Nillaku

Nillaku
Nillaku 43


__ADS_3

"Maaf kami terlambat,"


Renald sangat terkejut begitu melihat yang datang bukan hanya Joana. Melainkan ada Vanilla yang semalam tidak menjawab panggilannya dan juga Jhico, laki-laki yang pernah ditemuinya serta diakui sebagai suami oleh Vanilla.


Ia kira malam ini hanya makan berdua dengan Joana. Nyatanya bersama sepasang suami istri itu juga.


"Happy birthday,"


"Thank you, Vanilla, Joana."


Vanilla dan Joana duduk terlebih dahulu. Renald menatap Jhico dengan canggung. Ia bingung harus bersikap seperti apa. Keadaannya tak beda jauh dengan Jhico yang bungkam sedari tadi.


"Silahkan duduk," ujar Renald setelah berhasil mengatur tenggorokannya yang tiba-tiba saja kehilangan suara setelah melihat Jhico.


"Selamat ulang tahun,"


Renald mengangguk pelan dengan senyum kakunya. Sungguh, kehadiran Jhico benar-benar tidak diharapkannya. Lebih baik Vanilla tidak usah datang sama sekali daripada datang lalu membawa sumber kesakitan untuknya.


"Maaf, aku membawa suamiku,"


Jhico menoleh tak menyangka. Vanilla baru saja mengakuinya? sejak kapan Vanilla menghilangkan kata 'berteman'? seharusnya Vanilla tidak mengatakan itu pada laki-laki yang dicintainya.


"Aku senang kalian datang,"


"Boleh aku makan?" Joana mencairkan suasana. Ia menunjuk soup macaroni yang ada di depannya, Renald mengangguk.


"Hmm ... enak sekali,"


Joana sudah mulai mengisi perut begitupun dengan Renald. Sementara Vanilla sedang menatap satu persatu makanan sederhana di depannya. Dan Jhico tengah memeriksa ponselnya.


"Mau makan apa?" tanya Vanilla pada suaminya.


Satu suap soup baru masuk ke dalam mulut Renald dan sekarang terasa sulit sekali untuk ditelan. Vanilla benar-benar manis pada suaminya.


Untuk mengambil napas rasanya sangat sesak. Rupanya separah ini akibat yang diterima setelah berani jatuh cinta namun pada akhirnya tidak bersatu.


"Kamu tidak makan?" Vanilla kembali bertanya karena sepertinya Jhico tidak mendengar atau pura-pura fokus pada ponsel.


"No, aku minum saja."


"Ya, sudah. Aku makan dulu kalau begitu,"


Renald pernah membayangkan Vanilla akan bersikap seperti itu padanya kelak. Ternyata takdir tidak setuju dengan harapannya. Jhico yang menjadi istimewa untuk Vanilla, bukan dirinya.


"Kalian kenal dimana?" agar suasana tidak mencekam, Renald memilih untuk mengangkat topik pembicaraan.


Jhico meletakkan ponselnya lalu menatap Renald sebentar sebelum menjawab, "Vanilla pernah jadi pasienku saat dia kecelakaan."

__ADS_1


Tidak disangka bahwa kejadian yang mengerikan itu merupakan bagian dari takdir Tuhan yang ingin menyatukan kedua insan manusia. Kalau tidak kecelakaan, belum tentu Vanilla bisa bertemu dengan Jhico begitu pun sebaliknya.


"Jalan cerita kalian unik ya?


"Ya, semoga kau mempunyai cerita yang unik juga bersama pasanganmu kelak..."ujar Jhico dengan raut datarnya.


"Dan tentunya bukan dengan perempuan yang sudah menikah," tekannya di kalimat akhir.


******


"Jhi.."


"Aku suka dengan panggilanmu itu," sela Jhico.


Vanilla mengisyaratkan suaminya untuk mendekat. Ia menunjukkan satu stel pakaian pada Jhico yang mengerinyit tidak mengerti.


"Menurutmu bagaimana caranya agar saat dipakai terlihat pas di tubuhku? Ya Tuhan, ini besar sekali ukurannya," Vanilla menggerutu kesal saat barang yang seharusnya Ia promosikan malah memiliki ukuran yang tidak sesuai.


"Hanya dikirim satu saja? tidak ada model lain yang mereka kirim untuk kamu?"


"Tidak ada,"


"Ya sudah, bicarakan baik-baik. Mereka mungkin keliru,"


"Mereka pikir tubuhku sebesar apa?"


"Vanilla, rupanya itu baju hamil. Mereka keliru,"


"Astaga, pantas saja."


Hanya berselang lima menit, Jane menghubungi Vanilla yang langsung dijawab oleh sepupunya itu.


"Mereka mengatakan simpan saja bajunya untuk kamu hamil nanti. Mereka akan mengirimkan variasi baju yang sesuai dengan kamu,"


Setelah panggilan terputus, Vanilla terbahak tiba-tiba. Jhico sampai menoleh bingung. Khawatir sekali istrinya gila atau depresi hanya karena dikirimkan baju yang salah.


"Akhir-akhir ini orang selalu mengeluarkan lelucon yang sama. 'Hamil' terus yang aku dengar,"


"Itu adalah doa yang baik,"


"Lucu, tahu darimana kalau aku akan hamil? mereka aneh,"


"Tidak ada yang aneh, Nillaku. Kamu sudah memiliki suami, jadi tidak salah kalau orang mendoakan kamu agar cepat memiliki anak,"


Vanilla mengibaskan tangannya, enggan membahas hal itu lagi. Ia memastikan posisi kamera sudah sesuai lalu mulai berpose lagi menggunakan produk-produk luar biasa.


"Kamu pasang tarif berapa untuk semua ini?"

__ADS_1


"Jane yang mengurus semuanya. Aku hanya foto lalu selesai,"


"Aku yakin tidak murah. Mengingat kamu bukan selebritis sosial media yang biasa. Dan produk yang kamu promosikan juga milik brand-brand yang cukup ternama,"


"Iya, brand bagus tapi salah mengirimi artisnya baju. Kesal sekali aku,"


"Wajar, manusia tidak luput dari kesalahan. Yang mereka gunakan sebagai media promosi bukan hanya kamu,"


*******


"Silahkan masuk, Pa."


"Hai, Vanilla."


"Hallo, Ma."


Karina dan Thanatan datang ke apartemen Jhico. Kebetulan pemiliknya sedang izin keluar sebentar pada Vanilla.


"Jhico tidak ada?"


"Sedang ada urusan, Pa."


"Urusan apa? pasti tidak jauh-jauh dari rencana dia yang ingin mendirikan medical clinic. Diberi yang mudah malah mencari yang sulit, aneh."


Vanilla hanya bisa terdiam. Saat Ia akan beranjak ke dapur membuat minuman, Thanatan berbicara lagi hingga menahan langkah Vanilla.


"Papa sangat berharap kamu bisa membujuk Jhico agar menjadi apa yang Papa inginkan,"


"Maksud Papa?"


"Dia anak tunggal Papa,"


Vanilla mendengar penuh konsentrasi. Ia kembali duduk karena merasa ini akan menjadi pembicaraan yang penting.


"Papa sangat berharap Jhico bisa menjadi penerus semua perusahaan atau bisnis yang Papa miliki,"


"Masalah itu lagi," Vanilla menghela napas pelan. Ia saja yang tidak terlibat sampai dibuat bosan dengan pembahasan itu. Apa lagi Jhico yang terus-terusan ditekan?


"Maaf sebelumnya, Pa. Vanilla tidak bisa melakukan apapun kalau Jhico menolak untuk memenuhi keinginan Papa. Jhico punya prinsip sendiri,"


Karina menatap suaminya yang sepertinya tidak setuju dengan kalimat Vanilla. Apa yang keluar dari mulut menantunya memang benar. Semua orang memiliki hak untuk menentukan pilihan. Jhico ingin sukses dengan jalannya sendiri. Ia lebih keras daripada dirinya dulu. Karina tidak pernah berani membantah ayahnya, Arlan. Apapun yang diinginkan, pasti akan Karina turuti. Berbeda dengan Jhico yang mati-matian menjadi dirinya sendiri.


--------


Aku blm bisa up byk² nih. Maapkeun yaaa. BIAR SEMANGAT UP PLIEEZZ TINGGALKAN KOMEN, LIKE, DAN VOTE DUNGSSS. THANKISS😘💙


MCH UP. SILAHKAN DIBACA YAAA

__ADS_1



__ADS_2