Nillaku

Nillaku
Nillaku 232 Kekecewaan Jhico


__ADS_3

Thanatan keluar dari ruangan meeting pukul tiga sore. Terlalu banyak awalan dan akhiran hingga membuat Thanatan muak. Biasanya Ia tidak pernah seperti ini. Tapi karena rekannya kali ini membuat dirinya terpaksa menjadi sosok kakek yang jahat untuk cucunya, Ia jadi membenci rekannya. Sayang, mereka terlibat kerja sama. Lagi-lagi sikap profesional harus diagungkan.


"Makan siang bersama? ah lebih tepatnya makan sore ya karena sekarang sudah sore,"


Thanatan hanya mengangkat bibirnya tak minat mendengar lebih lama suara Hanaiko.


"Aku masih ada pekerjaan. Kita makan bersama lain kali,"


Usai mengatakan itu, Ia bergegas kembali ke ruangannya. Menyentak tubuhnya ke atas kursi kebesaran lalu meraup wajahnya usai menghembuskan napas panjang.


"Apa sebaiknya aku meminta maaf pada Grizelle?" gumam Thanatan bertanya pada hatinya sendiri. Apa itu harus Ia lakukan? kalau harus, kenapa? bukankah biasanya Ia tidak mempedulikan hal-hal sepele seperti ini?


"Sepertinya aku memang harus meminta maaf pada Grizelle,"


Setelah yakin, jemari Thanatan bergulir di layar untuk mencari nama anaknya di daftar kontak.


Ia menunggu beberapa detik namun tidak ada jawaban. Kemudian mencoba untuk yang ketiga kalinya. Tetap sama. Jhico tidak menjawab panggilan darinya.


"Apa dia sengaja tidak mengangkat telepon dariku?"


*****


Jhico melirik ponselnya tanpa minat. Thanatan menghubunginya saat ini. Untuk apa? memastikan bahwa Grizelle sudah benar-benar merasa kecewa dengan dirinya?


"Pupu, kenapa tidak dijawab teleponnya?"


Jhico tersenyum saja. Lebih baik tidak dijawab karena jujur sampai sekarang suasana hati Jhico masih belum membaik pasca perdebatan sengitnya dengan sang ayah.


Lebih baik mereka tidak terlibat interaksi apapun. Mungkin ketidak hadiran Thanatan tadi juga adalah yang terbaik. Sebab Ia pun bingung harus bersikap bagaimana dengan ayahnya setelah menginjak harga dirinya sebagai seorang suami dengan menilai istrinya tanpa perasaan.


"Dijawab, Pupu. Kasihan olang (orang) yang telepon Pupu. Mungkin penting,"


Vanilla yang tadi tidak niat untuk ikut campur akhirnya menatap lama ke arah Jhico yang kebetulan juga menatapnya.


"Jawab saja barangkali penting,"


Jhico memasang mode diam pada ponsel pintarnya. Kemudian Ia menyimpan di dalam saku celananya.


"Ihh Pupu tidak boleh begitu. Jawab saja, Pupu. Kalau tidak mau aku dengal (dengar), ya sudah Pupu bicalanya (bicaranya) di lual (luar) saja,"


"Urusan pekerjaan ya? dari klinik? lebih baik dijawab siapa tahu ada sesuatu yang darurat," tebak Vanilla yang salah. Ia tak mungkin menyangka kalau Thanatan lah yang menghubungi suaminya karena Thanatan sangat-sangat jarang melakukan itu. Biasanya menelpon hanya ingin menyuruh Jhico ke rumah setelah tiba di rumah, Jhico dihiraukan atau diajak berdebat mengenai hal-hal yang sebenarnya sudah tidak seharusnya diperdebatkan lagi.


Jhico menjawab hanya dengan gerak bibir tanpa suara, "Papa."


Vanilla mengangkat kedua alisnya. Ia menggerakkan dagunya menuju pintu, "Bicara saja. Jangan bersikap seperti itu,"


Vanilla memang terkadang sakit hati dengan sikap Thanatan terutama pada putrinya, apalagi baru kemarin Ia dinilai buruk, tapi Ia tidak ingin Jhico menjauhkan Jhico dari orangtuanya. Ia adalah seorang istri yang akan selamanya menjadi tali antara Jhico dengan keluarganya.

__ADS_1


Jhico tak mengelak lagi ketika diminta istrinya untuk bicara di luar.


"Hallo, ada apa, Pa?" tak ingin basa-basi, Jhico langsung bertanya mengenai hal apa yang sekiranya membuat sang ayah mau menghubunginya. Apa ada hal yang harus mereka debatkan saat ini?


"Papa minta maaf,"


Jhico sampai terdiam sebentar guna meyakinkan kalimat yang diterima oleh indera pendengarannya tadi.


"Papa minta maaf tidak bisa memenuhi permintaan Grizelle. Papa tidak bermaksud untuk---"


"Pa, Grizelle sangat kecewa. Dia sangat berharap Papa datang. Tapi Papa ingkar janji,"Ā 


Thanatan terdiam, membayangkan bagaimana reaksi kekecewaan cucu pertamanya itu.


"Grizelle bahkan menunda makan siang nya demi menunggu Papa,"


"Dia senang Grandpa dan Grandma nya datang, tapi tetap mengharapkan kehadiran Papa,"


Thanatan menelan ludahnya pahit. Kenapa sakit saat mendengar ucapan Jhico?


Setelah ini Grizelle akan membencinya kah? setelah ini, apakah ucapan Grizelle 'aku senang kalau punya kakek dua' masih berlaku?


"Papa harus bicara dengan Grizelle,"


"Tidak perlu, Pa. Anakku sudah lupa dengan tadi. Nanti kalau Papa bicara, Ia akan sedih lagi,"


Jhico mematikan sambungan telepon. Berat juga bersikap seperti tadi pada ayahnya. Tapi Ia sudah terlanjur kecewa.


Akhirnya Ia mengirim pesan.


-Papa berjanji pada Grizelle untuk datang tanpa melihat jadwal dulu sebelumnya. Hari ini Papa ada pertemuan dengan salah satu rekan kerja. Papa sudah meminta pengertian untuk mengundur pertemuan agar Papa bisa datang menemui Grizelle. Tapi mereka tidak menyetujui. Terpaksa Papa mengingkari janji pada Grizelle-


Ia mencoba unuk berbesar hati meminta maaf sekaligus memberi penjelasan yang runtut pada Jhico berharap Jhico mau membaca pesannya kemudian disampaikan pada Grizelle.


*****


Disela istirahatnya, Grizelle yang belum pulih masih ada keinginan untuk menyelesaikan tugas dari sekolahnya.


Vanilla sudah melarang putrinya untuk melakukan itu karena Grizelle tidak boleh kelelahan dulu. Baik itu fisiknya maupun pikirannya. Sementara otaknya harus istirahat dulu dari berbagai macam materi sekolah yang harus Ia pelajari. Namun Grizelle sudah benar-benar bosan karena hanya tidur kemudian bermain gadget. Itupun hanya diberi waktu sedikit sebelum Jhico mengambilnya.


Akhirnya Vanilla membiarkan anak itu tetap produktif. Ia meminta tugas yang harus dikerjakan pada pengajar Grizelle.


Mereka yang sudah tahu bahwa Grizelle sedang dalam kondisi sakit pun memberi keringanan agar Grizelle istirahat dulu tanpa memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan sekolahnya. Tapi mendapati Grizelle yang tetap semangat belajar, mereka akhirnya memberikan tugas-tugas yang harus Grizelle kerjakan selama tiga hari meninggalkan pembelajaran.


"Ini jumlahnya lima. Yang ini jumlahnya dua. Bial meleka (biar mereka) sama, yang ini halus (harus) ditambah tiga,"


Di layar iPad nya, terdapat dua kubu bola. Kubu pertama berisi lima bola. Dan kubu kedua berisi dua bola. Yang menjadi tugasnya adalah, Ia harus menjadikan kedua kubu itu memiliki jumlah bola yang sama.

__ADS_1


Ia menambah tiga bola di kubu kedua dari kumpulan-kumpulan bola cadangan. Kemudian Ia meminta koreksi dari Vanilla.


"Mumu, ini benal (benar) 'kan?"


Vanilla segera menilai apa yang dikerjakan Grizelle. Ia tersenyum mengangguk. "Benar, coba dilanjut lagi,"


"Okay, Mu,"


Jhico kembali ke ruangan menemukan anaknya tengah serius menatap layar.


"Sedang apa itu? Waktu untuk bermain nya sudah habis tadi 'kan? bukannya tidur malah---"


"Mengerjakan tugas, Jhi,"


Jhico membulatkan mulutnya, "Oh, sudah diberikan tugasnya?"


"Sudah, lumayan banyak itu,"


"Jangan dikerjakan sekaligus, Griz. Nanti kamu bukannya sembuh malah semakin sakit karena stress memikirkan tugas,"


"Iya, Pu. Tenang saja,"


"Kalau butuh bantuan Pupu, langsung katakan ya,"


"Okay,"


Grizelle membentuk lingkaran dari ibu jari dan telunjuknya kemudian mengerling lucu.


Biipp


Biipp


Pintu ruangan Grizelle terdengar dibuka dari luar tapi tidak berhasil terbuka karena dikunci oleh sebab itu menimbulkan suara.


Vanilla melihat orang yang datang melalui lubang kecil di pintu. Ia kira dokter yang datang, ternyata Nein dan Joana. Ia bisa melihat mereka sekalipun terlihat sangat kecil.


"Siapa yang datang?"


Vanilla menoleh pada suaminya, "Joana dan Nein,"


Kemudian Vanilla membuka pintu untuk menyambut kedua tamunya.


"Icelle, ah kenapa kamu sakit?" Joana segera berhambur memeluk Grizelle.


"Bagaimana kondisimu, Grizelle? sudah lebih baik?" tanya Nein, manager Vanilla yang sengaja mengajak Joana untuk menjenguk Grizelle. Joana terkejut mendapati kabar bahwa Grizelle dirawat di rumah sakit. Vanilla memang tak sempat mengabari siapapun karena terlaku fokus merawat anaknya bahkan untuk sekedar mengisi daya baterai ponselnya saja Ia tidak ada waktu.


"Aunty Nein, kalau aku katakan sudah membaik, nanti Mumu jadi pelgi (pergi) ke Dubai ya?"

__ADS_1


-----


Ini part kedua bwt malam minggu kalian. Selamat membacašŸ™Œ


__ADS_2