
"Mumu, sudah berrli (beri) tahu Pupu kalau Mumu diundang teman Mumu ke acarrla (acara) pernikahan?"
Vanilla mengikat rambut anaknya yang berantakan kemudian menyuruh sang putri untuk istirahat.
"Mumu, belum tanya?" anak itu kenbali mengulangi pertanyaan karena belum mendapat jawaban dari Mumunya.
"Belum, Sayang. Mumu lupa mengatakannya pada Pupu,"
"Oh, katakan, Mu. Kalau Pupu bolehkan Mumu datang, aku ikut ya,"
"Iya, Sayang,"
Grizelle senang kalau diajak ke pesta-pesta. Maka saat tahu Mumunya mendapat undangan yang kata Vanilla dari temannya, Ia senang sekali.
*****
Devan terkekeh pelan melihat puyrinya yang terlelap di sofa dengan posisi duduk. Kepalanya sampai miring dan itu membuat Devan tidak tega. Ia segera mendejat pada Auristella kemudian membawanya dalam gendongan. Ia memindahkan Auristella ke kamar istirahatnya yang berada di dalam ruang kerjanya.
Auristella langsung beringsutĀ mencari posisi nyaman setelah berada di atas ranjang. Devan mengusap kening anaknya sebentar kemudian beranjak meninggalkan ranjang. Ia lebih tenang juga begitu mengetahui Auristella tidur.
"Padahal sofa lega, bisa Ia jadikan tempat tidur, tapi malah memilih duduk," batin devan terkekeh seraya menutup pintu kamarnya.
*****
Lovi meninggalkan butiknya setelah lewat makan siang. Ia langsung pulang ke rumah.
Tiba di rumah kabar yang membuatnya tenang adalah mengetahui kalau anak-anaknya sudah pulang dengan keadaan baik-baik saja.
Maka yang ia tanyakan pertama kali ketika bertemu maid adalah mengenai ketiga malaikat kecilnya.
"Auris dijemput oleh Tuan Devan, Nona. Ian dan Ean hanya pulang berdua," kabar itu berhasil mengejutkan Lovi. Untuk memastikan apakah benar Auristella kini bersama suaminya yang tak mengatakan apapun mengenai rencananya untuk menjemput Auristella. .
"Hallo, kamu menjemput Auris? sekarang dia ada bersama kamu?"
"Lov, sapa aku dulu seharusnya,"
"Hih cepatlah jawab. Kenapa Ian dan Ean hanya pulang berdua? Auris benar bersama kamu 'kan?"
Devan terkekeh mendengar pertanyaan istrinya yang kedengaran cemas.
"Iya, benar. Dia sedang tidur,"
"Tidur dimana? seharusnya kalau kamu jemput Auris, dia sudah sampai di rumah,"
"Tadi aku mengajaknya ke rumah Papa dan Mama. Setelah itu Auris minta diajak ke kantor. Jadi ya sudah, aku penuhi permintaannya,"
"Oh begitu, ya ampun, jadi sekarang dia tidur di kantormu?"
"Iya, Lov. Kamu tidak usah khawatir. Anak kita baik-baik saja,"
"Baiklah, kamu belum ada rencana pulang pukul berapa?"
__ADS_1
"Tidak lama lagi pekerjaanku selesai,"
"Okay, Aku tunggu di rumah,"
Usai berbicara dengan sang suami, Lovi bergegas ke kamar anak laki-lakinya dulu sebelum ke kamarnya sendiri.
"Sayang, Mommy pulang," Lovi membuka pintu kamar dengan kebar kemudian Ia berdiri di depan kamar anak sulungnya.
"Mom," Andrean juga menyapanya walaupun singkat tapi Lovi tetap senang bisa melihat senyumnya meskipun tipis.
"Tadi pulang hanya dengan Ian?"
"Ya, Auris dijemput Daddy. Itulah sebabnya Ian kesal,"
"Oh adikmu itu kesal. Baiklah, Mommy akan bicara padanya,"
"Ya, Mom,"
Andrean membiarkan Mommynya pergi meninggalkan kamarnya usai menutup pintu. Ia kembali melanjutkan kegiatannya membaca buku.
Lovi membuka pelan pintu kamar anaknya yang nomor dua. Ia melihat Adrian yang berbaring di ranjang dengan posisi memunggungi pintu.
"Ian, Mommy sudah pulang,"
Lovi mendekat pada anaknya kemudian mengusap lembut kening Adrian yang rupanya terlelap. Adrian tidak terbangun bahkan bergerak pun tidak. Hanya deru napasnya saja yang terdengar.
Ia memutuskan untuk keluar dari kamar anaknya. Tidak mungkin Ia membangunkan anaknya yag kelihatan lelah sekali mungkin disamping lelah beraktifitas lelah juga menekan rasa kesalnya pada ayah dan adiknya sebab Ia tidak dijemput.
****
Kakinya melangkah menuju kamarnya untuk menghampiri sang putri yang tengah tidur di sana.
Ia tersenyum mendapati Auristella yang masih terpejam erat. Ingin dibangunkan, tapi Ia tidak tega melakukannya.
Devan memutuskan untuk menggendong anaknya saja kemudian membawanya keluar dari ruangan. Ia kesulitan menutup pintu ruangannya dan sekretaris yang melihatnya langsung berinisiatif membantu.
"Terimakasih,"
"Sama-sama, Tuan,"
Devan mengusap punggung mungil anaknya agar tidak terbangun ketia Ia bawa berjalan.
Banyak mata yang memperhatikannya. Mungkin mereka hampir tidak pernah melihat Devan seperti ini. Memperlakukan anaknya dengan penuh kasih sayang, memutuskan untuk tidak membangunkan putrinya dan malah menggendongnya dengan hangat.
*****
"Sayang, adik Icelle perempuan,"
"Iya, Mom? kenapa bisa?"
"Kenapa tidak bisa?"
__ADS_1
Lovi malah bertanya balik pada anaknya yang bangun tidur tidak terlihat kesal atau segala macam malah ia menyapa Lovi dengan hangat dan nemeluknya seperti biasa. Lovi anggap anaknya telah lupa dengan rasa kesalnya terhadap Devan.
"Perempuan, Mom?" kali ini Andrean yang bertanya meyakinkan. Lovi mengangguk cepat. "Iya, tadi Aunty Vanilla memberi tahu Mommy saat Mommy masih di butik,"
"Artinya aku gagal punya adik laki-laki,"
"Hei tidak boleh begitu. Harus senang apapun jenis kelaminnya,"
Adrian segera tersenyum lebar. Membuktikan bahwa Ia senang sekali tapi akan lebih senang kalau adiknya Grizelle laki-laki.
"Aku senang, Mom. Senang sekali malah,"
"Ucapkan selamat nanti pada Icelle kalau bertemu,"
"Kapan bertemu?"
"Ya nanti, kapan bertemu ucapkan selamat. Kalau kakinya Icelle sudah sembuh, ajak main saja ke playground," Kata-kata Lovi membuat mata Adrian berbinar.
"Itu ide bagus, Mom,"
Pembicaraan mereka di kamar Lovi dan devan terhenti saat mekihat Devan masuk dengan raut penatnya seperti biasa tapi ia selalu menebar senyum.
"Auris dimana?" tanya Lovi pada sang suami.
"Di kamarnya, tidur, Lov,"
"Daddy kenapa tidak menjemput aku dan Ean juga? malah jemput Auris saja. Terus kenapa pulangnya lama?"
Devan terkekeh dan meminta maaf pada anak laki-lakinya yang kini menatap dengan sorot kesal.
"Maaf, Sayang. Tadi Daddy menjemput Auris karena ingin mengajak Auris ke rumah Grandpa. Lalu setelah dari sana, Auris minta diajak ke kantor Daddy,"
"Kenapa Daddy tidak menunggu aku dan Aan juga? seharusnya tunggu kami, memang yang anak Daddy hanya Auris? Memangnya cucu Grandpa hanya Auris? tidak kan?"
Devan mengusap tengkuk yang tak gatal. Adrian benar-benar meluapkan kekesalannya saat ini dan Ia tak berkutik sebab Ia merasa salah.
"Maafkan Daddy ya, Sayang,"
"Aku kesal pada Daddy,"
Adrian langsung memeluk Mommynya kemudian menenggelamkan kepalanya di perut sang ibu yang berbaring di sampingnya.
Devan dan Lovi saling tatap. Devan meminta pertolongan istrinya agat memberikan penjelasan pada Adrian. Lovi mengangguk paham dengan isyarat yang diberikan suaminya melalui sorot mata.
Lovi menyuruh suaminya untuk lekas membersihkan badannya. Dan ia mengusap lembut rambut putranya.
"Sudah, jangan merajuk pada Daddy. Baru pulang langsung Ian marahi. Kasihan Daddy,"
"Daddy tidak kasihan padaku, tidak sayang padaku. Hanya mengajak Auris saja ke rumah Grandpa dan tidak menjemputku juga," sahut Adrian masih keras kepala tidak mau kalau Ia dilarang kesal pada Daddynya.
Lovi menatap Andrean, "Kakakmu saja tidak kesal. Padahal dia juga tidak dijemput dan diajak Daddy tadi,"
__ADS_1
"Ya karena Ean 'kan memang aneh,"
"Bukan aneh, tapi pemikirannya dewasa. Tidak mau marah hanya karena masalah kecil," kata Lovi membantah anggapan Adrian bahwa Andrean itu sosok yang aneh sebab Ia tidak kesal sepertinya.