Nillaku

Nillaku
Nillaku 211


__ADS_3

Vanilla baru saja selesai membicarakan perihal project nya bersama sebuah brand. Ia, managernya, Joana, dan pihak brand berkumpul di suatu restaurant.


"Ayo, kita harus pergi sekarang. Kamu ada pemotretan,"


"Iya, tapi aku ke toilet dulu ya,"


Nein mengangguk, membiarkan Vanilla beranjak ke toilet sementara Ia duduk memainkan ponselnya.


*****


Karina menjemput Ibunya, Hawra yang baru datang dari pengobatan di negara lain. Yang pertama ditanyakan oleh Hawra adalah sang cucu kesayangan, Jhico, yang tak pernah bosan menanyakan kabarnya sekalipun mereka berbeda benua.


"Jhico baik, Ibu,"


"Bagaimana dengan si Cantik Griz yang sampai sekarang masih saja diacuhkan oleh suamimu?"


Karina tersenyum tipis, mengingat cucunya itu. Benar, Grizelle yang begitu cantik, menyenangkan bagi semua orang yang mengenalnya, tapi tetap mendapatkan sikap dingin dari suaminya, Thanatan.


"Griz tumbuh sehat. Kabarnya baik,"


"Kapan terakhir kali Griz bertemu kakeknya?"


"Hmm...aku lupa,"


Hawra menggeleng pelan. "Lalu kamu? kapan terakhir kali kamu bertemu cucumu?"


"Selama Vanilla di rumah sakit setelah mengalami keguguran, aku menemani Griz di rumah begitupun dengan Rena. Setelah Vanilla kembali ke rumah, aku belum menemuinya lagi. Mungkin akhir pekan nanti aku akan mengajaknya ke rumahku,"


"Untuk apa?"


"Menginap di rumahku, Ibu,"


"Iya untuk apa Griz menginap di rumah kalau kakeknya saja masih sulit menerima kehadirannya. Aku rasa, setelah Vanilla mengalami keguguran, sikapnya terhadap Griz lebih parah ya?"


Karina hanya bisa diam mendengarkan ucapan sang Ibu yang duduk di sampingnya. Karina memilih untuk menatap jalanan yang mereka lintasi melalui kaca jendela mobil.


"Padahal Griz itu cucu satu-satunya untuk saat ini. Kenapa Thanatan tidak bisa menyayangi Griz sepenuh hati? Aku bingung,"


Karina tak menampik ucapan Ibunya. Memang benar, sejak Vanilla kehilangan calon buah hatinya yang ada kemungkinan seorang laki-laki, Thanatan semakin dingin terhadap keluarga kecil Jhico.


Vanilla dan Jhico mungkin tak begitu mempermasalahkan karena sebelumnya mereka sudah sering diacuhkan oleh Thanatan, ayah Jhico itu. Berbeda dengan Grizelle yang usianya masih sangat kecil untuk menerima sikap dingin kakeknya.


"Maka tidak bisa disalahkan kalau Griz lebih dekat dengan Raihan atau pihak Ibunya. Karena Ia begitu diterima oleh mereka," tandas Hawra, wanita berusia senja yang sangat menyayangi cucunya, Jhico.


"Tapi aku sangat menyayanginya, Ibu. Jadi Griz tidak akan merasa kekurangan kasih sayang. Dan sebenarnya Thanatan juga menyayangi Griz. Hanya saja Ia masih belum menerima sampai sekarang kalau cucunya itu gagal terlahir sebagai laki-laki. Harapannya akan cucu kedua juga gagal,"


"Lalu siapa yang pantas disalahkan?"


Hawra menoleh pada Karina, menatap anaknya itu penuh tanya. Thanatan tidak ditakdirkan memiliki penerus laki-laki dari anak tunggalnya. Lalu siapa yang harus disalahkan? takdir kah?


"Dari dulu sampai sekarang dia tidak pernah berubah. Jhico tidak ingin menjadi penerusnya, Jhico dimusuhi. Sekarang, Jhico punya anak perempuan yang tidak bisa diandalkan sebagai penerusnya, Jhico semakin dimusuhi,"

__ADS_1


Hawra menggeleng pelan, membayangkan Ia akan kembali tinggal bersama Thanatan dan Karina maka Ia akan menyaksikan lagi bagaimana Thanatan terhadap anaknya sendiri.


******


"Griz, masih ingat Keyfa tidak?"


"Masih, dia temanku, Pu,"


Jhico tersenyum mengacak pelan rambut anaknya. Jhico menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu menoleh pada anaknya yang menatapnya penuh tanya.


"Keyfa baru saja selesai berobat. Bagaimana kalau kita menjenguknya?" ujar Jhico mengajak anaknya untuk bertemu Keyfa, anak yang memiliki penyakit bawaan yang dulu begitu dekat dengannya.


"Keyfa sudah sembuh, Pu?"


Grizelle tahu dari ayahnya kalau selama ini Keyfa berobat di tempat lain. Jadi mereka tidak pernah bertemu sudah satu tahun lebih.


"Sekalang aku sudah mau empat tahun. Dulu aku seling (sering) dijahili Keyfa. Sekalang tidak akan bisa lagi,"


Jhico terkekeh melihat anaknya yang berujar percaya diri. Grizelle bahkan bersedekap dada memasang wajah arogan.


"Ayo, kita beltemu (bertemu) Keyfa, Pu,"


"Kita pulang dulu ke rumah ya. Tidak mungkin kamu mengenakan pakaian sekolah seperti ini,"


Grizelle mengangguk cepat. Kemudian Jhico kembali melajukan mobilnya menuju rumah. Hari ini Ia yang menjemput Grizelle karena istrinya tidak bisa. Dari klinik, Ia langsung ke sekolah Grizelle. Dan pikirnya, di klinik sudah ada dokter selain Kenzo, jadi Ia bisa meninggalkan klinik.


******


Ia terkejut saat tangan kecil memeluknya dari belakang. Ia menunduk, menghadap ke belakang. Ia sudah menduga bahwa Grizelle yang memeluknya. Rupanya benar. Sosok kecil itu kini melingkari pinggangnya seraya tersenyum.


"Ternyata sudah pulang,"


"Mumu juga sudah pulang. Tadi kata Pupu, Mumu tidak bisa jemput aku,"


"Iya, Sayang. Tadi jam pulangmu bertepatan dengan Mumu selesai pemotretan. Mumu takut lama diperjalanan bila menjemputmu karena tempat pemotretan Mumu jauh dari sekolahmu. Jadi Mumu minta tolong pada Pupu agar menjemputmu. Tadinya Mumu ingin meminta driver yang menjemput. Tapi ternyata Pupu menyanggupi,"


"Iya, Mu. Tidak apa. Oh iya, sekarang aku mau pergi dengan Pupu," ucapnya dengan semangat.


Vanilla meletakkan pudding buatannya ke dalam lemari pendingin. Ia mencuci tangannya sebentar sebelum mengangkat putrinya dalam gendongan.


"Pergi kemana? Mumu tidak diajak?"


"Mumu mau ikut? aku dan Pupu akan beltemu (bertemu) Keyfa. Kata Pupu, Keyfa sudah pulang dali (dari) belobat (berobat),"


Vanilla menganggukkan kepalanya. Saat akan menjawab, Ia mendapati suaminya tengah mendekat ke arahnya dan Grizelle.


"Pergi sekarang, Pu?"


"Iya, Sayang. Tapi ganti baju dulu,"


Grizelle minta dilepaskan dari gendongan Ibunya kemudian berlari menuju kamarnya. "Sayang, hati-hati," Vanilla memperingati Grizelle.

__ADS_1


"Kamu ikut?"


"Boleh?"


Jhico terkekeh menyahuti,"Kenapa tidak boleh? jelas boleh, Nilla."


"Ya sudah, aku ganti pakaian dulu,"


"Kamu buat apa tadi?"


Jhico menahan lengan istrinya yang akan pergi. Ia melirik lemari pendingin kemudian menatap Istrinya.


"Pudding. Nanti setelah kita pulang, kita makan bersama ya,"


Jhico mengangguk, kemudian membiarkan Istrinya bersiap untuk pergi bersamanya dan Grizelle.


Sembari menunggu, Ia yang sudah mengenakan t-shirt ke klinik tadi kemudian memakai snelly di klinik lantas menanggalkannya saat akan menjemput Grizelle, memilih untuk duduk di meja bar dapur setelah mengambil air minum.


Ia mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari dalam saku celana yang Ia kenakan. Keyfa menelponnya. Jhico langsung menjawab panggilan anak itu.


"Kakak Dokter dimana? jadi ke rumahku?"


"Iya, bersama Griz dan Vanilla. Tunggu kami ya,"


"Okay, aku tunggu. Aku sudah menyiapkan banyak permainan untuk Griz. Aku tidak sabar bertemu dengannya,"


"Iya, Griz juga senang saat aku ajak menemui kamu. Kalian sudah lama tidak bermain bersama,"


"Nanti jangan menjahili anakku lagi ya. Dia sudah besar," ucap Jhico mengulangi apa yang dikatakan anaknya tadi bahwa Keyfa tidak akan bisa berbuat jahil lagi terhadapnya karena Grizelle merasa bukan anak kecil lagi.


Keyfa terbahak sampai wajahnya memerah, "Tetap saja aku yang lebih tua darinya."


******


"Wuah Kakak manis ikut juga. Oh iya, adik bayi dalam perutmu dimana? sudah lahirkah? aku ingin bertemu,"


Keyfa tahu kalau Vanilla mengandung adik Grizelle. Keyfa tahu karena Ia cukup sering berkomunikasi dengan kakak dokter baik hati kesayangannya itu, Jhico.


Dan saat Ia selesai berobat, Ia bingung kenapa Vanilla terlihat tidak sedang mengandung? Tidak mungkin Jhico berbohong mengenai keadaan Vanilla. Ia senang sekali mendengar kabar bahwa Ia akan mendapat teman baru.


Vanilla yang pemikirannya mungkin tidak sedewasa Jhico langsung merasa tersinggung karena pertanyaan polos Keyfa.


Jhico yang paham langsung mengusap punggung tangan istrinya yang sedari tadi Ia genggam.


Ia ingat betul Vanilla pernah sangat sensitif terhadap Keyfa karena merasa Keyfa merebut perhatian dan kasih sayang Jhco terhadap Grizelle. Tapi seiring berjalannya waktu, Vanilla tidak lagi seperti itu.


Sekarang mungkin Vanilla akan merasa kesal lagi dengan Keyfa karena anak itu berbicara mengenai hal yang tidak ingin didengar Vanilla sama sekali, yaitu tentang kehilangan calon buah hatinya. Ia memang sudah menerima semua kehendakNya. Tapi kalau diingatkan lagi, maka rasa sedih itu kembali hadir.


 


Haihai ketemu lg sama Keyfa. Ada yg msh inget Keyfa? atau ada yg msh kesel sama dia?

__ADS_1


__ADS_2