
Grizelle dan ketiga saudara sepupunya beranjak meninggalkan meja makan setelah selesai bersantap.
Mereka langsung bergegas ke kamar Lovi dan Devan. Mereka tentu tidak lupa dengan keinginan mereka tadi yang ingin melihat Devan. Usai makan malam mereka benar-benar akan menemui Devan untuk mengetahui kondisinya.
"Mommy, Daddy. Boleh masuk?" Auristella mengetuk pintu kamar dan meminta izin terlebih dahulu.
"Aurrlis, jangan kencang-kencang bicarrlanya (bicaranya). Nanti Uncle Devan bangun. Mungkin sekarrlang (sekarang) Uncle sudah tidurrl (tidur),"
"Jangan heran lagi kalau Auris seperti itu, Icelle," kata Adrian melirik adiknya yang juga menatap ke arahnya dengan kesal ketika memdengar suaranya.
"Kalau tidak izin dulu tidak sopan,"
"Ketuk saja, ssstt," kata Grizelle seraya meletakkan telunjuknya di bibir.
Pintu terbuka menghadirkan sosok Lovi yang menyambut mereka.
"Uncle tidurll (tidur) ya?"
"Baru selesai makan,"
Lovi menunjuk suaminya di sofa dan keempatnya masuk ke dalam kamar.
"Daddy, sakit apa?"
"Jangan sakit-sakit, Uncle,"
"Hmm? sakit?" Devan bingung kenapa dua gadis kecil yang ada di hadapannya kini membicarakan perihal 'sakit'. Mereka berempat bahkan menatapnya cemas.
"Siapa yang sa--"
"Oh iya, sudah lebih baik,"
Devan dengan cepat menjawab seperti itu, tak jadi mengeluarkan pertanyaan yang berputar di kepalanya. Alis Lovi tadi menukik tajam menatapnya dan detik itu juga Devan paham.
Ia saja yang bodoh. Tak mungkin Lovi mengatakan pada mereka bahwa dirinya mabuk? mabuk yang tak disengaja lagi! terdengar bodoh sekali.
"Sudah lebih baik, Dad?" tanya Adrian yang diangguki Devan.
"Hanya sakit biasa saja, kalian tidak perlu khawatir,"
"Tapi Daddy kelihatan lemah sekali tadi. Seperti bukan Daddy," ungkap Auristella kini naik ke atas pangkuan Devan usai Lovi memberikannya minum dan kini Lovi membawa peralatan makan yang digunakan tadi kembali ke dapur.
"Lemah seperti apa sih? aku tidak lihat. Jalannya tertatih begitu? seperti orang mabuk?" Adrian memgeluarkan pertanyaan beruntun.
__ADS_1
"Seperti habis dihajarrl (dihajar)," kata Grizelle seraya mempraktikan bagaimana bentuk 'hajar' itu. Ia mengepalkan tangan lalu meninjunya di udara. Kelakuannya itu mengundang tawa Devan dan ketiga kakaknya. Devan yang tadi sempat gugup mendapat pertanyaan seperti itu dari Adrian langsung merasa tak gugup lagi karena Grizelle.
"Memang Daddy dihajar siapa? ada yang jahat pada Daddy?"
"Biasanya Daddy tidak tinggal diam," cetus Andrean dengan datar merasa bingung bila memang ayahnya benar-benar dihajar oleh orang lain dan sampai lemah seperti kata Auristella tadi yang meandakan bahwa ayahnya tak sanggup melawan. Itu jarang terjadi mengingat ayahnya ini handal dalam segala bidang.
"Tidak, Sayang. Kepala Daddy pening tadi, badan Daddy lesu sekali. Daddy hanya sakit, bukan dijahati oleh orang lain," jelasnya memberi pengertian pada mereka.
"Aduh senang sekali diperhatikan oleh dua putri cantik dan putra tampan. Anak Daddy ada empat jadi lebih banyak yang perhatian," kata Devan seraya tersenyum menatap mereka satu persatu.
"Ini mau tidak jadi anakku?" Devan menarik tangan Grizelle agar duduk di pangkuannya juga, sama seperti Auristella yang nyaman di paha kanannya.
"Hmm mau sebenarrlnya (srbenarnya) tapi aku sudah punya Pupu dan Mumu,"
Devan tergelak mendapati jawaban Grizelle. Polos sekali anak ini, pikirnya.
"Tapi Icelle itu sudah Uncle anggap sebagai anak. Ya meskipun Icelle punya Pupu dan Mumu,"
"Iya, aku juga sebenarrlnya menganggap Uncle Devan itu auahku juga. Aunty Lovi aku anggap Ibuku,"
Devan tersenyun merasa terharu mendengar pengakuan itu. Grizelle sudah menganggapnya senagai orangtuanya juga dan Ia bahagia sebab Ia pun menganggap Grizelle lebih dari keponakannya, anak dari adiknya. Grizelle memiliki kedekatan yang sangat luar biasa dengannya, Lovi, apalagi ketiga putra dan putrinya.
"Daddy istirahat. Biar cepat pulih,"
"Iya,"
"Daddy sudah baik-baik saja,"
"Tapi tetap saja, Uncle. Harrlus banyak istirralahat (istirahat). Aku waktu sakit diminta seperrlti (seperti) itu oleh Dokterrl (dokter). Setelah sembuh juga, jangan langsung kelelahan,"
"Dengar, Dad," gumam Andrean meminta agar ayahnya mendengar baik-baik apa yang dikatakan Grizelle. Bahkan anak kecil saja mengingat dengan betul apa yang Ia harus Ia lakukan ketika sakit. Sementara Devan tidak pernah ingat atau memang tak menghiraukan? entahlah, Andrean pun bingung dengan ayahnya itu.
"Ayo kita keluarrl (keluar) biarrl (biar) Uncle istirrlahat (istirahat),"
Auristella dan kedua kakak kembarnya mengangguk. Mereka berjalan keluar setelah mengucapkan selamat malam pada Devan yang merasa terharu sekali malam ini karena yang memperhatikannya malam ini bertambah dengan Grizelle.
"Mommy, sudah makan? makan, Mom niar tidak sakit seperti Daddy,"
Mereka menutup pintu dan bertemu Lovi yang baru dari lantai bawa tepatnya dapur. Auristella langsung mengingatkan Mommynya unuk makan.
"Sudah, tadi dengan Daddy. Kalian istirahat ya. Karena besok masih harus sekolah,"
"Iya, Mom,"
__ADS_1
"Okay, Aunty,"
Mereka berpencar ke temoat masing-masing. Lovi ke kamarnya bersama sang suami yang malam ini semoat membuatnya cemas sekai, sementara anak-anak itu ke kamarnya juga.
Grizelle masih tidur dengan Auristella sesuai dengan permintaan Auristella yang memang hampir setiap Grizelle menginap di rumahnya selalu diajak tidur di kamarnya.
Lovi masuk ke kamar menemukan suaminya yang sudah berbaring di ranjang nmun belum terpejam. Matanya menatap ponsel dan langsung menoleh ketika menyadari istrinya masuk ke dalam kmar.
"Istirahat, jangan melakukan apapun lagi," kata Lovi yang diangguki Devan namun lelaki itu masih memegang ponselnya dan kini kembali menatap layar.
"Termasuk sibuk dengan ponsel," tambah Lovi yang sengaja menyindir suaminya itu.
"Sebentar, Lov. Vanilla menanyakan anaknya,"
-Devan, sudah sampai di rumah? Grizelle bagaimana hari ini?- isi pesan Vanilla yang Devan terima.
"Oh, katakan mereka sudah beranjak ke kamar,"
Devan mengetik balasan
-Dia baik-baik saja. Sudah ke kamar untuk istirahat. Percayalah padaku, anakmu itu aman dan dia tidak akan nakal atau menyulitkanku dan Lovi-
Beberapa detik setelahnya dibalas lagi oleh Vanilla yang membuat Devan tersenyum geli
-Okay, terimakasih. Jaga anakku dengan baik ya! kamu akan habis ditanganku kalau terjadi sesuatu padanya-
-Memang menurutmu aku akan membahayakan dia? hmm?-
-Kamu mantan orang kejam. Jadi aku kurang percaya. Aku hanya percaya pada Lovi karena dia baik dari awal aku mengenalnya-
-Sialan!-
Devan mendengus membaca balasan dari adik satu-satunya. Vanilla mengingatkan Ia pada masa lalu dimana memang Ia sangatlah kejam bahkan pada istrinya sendiri.
-Hahaha, maaf Aku bercanda-
-Tadi aku mabuk, Van-
Percayalah Devan jarang sekali berkirim pesan pada adiknya dan adiknya itu juga jarang sekali mau mengirim pesan padanya. Justru malah Ia dan Jhico yang sering sekali berkirim kabar apalagi saat Ia pergi ke luar bersama keluarganya beberapa waktu lalu.
Mungkin karena sekarang ini ada Grizelle di rumahnya, maka Vanilla jadi sering berkirim pesan. Devan menyadari hal itu jadi kesal sendiri. Ia tahu Vanilla sama saja dengan dirinya yang sulit sekali mengekspresikan perasaan alias gengsi.
Dan entah mengapa saat ini Ia ingin berbagi cerita dengan adiknya. Jarang sekali terjadi!
__ADS_1
Ia menoleh pada Lovi yang ta lagi bersuara menyuruhnya istirahat. Rupanya karena perempuan itu sudah tertidur lebih dulu darinya.
-Mabuk? jangan gila, Devan! tidak malu dengan anak-anakmu? hah?! dimana kamu sekarang?!!-