
"Hallo, Sayang. Ada apa?"
"Besok aku periksa ke dokter. Kakak dokter sibuk tidak?"
"Aku usahakan datang untuk menemani kamu,"
"YEEAAAY TERIMA KASIH KAKAK DOKTER,"
"Ya, sama-sama."
"Baiklah, aku tutup teleponnya ya?"
"Iya, Sayang."
Vanilla yang sedang berkutat dengan laptop nya melirik Jhico yang kini tengah berbaring. Telinga nya mendadak panas saat mendengar panggilan Jhico terhadap seseorang tadi.
Sepertinya Ia belum pernah dipanggil 'sayang' oleh Jhico. Atau Ia saja yang lupa? tapi siapa orang yang menelpon Jhico? kenapa setelah menerima telepon dari orang itu, Jhico nampak berseri. Tadi terlihat kelelahan.
"Siapa?"
"Huh? maksudnya?"
"Siapa yang menelpon?"
"Keyfa," jawab Jhico jujur tanpa ada yang ditutupi.
"Siapa dia? kalau kamu sebut nama, memang aku tahu dia siapa?!"
Jhico berdecak pelan mendengar nada suara Vanilla yang mulai naik satu oktaf. Selama hamil, Vanilla lebih sering mengeluarkan suara tingginya dan itu sama sekali tidak enak didengar karena dia bukan penyanyi tapi dengan percaya diri yang luar biasa, Ia sering mengeluarkan suara tinggi.
"Anak kecil, Nilla. Bukan orang dewasa seperti yang kamu pikirkan sekarang,"
"Memang aku berpikir apa? jangan sok tahu!"
"Kamu pasti mengira aku baru saja berselingkuh 'kan?"
"Siapa yang berpikir begitu? aku tidak---"
"Kalau aku mau selingkuh, sudah aku lakukan sejak dulu saat kamu sulit aku raih. Kalau selingkuh sekarang, perjuangan aku yang dulu sia-sia,"
Vanilla memutar bola matanya malas. Ucapan Jhico tidak berpengaruh sama sekali. Moodnya sudah terlanjur berubah hanya karena mendengar Jhico memanggil orang lain dengan sebutan 'sayang'.
"Bisa saja dia selingkuhan kamu. Tapi kamu berlagak santai di depan aku lalu mengatakan kalau dia anak kecil. Tidak menutup kemungkinan kamu itu pedof---"
"Hey sembarangan kalau bicara! aku babat habis bibir kamu ya?!"
"Zaman sekarang sudah banyak orang stress. Anak kecil dijadikan--Hhmmffftt,"
Jhico langsung ******* bibir istrinya tanpa ampun. Ia tidak peduli Vanilla memberontak. Salahnya sendiri yang membuat Jhico kesal. Ia tahu apa yang akan diucapkan Vanilla. Memang Ia segila itu menyukai anak-anak?
Vanilla mendorong bahu suaminya cukup keras hingga Jhico yang berada di ranjang terjerembab ke bawah. Jhico meringis kesakitan karena sikunya terantuk di lantai.
Vanilla memasang ekspresi datar seraya bersedekap dada. Ia tidak luluh sama sekali melihat suaminya yang sedang kesakitan.
"Jadi siapa Keyfa?!"
Jhico mengangkat kepalanya untuk menatap sang istri. Ia berusaha kuat untuk tidak marah. Bukannya meminta maaf, Vanilla malah menyentaknya.
"Anak yang pernah aku bantu saat penyakitnya kambuh," jawab Jhico seraya bangkit dari lantai. Ia akan meraih ponselnya di ranjang tapi kalah cepat dengan Vanilla.
"Aku mau lihat,"
"Silahkan, aku tidak melarang."
Jhico berdiri dengan santai menunggu sang istri selesai memeriksa ponselnya. Ia yakin sekali Vanilla tengah mencari tahu.
Dulu Vanilla tidak seposesif ini padanya. Kenapa sekarang berubah drastis sampai Ia dibuat terjatuh dari ranjang? Rupanya kehamilan menjadi kekuatan baru untuk Vanilla.
Keyfa menelpon Jhico dengan ponsel Ibunya. Dan foto profilnya jelas saja Keyfa, Ibu dan ayahnya.
Vanilla menatap suaminya dengan tajam. Ia benar-benar akan membenci Jhico kalau berbohong. Ia sedang mengandung anak mereka, dan kalau Jhico berani selingkuh, sudah bisa dipastikan Vanilla tidak akan memperkenalkan Jhico pada anak mereka sebagai ayahnya.
"Kamu lebih suka dengan yang tua-tua ya?"
"Tua?"
"Ini sudah berkeluarga. Jangan macam-macam kamu ya!"
"Astaga, aku dekat dengan anaknya saja,"
"Siapa yang tahu hati seseorang? bisa jadi Ibunya memiliki perasaan---"
"Kamu tidak lihat di dalam foto itu ada suaminya juga?"
"Mungkin bukan suaminya," Vanilla masih terus menyudutkan sang suami hingga Jhico bingung harus menjawab seperti apa lagi.
Jhico menggusar rambutnya dengan kasar lalu mengendikkan bahunya. "Terserah kalau tidak percaya,"
"Aku tidak percaya!"
"Iya, terserah padamu. Tuhan juga tahu kalau aku jujur, nanti Tuhan yang membuktikannya padamu,"
"Kalau sudah ketahuan bawa-bawa nama Tuhan,"
"Astaga, Nillaku. Pikiranmu negatif sekali. Aku masih waras. Aku tidak mungkin mengkhianati kamu. Perjuangan untuk sampai di tahap ini tidak mudah. Aku tidak mau itu semua sia-sia,"
Vanilla menyerahkan ponsel di tangannya pada sang pemilik. Ia juga bingung kenapa bisa seburuk itu menilai suaminya. Padahal selama ini Ia sudah lihat sendiri betapa cintanya Jhico pada dirinya dan juga anak mereka.
Melihat istrinya masih merengut, Jhico duduk di tepi ranjang lalu menarik tubuh Vanilla agar masuk dalam pelukannya.
"Percaya padaku. Dia anak kecil, aku sudah menganggapnya sebagai adik. Dia memiliki penyakit jantung sejak lahir,"
"Kenapa kamu baru cerita?!"
"Sayang, kalau bicara uratnya jangan diperlihatkan terus. Aku yang ngeri melihatnya,"
Plakk
"Aduh sakit,"
Jhico mengusap lengannya yang dipukul Vanilla. Vanilla melepas pelukan mereka. Ia mengusap lehernya yang tadi disentuh oleh Jhico.
"Jangan pegang-pegang!"
"Tadi aku menyentuh urat yang terlihat,"
"Jhico!"
"Aku serius. Urat kamu akan terlihat kalau kamu marah-marah dan itu membuat aku ngeri,"
"Ngeri kenapa sih?!"
"Aku takut keluar dari tempatnya,"
"Sial--- hmmffttt."
Jhico menggeram karena Ia kembali mendengar makian sang istri setelah sekian lama absen di telinga nya.
__ADS_1
Jhico melepas pagutan nya lalu Ia mengusap bibir Vanilla yang nampak merah dan basah. Wajar saja karena Jhico melakukannya dengan rakus seperti tidak bertemu beberapa bulan.
"Aku mau kamu,"
"Tapi aku tidak mau!"
"Lagi,"
"Apanya yang lagi?!"
"Kamu bicara tidak santai sejak tadi. Serius, aku takut urat kamu itu keluar dari tempatnya. Jangan terlalu sering marah-marah,"
"Aku tidak marah!"
"Tapi nada bicaramu, Nilla."
"Memang begini. Salahnya dimana?"
"Suaramu lembut. Kamu seperti ini karena sedang kesal, aku tahu. 'Kan sudah aku jelaskan kalau aku tidak mungkin macam-macam. Kamu tidak perlu kesal lagi, Sayangku."
"Aku baru dipanggil 'sayang' setelah orang itu. Miris sekali nasibku,"
Jhico terkekeh geli. Ia merangkum wajah istrinya hingga bibir Vanilla mengerucut seperti ikan. Jhico kembali memagut bibir sang istri seolah tak ada hari esok.
"Aku mau kamu, Nilla."
"Mau apa sih?"
"Mau kamu!"
Vanilla mengangkat alisnya saat Jhico berujar tegas dengan tatapan berbeda. Alarm di otaknya berbunyi menandakan akan ada sesuatu yang terjadi.
Ia akan bangkit tapi lengannya ditahan oleh Jhico. Jhico menggeleng tidak mengizinkan Vanilla menghindar.
"Sejak kamu hamil, ini kali ketiga aku meminta, Nilla."
"Iya, yang kemarin-kemarin aku penuhi 'kan? sekarang aku boleh menolak tidak?"
"Tentu saja tidak, Nillaku."
"Tapi aku---- ARRGHHH."
Vanilla terkejut saat tubuhnya dibaringkan di atas ranjang dengan gerakan yang cepat. Ia menatap Jhico dengan tajam. Ia mendorong bahu Jhico yang berada di atas tubuhnya.
"Kamu membuat dia dalam bahaya, Jhi!"
"Tidak, aku tahu apa yang tidak seharusnya aku lakukan. Dia baik-baik saja karena aku tidak kasar,"
"Kamu kasar! kamu membanting aku tadi,"
"Kamu bukan barang, tidak bisa dibanting-banting,"
Jhico mendengus dalam hati. Itu hanya pengalihan saja agar Ia mengurungkan niatnya. Vanilla benar-benar licik. Apa salahnya? Ia meminta haknya.
"Jangan mencari alasan lagi ya. Aku benar-benar menginginkan kamu sekarang,"
Akhirnya Vanilla pasrah menyerahkan dirinya pada sang suami. Ia membiarkan Jhico melakukan apapun yang bisa menuntaskan gairahnya. Kasihan juga suaminya yang semakin jarang merajut kasih di tempat tidur bersamanya karena mood nya tidak menentu.
Sering sekali Ia mengatakan 'mau' tapi giliran Jhico sudah siap, Ia malah mengatakan 'tidak jadi'. Tentu saja itu adalah hal terberat untuk Jhico terima. Ia sudah dalam mode on dan dengan mudah Vanilla membatalkan semuanya.
Malam ini mereka melakukannya setelah terjadi drama beberapa saat lalu dimana Vanilla mengira bahwa sang suami bermain api di belakangnya.
"Sudah,"
"Belum, memang cukup sekali?"
Mendengar ucapan sang istri, Jhico tersenyum miring. Ia mendekati telinga Vanilla lalu sengaja menghembuskan napas di sana hingga Vanilla dibuat berdesir. Jhico berbisik di telinga istrinya.
"Kamu sudah tidak sabar ya?"
Plak
Plak
"Astaga, pukul terus, Nilla. Pukul terus suamimu sampai puas,"
"Kamu bicara sembarangan!"
"Kamu menggunakan kata 'ayo cepat' jadi aku anggap kamu sudah tidak sabar,"
"Ah sudahlah. Aku malas kalau begini,"
"Hey, kamu tidak bisa kemana-mana,"
Jhico tidak akan membiarkan istrinya pergi meninggalkan gairahnya yang belum tuntas. Satu kali tidak akan cukup untuk Jhico yang sudah lama meliburkan diri.
"Ayo, kita mulai lagi. Sekarang bukan saatnya merajuk, Nillaku. Dan jangan pura-pura tidak menginginkannya. Aku tahu, kamu juga sangat mendambakan aku 'kan?"
Melihat tangan istrinya akan memukul lengan polosnya lagi, Jhico segera menahan gerakan Vanilla itu.
"Pukulnya nanti saja kalau sudah mencapai puncak lagi. Cakar dan gigit juga boleh,"
***
Hari ini jadwal Vanilla periksa kandungan. Kuliah Vanilla tidak begitu padat. Pukul sebelas dia sudah selesai. Dan sesuai kesepakatan dengan Jhico tadi malam, Jhico akan menemani istrinya untuk ke dokter kandungan.
Jhico sudah terlanjur mengatakan ingin menemani Keyfa periksa di rumah sakit, dan Ia lupa bahwa hari ini ada jadwal istrinya periksa, Oleh sebab itu Ia sempat dilanda kebingungan sampai akhirnya Ia memutuskan untuk menemani Keyfa dulu karena jadwal Keyfa juga lebih awal daripada Istrinya.
Vanilla menunggu suaminya di lobi. Ia sudah memperingati dengan tegas agar Jhico tidak terlambat.
Joana dengan setia menemani sahabatnya menunggu kedatangan Jhico. Mereka duduk berdua seraya berbincang ringan.
"Kamu bukannya harus mengantar pesanan waffle? pulang saja, Joana."
"Bisa nanti. Sepakatnya jam satu sudah harus sampai di sana,"
"Kalau kamu terjebak macet atau ada sesuatu yang menghambat perjalanan kamu bagaimana?"
"Tidak, tenang saja. Aku akan menemani kamu di sini sampai Jhico datang,"
Joana sudah mengatakan itu beberapa kali tapi tetap saja Vanilla tidak enak hati. Joana selalu mengorbankan kepentingannya hanya untuk Vanilla yang dulu menyia-nyiakan dirinya sebagai teman.
Jhico berjalan cepat memasuki wilayah kampus Vanilla. Telepon genggam sudah melekat di telinga untuk menghubungi Vanilla.
Tak sampai dua detik, panggilannya di jawab. "Nilla, kamu dimana?"
"Lobi, aku ke mobil sekarang,"
Jhico mematikan ponselnya dan memilih untuk menghampiri Vanilla. Mereka bertemu tatap di tengah-tengah lobi. Vanilla segera berjalan cepat ke arah suaminya. Tadi Ia hampir berlari karena terlalu senang Jhico datang, tapi Joana segera menahan tangannya dan menatap Vanilla dengan tajam.
Vanilla terkekeh meringis. Ia masih suka mengabaikan keselamatan anaknya. Tapi Ia tidak sengaja melakukan itu. Orang-orang disekitarnya yang sibuk memperingati sementara dirinya sendiri terkadang lalai.
"Akhirnya kamu datang," ujar Vanilla setelah melepas pelukannya dengan Jhico. Saat Vanilla akan mengecup bibir Jhico, Jhico menghindar dengan menutup bibir Vanilla.
"Ini tempat mencari ilmu. Ada Joana dan mahasiswa lain," ucap Jhico memperingati agar Vanilla tidak salah paham kenapa dia menolak untuk dicium.
Jhico beralih pada Joana yang berdiri di samping istrinya. "Terima kasih, Joana, sudah menemani istriku,"
__ADS_1
"Ya, sama-sama. Kalau begitu aku pulang dulu ya. Kalian hati-hati,"
Vanilla mengangguk dan memeluk sahabatnya sebentar. "Kamu juga ya," ujarnya sebelum Joana pergi. Vanilla segera menyampirkan tangannya di lengan Jhico.
"Ayo, kita juga pergi dari sini,"
******
Jhico menutup baju istrinya yang tadi disingkap. Lalu mereka berdua duduk di hadapan dokter kandungan Vanilla yang bernama Axora. Lelaki paruh baya itu tersenyum menatap sepasang suami istri di hadapannya yang nampak tidak sabar mendengar kabar dari si kecil.
"Kondisinya baik dan normal. Jenis kelaminnya---"
Mata Axora melihat Vanilla lebih tegang dari sebelumnya. Vanilla meraih tangan Jhico untuk Ia genggam. Mata Vanilla juga fokus sekali pada Axora. Mungkin bagian ini yang dinanti-nanti.
"Perempuan,"
"Ini baru hasil pemeriksaan awal. Ke depannya belum tahu laki-laki atau benar perempuan,"
Vanilla mengerjap beberapa saat. Ia masih berusaha mencerna ucapan Axora. Ia bahagia karena memang perempuan lah jenis kelamin yang Ia inginkan untuk anak pertama nya ini. Tapi bagaimana dengan---
"Semua akan baik-baik saja," bisik Jhico pada istrinya karena lelaki itu bisa merasakan kebingungan Vanilla.
"Selalu jaga makan dan pola istirahat mu, Vanilla."
"Iya, Dokter. Terima kasih,"
"Ya, sama-sama,"
Jhico dan Vanilla keluar usai pamit pada Axora. Setelah menutup ruangan Axora, Vanilla memeluk Jhico dengan perasaan haru.
"Aku senang sekali,"
"Aku juga. Kamu tidak boleh memikirkan apapun, Nilla. Tidak ada yang salah dengan jenis kelamin perempuan. Aku sudah katakan itu berulang kali,"
"Aku khawatir, Jhico. Dia adalah cucu pertama di keluargamu dan jenis kelaminnya tidak sesuai dengan keinginan Papamu. Bagaimana kalau dia---"
"Ssstt! kalau kamu bicara seperti itu, seolah kamu tidak menerima dia sepenuhnya. Keluargaku tidak menerima, tidak masalah. Dia tidak akan kekurangan kasih sayang karena ada kita,"
Jhico merangkul bahu istrinya lalu mereka berjalan keluar dari rumah sakit itu. Jhico terus mengajak Vanilla berbincang mengenai anak mereka agar Vanilla tidak sibuk memikirkan nasib anaknya nanti yang kemungkinan sulit diterima oleh keluarga Jhico khususnya sang Ayah yang sejak awal mengetahui Vanilla hamil begitu mendambakan cucu pertamanya berjenis kelamin laki-laki.
"Nanti diperiksa lagi. Kita tidak tahu hasilnya masih sama atau tidak," ucap Jhico.
"Dulu Mamaku USG tiga kali. Di USG pertama, aku masih malu-malu memperlihatkan jenis kelamin pada Papa dan Mama. USG kedua, dokter mengatakan kalau aku perempuan. Dan entah kenapa Papa dan Mama ingin meyakinkan sekali lagi. Setelah di USG ketiga kali, ternyata aku laki-laki." lanjut Jhico yang mulai bercerita mengenai dirinya saat dalam kandungan. Vanilla yang mendengarnya terkekeh geli.
Seharusnya Vanilla tidak perlu memikirkan hasil pemeriksaan USG. Apapun hasilnya, mereka patut bahagia. Ini anugrah dan harus disambut dengan suka cita bukan dengan perdebatan apalagi karena masalah jenis kelamin yang sebenarnya tidak penting.
"Ayo kita ke rumah keluargamu,"
"Untuk apa?"
"Memberi tahu kabar ini. Agar Papa tidak terlalu terkejut,"
"Tidak perlu, Nilla. Mereka saja tidak pernah bertanya mengenai kamu,"
"Tapi Mama pernah---"
"Pada akhirnya kita akan berdebat di sana. Aku tidak mau itu terjadi karena bisa membuat kamu kepikiran,"
"Aku tidak apa---"
"Aku harus bekerja. Kamu ada pemotretan 'kan hari ini?"
Diperingatkan mengenai jadwal setelah ini, Vanilla mengangguk lemah. "Tapi aku akan foto di apartemen. Nanti dibantu Joana. Deni belum mengeluarkan produk terbaru lagi,"
"Syukurlah. Dia sering sekali mengeluarkan produk baru. Mungkin karena mau bertemu dengan kamu terus ya?"
Tawa Vanilla meledak seketika. Jhico terang-terangan menyampaikan rasa tidak sukanya bila Deni mengeluarkan produk baru karena otomatis Vanilla harus bertemu dengan Deni dan yang lainnya untuk melakukan pemotretan.
Jhico memasang seat belt istrinya setelah sampai di dalam mobil. "Produk apa?" tanya Jhico pada istrinya yang sedang terenyuh dengan perhatian kecil Jhico. Lelaki itu selalu memastikan keselamatannya.
"Baju dan celana lebih banyak,"
"Ada makanan? kalau ada, kamu harus tanya aku dulu."
"Ada, salad buah. Enak sekali rasanya. Aku pernah endorse itu. Bisnis salad buah nya sudah maju sekali, Jhi."
"Oh hanya salad buah?"
"Iya, dan snack yang brand-nya juga sudah besar,"
"Aku rasa, apapun yang kamu promosikan memang sudah brand besar..."
"Makanan ringan kamu cicip saja. Apalagi kalau yang pedas dan mengandung penyedap. Jangan terlalu banyak dimakan," lanjut Jhico.
"Tapi aku 'kan harus promosikan,"
"Iya, Nillaku. Aku tahu, tapi jangan banyak-banyak makannya. Cukup makan sedikit, buat video atau foto untuk promosi, lalu setelahnya jangan di makan lagi. Untuk camilan aku saja,"
"Hih curang!"
"Aku tahu kamu begitu mencintai makanan ringan yang penyedapnya luar biasa sampai-sampai kalau aku makan, lidah seperti mati rasa."
"HAHAHAHA"
"Tapi kenapa kamu mau?"
"Supaya jangan kamu yang makan,"
Vanilla terbahak mendengar cerita suaminya. Sudah dari dulu Ia menyukai makanan ringan yang kadar penyedap rasanya benar-benar luar biasa banyak. Camilan yang pedas-pedas juga sangat disukai oleh Vanilla.
Jhico melarang Vanilla agar tidak mengonsumsi itu tapi Vanilla tidak mau mendengarkan. Meski begitu, Jhico berhasil membuat Vanilla mengurangi kebiasaannya itu terutama selama hamil.
Tempat menyimpan snack tidak lagi dipenuhi dengan makanan seperti itu. Tapi lebih banyak camilan sehat yang biasa dikonsumsi Jhico seperti cookies, stick kentang yang dipanggang tanpa bumbu, dan lain-lain.
"Kamu tahu tidak, saat aku belum menikah, di kamar aku itu ada supermarket kecil. Isinya camilan-camilan seperti itu,"
"Sebesar itu rasa cintamu pada camilan tidak sehat. Sampai kamarpun dihuni oleh mereka,"
Vanilla terkekeh seraya menggeleng. Ia menepuk lengan suaminya yang sudah melajukan mobil.
"Sekarang dimana supermarket itu? aku tidak melihatnya setiap menginap di sana,"
"Setelah menikah di musnahkan oleh Mama. Di apartemen buatkan aku supermarket juga ya?"
"Sudah ada,"
"Tapi aku maunya di kamar, tidak mau di dekat dapur,"
"Tidak mau,"
"Ah kamu pelit! masa tidak mau menuruti keinginan istri?"
"Nanti kamu akan gemuk kalau punya supermarket mini di kamar. Kenapa? karena kurang usaha untuk mendapatkan makanan, tidak perlu jalan ke dapur. Kamu mau gemuk? katanya setelah melahirkan mau mengembalikan badan ke bentuk semula,"
"Tidak mau lah! kalau aku gemuk, aku tidak bisa cari uang lagi. Sekarang saja aku mulai tidak percaya diri,"
--------
__ADS_1
Ada yg mulai panik gegara hasil uesgeh nya punya anak cewek wkwk. Duh aku jg jadi panik nih. Kelean biasa aja yakkk?😂😂