Nillaku

Nillaku
Nillaku 398 Grizelle tidak menolak Jane yang ingin mengantarnya ke sekolah


__ADS_3

Grizelle bahagia sekali pagi ini, sebab yang makan di meja makan tidak hanya orang-orang yang menjadi penghuni rumahnya saja mlainkan ada tamu yang sarapan pagi ini di sana juga bersamanya. Tamu itu tidak lain adalah Jane.


Jarang ada tamu yang menginap, anak itu bangun langsung menanyakan keberadaan tamunya. Bahkan memastikan pada Mumunya kalau Jane benar menginap semalam. Vanilla menyuruhnya untuk memastikan sendiri dan Grizelle benar-benar ke kamar Jane.


Vanilla bahkan meminta tolong pada Grizelle untuk membangunkan Auntynya itu dan mengajaknya makan pagi bersama. Grizelle langsung melakukannya.


"Grizelle mau diantar sekolah dengan Aunty tidak?"


"Aunty tidak sibuk memangnya?"


Jane tertawa. Grizelle ini sedang mengejeknya atau bagaimana? Dia tidak sibuk tentu saja. Apa yang dia lakukan untuk saat ini selan meratapi nasib pernikahannya dengan Richard yang semalam sebelum tidur mencoba menghubunginya namun tidak Ia jawab sebab Ia sdang ditoilet dan Ia tidak mau menghubungi balik, masih ada rasa kesal.


"Tidak, tapi itu juga kalau kamu mau,"


"Mau-mau, aku mau diantar Aunty," Grizelle mengangguk semangat. Kenapa Ia harus tidak mau? justru Ia senang karena ada yang mau mengantarnya.


"Mumu mengantar aku juga?"


"Terserah Icelle. Kalau Aunty sudah mengantar, masih mau diantar Mumu?"


"Mau juga,"


"Sekalian saja kalian berdua jalan-jalan sehabis mengantar Kakak Icelle,"


Penuturan Jhico membuat sorot mata Jane berbinar. Ia menatap Vanilla seolah meminta persetujuan.


"Bagaimana, Van?" tanya Jane pada sepupunya itu. Yang dijawab Vanilla dengan anggukan.


"Iya, boleh. Kita pergi setelah mengantar Grizelle ke sekolahnya,"


"Tapi ingat, jangan kelelahan ya," pesan Jhico pada istrinya dengan sorot serius. Khawatirnya Vanilla malah melupakan kondisinya yang tengah berbadan dua.


"Huh aku juga mau jalan-jalan, Mumu,"


"Kamu sekolah, Sayang,"


"Ya nanti setelah pulang sekilah memangnya tidak boleh jalan-jalan?"


"Iya, nanti Kamu jalan-jalan juga kalau sudah pulang,"


Grizelle bersorak mendengar apa kata Jane. Ia akan jalan-jalan juga usai menuntut ilmu.


"Kita jalan-jalan ke rrlumah Grrlanpa (rumah grandpa) saja,"


Jane menjentikkan jarinya. "Oh iya, kebetulan Aunty mau ke sana hari ini. Jadi kita ke sana habis kamu sekolah ya?"


"Okay, Aunty,"


Agenda hari ini Jane pergi dengan Vanilla kemudian pergi juga dengan Grizelle setelah anak itu sekolah.


"Mumu mau ikut juga ke rrlumah (rumah) Grrlandpa?"


Vanilla mengangguk tersenyum. Ia ingin juga ke sana, bertemu dengan Mama dan Papanya.


"Aku berangkat dulu ya,"

__ADS_1


Usai sarapan, Jhico izin pergi bekerja pada mereka yang di meja makan. Seperti biasa, Grizelle langsung menerima dengan senang hati pelukan ayahnya dan juga ciuman di keningnya.


"Hati-hati saat sekolah ya. Belajarnya yang semangat,"


"Okay, Pupu,"


Jhico tersenyum menggertakan giginya gemas melihat Grizelle yang mengacungkan ibu jarinya dan berkedip seperti barbie.


Jhico melakukan hal serupa pada istrinya. Barulah Ia bergegas meninggakan meja makan.


"Eh mau kemana dia? makannya belum habis,"


"Melihat Pupunya berangkat,"


Jane bingung sebab Grizelle tiba-tiba meninggalkan kursinya, mengekori sang ayah.


Rupanya Ia ingin melepas kepergian ayahnya di luar sana. Ia menggeleng pelan. "Manis sekali dia ya. Jadi ingin punya anak seperti itu,"


"Semoga segera terlaksana,"


Jane mengamini, berharap tidak butuh waktu lama lagi untuk memperoleh keturunan. Sebab Ia rasa untuk saat ini, yang bisa menjadi perekat hubungannya bersama Richard adalah kehadian anak. Pasti akan dengan cepat Ia dan Richard memperbaiki. Kalau seperti saat ini, mereka masih sama-sama egois. Kalau hadir anak, otomatis harus mengusir keegoisan itu dan dengan cepat saling berusaha memperbaiki.


"Hati-hati ya, Pu,"


"Iya, lanjut lagi sarapannya. Tadi belum habis 'kan?"


Grizelle menggeleng, "Belum, Pu,"


"Ya sudah, makan lagi,"


"Nanti, aku lihat Pupu perrlgi (pergi) dulu,"


"Pupu pergi ya,"


"Iya, Pu,"


Mobil Jhico perlahan menjauh. Barulah anak itu melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam. Tapi sebelum itu, Ia menutup pintu garasi terlebih dahulu.


"Biar saya saja Nona kecil,"


"Tidak apa, aku bisa,"


Grizelle tersenyum pada penjaga rumahnya yang melarang Grizelle melakukan itu karena merupakan tugasnya.


"Sudah, tinggal dikunci. Eh--mobil mumu belum keluarrl (keluar) ya,"


"Iya, dikuncinya nanti,"


"Okay, aku masuk dulu ya,"


Grizelle meninggalkan area dimana mobil-mobil milik Pupu dan Mumunya tinggal. Setelah itu Ia bergegas masuk ke dalam.


"Ayo dihabiskan sarapannya. Biar kita berangkat,"


"Okay, Aunty,"

__ADS_1


Grizelle menekuri kegiatan yang tadi sempat Ia tinggalkan sementara untuk melihat secara langsung ayahnya berangkat ke klinik.


"Icelle tidak sekalian ikut Pupunya ke klinik?"


"Tidak mungkin, Aunty,"


"Kenapa tidak mungkin?"


Jane meneguk air minum kemudian menatap anak di hadapannya ini dengan seksama.


"Pupu kerrlja (kerja) aku harrlus (harus) sekolah,"


"Tapi pernah ke klinik Pupu?"


"Perrlnah (pernah) tapi tidak trlalu (terlalu) serrling (sering),"


Jane mengangguk paham. Jadi anak ini pernah juga ke tempat kerja ayahnya. Sama sama dengan triple A yang Ia ketahui juga suka datang ke kantor Devan. Tapi entah kalau sekarang. Masih seperti dulu atau tidak.


"Triple A juga pernah datang ke kantor ayah mereka,"


"Aunty tahu?"


"Iya, dulu sebelum Aunty pindah, Aunty tinggal di rumah Grandpa nya Icelle. Dan aunty dekat juga dengan mereka meskipun mereka sudah tinggal terpisah. Tapi Aunty tahu karena Aunty dekat juga dengan mereka, sama seperti Icelle. Kita dekat juga 'kan?"


"Barlru sekarrlang ( baru sekarang) dekatnya. Kan selama ini Aunty jauh tinggalnya,"


Vanilla terkekeh melirik Jane yang tersenyum meringis. "Aku bahkan serrling (sering) lupa kalau aku punya Aunty yang tinggalnya jauh,"


"Bisa-bisanya melupakan Aunty,"


"Ya habisnya Aunty lama tidak ke sini. Jadi aku lupa,"


"Hah dengarlah apa kata anakku. Terlalu lama tidak datang ke sini sampai dia lupa kalau punya Aunty galak sepertimu,"


"Galak?" alis Jane bertaut. Grizelle cepat-cepat memberi isharat pada Mumunya agar tidak jujur kalau sebutan itu darinya. Matanya berkedip lucu menatap sang Ibu.


"Kata siapa aku galak?"


"Kata anak di depanmu ini," jawab Vanilla yang snegaja memilih jujur. Ingin tahu reaksi Jane.


"Hah? ya ampun kenapa kamu menilai Aunty begitu?"


"Seingatku, Aunty itu suka marrlah-marrlah apalagi kalau sama Mumu,"


Vanilla tertawa mendengar jawaban polos anaknya yang me jawab dengan suara kecil, takut sekali menyinggung perasaan Jane. Tapi daripada Ia berbohong, lebih baik jujur saja. 


"Ya memang dari dulu kita bar-bar, Icelle. Mumu saja yang sudah taubat setelah menikah dengan Pupu kamu,"


Vanilla mencubit pinggang sepupunya yang tak ingin dianggap galak.


"Kita itu liar dulu. Aunty masih belum berubah sepenuhnya sampai sekarang tapi kalau Mumu sepertinya sudah ya, Mu," tanya Jane menatap Vanilla dengan alis yang sengaja di naik tutunkan.


"Aunty galak intinya. Suka marrlah (marah),"


"Suka marah, dengar kata Grizelle. Aku 'kan tidak suka marah,"

__ADS_1


"Halah-halah, lupa dia kalau sering juga kejam pada Lovi saat awal pernikahan Lovi dan Devan,"


Vanilla tersenyum mengakuinya. Sebab Ia tidak suka dengan seorang perempuan dari rumah bordil, Ia jadi membenci Lovi yang menjadi istri kakaknya hingga sekarang. Tapi beruntungnya kebencian itu hilang sempurna sejak Ia tahu bahwa Lovi adalah orang yang baik dan tulus mencintai kakaknya, serta keluarganya.


__ADS_2