
Vanilla beranjak untuk menyiapkan makanan sementara Jhico bersiap untuk membakar kalorinya pagi ini.
Ia mengganti pakaian tidurnya setelah itu Ia pamit sebentar pada Vanilla sebelum pergi bersepeda.
"Iya, hati-hati,"
"Okay, Nilla,"
Cup
Jhico mengecup singkat hidung istrinya setelah dahi. Vanilla memyerahkan sebotol air minum padanya. Jhico menerimanya kemudian Ia segera bergegas mengambil sepedanya.
*****
"Selamat pagi, Kakek,"
Grizelle menyapa kakeknya yang sudah siap pergi ke kantor. Sementara Ia baru selesai mandi dan kini belum mengenakan baju sekolah hanya baju santai saja.
"Pagi,"
Ia memperhatikan Kakeknya yang sedang mengenakan suitnya kemudian melingkarkan arloji di pergelangan tangannya.
Thanatan keluar dari walk in closet dan Grizelle mengikuti. Thanatan bergegas ke ruang makan.
Thanatan duduk dan Grizelle pun demikian. Karina dan Hawra sudah ada di sana.
"Kamu kenapa belum bersiap ke sekolah?"
"Aku liburrl (libur),"
Alis Thanatan bertaut dan Grizelle segera terkekeh, "Aku sekolah. Tapi aku mau sarrlapan (sarapan) dulu barrlu (baru) mandi,"
"Iya, tidak apa, Sayang. Oh iya, Mumu dan Pupu sudah diperjalanan menuju ke sini,"
"Mumu telepon?"
"Tidak, Mumu mengirim pesan pada Nay-Nay,"
Grizelle mengangguk. Mereka menyantap sarapan dengan tenang.
"Griz nanti pulang ke sini?" Hawra bertanya pada anak yang sedang lahap menyantap makan paginya itu.
"Hmmm seperrltinya (sepertinya) tidak, Oma,"
"Kenapa?" Karina dan Hawra bertanya kompak dan raut mereka murung.
"Kakek sudah sembuh dan harrli (hari) ini sudah bekerrlja (bekerja),"
"Hmm begitu. Tapi sering-sering datang ke sini ya,"
"Iya, Oma. Tenang saja. Kakek juga sudah bilang kalau aku boleh serrling (sering) datang ke sini. Iya 'kan, Kakek?"
Thanatan mengangguk membenarkan. Semalam Ia sudah membahas itu dengan Grizelle. Dan reaksi Grizelle senang sekali. Kakeknya mengundang Ia untuk sering berkunjung ke sini.
*****
__ADS_1
"Mommy, buah tangan untuk Icelle yang belum sempat diberikan bagaimana nasibnya?"
"Masih disimpan. Untuk cokelatnya tidak kalian habisi 'kan? karena Mommy tidak memeriksanya,"
"Tenang, Mommy. Kita tidak makan punya Icelle,"
Adrian terkekeh memyadari kalau Mommy nya khawatir yang seharusnya punya Grizelle malah dihabiskan oleh Ia dan Auristella. Sebab tatapan Lovi mengarah pada mereka berdua.
Tidak hanya itu, baju dan mainan juga masih ada. Tadinya akan diberikan saat Grizelle akan pulang dari rumah mereka. Tapi sayangnya Grizelle pulang secara mendadak, tidak jadi menginap tiga hari, begitu pulang sekolah langsung ke rumah Kakeknya. Maka Lovi belum sempat memberikannya.
"Icelle sampai kapan di sana, Mom?"
"Entah, Mommy juga tidak tahu,"
"Pagi,"
"Pagi, Dad,"
Devan sudah tampan dengan balutan stelan formalnya. Ia duduk bersama keluarga kecilnya dan bergabung untuk sarapan.
"Sewaktu ada Icelle,yang menyambut Daddy lebih ramai," kekehnya kecilnya.
"Iya, karena tambah personil," ujar Adrian.
"Itu sebabnya Daddy seperti punya empat anak. Dua anak laki-laki dan dua anak perempuan,"
"Hmm aku jiga merasa begitu," kata Lovi yang ikut merasakan hal serupa dengan suaminya. Senang karena dengan kehasiran Grizelle rumah jadi semakin ramai dan hangat dan yang membuat Ia tambah senng, temannya bertambah satu. Tidak hanya Auristella saja, melainkan Grizelle yang sudah sepeeti anaknya sendiri.
"Senang ya punya adik?" tanya Devan pada mereka bertiga..
"Mau punya adik?"
Tawa Lovi da Devan pecah seketika setelah mendengar penolakan dari Adrian terutama Auristella yang paling tegas menolak sementara Andrean hanya memggeleng.
"Katanya senang punya adik,"
"Semang punya adik yaitu Grizelle. Tidak mau punya adik lagi," tegas Auristella yang makin membuat Devan tertawa geli. Setbesar itu ketidak inginan Auristella bila Ia dan Lovi memiliki anak keempat.
"Waktu itu Auris sempat mau,"
"Waktu itu, sekarang tidak mau lagi,"
"Ah kamu tidak jelas," ujar Adrian padanya. Tidak jelas karena berubah-ubah keputusannya.
"Sekarang tidak mau! aku tidak mau punya adik. Sudah cukup,"
Auristella sampai menggunakan tangannya saat mengatakan cukup. Tangannya Ia rentangkan ke arah Mommy dan Daddynya.
"Ya sudah, habiskan makannya,"
Auristella mengangguk, akhirnya pembahasan tentang adik selesai juga. Ia tidak ingin punya adik. Selain krena khawatir kasih sayang dan perhatian kedua orangtuanya jadi terbagi, Ia juga tidak mau melihat Mommy kesakitan melahirkan dan juga lelah mengurus. Sudah cukup baginya melihat Lovi lelah mengurus dan membesarkan Ia dan kedua Kakaknya.
"Tapi Icelle saja mau punya adik?"
"Karena Icelle baru sendiri, Daddy. Kalau aku 'kan sudah punya dua saudara. Daddy kenapa memaksa aku sih?"
__ADS_1
Devan menatap anaknya bingung. Siapa yang memaksa? Ia hanya ingin tahu saja kenapa Auristella tidak ingin memiliki adik lagi seperti Grizelle yang antusias menyambut kelahiran adiknya.
"Icelle kasihan di rumah sendirian. Kalau aku punya kakak. Dua kakak lagi,"
"Ya, benar!" seru Adrian yang setuju dengan pendapat adiknya.
"Kalau aku punya adik lagi, siap-siap saja semakin rusuh, Dad?"
"Hah Mommy dan Daddy tidak mau 'kan kalau Ian dan Aku jadi semakin rusuh?" Auristla menatap kedua orangtuanya bergantian.
"Apalagi kalau adiknya laki-laki. Uhh aku ajak main tinju-tinjuan,"
Lovi dan Devan menggeleng. Semakin yakin saja mereka kalau tiga sudah lebih dari cukupm Sebab belum apa-apa saja, Adrian dan Auristella sudah merencanakan pergulatan dengan adik mereka kalau jadi hadir ke dunia.
Tak bisa dibayangkan kalau seandainya punya anak lagi dan karakternya seperti Adrian. Dijamin benar-benar akan rusuh di rumah ini.
*****
"Hallo, sayang,"
Grizelle melompat riang bertemu Mumu dan Pupunya. Akhirnya mereka datang. Benar kata Nay-Nay nya tadi kalau saat mereka sarapan, Vanilla dan Jhico sudah diperjalanan menuju ke sini.
Vanilla dan Jhico menyapa Thanatan, Karina, dan Hawra. Jhico duduk di hadapan Ayahnya, Ibunya dan neneknya.
"Bersiap untuk ke sekolah ya?" tanya Vanilla ada anaknya yang langsung mengangguk.
Sementara Vanilla membantu Grizelle bersiap, Jhico bercengkrama hangat dengan ketiga orang yang ada di meja makan tersebut. Lebih tepatnya Ia bercengkrama dengan Mama dan neneknya saja. Papanya kini bangkit untuk pergi ke kantor.
"Pa, bagaimana keadaannya?"
"Lebih baik, buktinya sekarang sudah mau pergi ke kantor 'kan?"
Jhico mengangguk tersenyum. Ayahnya hanya menjawab pertanyaannya dengan normal saja ia sudah senang. Tanpa ada raut tidak bersahabat atau semacamnya.
Thanatan berujar singkat pada ketiganya, "Pergi dulu."
"Hati-hati, Pa,"
Tak hanya Karina, Jhico pun berpesan demikian. Thanatan hanya mengangguk kemudian bergegas pergi meninggalkan mereka.
"Papa memang sudah benar-benar sembuh ya, Ma?" tanya Jhico setelah ayahnya tak teelihat lagi.
"Ya, kemarin dia berenang dengan Griz,"
"Ya ampun, Griz yang memintanya?"
Karina terkekeh memyadari kalau Jhico takut anaknya lah yang meminta Kakeknya untuk menemani berenamg seperti yang biasa Ia lakukan pada Raihan ataipun Thanatan kalu
au sudah datang ke eumah.
"Tidak, Memang Papa yag mau berenang menemani Griz,"
Hati Jhico menghangat. Ia senang karena ayahnya sehabis sakit malah mau menemani Grizelle berenang.
"Tapi setelah itu demam lagi?"
__ADS_1
"Tidak, lagipula berenang dengan air hangat, Sayang. Tidak perlu khawatir,"
Hawra dan Karina terkekeh menatap Jhico. Masih sama,Jhico akan selalu menjadi putra yang sebenarnya sangat menyayangi kedua orangtuanya dan paling tidak ingin mereka sakit.