
"Yeaay kita sampai,"
Grizelle senang ketika mobil ayahnya tiba di parking area kampus Mumunya.
Ia turun dengan cepat bahkan sebelum Jhico membuka pintu untuknya.
"Sabar, Grizelle,"
"Iya, Pu,"
Ia mengulurkan tangan pada Jhico meminta digendong. Jhico tidak menolak. Satu tangannya digunakan untuk menggenggam tangan istrinya. Lalu mereka berjalan bersama. Untuk kali ini Jhico dan Vanilla meminta Nada ikut. Berhubung Grizelle sedang sakit, barangkali nanti mereka membutuhkan bantuan Nada. Lagipula Vanilla tidak bisa seratus persen berada di samping putrinya itu.
Hari ini pakaian yang dikenakan Vanilla, Grizelle, dan Jhico memiliki warna dan tema senada yaitu stelan formal berwarna abu.
Bukan hanya Vanilla yang membawa keluarga kecil tapi hanya keluarga kecilnya yang berhasil menarik perhatian. Selain karena pesona mereka sebagai keluarga kecil yang harmonis, salah satu penyebab lainnya adalah Grizelle yang mengenakan kemeja putih, blazer, dan celana berwarna abu. Rambutnya diikat kemudian digulung ke belakang meninggalkan beberapa helai di kedua sisi wajahnya. Ia terlihat seperti lady boss kecil. Meskipun sedang sakit, tapi tetap menggemaskan.
Penampilan Vanilla dan Grizelle seluruhnya sama persis. Hanya saja, Vanilla mengenakan high heels sementara anaknya memilih sneaker berwarna abu dengan garis putih di bagian punggung kakinya.
Sementara Jhico mengenakan kemeja putih dan celana bahan abu tanpa blazer. Agar tidak terlalu formal, Ia pun memilih sneaker sebagai pelengkap penampilannya. Semua mahasiswa menggunakan stelan suit.
"Aku jadi mahasiswa ya, Mu," gumam Grizelle terkekeh kecil menyadari penampilannya.
"Iya mahasiswa paling kecil,"
Dimasing-masing dada kiri mahasiswa terdapat logo universitas dan di leher mereka yang perempuan pun terdapat pita yang melingkar. Sementara suit Grizelle polos. Agar Ia tidak benar-benar menjadi mahasiswa.
Vanilla sengaja mencari bahan yang sama dengan miliknya saat ingin membuatkan stelan itu untuk anaknya.
Vanilla memang totalitas dalam hal penampilan. Baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya.
"Aaaa cantik sekali sih,"
"Lady boss Vanilla ini,"
Beberapa teman Vanilla menyapa Grizelle yang tampil beda dari biasanya namun hampir serupa dengan mereka saat ini.
"Kenapa mau ikut ke sini juga? memang Griz lulus?"
"Lulus, Aunty. Tapi nanti,"
Grizelle menanggapi mereka dengan senang hati meskipun dirinya masih merasa demam, hidungnya tersumbat, dan sesekali masih batuk.
"Ini tempat kita,"
Terdapat satu meja bertuliskan nama Vanilla kemudian ada beberapa kursi di sana untuk Vanilla dan keluarganya.
Vanilla mempersilahkan suaminya yang menggendong Vanilla untuk duduk lebih dulu. Ia juga melakukan hal yang sama pada Nada. Kemudian Ia duduk di sebelah suaminya.
"Mama dan Papa belum sampai,"
"Di perjalanan mungkin,"
Vanilla tidak mungkin tidak mengundang kedua orangtuanya untuk hadir. Raihan sudah tahu bahkan sebelum anaknya memberi tahu karena dia selaku pemilik kampus adalah orang pertama yang diundang untuk datang ke setiap acara pelepasan mahasiswa. Sementara Rena tahu dari anaknya dulu barulah Raihan.
"Tidur?" Jhico menepuk bahunya, meminta Grizelle yang berada di atas pangkuannya mau merebahkan kepala di bahunya.
__ADS_1
Grizelle menggeleng saat ditawari tidur oleh Pupunya. Ia tidak mungkin datang ke sini hanya untuk tidur.
"Kalau mau tidul di lumah (tidur di rumah) saja,"
Jhico terkekeh pelan. Akhirnya Ia membiarkan Grizelle diam memandang sekelilingnya dengan sorot antusias.
"Kamu tidak pusing ya di situasi cukup ramai seperti ini? padahal lagi sakit,"
"Tidak, Pu. Aku senang melihat olang (orang) di sini,"
"Ini minumnya,"
Grizelle menggeleng saat disuruh minum oleh Vanilla. Ia bahkan menutup mulutnya dengan tangan.
"Nanti aku ke kamal (kamar) mandi telus (terus),"
"Tidak apa, nanti Mumu temani,"
Sekali lagi Grizelle menggeleng.
"Ayolah, harus sering minum air putih,"
Tak bisa menolak ketika Jhico sudah ikut campur. Ia akhirnya menenggak air dari botol minum yang diberikan Mumunya itu.
"Kalau aku tidak datang, bajunya tidak telpakai (terpakai) ya, Mu. Sayang sekali. Hampil (hampir) saja aku tidak ikut,"
Vanilla mengangguk membenarkan. Setelah Ia diberikan baju oleh pihak kampus untuk dipakai hari ini, Ia langsung meminta temannya yang seorang designer untuk membuatkan baju hampir serupa dengan miliknya yang akan dikenakan oleh Grizelle.
"Nada, duduk di sini,"
Grizelle meminta pengasuhnya untuk duduk di dekatnya karena Ia melihat Nada masih berdiri bukannya langsung duduk.
"Iya tadi sudah dipersilahkan duduk. Kenapa masih berdiri, Nad?"
Nada tersenyum tipis menanggapi ucapan Vanilla. "Tempat ini dikhususkan untuk keluarga, Nona,"
"Kamu keluargaku. Lagipula ini kursinya banyak. Paling hanya dilakai dua lagi untuk Mama dan Papaku. Sudah, jangan sungkan,"
Untuk satu mahasiswa diberi bagian sebanyak satu meja bundar dan enam kursi. Dan bisa digunakan oleh siapapun yang diajak oleh mahasiswa, baik itu keluarga maupun kerabat. Vanilla tak habis pikir Nada sungkan untuk bergabung padahal Ia sudah menganggap Nada keluarganya.
****
"Ayo cepatlah, Ma. Bisa-bisa acaranya sudah selesai ini,"
Raihan mulai bosan menunggu istrinya berdandan. Sudah cukup lama Ia menunggu di luar kamar. Dari Ia belum mandi sampai sekarang, Rena nyaman sekali di depan cermin.
"Iya, ini sudah selesai,"
Rena keluar dengan cepat dari kamar menghampiri suaminya. Kemudian mereka langsung bergegas ke kampus Vanilla.
"Ini 'kan acara yang kita tunggu dulu ya. Selain pernikahan Vanilla,"
"Iya, akhirnya Princess Mama berhasil menyelesaikan kuliahnya,"
Seharusnya Vanilla sudah lulus sejak empat tahun lalu. Tapi karena Ia tidak serius belajar, kelulusannya harus selalu ditunda. Raihan tidak mengistimewakan anaknya sekalipun lembaga pendidikan itu miliknya. Oleh sebab itu Vanilla tetap saja tidak lulus karena memang belum memenuhi syarat.
__ADS_1
Raihan dan Rena tidak terlambat. Mereka datang tepat waktu. Raihan diminta untuk memberi kata sambutan setelah acara resmi dimulai. Sementara sang suami berada di atas podium, Rena bergabung dengan keluarga kecil putrinya yang nampak berseri bahagia hari ini, sama seperti dirinya.
Yang tidak disangka Vanilla dan Jhico adalah, Hawra datang kemudian disusul Karina. Padahal mereka berdua sama-sama merasa tidak memberi tahu Hawra dan Karina.
"Padahal ini kabar bahagia tapi kamu tidak bagikan pada Nenek,"
"Aku tidak ingin Nenek kelelahan bila datang ke sini. Rencananya aku akan menelpon Nenek nanti untuk memberi tahu tentang ini,"
Mengingat usia Neneknya yang semakin renta, Jhico tidak ingin memaksa kehendak sekalipun Ia ingin sekali Hawra menjadi saksi dari momen bahagia istrinya ini.
"Nenek tahu dari siapa? Vanilla?"
"Papamu," ujar Hawra yang diangguki pelan oleh Jhico.
Papanya tahu tapi memilih untuk tidak datang. Ah tidak heran. Kelulusan anaknya sendiri saja tidak dianggap penting.
"Mama senang sekali bisa hadir. Selamat ya, Sayang. Kamu hebat!"
"Iya, Vanilla juga. Terimakasih ya, Ma,"
Vanilla tersenyum pada Karina yang menyerahkan bucket bunga padanya sehingga menambah bucket bunga miliknya yang tadi diberikan oleh Mama dan Papanya.
"Sayang sekali kurang lengkap ya. Thanatan tidak hadir," ujar Rena.
"Maaf dia tidak bisa hadir. Tapi dia menitip ucapan selama untukmu, Vanilla,"
Vanilla tersenyum hangat seraya mengucap 'terimakasih' lagi. Tidak ada alasan dia tidak bahagia hari ini. Sekalipun Thanatan tidak memberinya ucapan selamat, Ia merasa sudah cukup bahagia karena orang-orang di dekatnya saat ini.
"Ini bukan akhir. Melainkan awal dari proses baru yang akan kalian mulai lagi. Tetap semangat, terus tingkatkan kualitas diri kalian masing-masing," akhir kalimat Raihan sebelum Ia menutup sambutannya.
Riuh tepuk tangan terdengar hingga Ia turun dari podium. Lelaki yang tak muda lagi namun tetap berkharisma itu kembali bergabung bersama keluarganya.
Sebelumnya upacara kelulusan sudah dilakukan. Dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Kemudian sampai pada acara inti yaitu pelepasan para mahasiswa ditandai dengan pemakaian toga dan kalung medali pada semua mahasiswa.
"Yeaayy Mumu sudah dapat topi itu. Aku nanti mau foto pakai itu boleh tidak, Pu?"
Dari kejauhan, Jhico yang masih merasa kagum dan bangga memandang ke arah istrinya yang sedang mendapat ucapan selamat dari para pengajarnya, dibuat mengalihkan perhatian pada putrinya yang bicara seperti itu.
"Boleh, nanti pinjam pada Mumu ya,"
"Okay-okay,"
Vanilla berjalan cepat menuju anak dan suaminya sembari mengayunkan tabung kecil berisi gulungan kertas transkrip nilainya.
"Yeaayy Mumu hebat,"
Grizelle langsung melompat minta digendong oleh Vanilla. Anak itu memberikan ciuman bertubi-tubi untuk Ibunya. Ia ikut bangga.
"Mumu, aku mau foto dengan itu ya," pintanya seraya menunjuk topi yang yang berada di atas kepala Vanilla. Tentu saja Vanilla langsung mengangguk.
"Iya, Griz juga lulus hari ini,"
Vanilla terkekeh kemudian meletakkan toganya di atas kepala sang putri, sesuai permintaannya.
Kedua orangtua Vanilla, Karina, dan Hawra, serta sang suami, Jhico turut merasa bahagia melihat interaksi mereka berdua yang kini tertawa.
__ADS_1
------
Part kedua untuk hari ini. Selamat hari minggu. Pada liburan kemana nih? follow aku ya, like, komen dan vote jangan lupa. Addicted up jg lhoo. Cuss melipir ke sana