Nillaku

Nillaku
Nillaku 225 Dilarikan ke Rumah sakit


__ADS_3

Thanatan menghembuskan napas pelan. Ia meraup wajahnya kemudian memberi pijatan ringan di pangkal hidungnya.


Ia melirik sekilas pada Karina yang berbaring miring menghadap sofa dimana Ia duduk.


Ia tahu Karina belum terlelap hanya memejamkan mata saja. Ia berdehem lalu mengajukan pertanyaan pada istrinya itu, "Apa yang kamu katakan pada mereka mengenai aku yang tidak bisa hadir?"


"Kamu menitipkan ucapan selamat untuk Vanilla. Aku mengarang saja. Agar kebahagiaan Vanilla semakin lengkap," gumam Karina bernada dingin. Suaminya memang tidak mengatakan apapun perihal Vanilla yang berhasil menyelesaikan pendidikannya. Berbohong sesekali demi menyenangkan hati orang lain, Ia rasa tidak masalah. Apalagi baru kemarin Vanilla dibuat terluka oleh Thanatan.


"Entah Vanilla percaya atau tidak mengingat bagaimana perangai kamu selama ini," imbuh Karina kemudian membuka matanya, menatap sang suami dengan sengit.


"Raihan dan Rena hadir?"


"Tentu saja. Mereka tidak seperti kamu yang tidak mengapresiasi pencapaian anak,"


Mendengar penuturan sang istri, Thanatan terkekeh sinis.


"Oh kamu sedang membicarakan dirimu sendiri ya? memang kamu selalu hadir disetiap kelulusan Jhico untuk mengapresiasi pencapaian Jhico? hmm?"


Karina terdiam, merasa dipukul keras mendengar kalimat itu dari mulut suaminya.


"Kita berdua orangtua yang buruk," tukas Karina. Menghela napas berat, mengingat setiap momen dalam hidupnya selama ini terutama setelah menjadi seorang Ibu.


Thanatan tersenyum miring mendengar pengakuan istrinya. "Jadi jangan menjatuhkan aku saja,"


Thanatan menghantam istrinya dengan sindiran telak agar Istrinya itu tahu bahwa Ia pun adalah sosok orangtua yang tidak selalu ada disetiap saat untuk anak mereka.


****


Di malam kedua sejak Grizelle diketahui demam, suhu Grizelle yang sempat mendekati normal saat akan hadir di acara kelulusan Vanilla berubah kembali tinggi ketika memasuki malam hari.


"Dibawa ke rumah sakit saja biar mendapat perawatan yang lebih intensif daripada di rumah. Griz juga lebih lemas dari kemarin malam,"


Jhico tidak bisa membiarkan anaknya di rumah lebih lama lagi disaat suhunya kembali tinggi dan kondisi Grizelle yang lebih lemah dari kemarin malam.


Tanpa menunggu waktu lama, Vanilla mengikuti jejak suaminya yang membawa Grizelle ke mobil.


"Nada, nanti antar semua perlengkapan Griz ke rumah sakit ya,"


"Iya, Nona,"


Usai meninggalkan pesan itu, Vanilla masuk ke dalam mobil dan Jhico langsung melaju.


"Tenang, Jhi. Kita jangan panik. Aku yakin Griz baik-baik saja. Demamnya datang lagi mungkin karena tadi sempat kelelahan. Seharusnya memang tadi dia diam saja di rumah tidak perlu hadir,"


Jhico fokus mengendarai sementata Vanilla memeluk anaknya yang terlelap.


"Padahal Grizelle langsung istirahat setelah sampai rumah. Aku yang menemaninya tidur. Dia bangun setelah kamu datang,"


Memang saat Vanilla tiba di rumah, Ia menemukan anak dan suaminya terlelap. Usai ia berganti baju, barulah Grizelle bangun kemudian minta disuapi makan. Setelah makan, Vanilla memberikannya obat. Disuruh tidur lagi, Grizelle tidak mau. Ia malah minta ditemani menonton televisi. Sementara Jhico datang sebentar ke klinik untuk melihat kondisi di sana. Satu jam kemudian Jhico kembali ke rumah dan mereka bertiga menghabiskan waktu di atas tempat tidur saja.


Grizelle sempat mengatakan pada Jhico agar tidak perlu khawatir. Kalau ada pekerjaan di klinik yang mungkin bisa menyita banyak waktu, Grizelle tidak mempermasalahkan karena disisinya ada Vanilla. Tapi tentu Jhico tidak bisa melakukan itu. Pergi satu jam saja Ia sudah merasa bersalah. Ia datang ke klinik pun karena terpaksa. Ia harus menggantikan Kenzo yang ada urusan sebentar di luar sementara dua dokter lainnya Damian dan Basta sedang praktik di tempat lain.


Uhuukk


Uhuukk


Uhuukk


Grizelle menepuk-nepuk dadanya yang langsung ditepis oleh Vanilla. Digantikan dengan usapan oleh Vanilla.


"Minum ya?"


Grizelle menggeleng kemudian terbatuk-batuk lagi.

__ADS_1


"Ayo, Sayang, minum dulu. Sabar ya, sebentar lagi kita sampai," ujar Jhico seraya melirik Grizelle melalui kaca di depannya.


Grizelle meneguk sedikit air minum yang diberikan Vanilla. Ia menghirup oksigen banyak-banyak karena dirasa hidungnya mulai sempit lagi akibat diisi oleh cairan.


Vanilla berinisiatif untuk mengambil tissue kemudian meminta agar anaknya membuang cairan itu di tissue.


"Aku saja yang pegang," ujar Grizelle seraya menarik tissue dari tangan Vanilla.


"Mumu saja. Griz buang cairannya di sini,"


Akhirnya Grizelle mendengar instruksi Ibunya. Setelah merasa cukup lega barulah Ia berhenti menunduk di atas tissue yang dipegang Vanilla. Mumunya bantu membersihkan.


"Nanti kalau dipasang infus harus mau ya?"


"Iya, Pu,"


Jhico tersenyum mendengar anaknya yang penurut. Semoga saja sampai di rumah sakit Grizelle tidak lupa dengan jawabannya itu.


*****


"Icelle sedikit minumnya ya? harus minum yang banyak,"


Yang menangani Grizelle kebetulan teman seperjuangan Jhico saat kuliah. Dia Drey, dokter umum yang kini praktek di sebuah rumah sakit elite sembari melanjutkan pendidikan spesialis anak.


Drey sudah berkenalan dengan Grizelle tadi. Awalnya Ia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Jhico dan terkejut ketika mendapati kabar bahwa Jhico sudah berkeluarga. Dan anak perempuan yang kini terbaring di atas bangsal itu adalah anak Jhico yang bernama Grizelle. 


"Icelle saja panggilannya ya? lebih terdengar lucu," ujarnya meminta persetujuan Grizelle sebelumnya. Itu juga pertama kalinya Ia berbicara dengan Grizelle.


"Boleh, Doktel (Dokter). Kakak sepupuku juga panggil aku begitu,"


Adrian, Andrean,dan Auristella sudah lebih dulu memanggilnya dengan sebutan Icelle.


"Jangan terlalu banyak gerak. Nanti kalau infusnya lepas, Icelle terpaksa ditusuk jarum lagi untuk pasang infus. Banyak-banyak istirahat ya?"


"Ini demamnya tinggi. Jadi kalian jangan lengah. Di samping Grizelle terus ya," pesan Drey sebelum pergi dari ruang perawatan Grizelle.


Pada akhirnya Grizelle harus dirawat di rumah sakit. Dokter mengatakan anak itu sudah mulai kekurangan cairan. Tidak heran, karena memang Grizelle susah sekali disuruh minum. Sekalinya minum hanya sedikit seolah minum air putih sangat merugikan untuknya.


"Di sini pelih (perih) kalau minum," keluhnya pada sang ayah ketika diminta minum.


Vanilla lekas menghubungi Nada untuk memberi tahu letak kamar perawatan anaknya agar ketika Nada mengantar pakaian Grizelle nanti Ia tidak susah mencari.


"Kabari Mama dan Papa ku atau tidak?"


Jhico menggeleng tidak mengizinkan. "Sudah malam, mereka pasti sudah istirahat. Lagipula kalau bisa tidak usah ada yang tahu. Tidak tega kalau mereka khawatir dan panik dengan kondisi Grizelle,"


"Baiklah,"


*****


Karina sulit sekali terpejam. Tiba-tiba saja Ia cemas dengan Grizelle. Bagaimana kondisinya sekarang. Apakah masih demam atau tidak. Pertanyaan semacam itu berhasil menekan rasa kantuknya.


Ia melihat benda bundar yang tergantung di dinding kamar. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Kalau Ia bertanya pada Jhico melalui telepon, apakah Jhico akan menjawabnya? Mungkin anaknya itu sudah terlelap. Tapi Ia dilanda rasa penasaran dan khawatir yang tidak berujung kalau tidak segera menghubungi Jhico.


"Menghubungi siapa malam-malam begini?" tanya suaminya yang kini melirik dari balik layar laptopnya.


"Jhico. Entah kenapa tiba-tiba aku khawatir pada Griz," jawab Karina sembari menunggu panggilannya terjawab.


"Hallo, Co."


"Iya, ada apa, Ma?"


"Griz sudah lebih baik kah? Mama tidak bisa tidur malam ini. Malah memikirkan Griz terus,"

__ADS_1


"Oh Griz---"


"Aaaa sakit,"


"Hey sayang. Griz, ada apa dengan Griz?"


Karina panik mendengar suara Grizelle sebelum Jhico menyelesaikan ucapannya.


"Tidak mau, sudah cukup satu saja,"


Vanilla mengusap kepala anaknya yang bersembunyi di perutnya. Ia dengan setia duduk di samping Grizelle.


"Ini sudah. Satu saja, tidak akan lagi. Tapi Grizelle janji ya tidak boleh banyak gerak. Nanti infusnya lepas lagi," ujarnya Perawat seraya tersenyum.


"Tadi waktu pertama kali tidak menangis. Sekarang kenapa menangis? padahal infusnya aku pasang di tangan Grizelle yang satunya. Tapi Grizelle hebat. Sudah cantik, hebat lagi,"


Sembari membereskan peralatannya, Perawat mengajak Grizelle bicara untuk menghentikan tangis anak itu.


"Tadi Grizelle sedang apa sampai infusnya lepas? bermain ya?"


Grizelle yang masih terisak dalam pelukan Ibunya menggeleng pelan kemudian menjawab, "Tadi aku tidak bisa tidul (tidur) jadi aku pindah-pindah. Telus (terus) tanganku kelual dalah (keluar darah),"


"Iya, biar tidak lepas lagi, Grizelle harus istirahat. Tidak mau 'kan di tusuk jarum suntik lagi?"


Grizelle menggeleng masih dengan mata berairnya Ia menatap perawat di depannya.


"Telimakasih, Sustel (Suster),"


"Sama-sama, Grizelle,"


Perawat keluar dari ruang perawatan Grizelle usai menyelesaikan tugasnya.


Kini Karina tahu dimana Grizelle sekarang. Ia mendengar pembicaraan perawat dengan cucunya tadi.


"Ma..."


"Grizelle dirawat di rumah sakit, Co?"


"Iya, Ma. Demam nya datang lagi. Kondisinya juga melemah. Akhirnya aku bawa Grizelle ke rumah sakit. Grizelle sudah kekurangan cairan,"


"Ya Tuhan..."


"Jaga Grizelle dengan baik, Co. Kenapa tadi infusnya bisa lepas? kamu tidak mengawasinya?"


"Dia tidak bisa tidur. Gelisah, gerak ke sana ke mari. Aku dan Nilla juga berusaha membuatnya tidur. Memeluknya, membacakan dongeng. Tapi tetap saja tidak bisa tidur katanya. Sudah diberi tahu olehku dan Nilla supaya jangan terlalu aktif di atas bangsal. Tapi Mama tahu sendiri Grizelle terkadang keras kepala,"


Karina menghela napas pelan. Ternyata kondisi Grizelle tidak membaik sampai akhirnya sang ayah memutuskan untuk dirawat saja di rumah sakit.


"Sudah dulu ya, Ma,"


Jhico masih harus menenangkan anaknya yang belum sepenuhnya berhenti menangis.


Karina menatap layar ponselnya yang sudah padam. Kemudian Ia meletakkan kembali benda tipis persegi panjang itu ke nakas.


Di sela kesibukannya, Thanatan mendengar apa yang dibicarakan istrinya tadi dengan Jhico.


Ia menatap Karina dengan kedua tangan yang menyatu di bawah dagunya dan kening mengerinyit. "Grizelle di rumah sakit sekarang?"


"Iya, kondisinya belum membaik. Lalu tadi infus nya lepas. Dia menangis kesakitan ketika infus di pasang lagi,"


 


Hai aku dtg lg. Double up nih. Ayoo like, vote, dan komen nya yg kenceng yaa. Biar aku semangat trs. Heheheh. Makasih semuanya🙏

__ADS_1


__ADS_2