Nillaku

Nillaku
Nillaku 81


__ADS_3

Begitu Joana tiba di rumah, rupanya sang Ibu sudah menunggu Joana. Bela mengerinyit saat melihat putrinya datang dengan mengendarai mobil.


Joana tersenyum lalu memeluk Bela yang menyambutnya di depan rumah. "Mobil siapa ini, Jo?"


"Vanilla, Ibu."


"Aduh, kenapa kamu membawanya? nanti kalau kenapa-kenapa bagaimana? ini mobil mahal lagi,"


Joana terkekeh lalu membawa Bela masuk ke dalam rumah. Ia sudah melihat waffle yang tersusun rapi di meja tamu, siap untuk Ia antar ke orang-orang yang telah memesan.


"Vanilla yang menyuruhnya. Karena saat pergi ke studio tadi, dia membawa mobil itu. Tapi suaminya menjemput, jadi dia pulang bersama suaminya. Dia tidak mau mobilnya ditinggal di studio, lalu aku disuruhnya pulang dengan mobil itu,"


"Hati-hati memakai mobil orang, Jo."


"Iya, Ibu."


"Tolong kamu antar sekarang ya," ujar Bela seraya menunjuk waffle yang lumayan banyak itu.


"Iya,"


"Tapi kamu mandi dan makan dulu,"


"Tidak usah, Ibu. Sekarang saja, biar aku bisa santai nanti,"


"Benar tidak makan dulu?"


"Tidak, setelah selesai mengantar saja,"


Bela membantu anaknya memasukkan pesanan waffle ke dalam mobil kecil yang dibeli oleh Joana dalam kondisi tidak baru yang tentunya tidak seberapa tapi bisa digunakan untuk menunjang usaha kecil-kecilan Ibunya. Terhitung baru sebulan yang lalu Joana membelinya. Biasanya Joana mengantar pesanan dengan menggunakan transportasi umum dan bila pesanan sedang banyak Joana merasa kesulitan. Hingga akhirnya Ia memutuskan untuk membeli mobil yang harganya tidak mahal.


***


"Kenapa setiap melihat Jhico, tatapan kamu tidak pernah bersahabat?"


"Aku malas setiap melihat wajahnya,"


"Dulu kamu dan dia baik-baik saja,"


"Ya, tapi sekarang berubah. Dan aku juga tidak tahu kenapa,"


"Karena Vanilla hamil ya?"


Deni melirik istrinya yang bergumam dengan pandangan keluar jendela mobil. Mereka belum tiba di rumah karena sempat terjebak kemacetan. Hari ini adalah hari terakhir orang beraktivitas karena besok akhir pekan, sehingga jalanan lebih padat.


"Aku rasa tidak ada hubungannya dengan itu,"

__ADS_1


"Ada, karena kalau Vanilla sudah hamil, peluang untuk kamu mendapatkan Vanilla semakin sedikit,"


Tangan Deni yang tengah mengendalikan kemudi tampak mengeras seiring dengan matanya yang menajam menatap ke depan.


"Kamu bicara apa? sejak awal aku hanya menganggap Vanilla sebagai adikku. Lagipula setelah menikahimu aku tidak berhak lagi menginginkan wanita selain kamu,"


Keynie terkekeh ditengah rasa tidak percayanya terhadap ucapan Deni. Ia terlau sensitif setelah hamil. Apapun akan Ia perdebatkan dan itu yang tidak disukai Deni.


"Aku hanya bercanda. Kamu terlalu serius menanggapinya,"


"Tidak, aku tahu kamu tidak yakin dengan suamimu sendiri,"


"Sejujurnya iya, karena kamu hanya mengakui bahwa kamu menyayangi ku,"


"Lalu kamu mau apa? aku tidak bisa mengendalikan hatiku sendiri,"


"Lantas siapa yang kamu cintai?"


Deni terdiam, selalu terdiam kalau Keynie sudah bertanya seperti itu. Salahnya juga yang hanya mengatakan 'sayang'. Seharusnya dari awal Ia mengaku 'cinta' karena itu yang ingin didengar oleh istrinya. Kalau Ia mengatakannya sekarang, sudah terlambat. Keynie begitu menggilai pengakuan dari mulut. Ia tidak bisa melihat sebesar apa usahanya untuk memperhatikan Keynie walaupun hanya sebatas menyayangi. Deni juga mengakui kalau fokusnya memang tidak hanya pada istrinya, ada Vanilla juga. Tapi Ia sudah berusaha sekeras mungkin untuk mengusir bayang-bayang Vanilla. Deni belum bisa melakukannya. Ia perlu waktu untuk mencintai dan menyayangi Keynie sekaligus.


"Aku akan mencintai kamu. Tapi untuk saat ini belum bisa," ujar Deni seraya meraih kepala Istrinya untuk Ia kecup.


***


Ia mengerinyit saat melihat Thanatan membanting pintu mobil dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa peduli panggilan istrinya.


"Ada apa dengan suamimu?"


"Dia masih kesal karena aku beli pakaian bayi perempuan. Entah kemana otak pintarnya itu,"


"Huh?"


Karina masuk ke dalam usai mencibir suaminya. Hawra menatap kepergian mereka dengan wajah bingung.


"Lagipula untuk apa Karina membeli baju bayi perempuan? untuk cucunya? lahir saja belum,"


Hawra tak habis pikir dengan putri dan menantunya itu. Seperti tidak ada hal lain yang bisa dijadikan sebagai topik perdebatan.


Thanatan sangat menginginkan cucu laki-laki karena Ia berharap bisa dijadikan sebagai penerusnya.


"Kamu kekanakan sekali, Thanatan. Hal begitu saja membuat kamu marah-marah seperti ini,"


"Aku tidak suka siapapun berharap cucu perempuan. Aku menginginkan laki-laki. Jadi jangan---"


"Aku berharap keduanya! aku hanya ingin membeli baju itu karena aku suka. Kenapa harus mempermasalahkan hal seperti ini?"

__ADS_1


Thanatan juga bingung kenapa dia bisa marah hanya karena perkara baju bayi. Yang jelas, Ia tidak suka melihat orang lain membahas anak perempuan dan disangkut pautkan dengan calon cucunya sekarang.


Karina menggeleng heran menatap suaminya yang membanting pintu kamar mandi usai masuk ke dalamnya. "Belum lahir saja dia sudah begitu. Aku tidak bisa bayangkan kalau ternyata anak Jhico berjenis kelamin perempuan. Entah akan semarah apa dia,"


***


"Sudah makan siang 'kan? makanan yang tadi aku masak---"


"Oh iya lupa. Astaga..."


Jhico melirik sekilas ke arah istrinya yang langsung meraih paper bag yang berisi makanan yang dimasak Jhico. Sengaja Vanilla bawa agar bisa dimakan disela pemotretan tadi.


Sayangnya Ia lupa, dan dibawa lagi oleh Joana kemudian dimasukkan ke dalam mobil Jhico. Jhico melihatnya, oleh sebab itu Ia bertanya untuk memastikan.


"Jadi kamu belum makan siang? Padahal ini sudah sore,"


"Iya, aku lupa."


Jhico menghembuskan napas berusaha sabar menghadapi Vanilla yang terlampau santai menjawabnya seolah tidak ada masalah sedikitpun kalau Ia terlambat makan.


"Makan sekarang!"


Setelah Vanilla membuka tempat bekalnya, Ia segera menjawab," "Ini aku makan." Vanilla sedikit meremang saat melihat dari samping rahang suaminya yang kokoh terlihat sedikit mengeras.


"Ponselmu masih bisa digunakan dengan baik 'kan?"


"Iya, memang ada apa?" ujar Vanilla seraya mengunyah makanan miliknya. Jhico mengajak istrinya bicara seraya menyetir mobil. Mereka baru selesai terjebak macet.


"Cepat jalannya ya. Aku sudah mau tidur, lelah."


"Siapa yang suruh bekerja? bukan aku 'kan? aku hanya mengizinkan, yang mau adalah kamu,"


Jhico mengatakannya dengan perasaan jengkel. Kalau tidak diizinkan, pasti urusan akan semakin panjang. Oleh sebab itu, Ia izinkan asalkan tidak berlebihan sehingga bisa menyebabkan Vanilla kelelahan.


"Tadi aku sudah menghubungi kamu untuk izin pergi. Aku baru tahu juga kalau ada jadwal pemotretan. Setelah tahu, aku langsung pergi ke studio. Sebelumnya aku sudah menelpon kamu untuk minta izin sekaligus minta diantar, tapi tidak kamu angkat. Akhirnya aku berangkat sendiri,"


Vanilla akhirnya menjelaskan tanpa diminta. Karena Ia sudah tahu gelagat suaminya yang terlihat sekali sedang tidak bersahabat dengannya. Dan Vanilla sadar, Ia baru saja melakukan kesalahan.


--------


Udh mampir ke sini lom? 👇



 

__ADS_1


__ADS_2