
"Sekarang singkirkan tanganmu dari sini," ucap Jhico seraya menunjuk dada Vanilla yang ditutupi oleh perempuan itu. Vanilla langsung menggeleng tegas.
"Tidak mau! aku mau dengan Mama saja lah kalau begitu. Kalau sama kamu, aku malu. Serius, Jhi." Vanilla sampai memohon agar Ia dibantu oleh Rena saja daripada suaminya. Ia masih malu menunjukkan kepolosan tubuhnya.
Pandangan Vanilla mengarah ke ruangan di sampingnya yang dibatasi oleh gordyn. Itu ruang tamu untuk semua pengunjung yang datang menjenguk.
"Ma, aku boleh minta bantuan?"
"Apa, Vanilla?" sahut Rena dari ruangan itu. Vanilla membasahi bibirnya dulu sebelum berkata, "Mama saja yang bantu aku untuk membersihkan tubuh."
"Ada Jhico. Memang kenapa?"
Mendengar ucapan Mama mertuanya, Jhico terseyum penuh kemenangan, Lelaki itu menatap pongah ke arah Vanilla yang keras kepala dan pemalu itu.
"Ma, aku mohon bantu aku,"
"Ada suamimu. Biarkan dia yang melakukannya. Tadi kata Jhico juga seperti itu saat Mama mau membantu,"
Vanilla berdecak dan memperbaiki letak kepalanya yang kurang nyaman. "Dengan perawat saja kalau begitu,"
Jhico mengembalikkan kain bersih itu ke dalam wadah dengan perasaan dongkol luar biasa. Perkara membasuh tubuh saja sampai menghabiskan waktu hampir lima belas menit.
"Ya Tuhan, dengan suami sendiri masih malu-malu seperti dengan orang lain saja."
Rena akhirnya mendekati sang putri karena terdengar berdebat dengan suaminya.
"Ayo cepat, Vanilla. Kamu membuat waktu kepulangan kita menjadi lama. Kamu malunya berlebihan,"
"Mama ingat dulu tidak? Mama sendiri yang mengatakan saat Mama dan Papa baru menikah dan setiap Mama berganti baju, pintu kamar pasti Mama kunci dan Papa pasti akan kesal,"
Rena tersenyum malu mengingat kelakuannya dulu. "Ah Mama menyesal cerita padamu. Tidak menyangka juga kalau kamu akan sama seperti Mama,"
Akhirnya Jhico menyerah. Ia membiarkan Rena lah yang membantu istrinya dalam membersihkan tubuh. Terutama dibagian-bagian tertentu yang tidak diizinkan Vanilla untuk disentuh olehnya. Kalau tangan, kaki, wajah dan leher sudah dibersihkan oleh Jhico.
*****
"Vanilla tidak bisa ikut photoshoot hari ini,"
"Lalu untuk apa aku datang ke sini? memang kemana Vanilla?"
"Dia masih harus beristirahat,"
"Tidak profesional,"
"Sembarangan! Vanilla baru saja keluar dari rumah sakit. Dia hamil dan harus istirahat total,"
"Oh dia hamil? sejak kapan? aku baru tahu,"
Ganadian, model pria yang lagi-lagi akan menjadi pasangan Vanilla dalam pemotretan untuk model pakaian terbaru yang dikeluarkan oleh perusahaan milik Deni.
"Bagaimana kalau kau dan Keynie saja yang menjadi modelnya," Ganadian memberi saran yang mengundang decak malas dari Deni.
"Aku mana bisa berpose di depan kamera,"
"Kalau begitu, aku saja dan Keynie. Aku sudah datang ke sini, masa tidak melakukan apapun?"
"Tidak-tidak, Keynie tidak ada jadwal pemotretan hari ini. Dia di rumah,"
__ADS_1
Entah mengapa Deni tidak mau istrinya berpose berdua di depan kamera dengan laki-laki lain. Entah karena memang Ia tidak tega menyuruh Keynie ke tempat pemotretan sekarang, atau memang Ia terlalu posesif.
"Ya sudah, kita atur set untuk foto di rumahmu saja,"
"Ah jangan gila, Gana! tidak ada ceritanya rumahku dijadikan studio foto,"
Ganadian akhirnya bangkit dari posisi duduknya di sofa. "Kau tidak mengabariku kalau Vanilla tidak bisa hadir di pemotretan kali ini."
Bryan, salah satu bagian yang ikut berperan dalam setiap pemotretan produk, membantah ucapan Ganadian.
"Aku sudah menghubungi mu, Gana. Tapi tidak ada jawaban. Jadi, salah siapa?"
Ganadian mengangkat kedua tangannya saat Deni menatap tajam. "Okay, aku yang salah. Sekarang aku mau menjenguk Vanilla saja,"
"Memang kau tahu rumahnya?"
"Tahu lah. Dia tinggal di apartemen. Aku pernah mengantarnya pulang,"
"Hati-hati dalam bersikap. Dia sudah memiliki suami," Bryan memperingati Ganadian tapi juga melirik Deni diam-diam. Seolah kalimat itu juga ditujukan untuk Deni yang selama ini Ia perhatikan begitu perhatian pada istri Jhico itu. Memang hanya dianggap adik, tapi rasanya tidak wajar saja karena setiap Vanilla pemotretan, Deni lebih akrab dan banyak berbincang dengan Vanilla daripada istrinya sendiri sampai terkadang Vanilla yang harus mengajak Keynie untuk bergabung, mungkin karena perempuan itu tahu bagaimana rasanya tidak diacuhkan oleh suami.
"Ya sudah, aku pergi dulu kalau begitu. Kalau sudah ada reschedule untuk foto, segera kabari aku,"
Ganadian keluar dari studio yang selalu digunakan untuk para model berfoto, termasuk dirinya yang baru bergabung dengan perusahaan Deni sejak sebulan terakhir.
******
"Bunga apa yang anda inginkan?"
"Bunga yang bisa diberikan untuk orang yang sedang membutuhkan semangat,"
Ganadian menatap satu persatu jenis bunga yang dijual. Ia baru saja singgah di sebuah toko bunga untuk membeli bunga yang akan diberikan pada Vanilla yang sedang sakit dan membutuhkan dukungan agar bisa semangat untuk sembuh sehingga bisa kembali beraktivitas.
Usai melakukan transaksi, Ia segera kembali ke dalam mobil. Ia juga sudah membeli parsel buah karena dipikirnya hanya itu yang aman untuk dikonsumsi Vanilla.
"Semoga Vanilla senang saat aku datang,"
********
"Kira-kira hal apa yang bisa aku lakukan agar tetap produktif sekalipun hanya berbaring saja," gumam Vanilla seraya menatap langit-langit. Habis makan, ke kamar mandi, lalu tidur. Begitu terus kegiatannya. Berdiri lama sedikit, kepalanya langsung sakit dan pandangannya berkunang-kunang. Sepertinya tubuh Vanilla memang masih menolak untuk diajak berkegiatan sekalipun yang ringan-ringan sementara Vanilla sudah tidak nyaman berada di atas tempat tidur.
"Kamu tidak bekerja?" tanya Vanilla seraya menoleh pada suaminya yang tengah berkutat dengan game.
"Tadi 'kan sudah,"
"Oh iya, lupa."
Jhico menatap istrinya sebentar. Vanilla aneh kalau sedang kebosanan. Sampai lupa kalau suaminya sudah bekerja sejak pukul enam sampai pukul sepuluh pagi. Jhico memang sengaja berada di klinik hanya sebentar. Lagipula sudah ada dokter lain yang bekerja di klinik-nya.
Vanilla melihat-lihat sosial media dan Ia banyak sekai menemukan makanan yang terlihat lezat. Tapi anehnya Ia tidak menginginkan itu sama sekali.
Notifikasi pesan masuk singgah di ponselnya yang ternyata dari Ganadian. Vanilla segera membacanya.
"Aku sudah di lobi apartemen kamu. Unit berapa?" Vanilla membaca dengan suara yang lumayan kencang hingga Jhico ikut mendengar dan bertanya-tanya.
"Siapa?" tanya Jhico penasaran.
Vanilla menunjukkan ponselnya sekilas seraya menjawab, "Ganadian." Alis Jhico menukik. "Ya, dia siapa?"
__ADS_1
"Dia model yang pernah menjadi teman pemotretan aku saat launching produk milik Deni,"
"Oh, aku baru tahu."
"Waktu itu aku pernah pulang bersama dia. Saat kamu marah-marah. Ingat tidak?"
"Kapan aku marah-marah?" tanya Jhico karena seingatnya ia tidak pernah melakukan itu.
"Aku mengangkat telepon dari Papa Thanatan dan kamu marah karena ternyata Papa ingin memberi tahu bahwa Nenek sakit,"
Jhico berdecak seraya merotasikan bola matanya. "Itu bukan marah. Memang aku sampai banting-banting barang?" kalau Vanilla jawab 'Iya' sudah pasti istrinya itu lupa ingatan.
"Tidak, tapi kamu sampai membentak aku,"
"Oh,"
"Hanya oh?"
"Lalu aku harus apa? kejadiannya sudah berlalu. Yang terpenting aku tidak sampai menyakiti kamu,"
"Kamu menyakiti hati aku!" sanggah Vanilla keras kepala. Mau tidak mau membuat Jhico akhirnya diam daripada urusannya panjang.
"Jhico!"
"Apa?"
"Kamu kenapa diam? kamu menyakiti aku saat itu,"
"Iya, aku minta maaf,"
"Aih kamu kenapa seperti itu sih?!"
Jhico mengacak kepalanya karena terlalu kesal. Dia harus melakukan apa? Minta maaf sudah, mengakui kesalahan juga sudah.
"Kamu mau aku melakukan apa?"
"Aku tidak tahu! hanya mau marah-marah,"
"Huh?" Jhico seperti orang yang tidak tahu jalan pulang saat diajak bepergian oleh penghuni rumah tapi pada akhirnya ditinggal pulang sendirian.
"Temanmu menunggu di lobi 'kan?"
"Ya,"
"Aku yang menghampirinya ke sana?"
"Iya lah. Siapa lagi? aku?! katamu, aku tidak boleh meninggalkan tempat tidur terlalu sering dan lama,"
Jhico memijat keningnya pelan. Ternyata menghadapi Ibu hamil lebih menyeramkan daripada melihat makhluk halus.
Jhico segera memakai sandalnya dan bersiap keluar dari unit apartemen miliknya. "Aku keluar sebentar. Kamu hati-hati ya,"
"Jarak dari sini ke lobi tidak jauh. Kamu berlebihan, seperti mau pergi ke kayangan saja,"
Jhico menghela napas beberapa kali, Ia berusaha sabar dan tetap tenang. Jangan sampai emosinya mengerucut. Tadi Vanilla baik-baik saja. Sekarang malah seperti ibu-ibu yang jatah uang belanjanya dikurangi oleh suami.
----------
__ADS_1
UP UDH BYK DAN TIAP HARI JUGA. TP SEPI NIH KEK KUBURAN :( MANA LIKE, VOTE, KOMENNYA MANTEMAN?
Maaciww bwt yg udh ninggalin jejak dgn cara berkomentar, klik like, dan memberikan vote. Kusayang kelean Peyyuk jaoohhh