Nillaku

Nillaku
Nillaku 210


__ADS_3

"Mu, buku yang Mumu siapkan hari ini salah semua,"


Grizelle mengeluarkan tiga buku dari dalam tasnya kemudian mengangkatnya agar bisa dilihat sang Ibu yang tengah menyiapkan lunch yang akan dibawanya ke sekolah hari ini.


"Iya, Sayang? maaf," sesal Vanilla yang merasa sangat keliru. Bisa-bisanya dia salah menyiapkan buku. Padahal seingatnya, Ia sudah benar melihat hari dan juga buku apa saja yang harus Grizelle gunakan.


Grizelle tersenyum maklum,"Tidak apa, Mu. Aku hanya membeli (memberi) tahu saja. Oh iya, besok, aku saja yang menyiapkan buku dibantu sus Nada ya," ujar anak itu. Mungkin Ibunya belum terbiasa lagi melakukan kegiatan itu mengingat sebelumnya Ia sangat sibuk.


Vanilla menghembuskan napas berat. Ia yang mengatakan pada Nada agar membiarkan dirinya yang menyiapkan keperluan untuk Grizelle sekolah. Namun Ia juga yang keliru.


"Tidak apa, Sayang. Besok Mumu tidak akan salah lagi,"


Suara Jhico membuat Vanilla dan Grizelle menoleh bersamaan ke arah Jhico yang berjalan menuju meja makan kemudian duduk di hadapan Grizelle.


Ia tersenyum pada sang anak yang duduk di depannya, kemudian tersenyum lembut pada Vanilla untuk memberi dukungan pada istrinya itu.


"Wajar Mumu keliru," imbuhnya.


"Besok tidak lagi," yakinnya pada Grizelle. Ia tahu niat Vanilla baik ingin mencoba melakukan apa yang pernah Ia lakukan dulu saat Grizelle menjejaki masa awal-awal sekolah. Tapi Grizelle yang sudah terbiasa mandiri dibantu dengan Nada sebagai pengasuhnya, tidak merasa keberatan lagi kalau seandainya diminta untuk menyiapkan apapun tanpa Vanilla.


"Iya, Pu," senyum mengembang milik Grizelle berhasil membuat Jhico menghela napas lega.


"Sibuk terus jadi lupa ya?" sindir halus Jhico sengaja menggoda istrinya.


Vanilla merengut,"Makanya sekarang aku berusaha adil membagi waktu,"


"Berhenti kerja saja biar tidak lelah membagi waktu," sahut Jhico dengan santai. Ia meraih sarapan yang telah tersedia di atas meja, kemudian menatap sekilas pada Vanilla yang diam tak menyahutinya lagi, memilih sibuk dengan kegiatannya memasukkan peralatan makan milik sang putri ke dalam lunch bag kemudian memastikan tabung air minum Grizelle aman.


"Ayo, salapan (sarapan) dulu, Mu," ajak Grizelle pada Vanilla.


"Ya, sebentar,"


Vanilla meraih ransel berwarna merah muda pastel milik Grizelle di kamarnya kemudian kembali lagi ke ruang makan.


"Oh iya lupa dibawa ke sini," ringis Grizelle melihat Ibunya yang membawa ranselnya.


Vanilla memanggil Nada lalu memberikan ransel, lunch bag dan folder bag berisikan berbagai dokumen yang harus dibawa Grizelle setiap harinya ke sekolah.


"Tolong bawakan ke mobil ya," pintanya.


"Maaf, mobil siapa, Nona?" tanya Nada karena semalam Vanilla mengatakan padanya ingin mengantar Grizelle ke sekolah. Tapi Ia tidak tahu apakah rencana Vanilla akan terlaksana pagi ini.


"Mobilku,"


Nada mengangguk patuh kemudian bergegas keluar menuju mobil Vanilla. Sementara Vanilla duduk mengabaikan tatapan penuh tanya dari suaminya dan Grizelle.

__ADS_1


"Mumu mau antal (antar) aku ke sekolah?"


"Ya, Griz. Mumu 'kan sudah pulih dan hari ini ada kesempatan untuk mengantar kamu. Setelah dari sekolah Griz, Mumu ada pekerjaan,"


"Yeaayy diantal (diantar) Mumu," Grizelle berseru senang sembari mengangkat kedua tangannya ke atas. Wajahnya ceria sekali dan itu membuat hati Vanilla menghangat. Sudah selama apa Ia tak mengantar putrinya ke sekolah sampai reaksi Grizelle seperti ini begitu tahu kalau Ia akan mengantar ke sekolah? apa se-lama itu Ia kurang memperhatikan Grizelle?


"Ah kamu lupa kalau Griz pernah bersedih karena kamu yang tidak datang ke beberapa agenda sekolah Griz tapi Griz berusaha terlihat baik-baik saja padahal dari matanya sudah jelas bahwa Ia terluka," batin Vanilla berujar. Memori di kepala Vanilla berputar. Ia pernah disambut dengan senyum Grizelle begitu tiba di rumah usai melakukan pekerjaan di negara lain selama beberapa hari sehingga harus absen dari agenda sekolah Grizelle. Grizelle tersenyum, bersikap seperti biasa padanya seolah Ia tak berbuat kesalahan apapun. Sampai akhirnya pada malam hari Jhico mengajaknya berbicara.


"Kamu tidak hadir di acara cooking class sekolah Griz. Padahal sebelum pergi, kamu sudah berjanji padanya akan datang,"


Saat itu Vanilla menghembuskan napas lirih. Ia mengutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya melupakan agenda tersebut padahal sangat jelas perannya sangat dibutuhkan oleh Grizelle. Cooking class itu untuk anak dan Ibu. Tak bisa dibayangkan sehancur apa hati Grizelle ketika Ibunya tidak datang.


"Kasihan Griz. Kamu tega membuatnya sedih,"


"Tapi---dia baik-baik saja, Jhi,"


"Kamu pikir dia akan menunjukkan kesedihannya pada kamu yang baru pulang bekerja? hmm?" tanya Jhico dengan dingin hingga membuat Vanilla menunduk dalam.


"Maaf, aku salah,"


"Jangan meminta maaf padaku. Karena bukan aku yang kamu hancurkan perasaannya. Tapi Griz,"


Meskipun itu bukan peringatan pertama dari Jhico, tapi Vanilla tetap sering melakukan kesalahan yang sama sampai Jhico pernah berada di titik jenuh. Namun Grizelle selalu menjadi pihak yang meluluhkan untuk Jhico.


"Jhi, kenapa menatapku seperti itu?"


"Pupu tepesona pada Mumu," ujar Grizelle dengan santai sembari mengunyah sarapannya.


******


"Mu, tlimakasih (terimakasih) sudah mengantal (mengantar) aku,"


"Iya, Sayang. Griz senang sekali kelihatannya,"


"Iya kalna diantal (karena diantar)Mumu jadi aku senang. Hari ini aku ke sekolah dengan lambut balu (rambut baru) juga,"


anak itu memilin ujung rambutnya yang tidak diikat seperti biasanya. Ada accesories rambut berupa bunga kecil yang dipasang dekat telinga nya.


Vanilla turun dari mobilnya menemani sang putri. Mereka menelusuri lobi sekolah sampai akhirnya tiba di sebuah ruangan yang menjadi kelas Grizelle.


"Semangat belajar nya, Sayang,"


"Iya, Mu. Aku selalu semangat,"


Vanilla meraih wajah sang putri. Ia mengecup kening, hidung, dan kedua pipi Grizelle.

__ADS_1


"Nanti belum tahu dijemput oleh siapa. Driver, Pupu, atau Mumu. Tapi yang jelas kamu harus tunggu ya,"


"Iya, tidak boleh kelual (keluar)kalau belum dijemput. Bahkan aku ditunggui sampai penjemput datang,"


Vanilla memang sudah sepenuhnya percaya pada perlindungan yang diberikan sekolah Grizelle terhadap para siswanya. Setiap orang yang menjemput dan mengantar harus selalu melewati sensor wajah terlebih dahulu dan harus menunjukkan sebuah kartu khusus yang didapatkan setiap siswa ketika awal masuk sekolah. Kartu itu harus dibawa oleh orang yang bertanggung jawab mengantar dan menjemput siswa.


"Mumu semangat keljanya. Jangan lupa istilahat, makan, hmm---jangan lupakan aku juga,"


Vanilla terkekeh mengangguk. Ia mengusap kepala anaknya sebentar sebelum Grizelle bergegas masuk. Anak itu melambaikan tangan pada Ibunya.


Setelah memastikan sang putri telah masuk ke dalam kelas dan siap belajar, Vanilla segera beranjak keluar karena Ia harus memenuhi peraturan yang telah dibuat pihak sekolah. Tidak ada yang boleh berada di dalam sekolah selain siswa dan pengajar. Orangtua hanya diizinkan masuk bila memang ingin mengantar anaknya sampai di kelas namun tidak boleh menghabiskan waktu terlalu lama.


Vanilla merasa ponsel yang Ia bawa bergetar dan layarnya berkedip. Segera Ia baca nama manager nya di layar ponsel.


"Kamu dimana? tidak lupa kalau ada pekerjaan pagi ini 'kan? setelah meeting dengan pihak brand, kamu harus pemotretan untuk---"


"Iya, aku sudah menuju ke sana," sela Vanilla sebelum Nein menyelesaikan pembicaraannya.


Nein yang tadinya berapi-api ingin kembali memberi tahu Vanilla mengenai agendanya hari ini dibuat menghela napas kesal karena Vanilla langsung menyelanya kemudian mematikan sambungan telepon mereka.


Vanilla langsung bergegas keluar dari lingkup sekolah sang putri usai menggerutu sembari meletakkan ponselnya ke atas dashboard.


"Berisik, tidak bisa terlambat sedikit langsung bicara panjang lebar,"


"Errghh kenapa harus ada Nein di dunia ini,"


"Astaga, biar bagaimanapun dia yang berperan penting untuk pekerjaanku,"


Vanilla bergumam seorang diri, menyesali dirinya yang memarahi Nein. Padahal bukan salah Nein juga. Ia dituntut disiplin karena sudah terlibat kontrak dan Nein hanya tidak ingin modelnya menyalahi kontrak itu.


*****


"Uwaahh cantik sekali kamu,"


Grizelle ******* bibirnya malu ketika dipuji oleh seorang temannya. Ia menyentuh rambutnya sendiri lalu menatap temannya.


"Cantik ya? aku kila (kira) Mumu dan Pupu hanya memujiku kalna (karna)aku anak meleka (mereka),"


"Aku mau rambut pendek juga. Tapi aku tidak mau dipangkas,"


Grizelle merengut saat temannya bicara seperti itu. "Bagaimana bisa pendek kalau tidak mau dipangkas? kamu aneh-aneh saja,"


"Pakai lambut(rambut) yang tidak asli 'kan bisa, Griz,"


Grizelle merapatkan bibirnya kemudian menghembuskan napas kencang dari sela bibirnya hingga membuat rambut bagian depannya melambai.

__ADS_1


 


Brp lama aku gk up? ada yg nungguin dedek Griz? komen di bawah yaa :)


__ADS_2