Nillaku

Nillaku
Nillaku 114


__ADS_3

Vanilla dan Jhico senang melihat senyum hadir di wajah tiga keponakan mereka setelah menerima buah tangan dari mereka.


Setelah berkunjung ke rumah kakaknya, Jhico dan Vanilla pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa perlengkapan bayi. Vanilla yang menginginkan itu agar persiapan kelahiran anaknya tidak dadakan.


Vanilla membeli baju bayi untuk dipakai di rumah lumayan banyak karena hingga beberapa bulan setelah kelahiran sang anak pasti akan terus berada di apartemen.


"Ini cantik ya, Jhi? aku mau beli ya?" Vanilla menoleh ke belakang dimana suaminya mengikuti sejak tadi. Ia menunjukkan stelan baju tidur untuk anak, ayah dan ibu yang motif dan warna nya sama. Lagi-lagi Vanilla ingin koleksi baju couple mereka bertambah.


"Warna nya merah muda, Nilla. Aku tidak percaya diri kalau memakai itu," ucap Jhico seraya menunjuk warna biru.


"Biru saja," sambungnya.


"Masa biru? anak kita 'kan perempuan. Jadi kamu yang harus mengalah,"


Jhico menggeleng pelan. Untuk apa meminta pendapatnya kalau pada akhirnya Vanilla akan tetap membeli itu?


Setelah pakaian sudah banyak yang dipilih, saatnya Vanilla berburu peralatan makan, bantal, selimut, kursi untuk anaknya saat makan, berada di dalam mobil, dan bersantai.


"Sepertinya semua sudah kamu beli ya. Tidak ada lagi keperluan anak kita yang belum ada,"


"Iya, tapi kalaupun ada, aku akan kembali lagi ke sini,"


"Aku temani, jangan sendiri."


"Ya, tentu saja."


"Untuk tempat tidurnya bisa diantar kapan?"


Tempat tidur untuk anak mereka memang pesan ke penjual furniture. Karena Vanilla ingin mendesain sendiri.


"Mungkin akhir Minggu ini," jawab Jhico.


"Sebenarnya tempat tidur itu tidak akan terpakai juga sampai dia bisa tidur sendiri," ucap Vanilla seraya terkekeh kecil. Anaknya pasti akan tidur bersama mereka hingga dianggap sudah bisa tidur sendiri. Yang Ia tahu dari Lovi saja, Auristella yang sebentar lagi satu tahun masih tidur bersama Lovi dan Devan. Karena Auristella masih menangis bila diletakkan di boks tidurnya tanpa ada orang di sampingnya.


"Ya, tapi sebagai persiapan. Apa salahnya?"


******


Semua yang bekerja di klinik Jhico bahagia sekali ketika pagi ini Jhico membawakan mereka oleh-oleh dari Korea. Mereka tidak menyangka akan mendapat bagian.


Jhico tentu saja akan berbagi kebahagiaan apalagi jumlah pegawainya tidak terlalu banyak. Tidak ada kata rugi untuk membuat orang senang.


"Kau harus ke Korea, Ken. Di sana ada tempat wisata yang romantis. Nanti honeymoon di sana saja,"


"Ah menikah saja belum. Kau sudah membicarakan bulan madu. Sinting!"

__ADS_1


"HAHAHAHA," Tawa Jhico menggema setelah mendengar gerutuan temannya itu.


Jhico sengaja datang lebih awal dari biasanya karena Ia sudah benar-benar rindu dengan klinik nya. Sebelum mulai bekerja, Ia membagi-bagikan buah tangan yang dia bawa. Hampir saja tertinggal beruntungnya Vanilla mengingatkan. Ia terlalu semangat datang ke klinik.


"Jhi, oleh-oleh untuk pegawai di klinik mu tidak dibawa?"


Jhico menepuk keningnya pelan. Ia sudah menyiapkan sejak semalam, tapi hampir dilupakan.


"Terima kasih sudah mengingatkan,"


Itulah sekilas kejadian sebelum Jhico pergi ke kliniknya untuk kembali bekerja setelah beberapa hari liburan bersama sang istri di Korea.


*****


"Aku belum hamil, Van. Padahal hampir tiap malam kerja keras,"


"Astaga..."


Vanilla menatap sepupunya dengan terperangah. Jujur sekali Jane ini. Masalah kerja keras setiap malam saja dia bahas.


"Aku ingin hamil,"


"Kamu baru menikah, Jane. Jangan putus asa. Semua butuh waktu,"


Disela kegiatan pemotretan, Jane mencurahkan kecemasannya yang belum kunjung hamil. Ia dan Richard sudah mendambakannya tapi Tuhan belum juga memberi kepercayaan.


"Richard melakukan sesuatu padamu saat kamu belum juga hamil? dia menyakitimu?"


Vanilla ingin tahu saja jawaban dari pertanyaan itu. Kalau sampai Richard menyakiti Jane yang belum kunjung hamil hingga Jane terus kepikiran, Vanilla akan melakukan sesuatu pada lelaki itu. Banyak yang menyayangi Jane, pasti mereka semua akan melakukan pembelaan terhadap Jane apalagi Papanya, Raihan.


"Tidak, dia tidak mempermasalahkan anak. Tapi aku tahu dia sangat berharap. Karena setiap melihat anak kecil, matanya terlihat mendambakan,"


"Kamu tidak perlu khawatir. Semua sudah diatur oleh Tuhan. Jalani saja apa yang sudah ada di depan mata, jangan memikirkan hal lain yang bisa membuat kalian cemas..."


"Aku yakin sebentar lagi kalian akan memiliki anak. Tapi harus sabar!" Vanilla menepuk bahu Jane yang lunglai.


"Melihat kamu melahirkan nanti, keinginanku untuk punya anak pasti semakin besar,"


Vanilla mencubit pipi Jane yang tidak biasanya mellow begini. "Sepertinya ada yang aneh denganmu,"


"Aneh bagaimana?"


"Kamu mellow sekali. Mungkin kamu hamil sudah dicek belum?"


Jane menatap Vanilla. Tidak mungkin, dua hari yang lalu dia sudah menggunakan testpack untuk periksa tapi hasilnya masih negatif. Karena Ia terlambat datang bulan dan mood nya berubah-ubah, Ia ingat Vanilla juga seperti itu saat awal hamil. Jadi Ia memutuskan untuk periksa. Ternyata hasilnya membuat Ia kecewa.

__ADS_1


"Tidak, Van."


"Ya sudah, jangan sedih begitu, Jane!"


"Aku sedang berpikir bila aku menjadi Lovi. Bagaimana Lovi tidak sedih ya, dia sudah menanti-nantikan tapi ternyata Tuhan berkehendak lain,"


Rasa sedih nya pasti berkali lipat karena Ia sudah hadir hanya tinggal menunggu saatnya lahir.


"Oleh sebab itu setelah punya anak nanti jangan di sia-siakan. Ingat sulitnya mengandung, maka kamu akan sangat menghargai keberadaannya,"


Jane menasihati Vanilla yang sedang menantikan kelahiran putri pertamanya. Sudah seharusnya Vanilla bersyukur karena tidak perlu waktu lama untuknya memperoleh anak. Semoga Ia juga begitu.


"Hei, sudah selesai belum obrolannya? lama sekali,"


"Iya, ini sudah selesai,"


Vanilla bangkit setelah make up. Teguran dari Deni membuatnya mendengkus. "Dasar laki-laki, tidak bisa melihat perempuan mengobrol sedikit langsung diganggu," wanita hamil itu menggerutu.


Vanilla sedang pemotretan untuk produk body care milik Deni dan Keynie saat ini. Vanilla pemotretan tanpa asisten sekaligus sahabatnya hari ini karena Joana sedang menunggu Ibunya yang dirawat di rumah sakit.


Melihat Vanilla yang mengenakan baju bermodel sabrina, Deni terperangah. Vanilla sedang sibuk bergaya di depan kamera seraya memegang satu botol body wash dan satu botol body lotion.


Keynie meraup wajah suaminya seraya menahan geram. "Kamu melihat apa?"


"Vanilla, apalagi?"


"Kamu tidak pernah melihat aku seperti itu,"


"Sok tahu!" lugas Deni seraya menatap istrinya dengan tajam.


Keynie sudah semakin berani menunjukkan rasa cemburunya. Berulang kali Deni meyakinkan bahwa Deni sudah membuka hati untuknya. Tapi sikap Deni bila ada Vanilla membuatnya tidak percaya bahwa apa yang dikatakan Deni benar adanya.


"Memang iya, kamu tidak pernah menatap aku penuh pujian begitu,"


"Vanilla menggemaskan seperti bukan perempuan hamil,"


Gigi Keynie bergemelutuk mendengar pujian suaminya terhadap Vanilla. Bagaimana Ia bisa percaya bahwa Deni sudah membuka hati untuknya? Deni saja masih sering memuji Vanilla di depan mata kepalanya sendiri. Cantik, menggemaskan, profesional, dan masih banyak lagi pujian yang pernah diutarakan oleh Deni untuk Vanilla tapi Vanilla tidak mengetahuinya, karena Deni mengatakan itu hanya di depan Keynie.


---------


Selamat pagi, udh sarapan blm? sarapan pake apa? aku kepo boleh gak? komen kuy menu sarapan kalian pagi ini :D


Setelah dari sini, mampir ke sini juga yaaa👇


__ADS_1



__ADS_2