Nillaku

Nillaku
Nillaku 309 Grizelle diberi izin untuk menginap di rumah Triple A


__ADS_3

"Aunty, nanti sepulang sekolah bolehkah Icelle ke rumahku dan menginap di sana?"


Auristella benar-benar melakukan apa yang Ia katakan semalam. Ia akan meminta izin juga pada kedua orangtua Grizelle agar Grizelle bisa menginap di rumahnya.


"Icelle mau menginap di sana?" tanya Vanilla pada anaknya yang tentu langsung mengangguk cepat.


"Memang belum selesai sesi melepas rindu nya?"


Auristella dan Grizelle menggeleng kompak. Pisahnya beberapa bulan, tentu semalam saja belum cukup.


"Ya sudah, kalau memang Griz mau menginap di rumah Auris, tidak masalah,"


"Kalau Pupu mengizinkan aku tidak?"


Mendapat lampu hijau dari Vanilla tak cukup bagi Grizelle. Ia juga harus diizinkan oleh ayahnya yaitu Jhico.


Ayah yang sebentar lagi akan memiliki dua anak itu mengangguk di sela mulutnya yang bergerak mengunyah. Ia menelan makanan terlebih dahulu kemudian menjawab, "Griz boleh menginap di sana. Asal jangan menyulitkan Aunty Lovi dan Uncle Devan di sana,"


"Tidak, Pu. Aku akan menjadi anak baik di sana,"


"Okay, kapan ke sana? setelah sekolah? Pupu antar ya," ujarnya yang disambut Grizelle dengan sorak senang.


"Yeaayy rrlumah Trrliple (rumah triple) A, aku datang," serunya.


"Yeaay Icelle ke rumahku,"


"Ke rumahku juga," tambah Adrian yang membuat Auristella memutar bola matanya.


"Rumah kalian yang benar," takut terjadi perdebatan, maka Vanilla meluruskan.


Penjaga pos keamanan melaporkan pada mereka bahwa driver tiga bersaudara telah datang menjemput mereka.


"Tunggu sebentar. Sarapanku belum habis,"


Adrian dan Andrean pamit lebih dulu pada Vanilla dan Jhico sebelum beranjak pergi. Sementara Auristella masih melahap sarapannya.


"Hati-hati ya,"


"Iya, terimakasih Aunty, Uncle sudah mau mengizinkan kami menginap di sini dan menciptakan keramaian,"


Vanilla terkekeh pelan mendengar Adrian bicara seperti itu. Andrean juga mengucapkan terimakasih pada mereka tapi tidak berkelakar seperti adiknya.


"Terimakasih, Aunty, Uncle,"


"Iya, sama-sama, Sayang,"


"Auris pelan saja makannya. Pasti ditunggu,"


Auristella mengangguk pelan. Grizelle mengusap bahunya. "Tenang, tidak akan ditinggal. Kalau Ian dan Ean meninggalkanmu ke sekolah lebih dulu, aku akan marrlahi merrleka (marahi mereka),"


Auristella dan Grizelle menekuri makan pagi mereka kembali dan kedua saudara kandung Auristella sudah menunggu di dalam mobil.


"Kalau dalam waktu lima menit dia belum selesai juga, kita tinggal saja Auris ya,"

__ADS_1


Andrean menggeleng tak mungkin Ia pergi tanpa bersama adik bungsunya itu.


"Kita tunggu sampai selesai,"


"Kalau kita terlambat?"


"Tidak mungkin. Auris pasti juga tahu kalau Ia harus segera berangkat ke sekolah,"


Adrian mendengus mengetahui kakaknya tak bisa sekali diajak bercanda. Hidupnya selalu dibawa serius. Ia juga tidak mungkin meninggalkan adiknya. Nanti sampai di rumah bisa habis dinasihati oleh Mommy dan Daddynya, belum lagi Auristella yang tentu tak akan tinggal diam saja. Ia pasti akan bicara panjang kali lebar tak terima dengan perlakuannya.


Tak lama, Auristella keluar dengan Jhico dan Grizelle. Sepupu mereka juga akan pergi ke sekolah dengan ayahnya.


"Uncle, aku pergi dulu. Terimakasih ya, Uncle,"


"Iya, sama-sama," Lagi, Jhico menjawab seperti itu.


Grizelle dan Jhico mengantar Auristella sampai memasuki mobil.


"Icelle, jangan lupa nanti pulang sekolah ke rumahku ya. Aku tunggu!"


"Iya, aku tidak akan lupa. Siapkan cokelat ya,"


Grizelle mendongak menatap ayahnya seraya tersenyum meringis. Jhico sudah datar saja wajahnya menatap sang putri.


"Jadi menginap di sana karena mau bebas makan itu ya?"


"Ah tidak, Pu," Grizelle seketika panik ketika ayahnya menduga seperti itu.


"Bye, Icelle. Kami pergi dulu ya,"


Bahkan sampai membuka jendela mobil juga agar mereka masih bisa melambai pada Grizelle.


"Griz diantar Pupu 'kan?"


"Iya, boleh?"


"Boleh, Sayang. Ayo,"


Jhico menggenggam tangan anaknya dan mereka berjalan menuju mobil Jhico.


"Pupu tidak datang ke klinik?"


"Datang, tapi nanti sedikit siang,"


"Oh, Mumu tidak apa ditinggal?"


"Malah Mumu tidak mau Pupu awasi terus, Sayang,"


"Iya, Mumu selalu begitu kalau sakit. Padahal 'kan Pupu khawatirrl (khawatir),"


Grizelle tahu betul ibunya itu seperti apa. Memang tak mau disuruh bila disuruh benar-benar istirahat tanpa melakukan apapun, tak mau dijaga terus-terusan padahal kondisinya sedang tidak baik-baik saja.


Jhico mengantar anaknya pergi ke sekolah sementara Vanilla masih berada di meja makan menunggu perutnya lapang barulah Ia beranjak.

__ADS_1


"Nanti Pupu jemput dan Pupu antar ke rumah Triple A ya,"


"Okay, Pu. Jadi aku boleh menginap di sana?" tanya Anak itu sekali lagi untuk memastikan.


"Boleh, Sayang. Nanti mungkin Mumu akan menyiapkan pakaianmu dan meminta pada Pupu untuk membawanya,"


*****


"Sudah diantar dengan aman?"


"Sudah, Tuan,"


Devan mengangguk usai memastikan pada driver yang bertugas mengantar jemput anak-anaknya.


Devan beranjak mendekati mobilnya, Ia akan berangkat ke gedung perusahaannya sekarang. Sang istri menyusul di belakang membawa lunch bag miliknya. 


"Aku pergi dulu ya. Baik-baik di rumah. Kalau rindu, tinggal datang. Pintu ruanganku selalu terbuka untukmu,"


Lovi mendengus mendengar penuturan suaminya yang terdengar menggelikan di telinga. Sudah punya tiga anak tapi masih saja suka menggoda seperti itu tapi anehnya Ia selalu merona.


"Berangkat sekarang. Tidak usah banyak kalimat manis. Aku tidak suka mendengarnya,"


Lovi meletakan lunch bag di kursi sebelah kemudi. Sementara suaminya tertawa.


"Tidak suka? benarkah? tapi kamu menahan senyum, Lov," ujarnya dengan panggilan mesra seperti biasa.


Lovi kembali ke hadapannya. Devan segera mengecup keningnya beberapa saat. Kemudian pipinya juga.


"Hati-hati. Makan siang dengan yang sudah aku siapkan,"


"Iya, tidak mungkin aku biarkan sia-sia makanan darimu,"


"Nanti yang mengantar Griz ke sini siapa?" tanya Lovi pada suaminya.


"Memang jadi?"


"Auris bicara seperti itu sebelum ke rumah Griz. Aku rasa Griz jadi datang ke sini,"


"Kalau aku bisa meninggalkan kantor, aku akan menjemput triple A dan Griz. Tapi kalau tidak bisa, aku akan meminta tolong pda driver agar menjemput mereka tentu setelah aku telepon Jhico dulu untuk meminta izin menjemput Griz,"


Lovi mengangguk dan suaminya segera membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam.


"Kamu hari ini tidak pergi kemana pun 'kan?"


"Tidak, sudah tanya itu tadi,"


Devan terkekeh, Ia menghidupkan mesin mobilnya. Ia menatap sebentar istrinya.


"Hati-hati di rumah ya. Ingat, kalau ingin pergi, katakan padaku biar aku tahu,"


"Iya," Lovi tak pernah lupa dengan pesan suaminya agar selalu menjaga dirinya selagi Ia bekerja dan selalu bicara dulu pada Devan bila ingin pergi.


Roda mobil Devan mulai berputar pelan meninggalkan area untuk memarkirkan kendaraan-kendaraan nya bila di rumah.

__ADS_1


Lelaki dengan kacamata hitamnya itu melambai singkat pada Lovi sebelum benar-benar melajukan mobil meninggalkan kediamannya menuju kantor dimana sosoknya akan berubah menjadi dingin, tegas, bijaksana dengan kharisma yang tak pernah luntur.


__ADS_2