
"Iya, sebentar saja. Tidak akan lama. Kenapa memangnya? kamu tidak bisa aku tinggalkan?" tanya Karina dengan sorot jenaka menurut Thanatan. Karina tersenyum miring padanya. Tahu sekali kalau suaminya itu memang butuh teman untuk mengusir kebosanannya. Maka Ia berjanji tidak akan pergi lama.
"Sudahlah, lebih baik kamu pergi sekarang. Jangan banyak bicara, aku semakin pusing," Tyanatan menyuruh istrinya untuk segera pergi daripada menatapnya dengan jahil seperti saat ini.
"Ya sudah, aku pergi ya,"
Thanatan mengangguk, menatap punggung istrinya yang semakin menjauh darinya kini telah hilang di balik pintu.
"Mati kutu aku di sini,"
"Lebih baik keluar, mencari udara segar,"
Lelaki itu turun ke lantai bawah. Ia menghampiri kolam renang. Memilih duduk di salah satu kursi yang berada di tepi kolam. Mengamati birunya air yang tenang membuat Ia sedikit lebih baik daripada hanya diam di kamar.
Menghabiskan waktu kurang lebih lima belas menit di sana, Thanatan beranjak pergi.
Hawra menyapa Thanatan dan langsung bertanya keadaannya ketika tak sengaja bertemu tatap dengan Thanatan, "Bagaimana keadaanmu? sudah lebih baik? kenapa tidak istirahat di kamar saja, Thanatan?"
"Aku bosan hanya diam saja. Aku ingin bersepeda, Ibu," katanya mengungkapkan niat.
"Yang benar saja? istirahat, bukan waktunya bersepeda. Kalau tiba-tiba kamu jatuh karena bersepeda disaat sakit bagaimana?"
Thanatan menggeleng, tetap ingin melakukan apa yang Ia inginkan. Ia bosan, tidak nyaman di rumah tanpa melakukan apapun. Maka Ia akan bersepeda saja, mengelilingi lingkup rumahnya.
Thanatan bergegas pergi meninggalkan Hawra yang menghela napas pelan dan menggelengkan kepalanya menatap kepergian Thanatan.
"Benar-benar keras kepala," desis Hawra. Ia ke kamarnya mengambil ponsel kemudian memberi tahu pada Karina bahwa Thanatan memutuskan untuk tidak istirahat di kamar melainkan bersepeda. Ia tak bisa membuat Thanatan patuh. Mungkin bila Karina yang bicara, lelaki itu akan mengurungkan niatnya.
Thanatan mengganti pakaian tidurnya. Ia belum mandi dan akan sangat tepat ketika pulang dari bersepeda nanti barulah Ia mandi.
Ia tak mau tahu dengan sakitnya. Yang terpenting sekarang Ia tidak mati kutu di rumah. Bekerja sudah dilarang, kegiatan lain tidak boleh dilarang juga!
Usai mengganti pakaiannya yang sesuai dengan kegiatan yang akan Ia lakukan dan yang nyaman di kenakan, Thanatan meraih ponselnya untuk Ia bawa bersepeda. Kebetulan ponselnya bergetar begitu dalam genggamannya.
"Hallo, ada apa?" tanya Thanatan langsung saat Karina menghubunginya melalui sambungan telepon.
"Kamu tidak istirahat? tidak bisa mendengar ucapanku, Thanatan?"
__ADS_1
"Aku bosan, asal kamu tahu,"
"Ya, aku tahu. Tapi aku memintamu untuk diam di rumah dan istirahat itu untuk kebaikanmu juga. Tolong jangan keras kepala, Thanatan. Dengarkan aku sekali ini saja. Suhumu tadi tinggi. Memang kamu kuat untuk--"
"Kuat, aku tentu bisa membawa sepeda. Sakitku tidak parah,"
Karina menahan makiannya agar tak meluncur bebas dari mulutnya. Ia sudah terlalu kesal dengan sifat keras kepala yang dimiliki suaminya itu.
"Terserah kamu lah. Silahkan, mau bersepeda boleh. Mau beratraksi juga boleh,"
Setelah berujar seperti itu, Karina mematikan sambungan telepon. Thanatan mengerinyit menatap layar ponselnya sesaat.
"Daripada aku di sini. Lebih baik keluar," batinnya bersikeras tetap ingin keluar ditengah demamnya yang belum turun dan kepalanya yang terasa pening. Ia sudah menjadi sosok yang benar-benar anti sekali berada di rumah tanpa bekerja. Maka sekalinya di rumah, tidak bekerja, meskipun dalam keadaan sakit, tetap inginnya punya kegiatan.
*****
Karina tidak tenang melakukan aktifitasnya saat ini. Ia hanya datang sebentar-sebentar saja ke cake store dan juga restaurant miliknya. Biasanya Ia akan banyak mengobrol dengan para pebgelola bisnis-bisnisnya itu, kini hanya bincang singkat.
Setelah itu, Ia langsung menaiki mobil dimana drivernya sudah siap membawa Ia kembali ke rumah.
"Iya, maka aku harus cepat sampai di rumah,"
"Kenapa tidak ajak Nona Grizelle ke rumah saja untuk menemui Tuan, Nyonya? barangkali Tuan cepat sembuh,"
Karina mengerjapkan matanya sesaat setelah mendengar penuturan lelaki yang bertugas mengendarai mobilnya saat ini.
"Kenapa aku tidak mencoba saja ya? mungkin dengan ada nya Grizelle, Thanatan jadi nyaman di rumah, dan dia tidak merasa kebosanan," batinnya baru menyadari bahwa ucapan sang driver sepertinya bisa dicoba.
Ia lekas menghubungi Jhico. Ia berharap Jhico sedang tidak memiliki banyak pasien sehingga ada kesempatan untuk menjawab panggilannya.
Tapi sayangnya, tiga kali Ia menghubungi, tak kunjung mendapat jawaban dari putranya itu.
Karina menggigit bibir bawahnya bimbang. Apa Ia tetap melanjutkan niat hatinya saat ini yang ingin mengajak Grizelle ke runahnya menemani Thanatan yang sedang sakit?
*****
Vanilla memasuki sebuah cafe. Denting terdengar begitu ia membuka pintu sebagai bentuk sambutan.
__ADS_1
Ia duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan kaca yang menampilkan suasana di jalan raya.
Ia ke sini setelah mengantarkan Grizelle ke sekolah sebab hanya cafe ini saja yang sudah beroperasi.
Ia memesan hot matcha latte dan juga lava cake. Meskipun ia sudah sarapan, tapi Ia ingin menyantap sesuatu yang manis sekarang maka di sini lah Ia berada.
Sembari menunggu menu yang ia inginkan diantar oleh waitress, Vanilla memainkan ponselnya.
Ia berselancar di sosial media melihat bagian luar bagaimana kehidupan orang-orang yang Ia kenal.
Ia menaikkan alisnya saat tak sengaja melihat gambar laki-laki yang masih Ia kenali.
Lelaki yang dulu pernah dekat dengannya yang merupakan seorang cleaning service. Bahkan masih dekat ketika Ia sudah menikah dengan Jhico.
Renald membagikan fotonya brsama Anneth yang juga seprofesi dengannya saat itu tapi sinis pada Vanilla karena Ia menyukai Renald namun Renald tidak peka terhadap perasaannya malah memiliki perasaan pada Vanilla.
Mereka berdua saat itu bekerja di kampus Vanilla tapi entah sejak kapan pastinya, Vanilla sudah tak pernah melihat mereka lagi. Yang Vanilla tahu, Renald sempat kuliah juga sembari bekerja namun entah sekarang bagaimana kabarnya, lalu entah juga bagaimana karir Renald maupun Anneth sekarang. Vanilla tak pernah mengurusi.
Dan saat ini Vanilla melihat potret mereka berdua yang sedang menunjukkan cincin di masing-masing jari mereka.
"Woah sudah menikah," Vanilla ikut senang melihatnya. Siapapun yang berhasil tiba di jenjang yang lebih serius adalah kabar bahagia untuk Vanilla.
Ia hanya melihat potret mereka sekilas setelah itu Ia berselancar lagi. Sampai akhirnya pemberitahuan bahwa ada telepon yang masuk membuat Ia terkesiap.
Ia menjawab panggilan Mama keduanya itu, Karina. "Hallo, Ma," Ia langsung menyapa dan Karina pun melakukan hal serupa.
"Sayang, bolehkah Mama mengajak Grizelle ke rumah? Kakeknya sedang sakit dan Mama ingin Grizelle menemaninya karena dia susah sekali diminta untuk istirahat dan tetap di rumah. Barangkali kalau ada Grizelle--"
"Bisa, Ma. Nanti begitu Griz pulang sekolah, langsung aku antar ke sana ya, Ma,"
"Ya ampun, terimakasih, Van,"
"Iya, Sama-sama, Ma,"
"Ya sudah, Mama tutup teleponnya ya. Sekarang mama sudah mau tiba di rumah. Kakeknya Grizelle itu malah bersepeda disaat demamnya tinggi. Dia susah sekali diminta untuk istirahat di rumah. Alasannya selalu bosan,"
Vanilla tersenyum mendengar gerutuan Karina di seberang sana. Wajar saja Thanatan seperti itu. Ia terbiasa sibuk dengan pekerjaannya. Maka akan sulit bila diminta untuk diam di rumah tanpa kesibukan apapun. Sebenarnya sama saja dengan Papanya, Raihan juga seperti itu kalau sudah tumbang kesehatannya. Sekalipun Ia merasakan sakit tapi tetap tidak bisa diam dan sulit bila disuruh untuk istirahat.
__ADS_1