
Usai bersantai-santai sehabis makan, Rena belum juga melihat suami dan cucunya.
Ia tahu kemana hilangnya mereka berdua. Saat ini suaminya memang sedang mencintai peliharaan sampai sering menghabiskan waktu di sana kalau sudah pulang ke rumah.
Ia berjalan pelan mendekati keduanya hingga mereka tak sadar. Ia berdiri di belakang Raihan dan Grizelle yang duduk di jembatan yang membawahi tempat ikan-ikan milik suaminya tinggal.
"Griz, jadi minta buaya?"
"Aduh, Glandma jangan buat aku kaget,"
Rena terkekeh karena Grizelle tersentak karena suaranya yang tiba-tiba datang.
"Serius sekali sampai tidak sadar Grandma datang,"
"Iya, lagi melihat ikan bolak-balik,"
Grizelle menunjuk ikan-ikan cantik yang sedang berkeliling itu. Terkadang, mereka saling bertabrakan hingga Grizelle tertawa.
"Aku jadi minta buaya,"
"Ya ampun, ikan saja sudah membuat Grandpa lupa dengan Grandma, Griz. Apalagi kalau tambah peliharaan lagi,"
"Tidak lupa, Glandma. Kata siapa lupa?--"
Grizelle mengguncang bahu kakeknya, "---Glandpa masih ingat 'kan ini siapa?" tanya nya seraya menunjuk Rena. Raihan langsung mengangguk cepat.
"Tahu, istri Grandpa ini,"
"Nah 'kan. Glandpa masih ingat,"
Rena menggaruk dagunya yang tak gatal. Bukan lupa yang seperti itu maksdunya.
"Grandpa jadi sibuk dengan peliharaan, Griz. Maksud Grandma begitu,"
"Tidak, Glandma tenang saja,"
"Memang buat apa punya hewan buas begitu?"
"Aku ingin, Glandma. Klrena (karena) lucu,"
"Lucu darimana?"
Rena duduk di samping cucunya. "Itu memyeramkan, Griz. Bisa menggigit,"
"Supaya tidak digigit, jangan dekat-dekat,"
"Biar saja, akan aku penuhi kalau memamg bisa," ujar Raihan pada istrinya yang masih tak habis pikir ingin punya hewan buas semacam buaya.
"Habis buaya apalagi, Griz?"
"Singa, woahh itu lebih lucu lagi klrena (karena) rambutnya acak-acakan sepelrti (seperti) aku bila tidak mandi,"
Tawa Raihan dan Rena pecah mendengar penuturan cucu mereka yang menyamakan rambutnya seperti rambut singa bila tidak mandi.
"Aku minta hewan-hewan supaya aku selrlring (sering) datang ke sini,"
"Tanpa ada itu, kamu mau sering datang ke sini boleh, Sayang. Kalau perlu tinggal di sini juga boleh,"
__ADS_1
"Aku jadi punya mainan kalau datang ke sini. Glandpa juga senang. Iya 'kan, Glandpa?"
Raihan mengangguk atas pertanyaan Grizelle.
"Kenapa harus yang buas, Sayang?"
Grizelle mengacungkan ibu jarinya, "Biar krrlen (keren), Glandma,"
"Aku suka nonton karltun (kartun) binatang, dan aku ingin punya binatang yang aslinya,"
"Pa, sekalian buat kebun binatang saja, bagaimana?" tawar Rena sekalian barangkali suaminya berminat. Kalau benar dia berminat, sepertinya Rena akan pindah rumah saja.
"Memang boleh?"
Gawat!
Kalau raihan sudah bertanya seperti itu, sudah ada tanda-tanda ke arah sana.
"Aku sih inginnya begitu,"
"Ih kamu apa-apaan sih? dulu koleksinya senjata, sekarang binatang. Tidak pernah yang waras sedikit?"
Raihan pernah memiliki bisnis yang berada di jalan yang benar dan bisnis yang gelap bergerak dibidang senjata, obat, dan minum-minuman yang tidak bebas diperjual belikan di negara mereka. Ia menyimpam senjata sebagai hobi dan sebagai alat perlindungan diri.
Setelah lepas dari itu semua dan benar-benar berbisinis yang sehat dan bersih, Ia malah berpindah memgoleksi binatang.
"Ini lebih baik. Daripada yang waktu itu 'kan? seharusnya kamu bersyukur. Coba bayangkan kalau aku masih menyimpan itu semua setelah punya cucu, bahaya,"
"Aku sudah waras daripada dulu," imbuhnya kemudian. Rena mendengus, ada benarnya juga. Lebih baik memelihara binatang daripada kejahatan.
"Tapi kamu masih punya tembakan ya,"
"Griz nanti ikut Grandpa menembak ya sesekali,"
"Woaahh, kapan, Glandpa?"
Rena menggeleng tak percaya dengan ajakan suaminya yang semakin ameh saja menurutnya.
"Bisa-bisanya kamu mengajak Griz menembak?"
"Tidak sekarang, nanti kalau sudah besar saja,"
Grizelle bertepuk tangan riang, "Yeayy, boleh-boleh, Glandpa. Pasti menyenangkan ya. Selama ini aku hanya menembak monstel (monster) saja di game,"
"Iya nanti kamu coba menembak secara langsung. Targetnya bukan monster, tapi orang,"
"HAH?!"
Raihan terbahak melihat istrinya yang berseru dengan mulut terbuka lebar.
Menyadari bahwa suaminya tak serius, Rena segera memukul lengan suaminya yang kini terpingkal-pingkal. Grizelle akhirnya mengikuti, menertawakan neneknya.
*****
Jhico ingin staycation dengan Vanilla tentu saja tidak benar terjadi karena mereka harus segera pulang ke rumah usai memeriksakan kandungan Vanilla.
Vanilla ingin mempersiapkan perlengkapan untuk anaknya pergi berlibur.
__ADS_1
"Nilla, Griz 'kan baru sembuh. Apa keputusanku untuk mengizinkan Griz berlibur salah ya?"
Jhico memperhatikan istrinya yang tengah memilah baju yang akan dibawa Grizelle. Sembari memperhatikan, Jhico tenggelam dalam pikirannya.
Vanilla mengambil baju ganti untuk anaknya yang hanya berlibur satu malam saja.
Kemudian perempuan itu berjalan ke ranjang, dimana suaminya duduk.
"Hanya satu hari. Biar Griz juga senang. Lagipula, dia sudah sembuh,"
"Aku hanya takut dia kelelahan lalu sakit lagi. Aku mengizinkan itu karena aku tidak tega melihat dia yang begitu senang dan berharap agar aku izinkan. Tapi setelah aku pikir---"
"Tidak, Jhi. Griz memang butuh liburan supaya dia senang. Mama Karina juga tidak akan membiarkannya lelah,"
Jhico menghembuskan napas pelan. Kalau Ia membatalkan, pasti Grizelle kecewa tidak jadi pergi berlibur dengan Nay-Nay nya. Tapi Ia masih khawatir karena Grizelle sakit belum lama ini.
"Griz sudah sepenuhnya sehat. Dia sudah bisa sekolah, bermain dengan Nada, bahkan sekarang datang ke rumah Mama dan Papaku. Sampai belum pulang juga, pasti dia puas bermain di sana. Kata Griz, biar adil. Dia akan berlibur dengan Mama Karina, jadi hari ini mau senang-senang dengan Mamaku,"
Vanilla masih ingat betul apa yang dikatakan anak sulungnya itu. Ia ingin berlaku adil, katanya. Supaya semua kakek dan neneknya kebagian waktu bersamanya.
"Aku bantu apa?"
"Tidak ada yang perlu dibantu,"
"Kamu perlu apa? biar aku saja yang ambilkan,"
Vanilla menggeleng, Ia hanya perlu membawakan Grizelle pakaian ganti dan peralatan mandinya.
"Simple ya kalau anak kecil. Coba kalau kamu, perempuan dewasa. Aduh banyak sekali yang harus dibawa kalau ingin pergi,"
Jhico terkekeh saat istrinya menatap tajam. Tersinggung dengan sindirannya yang terang-terangan.
"Make up, hair dryer--"
"Berisik ya. Namanya juga perempuan,"
******
Raihan mengangkat cucunya tinggi-tinggi dari permukaan air dan cucunya langsung tertawa kesenangan.
Tidak disangka sebelumnya bahwa mereka akan berenang bersama usai melihat-lihat ikan. Raihan kira, cucunya akan langsung meminta diantar pulang. Ternyata malah mengajaknya berenang bersama Rena juga.
"Jangan dilepas. Aku takut dia jatuh,"
Rena melarang suaminya yang mengangkat Grizelle kemudian melepasnya singkat sebelum akhirnya ditangkap olehnya. Grizelle bukannya takut malah tertawa senang.
"Lagi, Glanpa," pinta anak itu padahal Raihan sudah berhenti karena larangan istrinya.
"Tidak, nanti kamu jatuh,"
"Tidak akan, Glandma. Pasti aku dijaga Glandpa,"
Grizelle mengeratkan pelukannya di leher sang kakek kemudian minta di perlakukan seperti tadi. Ketika lepas di udara Ia berseru senang
"Hahaha aku sepelti (seperti) telbang (terbang),"
-----
__ADS_1
Yeee aku up pagi nih. Udh pd bangun blm? udh hr Jumat, guys. Bsk sabtu trs minggu. Yok semangat yok.