Nillaku

Nillaku
Nillaku 275 Teman baru untuk Grizelle


__ADS_3

"Huwaa,"


Jhico baru saja menutup pintu kamar anaknya untuk melihat sang putri yang tadi diantar ke kamar oleh kakeknya. Begitu Ia mandi, Ia segera bergegas ke kamar Grizelle dan kini Ia melihat anaknya menangis di dalam tidurnya.


"Grizelle, kenapa menangis?"


Jhico mengguncang pelan lengan anaknya. Ia juga mengecup kening Grizelle. "Hei, Grizelle. Sayang, bangun dulu,"


Grizelle langsung terjaga begitu kedua matanya dikecup oleh ayahnya.


"Kenapa kamu menangis?"


"Huwaa, Pupu,"


Ia memeluk erat ayahnya, seolah meminta perlindungan. Jhico langsung menyambut pelukannya, tanpa bertanya dulu, Ia mencoba untuk membiarkan Grizelle tenang walaupun Ia tidak tenang sekali melihat anaknya yang menangis. Ia ingin tahu alasannya.


"Pupu, aku mimpi kita berrlpisah (berpisah),"


Grizelle masih terisak menangis dalam rengkuhannya. Anaknya itu memeluk begitu erat seolah sangat ketakutan.


"Itu hanya mimpi,"


"Tapi kalau benarrl (benar) terrljadi (terjadi) bagaimana, Pu?"


"Tadi tidurnya berdoa tidak?"


Grizele memberi jarak dengan melepas pelukannya dari sang ayah. Kemudian Ia diam sebentar untuk mengingat apakah Ia sudah berdoa pada Tuhan sebelum tidur.


"Tidak, aku ketidurrlan (ketiduran) saat di pesta tadi, Pu. Tidak sempat berrldoa (berdoa),"


"Itu sebabnya Griz mimpi buruk,"


Jhico mengusap puncak kepala anaknya. Kemudian menyuruhnya beristirahat lagi.


"Nay-Nay dan kakek sudah pulang?"


"Tadi mereka langsung pulang setelah mengantar kamu,"


"Pupu kenapa barrlu (baru) mandi? itu rrlambutnya (rambutnya) basah,"


"Pupu sampai di rumah, dan Kamu juga sampai,"


"Oh Pupu sibuk ya?"


Jhico mengangguk dengan senyumnya. Ia berdiri dan membetulkan posisi selimut Grizells yang sempat tersingkap.


"Oh iya, kamu belum berganti baju, Sayang. Biar nyaman, ganti baju dulu ya?"


Grizelle mengangguk dan bangkit dari tempat tidurnya. "Aku bisa ganti baju sendrrli (sendiri) Pupu istirrlaht (istirahat) saja,"

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu. Pupu tidur dulu. Kamu juga tidur lagi nanti ya. Mimpi indah, Princess,"


"Iya, Pu. Selamat tidurrl (tidur),"


Jhico menutup pintu kamar anaknya dan bergegas ke kamarnya.


Ia menaiki ranjang dengan pelan, agar istrinya tidak terjaga dari tidur. Tapi sayangnya Jhico malah melihat istrinya membuka mata.


"Maaf mengganggumu,"


"Oh kamu sudah pulang? sudah makan malam?"


"Sudah tadi,"


"Griz belum pulang ya?"


"Sudah di kamarnya. Tadi diantar Mama dan Papa,"


"Lalu Mama dan Papa sudah pulang?"


"Iya, mereka langsung pulang setelah Papa membawa Griz ke kamar. Griz sudah tidur sejak dalam perjalanan,"


Usai memastikan anak dan suaminya telah di rumah, Vanilla tertidur lagi. Ia benar-benar mengantuk maka tertidur lebih dulu setelah tak kuat lagi menahan rasa kantuk saat menunggu suaminya pulang.


*****


Tadinya Auristella ingin sekali ke waterpark tanpa menginap dimanapun tapi Andrean dan Adrian keberatan terutama Adrian yang ingin sekali merasakan suasana alam secara langsung. Auristella kalah suara karena ayahnya juga menginginkan hal yang sama dengan kedua kakaknya.


Dua hari mereka akan berlibur. "Kalau hanya di waterpark, liburannya sebentar, Auris. Hanya sehari,"


"Iya juga," pikir Auristella yang pada akhirnya menerima dengan senang hati keputusan ayahnya bahwa mereka tidak bermain air di waterpark tapi bermalam di sebuah penginapan.


"Liburan kita staycation terus ya. Tapi memang seru, tidak banyak ke tempat-tempat lain tapi sudah cukup membuat pikiran tenang, damai,"


"Nanti kalau bosan bisa keliling di sekitarnya," ucap Devan yang disambut seruan senang dari Auristella.


"Yeaay kita berlibur,"


"Uh senang sekali kelihatannya,"


Auristella menatap Adrian sinis. "Iya, tentu saja senang. Memang kenapa?"


"Sudah, nanti kalau bertengkar, Daddy turunkan di jalan ya,"


Terdengar kejam ancaman evan itu tapi mau bagaimana lagi kalau Ia sudah terlalu geram mendengar perdebatan kakak adik yang tak kunjung damai itu.


"Andrean saja yang tenang. Kalian setiap liburan selalu ribut," Lovi menatap kedua anaknya satu persatu.


"Tidak liburan pun ribut," tambah Devan.

__ADS_1


"Justru itu, Dad. Kakak adik memang harus ribut supaya---"


"Itu alasan kamu untuk mencari keributan dengan Auris,"


Adrian menutup mulutnya tak jadi melanjutkan kalimatnya setelah disela seperti itu oleh ayahnya yang kenyataannya memang benar. Itu sebagai pembelaan diri agar ketika Ia dan Auristella berdebat tak dimarahi.


"Suruh mereka pulang kalau bertengkar saat liburan, Dad,"


Secara kompak Devan, Lovi, Adrian, dan Auristella memberikan reaksi mendengar ucapan Andrean. Devan langsung melirik kaca di depannya untuk melihat sang putra yang duduk di belakangnya yang tengah mengemudi, sementara Lovi, Adrian dan adik perempuannya menoleh bersamaan.


Kemudian tawa Adrian pecah. "Tidak biasanya mau ikut campur," cibirnya pada sang kakak yang tak biasa mengeluarkan suara apalagi untuk memanasi ayahnya.


"Iya, ada kemajuan pada diri Ean. Syukurlah,"


*****


Raihan keluar dari gedung perusahan pukul lima sore. Sebelum pulang ke rumah, Ia akan pergi ke tempat dimana kucingnya dilatih. Masa belajar kucing miliknya itu jadi dipercepat karena memang sudah sesuai dengan apa yang diajarkan.


Raihan berharap kucingnya memang sudah benar-benar pintar. Tidak lagi agresif pada siapapun yang ingin menggendongnya, bisa membuang kotoran di tempat yang sudah disiapkan, dan tidak malas bergerak.


Rencananya kucing itu akan sesekali Ia lepas di dalam rumah. Maka Ia harus memastikan bahwa kucing itu layak dibawa ke dalam rumah.


Raihan keluar dari mobil. Sengaja Ia sendiri yang datang untuk menjemput hewan berkaki empat dan berbulu cantik itu tanpa meminta tolong pada orang lain.


Akhirnya Raihan bertemu dengan kucing nya. Ia segera mengusap-usap kepalanya seraya menggeram gemas.


"Cucuku pasti senang sekali bertemu denganmu,"


"Tidak galak lagi dan sudah pintar, Tuan,"


"Terimakasih ya. Aku pergi dulu,"


"Iya, Tuan,"


Ia saja merasa gemas dengan hewan itu apalagi Grizelle. Sampai Ia tak ingin memasukkan kucingnya ke dalam tempatnya. Ia gendong saja dan sampai di mobil Ia lepaskan.


"Ayolah bermain. Jangan bisanya mencakar saja. Jangan malas juga. Badanmu sudah aman itu," ucapnya saat melepas kucing yang langsung berlari ke kursi tengah. Benar-benar bermain.


Selain membuatnya jadi tambah pintar, tujuan Raihan memilih tenaga professional khusus untuk menangani kucingnya karena berat badan kucing itu yang sudah berlebih yang menyebabkan Ia malas bergerak. Di sekolah itu selain ada pelatih tentu ada dokter hewan yang bisa memantau kondisi kucing yang Ia beli dengan harga tinggi itu.


Raihan membelinya saat bertandang ke Inggris. Ketika pulang, Ia sudah membawa hewan tersebut beserta paspornya juga.


Berhubung kucing itu terbilang galak dan suka sekali menyerang, Raihan yang merasa tidak akan mampu menjinakkan, memutuskan untuk menyerahkannya sementara kepada tenaga professional. Agar kucingnya lebih baik dan pintar.


Kakek empat cucu itu tersenyum mendapati kucing berwarna abu itu duduk di pangkuannya.


"Baik-baik lah kamu ya. Biar cucuku bisa berteman nanti,"


"Aku tidak perlu membeli kucing lagi seperti apa yang dikatakan Griz. Cukup kamu saja," Raihan mengusap bulu-bulu kucingnya yang halus. Ia rasa cukup. Tapi entah bagaimana keputusan akhirnya nanti. Ia khawatir Grizelle kembali meminta kucing lagi agar kucing di pangkuannya ini memiliki teman.

__ADS_1


__ADS_2