
"Pupu, beli (beri) tahu Mumu kalau aku sudah pulang ke lumah (rumah),"
"Iya, Sayang. Sebentar,"
Usai melepas kepergian sang nenek, Grizelle dan ayahnya kembali memasuki kediaman mereka.
Ia mengingatkan Jhico lagi untuk mengatakan pada Vanilla tentang Grizelle yang sudah diizinkan pulang oleh Dokter.
"Mumu kenapa ****** (jarang) telepon aku hali (hari) ini ya, Pu?"
"Mumu 'kan bekerja, Sayang,"
"Oh iya, acala (acara) nya hali (hari) ini,"
"Ya sudah, telepon Mumu sekalang (sekarang), Pu. Supaya aku yang beli (beri) tahu Mumu dan aku ingin beltanya (bertanya) tentang acala (acara)nya tadi,"
Mereka kembali ke kamar dan Jhico segera menghubungi Istrinya. Dua kali Ia memanggil namun tidak ada jawaban.
"Mungkin Mumu masih sibuk,"
Grizelle mengangguk mengerti. Kemudian Ia memutuskan untuk mengambil buku gambar di kamarnya sendiri lalu kembali lagi ke kamar Mumu dan Pupunya.
Ia berjalan menuju meja dan sofa di dekat balkon kamar. Kemudian duduk di sana, mulai menggambar. Sementara Jhico masih mencoba menghubungi istrinya. Tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Jhico memilih untuk berkutat dengan laptopnya, memantau laporan-laporan dari kliniknya.
Hampir tiga puluh menit anak dan ayah itu sibuk dengan kegiatan masing-masing, ponsel Jhico berdering.
Melihat nama 'Nillaku' di layar, Ia segera menggulir panel hijau untuk menjawab panggil Vanilla.
"Griz, Mumu telepon ini,"
Grizelle langsung melepas pensilnya dan menjauh dari tempatnya tadi.
Ia menghampiri ayahnya. "Mumu, hallo,"
Jhico memberikan ponselnya pada sang putri. Tapi panggilannya dimatikan. Grizelle menghela napas kecewa. Ia mengembalikan ponsel itu pada sang ayah. Namun belum sempat Ia berbalik, Vanilla kembali menghubungi dengan panggilan video.
Grizelle tersenyum senang menyambutnya. Ia bahkan langsung menguasai ponsel ayahnya yang Ia ambil lagi setelah sebelumnya sudah diserahkan.
Grizelle bersandar di headboard diikuti Jhico yang duduk di sampingnya.
"Mumu, sibuk sekali ya? kenapa tidak seling (sering) telepon aku? Oh iya, Mumu, aku sudah di lumah. (rumah) Doktel (Dokter) mengizinkan aku pulang, Mu," Grizelle menyerbu Vanilla dengan pertanyaan sekaligus laporan. Vanilla sampai terkekeh dibuatnya.
"Griz, ada Aunty Lovi di sini," ujar Vanilla sebelum menanggapi anaknya.
"Wuaah hallo, Aunty Lovi," Grizelle menyapa pada Lovi yang terlihat di layar melambai padanya. Ia pun dengan senang hati membalas.
"Jadi, sudah pulang?"
"Sudah, Aunty,"
"Ya sudah, istirahat ya,"
"Iya, tadi aku bicala (bicara) dengan Ian dan Aulis(Auris),"Ia juga melapor pada Lovi mengenai dirinya yang tadi berkomunikasi dengan dua kakak sepupunya.
__ADS_1
"Iya, mereka juga sudah cerita,"
"Mumu, kenapa tidak jawab aku tadi?"
Vanilla kembali memenuhi layar."Oh iya, tadi apa saja pertanyaannya?"
"Aahh Mumu masa lupa?"
Vanilla terkekeh. Kalau Ia ada di dekat Grizelle, sudah pasti Ia mengacak pelan rambut anak itu karena terlalu gemas.
"Mumu tadi bekerja. Terus Mumu juga kelelahan. Maaf ya baru menghubungi Griz lagi,"
"Oh begitu. Apa Mumu sudah istilahat (istirahat)? kalau belum, Mumu jangan bicala (bicara) padaku dulu,"
"Sudah, Sayang. Grizelle sudah pulang ya? Syukurlah,"
"Iya, itu kabar bahagia untuk Mumu,"
"Mumu juga ada kabar bahagia untuk Griz dan Pupu,"
Grizelle tersenyum tak sabar. Ia sampai mendekatkan wajahnya pada layar ponsel Jhico.
"Apa itu, Mu?"
"Griz sebentar lagi memiliki adik,"
Grizelle mengerjap kemudian terdiam beberapa saat. Ia berusaha mencerna ucapan Ibunya. Begitupun Jhico yang masih bertahan di sisi Grizelle.
Kening Jhico sampai mengerinyit. Apa Ia tak salah dengar atau tak salah menafsirkan? maksud Vanilla, Ia hamil lagi?
Mulut Grizelle terbuka lebar, matanya berbinar. Vanilla menuturkan lebih jelas maksud ucapannya tadi sehingga Jhico dan Grizelle tak butuh waktu lebih lama lagi untuk mengerti apa maksudnya.
"Ya ampun, aku akan punya adik? Woaaaahh aku senang, Mu,"
Vanilla tersenyum, sudah menduga reaksi anaknya akan seperti ini. Grizelle bahkan sampai melompat di ranjang hingga ponsel di tangannya berayun tak tentu.
"Pupu dimana? tidak ada di dekat Griz?"
Grizelle segera kembali duduk kemudian memberikan ponsel pada Jhico.
"Nilla...yang tadi, benar?"
"Iya, benar. Masa aku bohong? aku punya foto hasil pemeriksannya tadi. Dia masih kecil sekali, Jhi. Usianya tiga minggu,"
Mata Jhico berkaca saat dijelaskan seperti itu pada Vanilla. Rasa bahagianya tak terbendung lagi hingga Ia bingung bagaimana berekspresi sekarang.
"Pupu kenapa tidak lompat-lompat sepelti (seperti) aku? Pupu senang 'kan?"
Karena melihat ayahnya yang tidak bereaksi sama sepertinya, Grizelle protes. Padahal Jhico sedang berusaha meredam keinginannya untuk melakukan apapun sebagai pelampiasan rasa bahagianya.
"Tidak mungkin Pupu lompat-lompat seperti kamu, Griz. Pupu 'kan bukan anak kecil,"
Grizelle terkikik mendengar ucapan Ibunya. Benar juga apa kata Vanilla. Pasti Ia akan terbahak bila melihat Pupunya melompat-lompat seperti dirinya.
__ADS_1
"Lalu kamu pulangnya kapan?"
"Lusa, besok ada penutupan acaranya,"
Jhico menghembuskan napas pelan. "Ya sudah, hati-hati ya. Jangan kelelahan. Hanya kamu yang bisa menjaga dirimu sendiri, Nilla. Ingat, sekarang kamu tidak hanya sendiri. Ada satu nyawa dalam tubuhmu. Kalian harus sama-sama kuat,"
"Iya, Jhi. Tadi aku sempat mengira kalau aku kedatangan tamu bulanan. Memang hanya sedikit sekali, tidak seperti biasanya. Terus aku juga merasa lemas, perutku sakit. Lalu Lovi datang ke hotel dan dia yang tahu keadaanku langsung mengajakku ke rumah sakit,"
Jhico mengangguk mendengar penuturan istrinya mengenai yang dialaminya sebelum tahu bahwa dia hamil.
"Sekarang bagaimana kondisimu?"
"Masih lemas saja. Perutku sudah tidak sakit lagi. Oh iya, tadi Dokter memberikan vitamin karena katanya kandunganku lemah. Aku diminta banyak istirahat juga,"
Jhico harus tahu mengenai semuanya. Sebab tadi dirinya periksa tidak bersama Jhico.
"Dokter pun sudah berpesan seperti itu. Jadi kamu harus lakukan,"
"Iya, Mumu. Jangan kelelahan, Mumu tidak boleh sakit. Nanti kasihan adikku," sahut Grizelle ikut meminta pada Ibunya agar menjaga kondisi.
"Ya sudah, kamu istirahat lah. Jangan pikirkan apapun selain kondisimu dan anak kita ya, Nilla,"
"Iya, Jhi."
"Nanti begitu kamu pulang, kita periksa lagi. Aku ingin melihatnya juga,"
Vanilla tersenyum mendengar itu. Sama seperti dirinya, Jhico pun antusias menyambut anak mereka.
*****
Pagi ini Jhico mengajak putrinya berkeliling di sekitar tempat tinggal mereka menggunakan buggy car.
Usai menghabiskan sarapannya, Grizelle minta diajak pergi. Karena Jhico belum ingin membawa anaknya pergi jauh-jauh, maka Ia putuskan untuk berkeliling di sekitar saja.
Grizelle sudah senang. Saat Ia tahu akan pulang, Ia menolak. "Nanti saja pulangnya, Pu,"
"Grandma mungkin sudah sampai di rumah,"
"Hmm ya sudah. Kita pulang,"
Rena memang sudah berkata akan datang setiap hari. Menemani cucunya yang masih berada di rumah, belum mulai beraktifitas lagi.
Tiba di rumah, rupanya sang Nenek belum datang. Grizelle merengut, "Glandma belum datang, Pu. Halus(harus)nya kita jangan pulang dulu tadi,"
"Pupu sudah lelah keliling,"
Grizelle tak ingin masuk ke dalam rumahnya dulu, memilih untuk menunggu Rena di luar. Ia duduk berpangku tangan, di sebelahnya ada Nada yang diminta Jhico agar menemani Grizelle, sebab Ia ingin mandi.
Melihat mobil Rena memasuki carport rumahnya, Grizelle segera berdiri dan melompat ringan, menyambut kedatangan Rena.
"Glandma, akhilnya (akhirnya) datang juga. Aku mau belbagi (berbagi) kabal gembila (kabar gembira),"
-----
__ADS_1
Griz semangat beudh ya mo ngasih tau ke neneknya😂😂seneng dia mo punya dedek. Kalian yg baca seneng jg gk?😆aku tunggu like, komen, dan vote nya yaa. Makasih💙