengajak jane bicara.
"Hallo, Jane. Kamu masih di sana 'kan?"
"Hmm ya, aku tutup dulu teleponnya ya,"
"Kamu sudah makan? jangan terlalu memikirkan banyak hal. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk istirahat. Aku beyara saat kita bertemu nanti, kamu audah dalam keadaan baik-baik saja,dan hubungan kita pun begitu,"
Jane terdiam mendengarkan serangkaian kalimat yang kedengaran begitu tulus di telinganya. Apa Richard masih berharap bisa bertemu dengannya lalu berharap mereka bisa kembali baik-baik saja?
Benarkah begitu? kalau memang benar, boleh Jane merasa senang? Kali ini ia ingin Richard tahu rasanya hidup, menjalani keseharian tanpa dirinya. Beginilah Jane kalau sudah lelah. Jane hanya ingin Richard lebih peduli padanya. Bukan hanya sekedar pertanyaan 'kamu baik-baik saja?' tapi tentang bagaimana Richard berusaha memahami perasaannya. Selama ini Richad tahu kalau keluarganya sudah cukup banyak menyakiti tapi ia tidak pernah berani berujar untuk menghentikan itu semua. Ia memang memeluk Jane bila perempuan itu hancur, kecewa dan sedih. Tapi Ia tidak pernah mau berusaha untuk menghentikan penyebab Istrinya tersakiti.
"Aunty,"
"Mumu,"
Grizelle berseru memanggil keduanya dan langsung meminta pada Auntynya agar Ia dibantu untuk naik ke atas kursi di samping Jane.
"Baik-baik di sana ya. Aku masih mencari waktu untuk menyusulmu. Tunggu aku di sana,"
"Aunty bicarrla (bicara) dengan siapa?"
"Uncle Ri," Vanilla yang menjawab pertanyaan Grizelle.
Mata anak itu berbinar.. Ia segera berseru agar Richard bisa mendengar suaranya.
__ADS_1
"Uncle, ini aku Icelle. Kenapa tidak datang ke sini? kenapa hanya Aunty Jane saja yang berliburrl (berlibur)?"