
Tidak jauh berbeda dengan Vanilla, Jhico pun tampak semangat sekali hari ini. Ia bangun lebih pagi dan mandi. Setelah diperiksa oleh dokter dan sudah diperbolehkan untuk pulang, wajah berseri tak bisa disembunyikan oleh Jhico.
"Sudah bosan aku di sini. Ya Tuhan, aku bersyukur sekali bisa kembali berkumpul dengan anak dan istriku nanti," batinnya tidak henti mengucap syukur. Karena Tuhan, Ia masih diberi kesempatan hidup walaupun harus mengalami cedera tapi setidaknya Ia diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan di dunia.
Papa dan neneknya datang ke rumah sakit. Hawra turut membantu Karina membereskan semua perlengkapan Jhico.
Thanatan membawa barangnya ke dalam mobil. "Terimakasih, Pa." ujar Jhico karena Papa nya sudah membantu.
"Terimakasih, Ma, Nek. Tidak ada Vanilla, Mama dan Nenek yang membantu,"
"Iya, sama-sama. Vanilla tidak ke sini karena dia akan menyambut kamu di apartemen. Mama yakin dia pun sibuk menyiapkan semuanya,"
*******
"Keyfa, kakak dokter sudah pulang."
"Woaah benarkah? aku boleh menjenguknya?"
"Kakak dokter baru pulang. Biarkan dia istirahat dulu,"
Ucapan Vivi, Ibunya membuat Keyfa merengut. Vivi tidak ingin anaknya mengganggu waktu istirahat Jhico. Jhico mungkin sedang menikmati waktu kebersamaannya dengan sang anak juga. Kalau ada Keyfa, Grizelle pasti terabaikan. Ia yakin dengan hal itu. Dan Ia akan merasa tidak enak hati lagi dengan Vanilla.
"Kenapa kamu merengut, Keyfa?" tanya ayahnya, Ferdy yang melangkah mendekat padanya.
"Aku mau menjenguk Kakak dokter, Ayah."
"Ya sudah--"
"Jangan sekarang, Ibu bilang. Kamu harus memberi kesempatan untuk kakak dokter beristirahat dan Grizelle juga pasti sedang melepas rindu dengan ayahnya,"
"Grizelle masih kecil, Ibu. Dia belum mengerti rindu,"
"Tapi dia punya batin yang kuat dengan Kakak dokter karena mereka memiliki hubungan darah. Mereka orangtua dan anak,"
"Iya, aku tahu Grizelle anak nya kakak dokter. Tapi aku adiknya Kakak dokter. Kakak dokter sangat menyayangi aku,"
Vivi kehabisan kata untuk menjelaskan pada anaknya. Meskipun Jhico menganggap Keyfa sebagai adik, tapi tetap saja Grizelle yang lebih berhak untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang Jhico.
"Kalau begitu, dengarkan Ibumu."
"Ayah, kenapa tidak mau mendukung aku? aku ingin sekali ke apartemen kakak dokter. Dia pulang ke sana 'kan?"
"Tentu saja, karena kakak dokter tinggal di sana," jawab Ibunya.
Keyfa merengek pada sang ayah yang seharusnya mendukung keinginan dirinya. Tapi sayang, Ferdy malah menyuruhnya untuk mendengarkan kata-kata Vivi.
"Ayah, antar aku ke apartemen. Aku mohon. Selain ingin menjenguk Kakak dokter, aku juga ingin bermain dengan Grizelle,"
"Nanti, Keyfa! kamu harus dengar ucapan Ibu!" tegas Vivi yang membuat Keyfa terbungkam. Anak itu segera memeluk ayahnya, meminta perlindungan dan pembelaan.
"Kamu jangan membentaknya begitu," tegur Ferdy yang membuat Vivi menatapnya tajam.
__ADS_1
"Keyfa harus memahami orang lain. Jhico memang menyayangi Keyfa dan dia pasti tidak akan menolak kedatangan Keyfa tapi Jhico juga butuh waktu untuk istirahat dan berkumpul dengan keluarga kecilnya,"
"Iya, aku mengerti tujuan kamu melarang Keyfa. Tapi ucapkan dengan baik-baik,"
"Aku sudah memberi tahunya dengan cara yang baik sejak tadi. Tapi Keyfa tetap saja tidak mau memahami,"
Vivi pergi ke dapur, meninggalkan kamar nya. Setelah Ibunya keluar dari kamar, Keyfa menangis dan Ferdy langsung memeluknya dengan erat sembari memberikan usapan lembut di punggung nya agar sang putri tenang.
******
"Jhi, makan dulu ya,"
"Iya,"
Vanilla segera ke ruang makan menyiapkan makanan untuk suaminya yang sedang mengajak anaknya bercanda.
Jhico menggelitik perut Grizelle dengan hidungnya yang sengaja dibuat memutar di area perut Grizelle.
Grizelle terkekeh geli. Anak yang sebentar lagi berusia dua bulan itu terlihat sangat senang ketika Pupu nya mengajaknya bercanda. Beberapa hari ini Ia merasa kesepian. Setelah Pupu nya pulang dari rumah sakit, Ia begitu bahagia menyambutnya. Jhico langsung mengajaknya bercanda sampai lupa waktu. Hingga siang begini, Ia belum makan.
Vanilla datang lagi ke kamar setelah menyiapkan hamburger yang tadi Ia buat. Ia sudah menyantapnya dan menurutnya lezat. Semoga saja Jhico berpendapat yang serupa.
"Jhi, sudah aku siapkan makanan untukmu. Makan dulu, bercanda dengan Griz nanti lagi,"
"Iya,"
Vanilla kembali ke ruang makan, menunggu suaminya yang masih di kamar bersama buah hati mereka.
"Makan, Bi. Tapi masih di kamar,"
"Belum selesai juga melepas rindu dengan Griz ya,"
"Iya, aku dari tadi sendirian seperti orang yang tidak punya teman,"
"HAHAHA," Bibi terbahak mendengar Vanilla mencurahkan isi hatinya. Bibi mengusap bahu Vanilla.
"Ada Bibi yang setia menjadi teman Vanilla,"
Vanilla tersenyum hangat. "Terimakasih, Bi."
Jhico memang lebih sibuk dengan anaknya namun seperti janji Vanilla semalam. Ia tidak akan jealous dengan Grizelle karena sudah hampir dua minggu Grizelle tidak bertemu Jhico. Biasanya setiap hari mereka bertemu, bercanda dan saling memeluk. Tapi tiba-tiba saja kebiasaan itu hilang setelah Jhico mengalami kecelakaan dan harus mendapat perawatan di rumah sakit.
Vanilla menunggu Jhico tidak kunjung datang ke ruang makan. Ia memutuskan untuk melangkah ke kamar lagi.
"Jhi, cepat makan!" titahnya.
Jhico bangkit dari ranjang dan menatap Grizelle yang menghela napas kecewa karena Pupu nya tidak lagi mengajaknya bercanda.
"Pupu makan dulu ya? isi tenaga supaya nanti bisa mengajak Griz bercanda dan bermain lagi,"
Saat melihat Jhico ingin menggendong anaknya, Vanilla melarang. "Jangan, tanganmu belum sembuh,"
__ADS_1
"Bisa menggunakan satu tangan yang lainnya,"
"Jhi, nanti--"
"Grizelle tidak akan jatuh. Aku kuat menggendongnya meskipun hanya satu tangan,"
Jhico menggendong Grizelle dengan tangan yang tidak cedera. Bobot tubuh Grizelle tidak berat sehingga Jhico tidak merasakan kesulitan sama sekali. Tapi Jhico merasa bingung. Sepertinya saat lahir, Grizelle cukup berat. Dalam sehari beberapa kali Jhico menggedong Grizelle jadi Ia tahu perubahan yang terjadi dengan anaknya.
"Griz, kamu kurus sepertinya,"
"Memang iya, setelah sakit, berat badannya belum kembali normal,"
"Pantas saja, sekarang Griz lebih ringan tidak seperti biasanya,"
Setelah tiba di ruang makan, Jhico menyerahkan anaknya pada Vanilla agar digendong.
"Burger?"
"Iya, aku buat itu tadi. Kamu coba dulu ya, kalau tidak enak, aku buat makanan lain tapi yang instan saja ya? supaya kamu tidak terlalu lama menunggu,"
"Pasti lezat. Apapun akan lezat kalau kamu yang buat. Aku sudah sering mengatakan itu 'kan?"
"Ah kamu selalu berlebihan bila memujiku."
Jhico segera melahap hamburger yang dimasak Istrinya. "Kamu sudah makan belum?"
"Sudah,"
"Mau bantu aku menghabiskan burger ini?"
Raut Vanilla langsung cemberut saat suaminya secara tidak langsung mengatakan bahwa Ia tidak bisa menghabiskan hamburger itu.
"Memang kenapa tidak habis? tidak enak ya?"
"Enak, tapi lebih baik makan nya berdua supaya romantis,"
"Aishh! kamu kenapa jadi begini sih setelah sakit? ingat ya, sudah punya anak,"
"Memang kenapa kalau sudah punya anak? tidak boleh mesra lagi?"
"Eheem, aduh-aduh, maaf Bibi mau lewat," ujar Bibi yang tiba-tiba masuk ke ruang makan dan akan ke dapur.
"Astaga, Bibi. Lewat saja, tidak usah izin,"
Bibi terkekeh geli. Ia melanjutkan langkah ke dapur setelah sebelumnya mengganggu pasangan suami istri yang sedang adu mulut romantis itu.
-------
ADDICTED UP GENGSSS. CEKIDOT YAK. TINGGAL KLIK PROFIL AKU NANTI SEMUA WORK AKU KELIATAN DEH
__ADS_1