Nillaku

Nillaku
Nillaku 105


__ADS_3

"Jangan pernah meladeni Renald, Van. Dia lelaki yang aneh. Kemarin-kemarin kalian jauh semua biasa saja. Kenapa sekarang malah mengganggu mu lagi?"


"Aku tidak tahu kenapa,"


Joana jadi kesal sendiri dengan tingkah Renald. Tidak bisakah Ia diam membiarkan Vanilla hidup bahagia dengan Jhico dan calon anaknya? kenapa dia mengganggu lagi?


Vanilla mengeluarkan ponselnya untuk memberi tahu Jhico bahwa Ia sudah tiba di kampus. Jhico langsung mengangkat panggilan Vanilla. Sepertinya Ia memang sudah menantikan kabar dari Vanilla.


"Aku sudah di kampus,"


"Okay, hati-hati ya."


"Kamu tidak usah menjemput aku,"


"Kamu sudah mengatakan itu berulang kali. Kamu pulang dengan Joana 'kan?"


"Ya, tapi aku ada urusan dengan Jane dan Deni dulu setelah kuliah. Kamu tidak lupa 'kan?"


"Baiklah, hati-hati. Bye."


Selama mereka berkomunikasi di telepon sudah dua kali Jhico mengatakan 'hati-hati' pada istrinya. Kenapa? karena dia tahu Vanilla orang yang seperti apa.


*****


"Sabar! mungkin Vanilla belum selesai dengan kuliahnya,"


Deni sudah marah-marah sejak tadi karena Vanilla belum juga tiba di kantor perusahaan nya untuk membahas pekerjaan mereka.


"Kamu jangan egois," tegur Keynie pada suaminya. "Kamu tidak sabaran sekali ingin bertemu dengan Vanilla," lanjutnya yang membuat Jhico melirik sinis.


"Jangan mulai ya. Katanya perut keram tapi masih bisa berucap seperti itu padaku,"


Keynie mengangkat bahunya seraya menghembuskan napas berat. Dia hanya risih melihat sikap Deni yang seperti itu. Kalau egois lebih baik tidak usah bekerja sama dengan siapapun.


Vanilla dan Joana baru saja datang. Mereka meminta maaf karena terlambat. "Ada jam tambahan tadi," jelas Vanilla pada Deni.


"Lagipula kenapa masih kuliah sih? suamimu tidak melarang?" Deni masih saja tidak menyukai Jhico. Bahkan sampai perihal kuliah saja Ia mengecam keputusan Jhico yang mengizinkan Vanilla untuk tetap kuliah disaat sedang hamil.


"Aku akan ambil cuti. Sejak mengandung Jhico sudah melarang, tapi aku yang belum mau cuti,"


Keynie memperhatikan suaminya yang mulai posesif lagi. Untuk apa dia mengurusi Vanilla yang jelas-jelas sudah ada suami.


"Kalau kamu tidak tahu apa-apa tentang Jhico, lebih baik diam, Deni."


Deni memandang Jane dengan wajahnya yang datar. Dari dulu Jane memang tidak suka sekali bila Ia mengomentari Jhico. Padahal Ia menyayangi Vanilla dan tidak ingin terjadi sesuatu pada Vanilla.


"Kamu khawatir pada Vanilla, suaminya apalagi. Jadi urus saja istrimu sendiri,"


"Sialan!" makian itu tertahan di ujung lidah Deni. Ia tak ingin berdebat dengan Jane.


"Kita mulai sekarang,"

__ADS_1


Mereka semua mulai membahas mengenai rencana kedepannya dalam kerja sama mereka.


*****


"Hallo, Jhico. Tadi aku datang ke rumah orangtua mu, tapi mereka tidak ada dan kata orang di rumah, Nenek sedang sakit?"


Jhico mendapat panggilan dari Fionna, sahabat kecilnya yang tinggal tak jauh dari rumah orangtuanya. Saat ini Fionna bersama Dion, sahabat kecil Jhico juga.


"Iya, Nenek sedang dirawat di rumah sakit,"


"Astaga, aku ke sana sekarang, bolehkah?"


"Boleh saja asal tidak mengganggu kesibukanmu,"


Tanpa mengatakan apapun lagi Fionna dan juga Dion bergegas menuju rumah sakit untuk melihat kondisi nenek Jhico yang sudah seperti sosok nenek juga untuk mereka.


Fionna dan Dion juga membeli buah-buahan kesukaan Hawra. Rencana nya mereka hanya ingin mengunjungi Hawra untuk tahu kabarnya, setelah sebelumnya mereka hang out berdua.


"Siapa yang menelpon kamu, Jhico?"


"Fionna, Nek. Tadi dia cari Nenek di rumah dan dia dapat kabar kalau Nenek sakit. Dia mau ke sini,"


"Padahal belum lama dia mengunjungi Nenek. Anaknya perhatian sekali, sama seperti dulu,"


Karena Fionna sudah kembali tinggal di rumah masa kecilnya, jadi Ia lebih sering mendatangi Hawra karena jarak rumah mereka pun sangat dekat.


*****


"Belum ada kesepakatan yang pasti dari aku dan Jhico. Nanti aku kabari lagi,"


"Ck! bagaimana sih? bukannya disepakati cepat-cepat,"


"Kamu sensitif sekali ya. Kamu atau Keynie yang hamil?"


"AHAHAHAH, AKU SETUJU DENGANMU VANILLA," Tawa Jane meledak seketika hanya karena mendengar kalimat itu keluar dari bibir sepupunya.


Deniele jadi marah-marah terus. Apa karena keterlambatannya tadi? padahal dia sudah menjelaskan sejak awal mengenai alasan keterlambatan nya hadir di sana.


Keynie melirik suaminya yang fokus menatap lembaran-lembaran yang diberikan oleh pegawainya. Deni berusaha tidak mau mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Jane dan Vanilla.


"Aku sudah minta maaf tapi kenapa masih saja begitu padaku? Salah apa aku?"


"Dia itu masih kesal dengan suamimu tapi entah karena apa. Aku juga bingung,"


****


Fionna segera memeluk Hawra yang sudah menunggu kedatangannya di atas bangsal rumah sakit. Dion memeluk Hawra penuh kerinduan begitu pun dengan Jhico, mereka berhigh five riang.


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik, kau sendiri?"

__ADS_1


"Baik,"


"Kau melupakan temanmu ini, Dion."


"Aku belum tahu dimana klinik-mu, Co. Jadi aku tidak bisa main-main ke sana,"


"Sudah tahu nomor telepon ku dari Fionna 'kan? jangan cari alasan,"


Dion terkekeh mendengar itu. Ia memang belum benar-benar kembali ke negara kelahirannya, seperti Fionna. Sehingga intensitas pertemuannya dengan Hawra sangatlah jarang, Apalagi dengan Jhico.


"Kau hanya sendiri di sini? kata orang di rumah, papa dan Mama mu bekerja,"


"Ada istriku yang menjaga Nenek juga. Tapi dia sedang ada urusan di luar,"


"Oh, kalian menginap?" sahut Fionna setelah mendengar penjelasan Jhico.


"Ya, sejak semalam."


"Nenek sejak kapan masuk rumah sakit?" tanya Dion pada Hawra.


"Kemarin,"


"Jaga kesehatan, Nek. Nenek sering sekali sakit. Jangan terlalu sibuk lagi, perbanyak istirahat."


Pesan Fionna membuat Hawra tersenyum. Fionna bahkan sangat peduli melebihi cucu-cucunya, selain Jhico.


Fionna tahu betul hal apa saja yang sering dilakukan Hawra bila di rumah. Menyiram tanaman padahal ada orang yang bisa melakukan itu, terkadang ikut maid memasak, menyulam juga, dan melakukan kegiatan-kegiatan lain yang menurutnya menyenangkan.


"Itu yang aku katakan pada Nenek. tapi Nenek tetap saja sulit diberi tahu olehku," ujar Jhico.


"Seharusnya hanya olahraga, makan, dan tidur saja yang nenek lakukan," tambah Dion yang malah membuat Hawra tertawa. "Mana bisa begitu? Nenek bisa kebosanan. Sudah banyak kegiatan saja suka merasa bosan. Apalagi kalau hanya olahraga, makan dan tidur?"


"Kalau sudah tua saatnya menikmati kebahagiaan, Nek, bukan kesibukan. Di usia seperti Nenek sudah waktunya beristirahat,"


*****


Vanilla mengeratkan jaket yang dipakainya setelah keluar dari kantor Deni. Ia berjalan berdampingan dengan Joana yang akan mengantarnya ke rumah sakit.


"Kamu tidak pulang bersama Jhico?" Deni menegur Vanilla sebelum masuk mobil. Kebetulan mobil Joana dan Deni berdampingan.


"Tidak, dia sedang menjaga Nenek nya yang sedang sakit,"


"Okay, hati-hati, Vanilla."


"Iya, terima kasih, Deni."


Entah kenapa Keynie senang ketika Deni tidak menawarkan diri untuk mengantarkan Vanilla. Tadi Ia sudah berpikir bahwa Deni yang akan memastikan Vanilla sampai dengan selamat karena tidak dijemput Jhico. Ternyata tidak, untuk kali ini sikap Deni membuatnya bahagia.


--------


Up tengah malem, ada yg msh bangun?

__ADS_1


__ADS_2