
"Sudah belum?"
"Belum, Mom. Lantai nya belum kering,"
"Ya sudah, lanjutkan."
Auristella terkikik pelan memperhatikan kakaknya yang sibuk mengeringkan lantai karena ulahnya. Ia tidak bisa membawa angsa dengan benar akhirnya air yang ada di dalam mainan angsa tersebut tumpah ke lantai dan sekarang Adrian yang harus bertanggung jawab. Karena memang yang mengisinya juga Adrian.
"Tidak usah tertawa! bukannya membantu aku malah tertawa. Dasar adik durhaka!"
"Hey kenapa malah berdebat?"
"Auris menertawakan aku, Mom."
Meski tawanya pelan namun Adrian menyadari kalau adiknya itu tengah menjahili ditengah kesibukannya mengeringkan lantai.
"Kamu seharusnya berterima kasih padaku, Auris. Ini semua karena kamu, tapi aku yang bertanggung jawab,"
"Sudah, jangan menyalahkan adikmu. Dia mana bisa mengeringkan lantai? dan yang punya ide untuk mengisi angsa dengan air, siapa?"
"Aku, tapi Auris juga mendukung,"
"Kamu yang memulai lebih dulu,"
Sekarang jadi Lovi dan Adrian yang berdebat. Sudah bagus Ia bertanggung jawab. Pada akhirnya tetap saja menyalahkan Auristella.
"Mumu pulang!"
Kedatangan Vanilla membuat Adrian menghentikan kegiatannya. Ia berlari ke arah Vanilla untuk menyambutnya namun naas, Ia terjatuh karena menginjak lantai yang belum kering.
"Astaga, Adrian. Sayang, kamu tidak apa?" Vanilla sampai terperangah bingung karena tiba-tiba saja suara benturan tubuh dengan lantai menyambutnya.
"Sshhh, Mom. Sakit sekali,"
Lovi langsung membantu anaknya untuk bangkit. Adrian jarang merengek semenjak usianya semakin besar. Mungkin karena kejadian tadi cukup menyakitinya, maka tak ada kata ragu untuk dia merengek pada sang Ibu.
"Seharusnya Grizelle yang riuh saat Mumu nya pulang. Kenapa malah kamu?"
Adrian meringis kesakitan seraya memegang bagian belakang tubuhnya. Lovi segera membawa anak itu ke sofa lalu disingkapnya baju Adrian. Kemudian Ia mengusap-usap dengan lembut.
"Mumu ambilkan obat oles untuk Adrian dulu," ujar Vanilla pada anaknya yang sudah mengulurkan tangan padanya, meminta untuk digendong olehnya.
Vanilla mengambil cairan obat tersebut lalu memberikannya pada Lovi. "Aku tidak mau pakai itu," ucap Adrian.
"Harus pakai. Kalau tidak, Mommy bawa kamu ke dokter,"
Akhirnya Adrian tak lagi membantah. Daripada Ia harus bertemu dengan dokter.
"Itu harus diperiksa, Lovi. Takutnya terjadi sesuatu di tulang belakangnya. Tadi terjatuh lumayan kencang," ujar Rena yang diangguki oleh Lovi. Memang rencananya begitu meskipun Adrian sudah mau menggunakan obat yang diberikan Vanilla.
Adrian langsung bangkit dari sofa hingga hampir terjatuh lagi. Beruntungnya Lovi segera menahan.
"Tidak! aku tidak mau! aku baik-baik saja,"
"Ya sudah, cepat tengkurap lagi. Biar Mommy oleskan obat nya,"
"Yan atuh. HAHAHAHA,"
"Sstt Auris! tidak boleh menertawakan kakakmu. Dia sedang kesakitan,"
__ADS_1
Auristella langsung membungkam mulutnya dengan tangan ketika ditegur oleh Rena.
"Makanya selesaikan dulu pekerjaan mu baru melakukan hal lain. Akhirnya terjatuh 'kan? lantai belum kering, kamu malah berlari untuk menyambut Aunty," Andrean menegur adiknya dengan suara yang tenang dan melirik Adrian sekilas.
Sejujurnya Ia juga terkejut saat Adrian terjatuh. Walaupun sebenarnya itu sudah biasa terjadi. Adrian memang kerap tidak hati-hati.
"Kenapa lantai bisa licin? biasanya Bibi tidak pernah membiarkan---"
"Tadi Auris menumpahkan air,"
"Kenapa tidak minta bantuan pada Bibi saja?" tanya Vanilla pada istri dari kakaknya.
"Karena Adrian juga salah jadi dia harus bertanggung jawab,"
Vanilla mengangguk setelah mendengar jawaban Lovi. Andrean langsung bangkit dari duduk nyamannya di depan televisi untuk melanjutkan kegiatan adiknya tanpa disuruh oleh Mommy nya.
Lovi masih mengusap pinggang anaknya dan berharap tidak terjadi apapun di tulang Adrian. Anak keduaya itu tidak mau dibawa ke dokter padahal Lovi hanya ingin tahu saja kondisinya. Tadi Adrian terjatuh cukup kencang. Karena dia berlari dan lantai yang basah oleh air membuatnya terhempas begitu saja.
"Tadi kepala mu tidak membentur lantai 'kan?"
Lovi trauma dengan apapun yang berhubungan dengan kepala anaknya. Karena saat ulang tahun Andrean dan Adrian pernah jatuh dari tangga sebuah restoran dimana mereka merayakan pesta ulang tahun yang digelar oleh kakek dan nenek mereka disaat Lovi dan Devan berpisah.
"Tidak, Mom. Semua aman,"
Saat Adrian akan duduk, suara Rena menahannya. "Berbaring dulu, kamu mau apa lagi? lantainya sudah dikeringkan oleh Andrean,"
"Iya, terimakasih, Andrean." ujar Adrian dengan senyum manisnya. Andrean bisa diandalkan dalam segala hal. Membantu Mommy nya untuk menjaga Auristella bisa Ia lakukan. Dan sekarang Ia membantu sang adik untuk menyelesaikan tugasnya.
"Vanilla, kami pulang dulu ya."
"Langsung pulang? padahal aku baru sampai,"
"Sudah lama di sini. Griz sudah merindukanmu. Kami tidak ingin mengganggu momen kalian,"
"Grandma ikut pulang ke rumahku?"
"Tidak, Adrian. Nanti Grandpa Rai jemput,"
"Kalian dijemput Devan 'kan?"
Setelah Vanilla bertanya, Lovi mengecek ponselnya untuk mengetahui kabar terbaru dari suaminya yang tadi sudah berangkat dari kantor untuk menjemput nya beserta kedua anak mereka.
"Dia sudah menunggu di lobi katanya,"
"Suruh dia ke sini lah. Masa anak dan istri yang menghampiri?"
"Mungkin dia lelah habis bekerja," Rena membela putranya yang disudutkan Vanilla. Vanilla sengaja mengulur waktu agar mereka lebih lama di apartemennya.
"Lelah? jarak dari lobi ke sini tidak begitu jauh, Ma. Lagipula bisa naik lift,"
Drrtt
Drrtt
Devan memanggil Istrinya yang sudah membaca pesan singkat yang dikirimnya barusan namun tidak menjawabnya. Akhirnya Ia memutuskan untuk menelpon Lovi.
"Kamu disuruh Vanilla ke sini. Jangan menunggu di lobi," ucap Lovi pada suaminya.
"Apa maksud anak itu menyuruh aku datang ke unit apartemennya?"
__ADS_1
"Anakmu habis jatuh, Devan. Jadi, Kamu harus menggendongnya. Tidak mungkin Lovi 'kan?" suara Vanilla terdengar menyahuti di telinganya. Devan berdecak mendengar kabar bahwa anaknya jatuh lagi.
"Astaga, jatuh dimana lagi?"
"Karena lantai licin dan dia berlari. Kamu tidak mau memarahi lantai apartemenku yang telah membuat anakmu sakit? biasanya kamu selalu begitu setiap ada yang menyakiti anakmu," lagi-lagi Vanilla menyahuti.
"Ya sudah, aku ke sana sekarang. Bye, Lov."
"Okay, bye."
Begitu panggilan diakhiri, Adrian menghembuskan napas pelan. Wajahnya murung seketika.
"Nanti bukan lantai saja yang dimarahi. Aku juga dimarahi pasti,"
"Tentu saja karena kamu salah dan itu bisa merugikan orang lain bahkan diri kamu sendiri,"
"Nanti aku akan dipanggil kakek tua oleh Daddy karena lagi-lagi terjatuh,"
Devan yang sudah duduk di lobi akhirnya berdiri untuk menghampiri anak dan istrinya di unit apartemen sang adik.
"Ada-ada saja anakku itu, Ya Tuhan. Sering selali jatuh," gumam Devan pelan seraya memijat keningnya.
Devan berjalan cepat menuju lift yang kebetulan sedang dibuka oleh seseorang. Di dalam lift terdapat tiga orang termasuk dirinya. Selang beberapa detik, Ia tiba di lantai yang dituju.
Hanya berjalan sebentar dari lift, akhirnya Devan tiba. Ia menekan bel apartemen. Lovi langsung beranjak dari sisi Vanilla yang tengah mengajak Grizelle mengobrol. Lovi yakin suaminya yang datang.
Lovi membuka pintu. Devan langsung masuk sebelum dipersilahkan. Lovi menggeleng pelan.
"Dimana Adrian? kenapa kamu biarkan dia jatuh?"
"Sedang berbaring. Aku tidak bisa menahan dia jatuh. Memang kamu pikir aku super hero yag bisa bertindak sangat cepat?"
Devan menghampiri Adrian yang tersenyum. "Bagaimana keadaanmu, Kakek?"
"HAAAA DADDY AKU BUKAN KAKEK!!"
"Hahahaha," tawa Rena pecah seketika melihat Adrian berseru tidak terima disebut kakek. Anak itu melempar bantal ke arah Devan. Daddy nya langsung melotot tajam.
"Sorry, Dad."
Devan mendekati anaknya. "Tidak bisa hati-hati, Adrian? kamu sering sekali mencelakai diri sendiri. Baru kemarin jatuh dari ranjang. Sekarang sudah jatuh lagi. Dimana kamu terjatuh?"
Devan geram sekali dengan anaknya itu. Kalau anak-anaknya sakit, tentu saja Devan merasa tidak tenang dan siapapun bisa menjadi sasaran Devan.
"Di sana," jawab Adrian seraya menunjuk tempatnya terjatuh tadi. Devan langsung menghampiri lantai lalu merendahkan tubuhnya dan memukul lantai itu dua kali. Hal tersebut mengundang tawa Adrian.
"Sekarang kita pulang,"
"Ayo, Dad. Gendong," pinta nya seraya mengulurkan tangan ke arah Devan. Lelaki beranak tiga itu langsung menuruti keinginan putra bungsunya.
"Kami pulang dulu, Vanilla."
Devan pamit pada Vanilla dan melirik Grizelle sebentar. "Aku tidak bisa mencium kamu ya, Griz. Karena aku baru pulang bekerja. Bye, Griz." ujarnya pada anak Vanilla itu.
Vanilla segera mengangkat sedikit tangan anaknya lalu dilambaikannya pada keluarga kecil Devan.
"Hati-hati ya triple A. Mommy dan Daddy nya juga hati-hati,"
"Okay, kamu pun begitu." Lovi melambaikan tangannya pada Vanilla yang menggendong Grizelle.
__ADS_1
----------
Aku up pagi bwt sarapan kelean gesss😂Up kira-kira kpn lg nih? ramein komen yak kl perlu teror aku yg buanyakkk supaya cepet up wkwk.