
Pagi hari Joana sudah datang ke apartemen sahabatnya untuk mengembalikan mobil Vanilla sekaligus mengajak Vanilla untuk berangkat ke kampus bersama.
Vanilla sudah siap dengan penampilan casual nya. Tapi wajahnya masih terlihat mengantuk.
"Aku belum make up, Joana. Sebentar ya," ujar Vanilla seraya membawa Joana masuk ke dalam apartemen dan mempersilahkan Joana duduk di ruang tamu.
"Kamu mau minum apa?"
"Tidak usah, tadi aku sudah minum susu di rumah. Kamu bersiap saja,"
"Okay, tunggu sebentar."
Joana menatap seluruh sudut ruang tamu apartemen Vanilla yang tidak terlalu luas itu. Semua furniture tertata rapi dan preposisinya tepat sekali. Yang Ia tahu apartemen ini sudah menjadi hunian Jhico jauh sebelum mengenal Vanilla. Sepertinya Jhico yang mengatur semuanya karena kalau Vanilla rasanya tidak mungkin. Vanilla yang dikenalnya tak acuh dengan hal-hal seperti ini.
"Aku dengar bel berbunyi. Siapa yang datang? Joana?" tanya Jhico setelah Ia keluar dari kamar mandi. Pagi ini Vanilla mandi lebih dulu. Bahkan tidak biasanya juga Ia bangun lebih pagi dari suaminya.
"Iya, aku mau make up setelah itu berangkat ya,"
"Sarapan dulu," ujar Jhico seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk. Jhico berdiri di belakang sang istri yang sudah mulai merias diri. Melihat suaminya hanya mengenakan celana pendek, Vanilla yang tengah menatap cermin langsung salah fokus.
"Sudah," jawabnya dengan gugup. Ia belum terbiasa melihat pemandangan seperti itu.
"Kapan?"
"Saat kamu mandi,"
"Benar?"
"Lihat saja di meja makan. Sarapan aku sudah hilang,"
Jhico mengangguk dan Ia segera berjalan menuju walk in closet yang luasnya tak seberapa itu untuk mengambil baju miliknya.
"Sudah aku siapkan bajumu, Jhi."
Suara Vanilla sedikit kencang agar suaminya mendengar. Jhico langsung menutup almari dengan kening yang mengerinyit.
Vanilla menunjuk sofa setelah suaminya masuk lagi ke dalam kamar. "Aku letakkan di sana. Kalau ada yang kurang pas menurutmu, cari sendiri lagi ya. Maaf aku belum pintar--"
"Terima kasih. Aku suka pilihanmu,"
Mendengar ucapan suaminya, Vanilla tersenyum tipis. Apa lagi ketika melihat Jhico langsung memakainya dengan semangat. Jhico senang istrinya mulai peduli dengan hal-hal kecil seperti ini. Ia merasa sangat diperhatikan.
"Aku sudah selesai,"
"Cepat. Biasanya hampir tiga puluh menit,"
"Joana sudah menunggu. Kasihan dia kalau terlalu lama,"
"Tunggu aku sebentar,"
"Aku akan pergi bersama Joana,"
Jhico selesai dengan kancing terakhir kemejanya. Dan ia langsung menoleh pada Vanilla. "Aku yang antar kalian,"
__ADS_1
"Tidak usah, Joana yang menyetir, bukan aku."
"Memang kenapa kalau aku yang antar?"
"Tidak apa, aku ingin berangkat bersama Joana saja pagi ini," ujar Vanilla tegas yang membuat Jhico akhirnya mengangguk.
Jhico segera mengecup istrinya setelah itu, Vanilla keluar dari kamar untuk menemui Joana lalu mereka berangkat bersama ke kampus.
***
"Vanilla ada di dalam?"
"Ada, masuk saja."
"Okay, terima kasih."
Jane baru saja menyelesaikan kelasnya hari ini. Ia ingin menemui sepupunya untuk menyampaikan kabar bahagia untuknya. Dan bila Vanilla tahu, pasti Ia juga akan senang.
"Astaga, Vanilla! Vanilla! aku ada kabar bahagia,"
Vanilla yang sedang menulis sesuatu langsung tersentak dan mengusap dadanya karena terkejut. "Telinga ku masih normal, Jane. Tidak perlu mengeluarkan suara yang keras,"
Jane memaksa Vanilla bergeser dan hampir saja Vanilla jatuh kalau tidak cepat-cepat ditahan oleh Joana yang duduk di samping Vanilla.
"Jane, Jhico akan marah besar padamu kalau dia tahu kamu hampir saja membuat istrinya yang hamil terjatuh," teguran Joana membuat beberapa teman sekelas Vanilla menoleh. Mereka terkejut mendengar ucapan Joana. Yang mereka tahu Vanilla belum menikah, hanya sering bermain-main dengan bayak lelaki.
Joana sadar Ia telah kelepasan. Ini semua karena Jane yang terlalu semangat ingin duduk di dekat Vanilla. Ia bukannya meminta Vanilla bergeser dengan baik-baik tapi malah mendorongnya. Ia lupa kalau Vanilla sedang mengandung, dan mereka tidak bisa lagi seperti dulu. Dimana saling dorong sudah biasa mereka lakukan baik disaat bercanda ataupun dalam situasi serius.
Seketika Vanilla menjadi pusat perhatian. Ia bingung harus melakukan apa. Salahnya juga yang terlalu nyaman bersembunyi dibalik status single padahal sudah menikah.
"Vanilla sudah menikah dalam keadaan bersih ya, teman-teman. Ia memang memiliki banyak teman lelaki tapi itu dulu sebelum menikah dengan Jhico, suaminya sekaligus ayah biologis dari bayi yang dikandung Vanilla,"
Tidak salah mereka berpikiran buruk tentang Vanilla. Karena yang selama ini mereka tahu, Vanilla hanya berteman dengan banyak laki-laki tapi jarang sekali berakhir pada tahap menjadi sepasag kekasih. Dan setiap mereka melempar kelakar tentang Vanilla yang kemungkinan sering menghabiskan malam bersama para teman lelakinya, Vanilla selalu membantah tegas dan mengatakan bahwa ia tak sampai melakukan itu.
Daripada mereka terus memberikan opini negatif tentang temannya, sekalian saja Joana mengatakan semuanya dan mempertegas bahwa Vanilla tidak seburuk yang mereka pikirkan.
Jane mengusap pelipisnya, merasa bersalah sekaligus bingung. Ia hampir mencelakai Vanilla dan keponakannya. Dan ia bingung karena baru tahu ternyata Vanilla masih menyimpan rapat kabar pernikahannya bersama Jhico.
"Oh begitu? kapan menikahnya?" ada beberapa yang tampak tidak percaya terlihat dari tatapan mereka pada Vanilla yang sinis. Tapi ada juga tanggapan yang menggambarkan kebahagiaan atas kabar yang baru mereka dengar itu.
"Sudah berapa bulan, Van?" tanya Joana pada Vanilla yang sedari tadi diam membisu dan menunduk.
"Sekarang delapan bulan,"
"Astaga sudah selama itu? kenapa ditutupi kalau memang pernikahannya terjadi bukan karena sesuatu?"
Vanilla merasa sesak ketika merasa disudutkan. Ia mengerti apa yang sedang mereka pikirkan sekarang. Pernikahannya terjadi memang bukan karena apa-apa. Tapi karena ada unsur keterpaksaan dari Jhico, Vanilla jadi malas mengakui semuanya dan di awal pernikahan, Ia merasa teman-temannya tidak perlu tahu mengenai pernikahan itu karena pada akhirnya Ia dan Jhico akan berpisah sebab Vanilla yakin sebuah bahtera rumah tangga kalau tidak dilandasi dengan cinta pasti akan saling melepaskan pada akhirnya.
Tapi nyatanya Tuhan berkehendak lain. Vanilla dan Jhico ditakdirkan saling mencintai dan ingin saling memiliki sampai kapanpun.
"Hal yang kalian bicarakan sudah terlalu mengganggu privasi Vanilla. Yang jelas, saat ini mereka saling mencintai. Tidak usah banyak bertanya lagi, dan jangan coba-coba berbicara buruk mengenai Vanilla!"
Joana juga tidak terlalu mengerti kenapa Vanilla menyembunyikan pernikahannya. Yang bisa Ia tangkap, Vanilla sempat tidak menginginkan pernikahan itu bahkan Vanilla sudah mengatakan padanya ada rencana untuk meminta pisah pada Jhico.
__ADS_1
Tapi kalau Joana mengatakan hal itu pada semua temannya, terasa kurang pantas. Ia sendiri takut salah bicara. Biarkan hanya Vanilla yang tahu kenapa Ia memilih untuk menyembunyikan status 'istri' dari teman-temannya.
Mereka semua akhirnya terdiam. Dan hanya bisa menahan berbagai pertanyaan di dalam benak mereka sendiri.
"Tadi ada kabar bahagia apa?" tanya Joana pada Jane yang sedari tadi juga diam.
Vanilla menatap sepupunya. Ia mengangguk, mengizinkan Jane untuk bicara dan Vanilla juga memberikan ruang untuk Jane duduk di dekatnya.
"Tidak lama lagi aku akan wisuda,"
Mulut Vanilla terbuka seiring dengan matanya yang membulat. Ia segera memeluk Jane begitupun Joana.
"Selamat! wow, akhirnya tidak jadi mahasiswa abadi lagi,"
"Sembarangan kalau bicara! mahasiswa abadi itu kamu, Vanilla!"
Vanilla hanya bisa terkekeh tak mengelak. Ia melepaskan pelukan dan segera mencubit pipi Jane dengan gemas. "Aku senang mendengarnya,"
"Apalagi aku," Jane meraih kedua tangan Vanilla lau merematnya erat-erat dengan wajah antusias sekali.
"Jane, selama ya."
Jane menoleh pada Joana dan memberinya pelukan hangat. "Terima kasih, Joana."
"Tapi jadwal wisuda dekat sekali dengan hari pernikahanku, Van."
"Kapan pernikahanmu?"
"Aku sudah memberi tahumu kemarin!""
"Aku lupa," ujar Vanilla seraya terkekeh. Jane memang memberi tahu tanggal-tanggal semua kegiatan menuju hari bahagianya. Mulai dari tanggal tunangan, sampai ke tanggal untuk preweding saja diberi tahu. Tapi karena Jane membicarakan itu disela pemotretan kemarin, jadi Vanilla kurang fokus untuk mendengarkannya.
"Kurang lebih satu bulan lagi,"
"Wow tidak lama lagi itu. Jangan lupa undang aku!" seru Joana yang begitu antusias.
"Pasti, Joana. Dan kamu harus datang,"
"Dengan calon suamimu juga," imbuh Vanilla yang membuat Jane menatap bingung ke arah Joana dan Vanilla.
"Joana akan menikah juga?" Jane tidak tahu apa-apa. Hanya Vanilla yang tahu. Vanilla mengangguk dengan senyumnya.
"Iya, kamu belum tahu 'kan?"
"Astaga belum,"
Jane segera menggeleng masih tidak menyangka kalau Joana ada rencana untuk menikah juga sama seperti dirinya.
"Aku belum tunangan,"
"Aku pun begitu. Bagaimana kalau kita tunangan di hari yang sama?"
-----------
__ADS_1
CUZZZ ABIS BACA INI, BACA LAPAK TRIPLE A YAAA. MAACIW