Nillaku

Nillaku
Nillaku 213


__ADS_3

Usai berdoa di dalam hatinya, ia bangkit berdiri sementara kedua orangtuanya masih merendahkan tubuh mereka di dekat pusara calon adik Grizelle.


Grizelle menatap sekelilingnya. "Jadi, di sini tempat tinggal adikku ya. Telnyata lamai (ternyata ramai) adikku tidak akan kesepian," gumamnya menyoroti satu persatu pusara orang lain.


Ia tersenyum, pikirannya yang polos membayangkan kalau adiknya yang selama ini Ia kira kesepian tidak ada dirinya sebagai teman bermain, ternyata tidak benar. Ia yakin adiknya banyak teman.


"Ayo, kita pulang," ajak Jhico pada istrinya. Ia mengulurkan tangan pada Vanilla yang tidak langsung diterima Vanila.


Vanilla mencium telapak tangannya lalu meletakkannya di pusara anaknya. Ia hanya bisa mengirim kecup kasih sayang seperti itu sekalipun Ia ingin sekali mendekap kemudian mengecup anaknya sepuas hati sebagai bukti bahwa Ia begitu mencintai darah dagingnya, seperti yang Ia lakukan pada Grizelle sebelum tidur maupun akan berangkat sekolah.


Vanilla berdiri menerima uluran tangan suaminya. Grizelle sudah berada dalam gendongan ayahnya.


"Pu, di sini adik tidak akan kesepian 'kan? kalena banyak olang (orang) di sini,"


Jhico yang mendengar anaknya berbicara seperti itu tersenyum tipis. "Adik tidak akan merasa kesepian,"


"Kita selalu mendoakan nya,"


"Iya, nanti juga kita pasti beltemu ya, Pu?"


"Selalu berdoa agar kita bisa berkumpul suatu hari nanti,"


Grizelle mengangguk dan mengangkat ibu jarinya. Jhico merasa gemas dengan anak dalam gendongannya ini.


"Kamu berat juga ya,"


Berjalan menuju gerbang keluar pemakaman lumayan jauh dan Jhico mulai merasa lelah membawa beban tubuh putrinya itu.


"Iya, Pu. Aku 'kan makhluk hidup. Pasti belkembang dan beltumbuh (berkembang dan bertumbuh)," sahutnya yang mengundang tawa kecil Vanilla yang sedari tadi masih mencoba untuk menghilangkan suasana hatinya yang sedih usai berkunjung ke tempat tinggal anaknya yang baru.


"Mumu saja yang gendong atau kamu jalan sendiri, Sayang. Sudah besar juga,"


"Aku mau digendong Pupu saja. Selagi Pupu masih bisa. Nanti kalau aku sudah dewasa lalu Pupu sudah menjadi kakek-kakek, Pupu pasti tidak bisa menggendong aku,"


Jhico menggeleng pelan mendengar putrinya ini bicara panjang lebar sampai pemikirannya sudah jauh sekali mengenai Pupunya yang akan berubah menjadi kakek nanti.


******


Hari ini Karina sengaja menjemput Grizelle di sekolahnya. Karena Ibunya, Hawra sudah merindukan anak itu. Ia pun demikian.


Setelah mendapat izin dari putranya untuk membawa sang cucu, barulah Ia datang ke sekolah Grizelle. Reaksi Grizelle benar-benar senang.


Sebelum ke kediamannya, Ia mengajak anak itu makan siang dulu. Grizelle ditawari bermain terlebih dahulu di playground namun Grizelle menolak karena Ia ingin segera bertemu Hawra dan bermain saja di rumah kakek dan neneknya.


"Nay-Nay, ada kakek di rumah ya?"


"Hmm...tidak ada, Sayang. Kakek sedang ada pekerjaan di Jepang,"

__ADS_1


"Oh, Nay-Nay tidak menemani?"


"Tidak, ada Oma Hawra di rumah. Jadi Nay-Nay tidak ikut,"


Grizelle mengangguk-angguk, kemudian sibuk lagi menyesap minuman berkemasan lucu yang kini di pangkunya.


Karina, Nay-Nay nya yang gagal dipanggil Nenek olehnya karena saat masih kecil susah menyebut 'Nenek' kini memilih untuk memeluknya, mengusap kepala Grizelle dengan penuh kasih sayang.


Hawra memintanya agar membawa Grizelle ke rumah hari ini salah satu alasannya karena tidak ada Thanatan.


Hawra yakin suasananya akan lebih hangat kalau tidak ada menantunya. Grizelle mungkin tidak akan canggung bermain sepuasnya.


"Nay-Nay, aku punya boneka panda sepelti ini,"


Grizelle menunjuk kemasan minuman yang sedang Ia teguk sedari tadi. Kemasannya memang lucu karena berbentuk panda dan bisa menimbulkan cahaya lampu kelap-kelip jika bagian telinga panda di tekan sedikit.


Minuman itu dibelikan oleh Karina. Karena Karina melihat sebelum Grizelle dan dirinya keluar dari sebuah food court, Grizelle terus memandang minuman itu. Karina tahu cucunya menginginkan minuman itu tapi tidak sepatah katapun Grizelle mengucapkannya.


"Boneka panda?"


"Iya, dibelikan Glandpa Laihan waktu pelgi kelja ke---kemana ya, aku lupa. Glandpa Laihan selalu belikan aku hadiah kalau pulang dali suatu tempat,"


Senyum Karina yang tak pernah berhenti mengembang setiap kali Grizell antusias bicara padanya, perlahan memudar karena mendengar secara langsung bagaimana Grizelle diperlakukan oleh Raihan.


"Griz kenapa tidak pernah meminta sesuatu pada Kakek?"


"Hmm...aku juga tidak pelnah minta pada glandpa. Aku juga kaget setiap mendapat hadiah,"


"Kenapa tidak mau meminta? padahal kamu berhak melakukannya,"


"Tidak mau saja, Nay-Nay."


Terkadang Grizelle sama saja dengan anak-anak yang lainnya. Jika menginginkan sesuatu maka akan meminta pada orang terdekatnya. Tapi ada masa dimana Ia enggan untuk mengatakannya.


*****


"Griz sedang apa ya sekarang,"


Di sela-sela make up, Vanilla ingat belum menanyakan tentang putrinya pada orang di kediamannya.


Ia melekatkan ponsel ke telinga untuk menghubungi Nada, perawat Grizelle. Nada langsung menjawab panggilannya.


"Nada, Griz sudah pulang? Pupunya yang menjemput,"


"Belum pulang, Nona. Mungkin sebentar lagi sampai,"


"Oh begitu, baik. Terimakasih,"

__ADS_1


Masih ada waktu sebelum Ia kembali bekerja untuk memastikan apakah anaknya sudah aman bersama sang ayah atau belum.


Tadi pagi Grizelle tidak mau diantar oleh Jhico ataupun Vanilla. Ia ingin dengan driver saja. Tapi anak itu meminta agar dijemput saat pulang sekolah. Karena Vanilla ada pekerjaan Ia takut tidak bisa tepat waktu menjemput Vanilla, maka Jhico lah yang akan mengambil alih.


"Jhi, Griz sudah kamu jemput?"


"Griz ke rumah Mama dan Papa. Nenek Hawra juga ingin bertemu dengannya,"


Vanilla mengerjap kemudian menggumam. Ia tidak akan tahu anaknya tidak pulang ke rumah tepat waktu kalau tak menghubungi Jhico.


"Kamu tidak mengabari aku,"


"Maaf aku lupa. Hari ini sibuk sekali,"


"Baiklah, selamat bekerja lagi. Oh iya, nanti aku saja yang datang ke rumah Mama dan papa untuk membawa Grizelle pulang,"


Usai mengatakan itu, Vanilla memutus panggilan karena harus kembali bekerja. Setelah itu Ia bisa datang menemui anaknya.


*****


"Oma Haw sudah sehat? jangan sakit-sakit lagi. Bial bisa kumpul telus di sini,"


Grizelle melepas pelukan Hawra setelah berucap seperti itu. Hawra tersenyum haru. Ternyata Ia sudah meninggalkan Grizelle cukup lama. Sebelum Ia pergi berobat, Grizelle belum bisa bicara dan Ia masih kecil sekali.


"Iya, Sayang. Terimakasih ya sudah mendoakan Oma sembuh. Setiap Pupu telepon Oma, selalu saja Oma menanyakan Grizelle,"


"Iya, Pupu juga celita padaku kalau telepon Oma,"


Grizelle membantu Karina membimbing langkah Hawra untuk duduk di sofa. Karena terlalu tidak sabar Hawra sampai menanti kehadiran Grizelle di depan pintu masuk istana Karina dan Thanatan. Ia langsung memeluk Grizelle begitu Grizelle tiba. Grizelle pun nampak antusias. Ia berlari menuju Hawra dan menyambut pelukan hangat Hawra.


"Pelan-pelan saja, Oma," ujarnya pada Karina, Nenek dari ayahnya itu.


"Terimakasih ya,"


Begitu duduk di sofa, Hawra tersenyum mengucap terimakasih pada Grizelle.


"Grizelle mau minum apa, Sayang?"


Grizelle menoleh pada Karina yang bertanya padanya. Ia menggeleng seraya menepuk pelan perutnya.


"Perutku sudah penuh. Sejak tadi minum telus,"


Karina terkekeh kemudian melanjutkan, "Makan?"


"Makan ya? pasti lapar setelah belajar,"


"Nanti saja, Nay-Nay. Aku makan nya di lumah. Bial sama Mumu. Biasanya Mumu ajak aku makan belsama kalau Mumu ada di lumah dan aku sudah pulang sekolah,"

__ADS_1


 ------


Hai hai semuanyaa. Ada yg nunggu Griz? aku dtg bawa Griz nih. Like, vote, komen jgn lupa yaaa


__ADS_2