
"Aku rasa lebih baik kamu tidak tinggal di sana tanpa aku. Itu pendapatku, bagaimana?" tanya Richard dengan hati yang sangat berharap kali ini Jane mau mendengarkan permintaannya.
"Aku tidak bisa," pungkas Jane kemudian Ia mendengar suaminya menghela napas pelan.
"Ayah dan ibuku sedang sakit. Tadinya besok sore aku akan berangkat mengunjungi kamu di sana. Tapi sepertinya rencanaku itu tidak bisa terlaksana. Sebab aku harus memastikan kedua orangtuaku baik-baik saja,"
Jane terkejut mendapati kabar itu, dan jujur Ia ikut cemas. Biar bagaimana pun mereka adalah orangtuanya sejahat apapun mereka ketika sudah membahas perihal dirinya yang belum berhasil memberikan keturunan untuk keluarga mereka.
"Ayah dan Ibu sakit?"
"Ya, keduanya bersamaan masuk ke rumah saki,"
"Ya Tuhan,"
Jane menggigit bibir bawahnya cemas. Ia bingung harus bagaimana. Biasanya Ia akan langsung datang melihat kondisi mereka bila tengah kurang sehat tapi kali ini Ia tidak bisa melakukannya sekalipun Ia begitu ingin.
"Tidak apa, kamu tidak perlu terlalu mencemaskan. Mereka akan baik-baik saja. Tapi aku minta maaf padamu karena belum jadi datang ke sana. Tadinya aku ingin memberi kejutan tiba-tiba datang ke sana. Tapi ternyata kedua orangtuaku tumbang,"
"Aku berdoa untuk kesembuhan mereka. Sampaikan maafku karena saat ini---"
"Tidak apa. Kamu baik-baik di sana ya. Untuk masalah rumah, aku membebaskan kamu untuk mengambil keputusan. Karena pendapatku juga tidak bisa kamu terima. Sudah dulu ya,"
Dengan ponsel yang masih melekat di telinga, Jane menatap kosong ke depan. Kemudian Ia menatap layar ponselnya yang kini padam.
Richard seperti tengah membuatnya merasa bersalah. Apa Ia jahat? tapi Ia sudah diam sejak lama. Untuk kali ini memilih untuk menjauh apa salah?
Tok
Tok
Tok
"Aunty, ini Icelle,"
"Masuk, Sayang,"
Jane menghembuskan napas kasar dan memasang senyumnya untuk menyambut Grizelle yang masuk ke dalam kamarnya.
"Aunty belum tidurrl terrlnyata (tidur ternyata),"
"Iya, belum. Kamu juga belum tidur, kenapa?"
"Mau lihat Aunty dulu. Tadi habis bicarrla (bicara) di telepon ya?"
Jane mengangguk pelan dan Grizelle langsung menebaknya, "Bicarrla (bicara) dengan Uncle Rrli (Ri)?"
__ADS_1
Jane tentu mengangguk sebab Ia memang benar bicara dengan suaminya tadi.
"Kapan Uncle ke sini? besok ya?"
Lagi, anak itu menebak. Tapi entah kenapa hampir benar kalau saja Richard memang jadi berangkat ke sini besok. Sayangnya tidak jadi karena orangtuanya sakit.
"Tadinya begitu, tapi orangtua Uncel sedang sakit. Uncle tidak bisa ke sini,"
Bahu Grizelle turun melemah. Ia merengut dan itu membuat Jane gemas sekali ingin menggigit pipinya yang sedikit menggembung karena Ia mengerucutkan bibir.
"Yah....tidak jadi,"
"Tapi, semoga orrlangtua (orangtua) Uncle Rrli (Ri) cepat sembuh,"
Jane mengamini dan berucap terimakasih untuk doa tulus anak itu.
"Aku mau tidurll (tidur) di sini--"
"Ayo, tidur dengan Aunty,"
Grizelle makin merengut dan menuturkan, "Tapi tidak dibolehkan Grlandma dan Grlandpa karrlena merrleka (karena mereka) ingin tidurrl (tidur) dengan aku,"
"Oh ya sudah, tidak apa. Mereka ingin tidur dengan cucu keempat yang sebentar lagi punya adik,"
"Tapi aku ingin tidurrl (tidur) di sini,"
"Mau, tapi--"
"Ya sudah, di kamar mereka saja. Nanti kita pulang, Icelle boleh tidur dengan Aunty di rumah Icelle,"
"Hmm ya sudah, aku tidurrl (tidur) dulu. Selamat malam ya, Aunty,"
Grizelle beranjak mendekati pintu kamar. Ia melambai singkat pada Jane yang membalas ucapannya, "Selamat malam juga, Icelle,"
Grizelle menekan handel pintu dan keluar dari kamar yang ditempati Jane. Ia kembali ke kamar kakek dan neneknya.
"Ayo kesini. Lama sekali di kamar Aunty Jane,"
"Sebentarll (sebentar) tidak lama,"
Grizelle memperhitungkan jaraknya untuk melompat ke ranjang tapi Rena menegurnya.
"Jangan begitu. Lupa dengan lukanya itu? hm?"
Grizelle mengubah posisi menjadi membelakangi ranjang kemudian Ia menghentak tubuhnya di ranjang dengan posisi di tengah-tengah antara nenek dan kakeknya.
__ADS_1
Rena berdecak sebab Grizelle tak mengindahkan ucapamnya. Diperingatkan soal luka, Grizelle malah mengubah posiai menjadi terlentang yang itomatis tidak akan menyakiti kakinya. Malah Ia seperti berada di atas trampolin ketika jatuh di ranjang yang begitu nyaman itu.
Perilakunya itu membuat Raihan yang sedang menatap ponsel seraya tidur tak sengaja menjatuhkan ponselnya dan mengenai wajah karena tangannya ikut bergerak ketika Grizelle membanting tubuhnya ke ranjang.
Ia menjawil lengan Grizelle meminta agar cucunya itu melihat apa yang terjadi dengannya.
Grizelle terbahak membuat Rena penasaran dengan alasan tertawa cucunya itu.
"Grlanpa kenapa melihat ponselnya begitu? memang kelihatan?"
Rihan mendengkus,menahan rasa jengkel terhadap anak perempuan berusia lima tahun ini. Benar-benar polos ketika bertanya seperti itu.
"Ini karena kamu, Icelle," ujarnya seraya mengangkat ponsel dari atas wajahnya di bagian depan.
"Karrlena (karena) aku?"
"Kamu membuat ranjangnya bergerak kasar tadi lalu tangan Grandpa yang sedang memegng ponsel ikut bergerak dan tidak sengaja menjatuhkan ponsel ke wajah Grandpa," ujarnya memberi penjelasan.
Rena dan Grizelle masih tertawa puas. Apalagi Grizelle yang tidak ada niat sedikitpun untuk melakukan itu tapi malah terjadi.
"Beruntung wajah Grandpa masih tampan ini. Coba saja kalau berubah jadi buruk rupa. Bisa gawat,"
"Aman, Grrlandpa," kata Grizelke seraya mengangkat ibu jarinya setelah melihat tak ada yang terluka di wajah sang kakek.
Kemudian Ia memeluk Raihan. Melilit leher Raihan dan mencium kening kakeknya itu. "Aku minta maaf ya, Grrlandpa(Grandpa),"
"Hmm,"
Raihan hanya bergumam saja yang membuat Grizelle tidak tahu sudah dimaafkan atau belum.
"Tidak dimaafkan?"
Grizelle memasang raut sendunya dan itu makin dijadikan Raihan semabgat untuk menggoda anak itu sampai benar-benar kelihatan sedih.
"Maaf ya, Grlandpa,"
"Hm,"
"Raihan, dimaafkan! kamu kenapa malah begitu?" sentak istri Raihan dengan kesal. Ia kasihan dengan cucunya yang sufah memohon maaf untuk yang kedua kalinya tapi masih dijawab dengan deheman saja.
"Memang ada yang sakit ya? Grlandpa? aku minta maaf ya, Grlandpa. Jangan marrlah (marah) ya,"
Raihan masih diam,tak mengeluarkan sepatah kata pun pada cucunya yang kini memeluk lagi kian erat.
"Boleh marrlah (marah) tapi jangan diam-diam saja," koreksi anak itu. Ia lebih baik dimarahi asal jangan didiamkan. Rasanya jauh lebih tidak nyaman.
__ADS_1
"Sudah, Sayang. Biarkan aja Grandpa marah. Asal Icelle tidak begitu lagi. Icelle bisa membahayakan diri sendiri. Kalau seandainya terantuk dengan kepala ranjang bagaimana? kepala Icelle bisa sakit. Lain kali jangan seperti itu lagi ya?"
Rena tidak tau saja kalau memang itu sudah menjadi kebiasaan Grizelle bila ingin naik ke atas tempat tidur. Harus ada atraksi lompatnya terlebih dahulu.