Nillaku

Nillaku
Nillaku 144


__ADS_3

"Kamu pulang saja. Untuk apa di sini kalau hanya mencari masalah?"


"Aku memang akan pulang,"


"Ya sudah, cepat pulang!"


Jhico menghembuskan napas pelan. Saat masih kecil Ia juga sering menjadi penonton saat kedua orangtuanya adu mulut.


"Jangan bertengkar di depan anak. Aku sudah pernah bilang 'kan?"


Di usia Jhico yang memasuki dua belas tahun Ia mulai mengajukan protes atas rasa tidak nyaman nya ketika Karina dan Thanatan adu mulut. Ia tidak ingin menjadi orang yang menyaksikan itu semua.


"Maaf, Jhico." jawab Karina dengan pelan. Apa yang dikatakan Jhico memang benar adanya. Tidak seharusnya mereka adu mulut di hadapan Jhico. Namun sikap Thanatan membuatnya tak bisa mengendalikan diri.


"Papa pulang dulu. Pikirkan saran dari Papa,"


"Aku tetap ingin berobat di sini, Pa. Terimakasih atas sarannya ya, Pa."


Thanatan berdecak dan saat mulutnya terbuka ingin menyahuti, Karina melotot padanya.


"Pulang, aku bilang pulang!"


Thanatan akhirnya benar-benar melangkah pergi dari ruangan anaknya. Dan saat itulah Jhico bisa menghela napas lega.


*******


Akhirnya Vanilla sampai di mansion, tempat tinggal nya saat belum menjadi seorang istri dan Ibu.


"Rasanya sudah lama sekali aku tidak ke sini. Terakhir kapan ya?"


"Makanya Papa ajak ke sini. Papa tahu kamu rindu mansion, tempat masa kecilmu,"


"Selamat datang, Grizelle. Semoga nyaman tinggal di sini ya," ujar Raihan pada cucunya.


"Iya, Grandpa. Terimakasih sudah mengajakku ke sini," jawab Vanilla mewakilkan anaknya.


"Kamu langsung istirahat saja, Vanilla. Kamarmu rajin dibersihkan,"


"Iya, Ma."


Vanilla beranjak ke kamarnya sementara barang bawaannya sudah dibawa oleh maid.


Vanilla menunduk sebentar untuk melihat anaknya yang berada dalam gendongannya. "Kamu pasti nyaman di sini," gumamnya pada sang anak yang sedari tadi menatapnya. Vanilla tersenyum lalu memberi kecupan di kening Grizelle.


Setelah Ia tiba di kamar, Grizelle ditempatkan dengan nyaman di ranjang. Vanilla membuka jaket yang membalut tubuh Grizelle. Lalu Ia menggantikannya dengan selimut.


"Tidur ya, Sayang. Ini sudah malam,"


Vanilla berbaring di samping Grizelle. Dan memeluk anaknya dengan lembut. Saat Ia akan memejamkan mata, suara ketukan pintu membuat matanya tidak jadi terpejam.


"Vanilla," panggil Rena dari luar diiringi dengan ketukan pintu.


"Vanilla,"


"Iya, Ma. Ada apa, Ma?"


Vanilla segera membuka pintu kamarnya. Dan Rena sudah berdiri di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Kamu mau minuman hangat apa? tadi dingin sekali di perjalanan,"


"Hmmm... tidak usah, Ma. Aku ingin tidur saja,"


"Oh ya sudah. Selamat beristirahat ya. Grizelle sudah tidur?"


Vanilla menolekan kepalanya sebentar ke arah ranjang. Mata Grizelle terbuka. Vanilla segera menjawab Mama nya.


"Belum, Ma."


"Okay, Mama ke kamar dulu kalau begitu,"


"Iya, selamat istirahat, Ma."


*******


Pagi merampas malam. Dokter baru saja selesai memeriksa kondisi Jhico. Lelaki yang berusia paruh baya itu melepas stetoskop dari telinganya. Perawat pun melepas alat tensi dari lengan Jhico.


"Sepertinya dua hari lagi Dokter sudah boleh pulang. Tapi nanti dilihat lagi perkembangannya. Hanya saja, pemulihan cedera tulang yang Dokter alami masih memakan waktu cukup lama,"


"Iya, Dokter. Terimakasih,"


Dokter dan perawat itu keluar dari ruangan Jhico. Karina langsung tersenyum mendengar ucapan dokter yang memperkirakan dua hari lagi Jhico sudah diperbolehkan pulang hanya saja tetap harus melihat perkembangan kondisi Jhico selama dua hari ke depan. Kalau kondisinya semakin baik, maka Jhico benar-benar keluar dari rumah sakit.


"Vanilla pasti senang mendengar kabar ini,"


"Iya, apa dia sudah bangun ya? aku ingin menelponnya,"


"Pasti sudah. Dia rajin bangun pagi kata mu. Apalagi semenjak memiliki anak,"


"Iya, Ma. Dulu dia selalu kalah cepat dari aku untuk bangun pagi. Kalau dibangunkan, susahnya minta ampun. Tapi lama-lama aku yang kalah cepat,"


******


Ini merupakan pagi pertama untuk Grizelle dan Raihan berjemur di taman mansion. Raihan senang sekali karena paginya ini tidak membosankan seperti pagi sebelumnya. Setelah ketiga cucunya yang lain tak lagi tinggal di mansion, Raihan merasa kesepian. Biasanya setiap pagi Ia akan mengajak Andrean dan Adrian bersepeda atau mengajak Auristella berjemur juga. Setelah mereka tinggal di rumah sendiri, semua kegiatan itu hilang. Raihan bersepeda hanya berdua dengan Rena.


Grizelle digendong oleh Raihan sembari dibawa berjalan pelan. Grizelle menggeliat setelah matahari menyapa kulitnya.


Saat tangannya akan menggeser kacamata kecil yang dipakainya untuk berjemur saat ini, Raihan segera menahan.


"Tidak boleh dilepas, Sayang. Biar matamu tetap sehat,"


"Eenghh," Grizelle melenguh seperti melayangkan protes. Raihan segera mengajaknya mengobrol lagi sembari berjalan pelan.


Rena menghampiri suaminya yang belum sarapan. Ia memanggil Raihan. "Pa, belum sarapan. Diajak Vanilla sarapan bersama. Dan sudah lima belas menit Griz berjemur,"


Raihan mengangguk. Ia segera membawa Grizelle masuk ke dalam mansion dan berjalan menuju ruang makan.


"Mama sudah sarapan. Griz dengan Mama saja. Kamu dan Papa silahkan sarapan,"


Rena mengambil cucu bungsunya dari tangan sang suami. Grizelle langsung menangis. Tentu saja Vanilla dan Raihan terkejut.


Vanilla langsung menghampiri anaknya. "Kenapa menangis, Sayang? ada apa denganmu?"


"Begitu lepas dari Papa, Griz menangis,"


"Oh mau dekat dengan Grandpa ya? sedang manja cucu Grandma ini," tebak Rena.

__ADS_1


Raihan kembali menggendong cucunya dan benar saja, Grizelle langsung berhenti menangis. Vanilla yang melihat itu menggeleng pelan.


"Bagaimana Grandpa mau sarapan dan bekerja, Griz?"


"Tidak apa. Grandpa dengan senang hati meliburkan diri dari pekerjaan,"


"Tapi Papa belum sarapan,"


Saat Raihan mencoba untuk membawa Grizelle duduk, Grizelle langsung merengek. Sepertinya Ia ingin kakeknya terus berdiri seraya menggendongnya.


"Nanti saja, cucu lebih penting,"


******


Denaya, mantan kekasih sekaligus teman Jhico saat bekerja di rumah sakit hari ini datang bersama teman-teman Jhico yang lainnya seperti Vander dan Nares.


"Kalian tahu darimana kalau aku sakit?"


"Tadi kami ke klinikmu. Dan mendapat kabar bahwa kamu baru saja mengalami kecelakaan dari Kenzo,"


"Sepertinya kecelakaan yang kamu alami cukup berat juga ya, Co?"


"Iya, begitulah. Tapi aku bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup,"


"Istrimu dimana?" tanya Nares saat tidak mendapati Vanilla di ruangan Jhico. Seharusnya istri selalu mendampingi suaminya disaat-saat seperti ini.


"Mereka baru memiliki anak, Res." Denaya mengingatkan Nares. Tidak mudah membagi perhatian antara anak yang usianya masih sangat kecil dan juga suami yang sedang sakit.


"Oh iya, kau harus mengalah pada anakmu ya? Hahaha,"


*******


Hari ini Raihan benar-benar tidak bekerja. Ia akan menghabiskan waktu selama satu hari bersama sang cucu yang pertama kalinya menginap di mansion.


Namun Ia meminta sekretarisnya untuk datang untuk membawa berkas yang akan diperiksa oleh Raihan.


"Tidak bekerja karena cucu sedang manja ya, Tuan?"


"Kami jarang bertemu. Jadi kali ini aku tidak akan membuang kesempatan sia-sia,"


Sekretaris Raihan itu berdecak kagum. Raihan menyambut sekretarisnya seraya menggendong Grizelle yang baru bangun tidur.


"Seandainya kakek ku masih hidup. Mungkin saat aku masih kecil, aku akan diperlakukan seperti Nona Grizelle juga,"


"Kakek mu meninggal saat kamu---ah tidak. Maafkan aku telah membahas itu," Raihan tidak jadi bertanya mengenai itu. Belum tentu dia nyaman bila Raihan membahas hal tersebut karena bisa saja menggali kesedihan yang pernah dirasakan di masa lalu.


"Saat aku lahir, kakekku meninggal, Tuan. Aku belum sempat berkenalan dengannya,"


Raihan bisa melihat kesedihan di mata sekretaris yang baru satu tahun lebih bekerja dengannya karena sekretaris yang bekerja sebelumnya sudah mengundurkan diri untuk fokus menghabiskan waktu bersama keluarga.


Dia seorang laki-laki yang usianya lebih tua daripada Devan. Meski terbilang baru bekerja dengan Raihan, namun kedekatan mereka sudah seperti keluarga. Sebab, keluarga besarnya tinggal di pulau berbeda dan kedua oragtuanya sudah tiada.


"Sekarang aku menjadi kakek mu,"


"Hahahha Tuan ada-ada saja,"


"Agar kau tidak sedih,"

__ADS_1


 


UDH BACA ADDICTED BLM? KUY MAMPIR KE LAPAK MASA MUDA RENA & RAIHAN.


__ADS_2