Nillaku

Nillaku
Nillaku 286 Grizelle mengundang untuk datang ke pesta ulang tahun


__ADS_3

"Kakek, besok datang ke acarrla (acara) ulang tahunku ya,"


"...."


Tak ada sahutan dari seberang sana, dan Grizelle mengulangi ucapannya tadi.


"Kakek, besok datang ke acarrla (acara) ulang tahunku,"


"Hmm..."


"Hm apa, Kakek? aku belum mendapat jawaban," kata Grizelle yang masih tetap sabar menantikan kesanggupan kakeknya untuk datang ke pesta ulang tahun yang telah di persiapkan sebaik mungkin oleh Vanilla.


"Iya, Grizelle,"


"Benarrl (benar) ya, Kakek?"


"Iya,"


Thanatan pun mencoba sabar meladeni cucunya ini. Ia tak mengeluarkan decak kesalnya.


"Jangan lupa ya, Kakek. Aku tunggu besok,"


"Iya,"


Hanya 'iya' saja yang terucap dari bibir Thanatan tapi itu sudah membuat Grizelle senang sekaligus lega karena Kakeknya akan datang.


"Kakek mau janji tidak?"


"Tidak usah berjanji lah. Nanti seperti yang di rumah sakit waktu itu. Kakek mengingkari janji tidak datang untuk makan siang bersama,"


Grizelle merengut sedih. "Jadi Kakek tidak mau berrljanji (berjanji) biarrl (biar) lebih mudah untuk ingkarrl (ingkar) ya?" tanya Grizelle.


Pikirnya kalau tak ada perjanjian, Thanatan akan lebih mudah untuk memilih tidak datang. Waktu itu saja sudah berjanji tapi tetap tidak datang. Apalagi bila tidak berjanji?


"Kakek harrlus (harus) janji dulu. Aku sedang memaksa Kakek," Grizelle mengeluarkan rengekan manjanya memohon pada sang kakek agar mau berjanji untuk benar-benar datang menghadiri pesta ulang tahunnya.


Vanilla dan Jhico yang sedang berbaring di sisi kanan dan kiri tubuh Grizelle menggeleng pelan menyaksikan anak mereka yang seperti itu.


Setelah beberapa lama sabar, akhirnya Thanatan yang mulai kesal berdecak.


"Iya, Kakek janji," putusnya agar cepat selesai pembicaraan ini. Kalau Ia tidak segera berjanji, maka sampai besok pagi Grizelle akan terus menekannya.


"Yeayyy, okay, terrlimakasih (terimakasih) ya, Kakek. Bye, selamat malam, mimpi indah ya, Kakek,"


Usai mengatakan salam perpisahan, Grizelle mengakhiri panggilannya bersama Thanatan.


Kemudian tangannya bergerak untuk mencari nomor telepon Raihan. Sebelumnya Ia sudah menghubungi Raihan namun tidak dijawab. Menghubungi Rena pun demikian. Maka Ia putuskan untuk bicara dengan Thanatan dulu. Lagipula kalau Raihan ataupun Rena Ia sudah bisa memastikan akan datang. Sementara Thanatan belum tentu.


"Yeayy dijawab," serunya senang kala panggilan dijawab oleh Raihan.


"Hallo, Sayang. Ada apa? maaf Grandpa baru jawab panggilanmu. Tadi lagi diperjalanan ke rumah kebetulan Grandpa mengendarai mobil sendiri,"


"Oh iya, tidak apa, Grrlandpa. Aku hanya ingin meminta pada Grrlandpa untuk datang ke pesta ulang tahunku besok. Grrlandpa pasti datang 'kan?"

__ADS_1


"Oh tentu, Sayang. Grandpa dan Grandma akan datang ya. Grizelle tenang saja,"


"Tidak tanya padaku ingin hadiah apa?" tanya anak itu pada kakeknya. Ia lebih terbuka, lebih berani terang-terangan menyampaikan keinginannya pada Raihan daripada Thanatan.


"Grandpa sudah siapkan sesuatu untukmu. Tapi kamu mau apa memangnya?"


"Hmmm...Grrlandpa siapkan apa untuk aku?"


"Rahasia," jawab Raihan seraya tersenyum apalagi mendengar Grizelle yang merengek karena tak mendapat jawaban jujur.


"Griz mau apa?"


"Aku hanya mau Grrlandpa datang ya. Aku ingin kita sama-sama merralayakan (merayakan) ulang tahunku,"


"Kalau itu sudah pasti. Yang lainnya, Sayang?"


"Tidak ada, Grrlandpa. Aku hanya ingin itu saja sebenarrlnya (sebenarnya),"


"Okay, baiklah,"


Grizelle memang hanya bertanya saja kenapa kakeknya tak mau menanyakan padanya ingin hadiah apa. Pertanyaan itu bukan berarti Ia tengah menginginkan sesuatu. Tapi sebenarnya memang ada yang ia inginkan yaitu merayakan ulang tahun bersama keluarganya.


"Terrlimakasih ya, Grrlandpa. Bye, selamat malam, Grrlandpa Mimpi indah ya,"


Raihan tersenyum mendapati ucapan selamat malam dari cucunya itu. Ia menatap sebentar layar ponsel yang mati. Ia yang tadi sempat berhenti dulu di depan pintu rumahnya karena ingin benar-benar mendengarkan cucunya bicara, kini melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam.


Rena sudah menunggu kedatangannya. "Selamat malam, Sayang," ujarnya yang membuat Rena mengangkat alis. Tak biasanya Raihan memberi ucapan selamat malam begitu memasuki rumah, dengan senyum yang sangat manis juga meskipun raut lelah tak bisa hilang dari wajahnya yang masih memiliki ketampanan dan kharisma meskipun tak lagi muda.


"Kenapa tiba-tiba begitu?"


"Tidak biasanya. Jangan bilang kamu sedang ada maunya ya? apa?"


"Astaga, kenapa berpikiran buruk seperti itu pada suamimu sendiri?"


Rena terkekeh mengusap tengkuk suaminya. "Aku bercanda. Tapi tidak biasanya kamu seperti tadi,"


"Padahal aku masih tetap romantis sampai sekarang. Tidak ada yang berbeda,"


"Tapi kamu jarang datang-datang dari kantor langsung mengucap selamat malam,"


"Sebenarnya aku hanya ingin mengulang kalimat yang diucapkan cucuku tadi," kata Raihan seraya menggaruk tengkuknya dan tersenyum meringis.


"Cucumu yang mana?"


"Grizelle,"


"Oh, Grizelle telepon kamu juga tadi? dia sempat telepon aku tapi tidak aku jawab karena aku sedang di kamar mandi. Saat aku telepon dia, tidak bisa karena panggilan sibuk,"


"Dia mengundang kita untuk datang besok,"


"Oh ke acara ulang tahunnya ya?"


"Iya, benar,"

__ADS_1


"Aku sudah siapkan hadiah untuknya. Dariku dan kamu,"


"Aku sudah ada hadiah,"


"Iya aku tahu, tempat bermain itu 'kan? tapi aku tambah saja hadiahnya. Aku sudah siapkan,"


"Apa hadiah itu?"


"Aku belikan berlian saja,"


"Oh baju atau mainannya?"


"Itu juga,"


"Ya sudah, kita tinggal datang saja nanti. Semua hadiahnya sudah siap,"


*****


Karina mengguncang lengan suaminya yang kini berkutat dengan ponsel usai berbicara dengan cucu mereka.


"Griz bicara apa?"


"Besok diminta datang ke pesta ulang tahunnya,"


Karina tersenyum,"Aku sudah menduga." ujarnya yang membuat Thanatan menoleh padanya.


"Kamu tahu dia akan berulang tahun?"


"Tentu saja aku tahu. Aku hafal kapan dia lahir ke dunia ini. Maka sudah aku siapkan hadiah untuknya,"


"Oh..." hanya itu saja yang menjadi tanggapan Thanatan.


"Apa hadiahmu untuk Griz?"


Thanatan mengangkat bahunya. Jujur Ia tidak tahu ingin memberi apa. Ia terlambat tahu juga tentang ulang tahun Grizelle. Kalaupun Ia ingin mencari hadiah, apa masih sempat?


"Tidak ada hadiah? ah kamu tidak sayang pada cucumu," kata Karina membuat Thanatan bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa Ia jadi termotivasi untuk mencari hadiah juga?


"Apa hadiah yang pantas untuknya?"


"Entah, aku juga tidak tahu,"


Thanatan berdecak. Komentar saja bisa giliran dimintai pendapat malah tidak bisa.


"Beri saran, maksudku,"


"Oh kamu perlu saran dariku? aku kira tidak,"


Thanatan menatap istrinya dengan tajam. Karina ini menyebalkan sekali.


"Belikan arloji saja. Tapi yang mahal! itu untuk cucumu. Kamu memberi hadiah untuk orang lain saja selalu yang memiliki harga tinggi, masa untuk cucu sendir---"


"Memang kata siapa aku ingin memberi hadiah yang harganya murah? tidak ada cerita aku memberi hadiah dengan harga tidak tinggi, apalagi seperti yang kamu katakan tadi kalau itu untuk Grizelle, cucuku sendiri. Jangan seolah paling tahu tentang aku ya!"

__ADS_1


"Ya barangkali saja kamu seperti itu," jawab Karina tak acuh mendapat pelototan tajam penuh peringatan dari suaminya. Sejujrnya Ia menahan tawa sekarang. Seperti itukah reaksi Thanatan ketika Ia secara tidak langsung tidak mempercayai dirinya bisa memberikan yang terbaik untuk cucu mereka?


__ADS_2