
"Aku mau coba ice cream punya mu, boleh?"
"Silahkan," Dengan senang hati Grizelle menyerahkan cone ice cream miliknya pada Auristella.
Adrian dengan jahil menarik pipi adik nya hingga mulut Auristella yang hampir menyeruput ice cream Grizelle akhirnya tidak jadi.
"Itu ice cream punya Icelle. Kamu kan sudah punya ice cream sendiri. Kenapa harus minta punya orang lain?"
"Huh, menyebalkan! aku hanya ingin mencoba,"
"Sudah-sudah, jangan bertengkar hanya karena Ice cream. Rasanya sama, Auris,"
"Beda, Mom. Aku rasa blueberry dan Grizelle rasa strawberry,"
"Rasa nya sama-sama manis dan masam. Itu intinya, Auris," tukas Adrian dengan cepat.
Lovi menengahi kedua anaknya yang sedang melempar tatapan tajam satu sama lain, sementara keponakannya kembali asik dengan minuman dingin di tangannya.
"Sayang, makan nya agak cepat sedikit. Tangan mu jadi kotor karena ice cream," ujar Lovi pada Grizelle.
Anak itu mengangguk kemudian Ia menyeruput ice cream dengan sedikit rakus.
"Mom, aku mau beli lagi yang rasa lain,"
"Yang itu saja belum habis, Auris,"
"Hmm ya sudah. Aku habiskan yang ini dulu, tapi nanti beli lagi ya, Mom?"
"Kalau Auris beli lagi, aku juga ya, Mom? oh, Icelle juga,"
Adrian ikut-ikutan mengajukan diri agar diizinkan beli ice cream lagi tentunya dengan varian rasa yang lain.
******
"Lihat Griz. Seperti biasa, dia tidak pernah benar kalau makan ice cream,"
Vanilla menunjukkan video yang dikirimkan Lovi kepada suami nya. Jhico langsung terkekeh pelan melihat wajah putrinya yang berantakan.
"Astaga, sampai tangan nya juga berantakan,"
"Kalau tidak begitu, bukan anak kecil namanya, Nilla,"
"Aku jadi ingin ice cream juga,"
"Aku belikan ya?" Jhico langsung menawarkan diri untuk memenuhi keinginan Vanilla.
"Iya,"
Jhico segera bangkit dari duduk nya, Ia mengusap kepala istrinya sekilas, kemudian melangkah keluar dari ruangan Vanilla untuk membeli ice cream.
Vanilla terkekeh melihat satu video lain dari Lovi, masih tentang anaknya. Ia senang karena Grizelle tidak terlihat murung lagi. Selama Ia di rumah sakit, Grizelle memang selalu tersenyum menenangkan dirinya, tapi Vanilla tahu bahwa sebenarnya anaknya itu juga merasa sedih.
Vanilla menoleh saat pintu dibuka. Satu orang dokter yang biasa menanganinya selama beberapa hari ini tersenyum padanya. Dokter itu menghampiri Vanilla.
"Tidak ada keluhan lagi?"
"Tidak, Dokter. Aku sudah baik-baik saja,"
"Perutmu tidak sakit? sudah bisa makan dan istirahat dengan normal ya?"
"Iya,"
Dokter itu memeriksa fisik Vanilla. Kemudian mengangguk pelan. "Sudah boleh kembali ke rumah. Jangan pikirkan yang sudah terjadi ya. Fokus pada anak sulung dan suami mu,"
__ADS_1
Vanilla tersenyum senang. Akhirnya Ia diperbolehkan pulang oleh dokter. Ini yang ditunggu-tunggu oleh nya.
******
"Kamu ingin kemana?"
"Pulang,"
"Dokter sudah datang ke sini?"
"Sudah, ayo kita pulang, Jhi,"
Jhico memberikan ice cream yang Ia beli lalu bergegas mempersiapkan semua barang milik istrinya sebelum mereka meninggalkan rumah sakit.
"Aku mau mencoba ice cream nya. Tapi di mobil saja lah," gumam Vanilla menatap minuman dingin itu penuh minat.
******
Karina melangkah masuk ke rumah anaknya setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Rupanya di sana sudah ada Rena yang sedang memasak makanan untuk Grizelle.
"Jadi Griz sedang pergi dengan Adrian dan Auris?"
"Iya, tapi sebentar lagi mereka pulang. Kamu duduk dulu,"
"Ah, apa yang bisa aku bantu, Rena?"
"Jangan langsung membantu. Aku tahu kamu lelah dari bekerja. Silahkan duduk dulu,"
Rena meminta Bibi untuk menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk Karina sementara masakannya belum matang. Ia tidak tahu kalau Karina akan datang sehingga Ia santai saja memasak.
"Vanilla kapan diizinkan pulang ya?"
"Yang aku tahu, Vanilla sedang menunggu keputusan dokter hari ini. Ya semoga saja sudah diperbolehkan pulang,"
Rena terkekeh mengangguk. Setiap tidur cucunya itu akan menghubungi Jhico untuk mengetahui kondisi Ibunya. Bila belum melakukan itu, maka Ia tak akan bisa tidur.
Suara berisik terdengar memasuki kediaman keluarga kecil Jhico itu. Rupanya Grizelle sudah datang bersama dengan dua sepupunya dan juga Lovi. Ia memasuki dapur untuk mencari minum. Matanya berbinar melihat dua neneknya sedang berbincang di sana.
"Woahh ada glandma. Dua-dua nya datang belsamaan," Ia berseru senang lalu memeluk Karina serta Rena bergantian bahkan Rena yang sedang berada di dekat pemanas dibuat berjengkit kaget.
"Sebentar, Sayang. Jangan di sini dulu ya," ujar Rena agar Grizelle menjauh dari segala perkakas memasak.
"Griz, kemari," pinta Karina agar cucunya itu mendekati pantry, dimana Ia duduk saat ini.
"Mau minum?"
"Mau, aku ke sini cali minum,"
"Bibi," panggilnya dengan suara menggemaskan pada Bibi yang tengah membuat minum untuk Karina.
"Aku mau minta tolong,"
Bibi yang mengerti pun lantas mengangguk. Setelah milik Karina selesai dibuat, Ia menghidangkan itu di meja pantry bersama dengan croissant buatannya.
"Hei, kenapa diam?" Grizelle mengisyaratkan Adrian dan Auristella yang diam saja di dekat pintu masuk dapur.
"Kemali. Jangan sungkan, kan kita saudala. Aunty, ayo ke sini,"
Lovi terkekeh mendengar itu. "Tidak sungkan, Sayang. Kenapa juga ya kita bertiga malah diam?" tanya Lovi pada kedua anaknya yang biasanya langsung berhambur bila sudah datang ke rumah Auristella dan langsung sibuk bermain.
"Aku kaget ada Glandma di sini,"
"Iya, aku juga," sahutan Auristella terdengar menimpali Adrian.
__ADS_1
"Astaga, kenapa aku tidak membantu Mama saja,"
Lovi segera mendekati Rena. Ibu dari suaminya itu berdecak seraya menggeleng. "Duduk dulu. Lagipula ini sudah mau selesai,"
Adrian dan Auristella duduk di dekat Grizelle. Tidak hanya Grizelle, Bibi juga membuat minuman untuk Adrian, Auristella, dan juga Lovi.
"Sepi ya rumahmu. Aneh rasanya. Aku jadi takut tadi begitu mau masuk rumah," ujar Adrian seraya pura-pura meringis takut.
"Ihh ini bukan lumah hantu!"
Grizelle menggerutu disela mulutnya yang bergerak mengunyah croissant. Ia menatap sebal ke arah Adrian.
"Aku rindu dengan Aunty Vanilla. Biasanya dia yang sibuk di dapur kalau aku datang. Buat ini, buat itu, padahal aku tidak minta," gumam Adrian.
"Kapan Aunty pulang, Grandma?" tanya Adrian pada Karina.
"Doakan saja secepatnya. Sedang menunggu keputusan dokter dulu,"
"Erghh seandainya aku dokter yang menangani Aunty. Sudah aku pulangkan Aunty ke rumahnya,"
Ucapannya itu membuat gelak tawa mereka yang berada di dapur terdengar. "Lagipula apa Aunty tidak rindu dengan Icelle? Icelle dibiarkan sendiri di sini,"
"Bukan ingin nya Aunty diam di rumah sakit, Auris,"
Adrian mengetuk kening adiknya dengan gemas menggunakan buku jarinya yang kecil Siapa yang mau meninggalkan Grizelle? kalau ditanya rindu, Adrian yakin Aunty nya itu pasti sangat merindukan Grizelle.
"Di lumah sakit pasti Mumu juga tidak tenang, Aulis,"
"Dengar! anak seusia Grizelle saja sudah paham. Ah kamu bagaimana sih?"
Auristella mendengus saat kakaknya bicara seperti itu. Ia sengaja mendorong siku kakaknya dengan sikunya saat Adrian minum. Alhasil Adrian tersedak.
"Ihhh Aulis! tidak boleh begitu,"
Adrian dibela oleh adik sepupunya. Ia menjulurkan lidah ke arah Auristella yang sudah mencebikkan bibirnya kesal.
"Aduh, pertengkaran sudah dimulai,"
Lovi terkekeh saat Rena yang sudah menyelesaikan masakannya mendekati ketiga cucunya lalu menggeleng pelan melihat mereka bertiga yang adu tatapan tajam.
"Karina, kamu tidak kaget lagi kan melihat mereka bertiga seperti itu? yang beginilah cucuku kalau sudah bertemu. Selalu saja ada yang diperdebatkan,"
Karina tertawa lebar. Biarpun Ia baru punya satu cucu yaitu Grizelle tapi Ia sudah tahu bagaimana jadinya bila beberapa anak kecil dipertemukan.
"Jarang 'kan melihat itu?" tanya Rena yang diangguki oleh Karina.
Mungkin kalau Ia sudah punya cucu lebih dari satu, Ia akan lebih sering melihatnya, sama seperti Rena yang sudah terbiasa menyaksikan cucu-cucunya ketika bertengkar.
"Aku doakan semoga kamu cepat dapat cucu lagi. Jadi bukan hanya Grizelle. Biar---"
"Andrean dan kedua adiknya juga cucuku," tambah Karina dengan senyum mengembang. Biarpun hanya Grizelle yang merupakan keturunan Jhico, tapi biar bagaimanapun triple A itu adalah cucunya juga sebab mereka bertiga bersaudara dengan Grizelle.
"Ehem, hallo semuanya,"
Mereka kompak menoleh pada sumber suara. Cukup terkejut saat melihat Vanilla memasuki dapur tanpa suaminya.
"Mumu, apa benar itu Mumu?"
"Sayang, tidak mau memeluk Mumu?"
Secepat kilat Grizelle turun dari kursi lalu berlari memeluk Ibunya. "Yeayyy Mumu pulang. Mumu sudah sembuh ya? sudah dibolehkan doktel untuk pulang ya? yeayyyy,"
------
__ADS_1
Hai Hai hai semuanya. Aku mau tanya, msh ada yg nungguin kelanjutan kisahnya triple A gk? Kl ada, aku mau coba post nih trs cek ombak dulu kl byk yg suka, lanjooott terozz. KOMEN DI BAWAH YANG BUANYAAAKKK. BILANG 'KANGEN GRIZ' DI KOLOM KOMEN YAAA❤️ HEHEHEH😄 TERUS KOMEN JUGA 'TRIPLE A LANJOOTTT' KOMEN GT BISA GK? WKWK. RAMEIN KOMEN POKONYA YAAA. MAACIW🙏🏻