
"Kamu menghubungi siapa sih?"
"Devan,"
"Kenapa lagi menghubungi Devan? jangan mengganggu kehidupannya lagi lah,"
Jane terkekeh menanggapi ucapan suaminya, Richard. Ia hanya ingin bertanya kabar saja tapi suaminya mengira Ia ingin mengganggu kehidupan Devan.
"Aku jarang sekali bicara dengannya. Dia seperti sengaja menghindari aku. Ah tentu saja. Mungkin dia takut aku macam-macam lagi," Jane terkekeh kembali.
Devan hanya beberapa kali saja menjawab panggilannya selama mereka berbeda benua. Itupun hanya sebentar-sebentar saja mereka bicara. Ia menyadari kecemasan lelaki itu.
"Dia takut kamu mengincarnya lagi,"
Jane tersedak dengan tawanya sendiri. Apa benar yang dikatakan suaminya itu? tapi sebenarnya memang iya. Kalau tidak, kenapa Devan jarang sekali mau bicara dengannya.
*****
"Jane telepon kamu lagi, Devan,"
Lovi menyerahkan ponsel sang suami pada pemiliknya Yang diterima langsung oleh Devan yang mengerang kesal.
"Erghh perempuan itu mau apa sih,"
"Coba jawab saja dulu,"
Devan mengangguk kemudian menggeser panel hijau sebelum melekatkan ponsel pada telinganya.
"Hallo,"
"Hallo, Devan. Ya ampun, jahat sekali kamu ya. Tidak mau menjawab panggilan aku,"
"Bagaimana kabarmu?" tanya Devan langsung pada sepupunya itu. Jane tersenyum senang mendapat pertanyaan itu.
"Aku baik. Kamu sendiri? dan bagaimana kabar istri, anak-anakmu?"
"Baik juga. Kenapa menelponku?"
Jane mendengkus kasar. Memang kalau menelpon harus ada maksud?
"Ya...aku hanya ingin tahu kabar kalian saja di sana,"
"Sudah tahu 'kan sekarang? sudah bisa aku tutup teleponnya?"
"Ck! kenapa? takut istrimu cemburu ya? oh dimana Lovi? aku ingin bicara dengannya,"
Devan menyerahkan ponselnya pada sang istri. Lovi langsung menyapa Jane karena Ia tahu maksud suaminya menyerahkan ponsel itu padanya.
"Hallo, Jane,"
"Hai, Lovi. Sehat?"
"Sehat, kamu di sana juga sehat 'kan?"
"Ya, kamu cemburu kalau aku menghubungi Devan?" tanya Jane langsung pada Lovi.
Lovi terkejut dan jelas saja langsung menjawab.
"Hah? tidak, Jane. Kamu tenang saja. Aku tidak cemburu sama sekali. kita ini keluarga. Ya ampun, kenapa kamu berpikir begitu,"
"Ah masa? aku yakin dalam hatimu pasti ada rasa cemburu,"
Jane tertawa, Ia tidak percaya kalau Lovi tidak ada cemburu sedikitpun padanya mengingat Ia begitu terobsesi dengan Devan dulu. Sampai Ia sangat memusuhi Lovi.
"Tidak, Jane. Aku serius. Oh ya, kapan kembali ke sini, Jane?"
"Belum tahu. Aku masih nyaman di sini dengan Richard. Dia juga belum mau kembali ke sini,"
"Aku tunggu ya. Supaya aku, kamu, dan Vanilla bisa jalan-jalan bersama,"
"Iya, Lovi. Bye,"
__ADS_1
"Bye, Jane. Sehat-sehat di sana ya,"
"Kamu pun juga,"
Pembicaraan mereka selesai. Lovi mengembalikan benda canggih tersebut pada Devan.
*****
Jhico sudah selesai melakukan ritual mandinya. Ia datang ke kamar putrinya yang kata Vanilla sedang mengerjakam tugas.
"Icelle,"
Grizelle menoleh saat Ayahnya masuk ke kamar dan memanggilnya.
Ia tersenyum seperti biasanya, tidak seperti tadi siang yang menangis kencang.
Jhico mendekati Grizelle dan langsung mengamati luka di kaki anak pertamanya.
"Bagaimana? masih sakit ya?"
"Masih lumayan, Pu,"
"Pupu ganti dulu plester dan kassa nya,"
"Tadi sudah diganti Mumu,"
"Oh sudah,"
Jhico mengusap lembut di sekitar luka. "Bagaimana sekolah besok?"
"Aku bisa, Pu,"
"Benar bisa? hati-hati ya. Jangan terlalu banyak berjalan dulu,"
"Iya, Pu,"
"Ada yang bisa Pupu bantu?"
"Aku sudah bisa menyelesaikannya,"
"Ya sudah, istirahat kalau begitu,"
"Pupu tidurrl (tidur) di sini mau ya?"
"Iya, Sayang,"
Jhico tidak akan bisa menolak permintaan anaknya apalagi kalau sudah menatapnya dengan wajah memohon.
"Biar Pupu yang bereskan semuanya,"
Jhico melarang anaknya untuk merapikan buku dan alat tulisnya. Ia yang melakukan itu.
Kemudian Ia berbaring di samping Grizelle usai menarik selimut untuk membalut tubuh mereka.
"Kasihan anak Pupu habis jatuh. Makanya, Sayang, jangan suka berlari kalau sedang tidak olahraga," ujar Jhico seraya mengusap keningnya.
"Iya, Pu,"
"Mumu pasti khawatir sekali tadi,"
"Hmm..." Grizelle mengangguk dengan gumamannya. Kemudian Ia beringsut masuk ke dalam pelukan ayahnya.
"Selamat malam ya,"
"Malam, Pu. Jangan pergi kalau aku belum tidurrl (tidur) ya?"
"Jadi Pupu boleh pergi kalau kamu sudah tidur?"
"Boleh, Pupu boleh tidurl (tidur) di kamarl (kamar) dengan mumu kalau aku sudah tidurl (tidur),"
"Okay, baiklah,"
__ADS_1
Malah Jhico mengira Grizelle minta ditemani sampai pagi. Rupanya anak itu hanya perlu penghantar tidur saja.
Jhico mengusap turun dan naik punggung anak perempuannya yang kini memeluk erat tubuh kokohnya yang bagi Grizelle bisa menghadirkan rasa nyaman dan tepat sekali untuk menjadi pelindungnya.
*****
Vanilla memainkan ponselnya sembari menunggu Jhico ke kamar Grizelle. Tapi sudah tiga puluh menit lelaki itu tidak kunjung kembali ke kamar.
Vanilla meletakkan ponselnya di nakas kemudian Ia mengusir selimut dari tubuhnya. Kakinya menyentuh lantai. Ia mengenakan alas kaki barulah keluar dari kamarnya menuju kamar putrinya.
Ia membuka pelan, ternyata tidak dikunci. Ia mencuatkan sedikit kepalanya untuk melihat ke dalam.
"Oh tidur di sini rupanya," gumam Vanilla melihat suaminya yang terpejam memeluk Grizelle. Vanilla membiarkan hal itu. Ia menutup pintu kamar Grizelle dan tersentak saat bebrlaik tak sengaja bertemu dengan Nada.
"Griz sudah tidur,"
"Aku kira masihh mengerjakan tugas, Nona. Aku ingin membereskan peralatan sekolahnya,"
"Dia sudah tidur dengan Pupunya. Besok saja aku yang melakukannya,"
"Baik, Nona,"
Vanilla kembali ke kamarnya dan Nada tidak jadi masuk ke kamar Grizelle.
"Aku sendirian malam ini," kekeh Vanilla.
"Tak apa lah. Griz lagi ingin dekat-dekat dengan Jhico mungkin,"
Vanilla memilih untuk terlelap. Malam ini Ia tidak ada yang memeluk. Sebab yang biasa memeluknya sedang memeluk anak mereka dan terlelap bersama.
*****
Pagi ini Jhico membawakan masakan istrinya ke rumah kedua orangtuanya. Karina senang sekali ketika menyambut kedatangannya.
"Ya ampun, Vanilla baik sekali. Kamu makan di sini dulu kan?"
"Tidak, Ma. Aku langsung ke klinik,"
"Sudah sarapan?"
"Sudah, Ma. Papa sudah berangkat?"
"Belum, lagi bersiap,"
Jhico mengedarkan pandangan, Nenek dimana?"
"Masih di kamar. Mungkin sebentar lagi--"
"Kenapa mencari Nenek?"
Suara Hawra menyela kalimat Karina. Hawra datang dengan senyum teduhnya. Lalu Jhico langsung memeluknya.
"Hanya datang sendiri?"
"Iya, Nenek. Aku ditugaskan Vanilla mengantar ini," kata Jhico seraya menunjuk makanan yang ia bawa tadi.
"Masak jam berapa Vanilla? sebanyak itu,"
Jhico terkekeh menggeleng. "Entah, semalam aku tidur dengan Griz jadi tidak tahu juga kapan Vanilla terbangun,"
"Oh lagi mau manja dengan Pupunya. Sampai minta ditemani tidur," ujar Hawra seraya terkekeh kecil.
"Iya, karena habis jatuh mungkin," sahut Jhico dengan kekehannya juga.
"Jatuh dimana? kenapa bisa jatuh?"
Suara dingin Thanatan yang baru bergabung membuat Jhico menoleh. Ayahnya itu berjalan dengan langkah tegas dan sangat berwibawa dengan balutan stelan formalnya.
"Saat keluar dari mobil, dia berlari lalu jatuh dan berdarah. Kejadiannya saat dia pulang sekolah. Begitu mobil sampai di rumah, dia langsung berhambur keluar dari mobil,"
Thanatan hanya mampu menggeleng pelan. Tidak heran dengan sikap cucunya yang satu itu. Terkadang memang terlalu aktif.
__ADS_1