Nillaku

Nillaku
Nillaku 212


__ADS_3

"Keyfa, ayo kita belmain,"


Tanpa disadari Grizelle memang terlahir sebagai anak yang bisa memahami keadaan orangtuanya tanpa diminta. Ia sepertinya tidak tahu kalau dirinya sendiri berhasil mengeluarkan Vanilla dari situasi yang tidak nyaman.


Anak itu mengajak Keyfa bermain, meninggalkan Mumu dan Pupunya berdua. Jhico menghela napas pelan sebelum membawa istrinya ke taman rumah Keyfa.


Vanilla duduk menatap ke depan dengan pandangan kosong. Kedua tangannya saling mencengkram.


"Kenapa orang lain harus mengingatkan aku tentang calon anak kita yang sudah tidak ada, Jhi? Kenapa? apa karena rasa bersalahku belum cukup dimata Tuhan?"


Jhico tak langsung menjawab. Ia mengusap bahu istrinya yang kini menunduk. "Kamu sudah menerima semuanya. Seharusnya, hal seperti ini tidak terjadi lagi," gumam Jhico yang justru mengundang tatapan tajam istrinya.


"Aku sudah menerima. Tapi kenapa harus dibahas lagi?!" tanpa sadar suara Vanilla lebih kencang dari sebelumnya yang hanya berupa gumaman pelan.


"Nilla, Keyfa tidak tahu kalau adiknya Griz sudah tidak ada. Maka dia bertanya. Dia tidak bersalah,"


"Dia sudah cukup mengerti 'kan dengan hanya melihat perutku saja,"


"Mungkin dia bingung kenapa bentuknya belum terlihat. Dia berpikir usianya masih terlalu kecil atau memang dia mengira telah terjadi sesuatu denganmu. Dia hanya bertanya," ujar Jhivo memberi penjelasan pada istrinya.


"Bukankah kamu sudah pernah mengatakannya? huh? dia sering menelpon kamu 'kan?"


Jhico menghembuskan napas berat. Ia memijat kepalanya yang tiba-tiba sakit setelah mendapati Vanilla yang seperti ini.


"Seingatku Keyfa belum tahu. Jadi, dia tidak salah. Dia hanya bertanya karena bingung.

__ADS_1


Mungkin dia pikir setelah tahu bahwa kamu hamil, seharusnya sekarang perutmu terlihat berubah. Tapi saat ini malah tidak. Maka dia bertanya,"


"Keyfa hanya penasaran dengan adiknya Griz," imbuh Jhico seraya mengusap helai rambut Vanilla.


"Gagal menjadi adik," tandas Vanilla dengan dingin. Ia menyingkirkan tangan Jhico yang baru saja mengusap perut ratanya.


"Aku mau pulang,"


"Jangan begini lah, Nilla. Kasihan Griz,dia sedang bermain,"


"Ya sudah, kamu saja yang temani Griz bermain di sini. Aku ingin pulang!" tekan perempuan itu pada suaminya.


Vanilla bangkit dari duduknya dan Jhico langsung menahan lengan sang istri. Ia pikir Vanilla sudah tidak marah lagi dengan pertanyaan Keyfa tadi.


"Jangan marah hanya karena permasalahan yang kecil. Kamu marah hanya karena Keyfa bertanya. Kekanakan sekali kamu,"


Dengan sedikit paksaan, Jhco meminta istrinya untuk kembali duduk. Ia yang kini berdiri menjulang di hadapan Vanilla. Berusaha menghalangi niat istrinya yang akan pergi.


"Salah kamu sendiri yang selalu memasukkan perkataan orang lain ke dalam hati kamu. Padahal kamu tahu itu berpotensi menyakiti kamu,"


"Berhenti untuk mengingat yang sudah terjadi. Kenapa setiap orang yang bertanya tentang hal itu kamu selalu seperti ini? kemarin, saat tidak sengaja bertemu dengan temanku di pusat perbelanjaan dan bertanya tentang kehamilanmu, sikap kamu juga begini,"


Jhico tetap tenang sekalipun Ia kesal. Apalagi yang dihadapinya ini adalah Vanilla yang rupanya belum bisa keluar sepenuhnya dari kubangan rasa sakit setelah mengalami kehilangan.


Vanilla memang masih sering mendatangi ruangan yang rencananya akan menjadi kamar anak kedua mereka. Ia menghabiskan waktu di sana kalau sedang tidak ada kegiatan dan merasa rindu dengan anaknya. Namun, rautnya tak sekacau saat awal-awal calon anak mereka pergi. Sekarang ini Ia sudah bisa lebih berdamai dengan kenyataan. Tapi tetap saja Ia tidak akan bisa menghilangkan rasa terpukul itu. Ketika ada orang lain yang mengingatkan dirinya tentang anaknya yang telah pergi, emosional nya yang belum stabil sepenuhnya, pasti akan berontak.

__ADS_1


"Nanti, setelah Griz selesai bermain dengan Keyfa, kita datangi tempat tinggal anak kita yang sekarang ya," ujar Jhico sembari terus mengusap rambut istrinya penuh kasih sayang. Seolah apa yang Ia lakukan itu dapat mendinginkan kepala Vanilla yang mungkin sedang panas karena amarah. Ia ingin menyudahi pembahasan ini sebelum Vanilla semakin tidak terkendali.


Kemarin saat bertemu teman nya di pusat perbelanjaan dan mereka sedikit berbincang, salah satu topik pembicaraan mereka adalah kehamilan Vanilla, reaksi Vanilla sama persisi seperti ini.


Arxel bersama Istrinya antusias bertanya mengenai kabar kehamilan Vanilla yang sempat Jhico bagikan pada teman-teman terdekatnya salah satunya Arxel yang memang sudah tak pernah lagi bertemu setelah mereka terjun ke dunia kerja tapi masih sering berkomunikasi.


Istri Arxel mengusap perut Vanilla seraya berdoa untuk kelancaran semuanya selama Vanilla mengandung. Dan itu membuat Vanilla hancur luar biasa sampai sulit sekali mengatakan pada mereka bahwa anaknya sudah tidak ada. Apa yang mereka doakan?!


Akhirnya Jhico yang menjelaskan pada mereka. detik itu juga keduanya memohon maaf pada Vanilla. Jhico memaklumi karena mereka memang tidak tahu. Justru niat mereka sangat baik. Mendoakan Vanilla dan anak mereka yang seharusnya masih ada di perut sang ibu tapi Tuhan berkata lain.


****


Sudah tiga kali setelah kepergian sang anak, Vanilla datang ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dan selalu ada tangis yang tumpah meskipun Ia sudah bertekad untuk tegar selama diperjalanan menuju pemakaman.


Ia mengusap tanah yang menimbun makhluk yang ditakdirkan hanya sebentar berada dalam rahimnya. Bahkan Ia tahu mengenai kehadirannya hanya sebentar sebelum akhirnya kehilangan.


Vanilla selalu berdoa untuk kebahagiaan anaknya di sana dan berharap mereka bisa bertemu suatu hari nanti.


Grizelle hanya mampu terdiam menatap tempat tinggal adiknya. Di balik ketenangan wajahnya, Ia juga menyimpan kesedihan karena Ia gagal menjadi kakak.


Ia menoleh pada kedua orangtuanya yang menyelami perasaan masing-masing. Baru kali ini Ia melihat langsung bagaimana kedua orangtuanya bila mengunjungi calon adiknya. Karena ini pertama kalinya Ia ikut ke pemakaman. Sekalipun tak pernah datang sejak kepergiannya, Grizelle selalu berdoa untuk adiknya. Dan Ia juga berharap pada Tuhan agar secepatnya diberikan pengganti supaya Mumu nya tidak sedih lagi dan kamar yang selama ini diam-diam didatangi Vanilla bisa dihuni oleh adiknya.


Grizelle menunduk kemudian memejamkan matanya sejenak, "Baik-baik di sana ya. Aku selalu beldoa (berdoa)untukmu. Kita akan beltemu (bertemu)suatu hali (hari) nanti. Dan ingat ya, sekalipun nantinya aku memiliki adik yang lain, aku tidak akan melupakan kamu adik peltama (pertama) ku. Kamu halus (harus) ingat ingat ingat. Okay?"


 --------

__ADS_1


Icell gemezz bgt ga sie😢doa nya pinter bgt tp tetep bwt gemezzz.


__ADS_2