
"Bagaimana dengan Vanilla, Bi? Ada perubahan?"
"Maksud Nyonya?"
"Sebelum ada Griz, Vanilla itu sangat dimanja oleh anakku. Tidak pernah diizinkan oleh Jhico untuk menyelesaikan pekerjaan rumah,"
Ia berbicara seperti itu berdasarkan pengakuan Vanilla sendiri. Dan Ia penasaran apakah setelah Grizelle lahir, Jhico masih membatasi kemandirian Vanilla.
"Sekarang tidak lagi, Nyonya. Vanilla bangun sangat pagi, mengurus suami dan anaknya dengan baik..."
"Setelah bangun tidur, Vanilla langsung masak. Lalu membangunkan Tuan Jhico. Vanilla pernah mengatakan, dulu Jhico selalu bangun lebih cepat daripada dirinya. Sekarang tidak lagi," Bibi menceritakan Vanilla seraya terkekeh kecil.
Ia cukup terkejut ternyata apa yang dikatakan Vanilla adalah benar adanya. Awal nya Ia tidak percaya kalau dulu Vanilla tidak secakap ini mengurus suami. Ternyata benar, buktinya Karina juga mengatakan hal yang serupa.
"Syukurlah, aku sempat khawatir Vanilla kesulitan mengurus Griz. Tapi kalau aku perhatikan tadi sebelum pergi, dia begitu cekatan mempersiapkan semua kebutuhan Griz selama ditinggal padahal hanya sebentar katanya,"
******
"Beli parfum saja?"
"Iya, kita pulang sekarang. Kasihan Griz kalau kita tinggal lama-lama,"
Jhico mengangguk setelah istrinya berkata seperti itu. Menurut Vanilla, mendatangi mall untuk beberapa menit saja sudah membuatnya senang.
"Makan dulu ya?"
"Aku masak, makan di apartemen saja ya,"
"Aku mau makan di restoran sama kamu. Sudah lama kita tidak lunch bersama di luar,"
"Hmm..." Vanilla bergumam menatap suaminya ragu. Ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Memperhitungkan sudah berapa lama waktu yang Ia habiskan.
"Baru empat puluh menit kurang lebih. Mau ya?" Tanya Jhico yang akhirnya diangguki oleh Vanilla.
*****
Grizelle tidak rewel sama sekali ditinggal oleh Mumu dan Pupu nya. Ia senang bermain bersama Omanya. Karina mengajaknya bercanda. Walaupun Grizelle hanya bisa tersenyum, tapi Karina bahagia melihatnya.
Karina menggelitiki perut Grizelle dengan lembut dan anak itu nampak menggeliat menggemaskan.
"Kapan ya gigi cucuku yang cantik ini tumbuh? kalau giginya sudah ada saat tersenyum pasti semakin cantik,"
Karina mengajak cucunya berbincang. Sesekali Ia mengecup pipi dan ceruk leher Grizelle. Harum khas bayi membuatnya tenang luar biasa. Anak bayi yang tidak punya salah apa-apa dan memiliki rupa yang cantik ini belum bisa juga membuat Thanatan luluh.
Malah setiap Ia berkomunikasi dengan Grizelle melalui telepon dan kebetulan Thanatan ada di dekatnya, lelaki itu pasti akan menjauh, malas mendengar Karina menyapa cucu mereka.
"Grizelle mirip siapa sih? Oma tanya,"
__ADS_1
Mata Grizelle hanya berkedip-kedip lucu, masih dengan senyum manisnya. Karina menggeram gemas. Ia ingin mendekap erat-erat cucunya ini dan menciumnya bertubi-tubi karena terlalu gemas. Tapi tidak mungkin Ia lakukan karena bisa saja membuat Grizelle menangis terganggu.
Euforia nya sebagai nenek yang baru saja memiliki cucu belum juga hilang. Bongkahan rasa bahagia di dadanya tidak pernah habis bila melihat Grizelle. Ia begitu menyayangi gadis kecil Jhico ini.
*****
"Kakak dokter, temani aku beli mainan ya."
"Maaf, Keyfa. Aku harus segera---"
"Please, Kakak dokter. Aku mau ditemani,"
"Keyfa, kakak dokter dan kak Vanilla ingin pulang sekarang. Kamu beli mainan dengan Ibu saja," Vivi melarang Keyfa yang menahan keinginan Jhico dan Vanilla untuk pulang.
Di restoran, Vanilla dan Jhico tidak sengaja bertemu dengan Keyfa dan Ibunya, Vivi. Mereka makan bersama, dan setelahnya, Keyfa merengek pada Jhico agar ditemani ke toys story untuk membeli mainan.
Vanilla diam-diam menggerutu dalam hati. Ia khawatir anaknya sudah menunggu tapi Keyfa malah menahannya dan Jhico dengan rengekannya itu. Ia bukan tidak senang dengan Keyfa hanya saja Keyfa terlalu mencari perhatian suaminya.
"Kamu temani Keyfa saja. Aku pulang sendiri,"
Jhico menggeleng tidak mengizinkan. Tidak mungkin Ia membiarkan Vanilla pulang sendiri. Mereka pergi bersama dan pulang pun harus begitu.
"Kalau aku harus menemani Keyfa juga, maaf aku tidak bisa," nada bicara Vanilla sudah berubah, tidak sehangat biasanya dan Vivi menyadari itu.
"Keyfa---"
"Ibu, aku mau ke toys story beli mainan dengan kakak dokter. Kalau Kakak manis mau pulang lebih dulu, yang sudah biarkan saja,"
Ia berjalan keluar dari restoran. Dan Jhico segera menyusul. Lelaki itu menahan lengan sang istri agar tidak pergi kemanapun. Sementara Keyfa sudah menangis memperhatikan mereka berdua.
"Nillaku, kamu tidak perlu khawatir dengan Griz. Dia bersama Mama, jadi pasti aman."
"Ya, aku tahu. Tapi tetap saja aku tidak tenang meninggalkan dia. Kamu temani Keyfa, tidak apa. Aku bisa pulang sendiri," Vanilla meyakinkan suaminya yang terlihat begitu keberatan bila harus menolak permintaan Keyfa.
"Tidak---"
"Kakak dokter ayo. HUWAAAA," Tangis anak itu semakin histeris. Dan perhatian semua pengunjung restoran teralihkan pada Keyfa.
Vanilla berdecak dan menatap suaminya. "Aku pulang sendiri, Jhi. Tidak masalah," Sekali lagi Vanilla meyakinkan suaminya. Ia masih berbesar hati membiarkan Jhico menemani Keyfa untuk pergi bersama mencari mainan.
"Kita temani dia ya?"
Vanilla menggeleng. Ia sedikit bingung dengan Jhico saat ini. Sebesar itu rasa sayangnya terhadap Keyfa. Bahkan sampai minta Vanilla untuk ikut menemani Keyfa dan meninggalkan anak mereka lebih lama lagi.
*****
Wajah Vanilla benar-benar kusut sekali selama perjalanan menuju apartemen. Ia tidak henti meminta Jhico untuk lebih mempercepat laju mobilnya. Tadi Ia sempat menelpon Karina dan menanyakan kabar Grizelle, Karina mengatakan Grizelle baru saja minum susu dan Ia hanya minum sedikit mungkin karena bukan dari Ibunya langsung.
__ADS_1
Vanilla benar-benar menuruti permintaan suaminya agar mau menemani Keyfa beli mainan. Ia lebih banyak diam sementara suaminya seperti biasa, banyak berkomunikasi dengan Keyfa.
"Aku kesal ya, Jhi. Jangan ajak aku bicara dulu,"
Jhico tersenyum saat Vanilla mengatakan itu ketika mereka berada di dalam lift. Vanilla menggeram kesal.
"Kamu jangan senyum!"
"Apa salahnya buat Keyfa senang?"
"Salah! kamu lebih mementingkan orang lain daripada anakmu sendiri,"
"Ssstt!" Jhico menutup mulut istrinya yang berkata begitu ketika akan keluar dari lift dan ada sepasang suami istri yang sudah menunggu mereka di depan pintu lift.
"Jangan bicara seperti itu," ujar Jhico dengan pelan setelah mereka menjauh dari dua orang itu. Vanilla lepas kendali, Ia tidak bermaksud untuk marah-marah di depan orang lain.
"Aku ingin sekali mengeluarkan kata-kata kasar ku yang sudah lama tidak aku ucapkan. Keyfa melunjak lama-lama. Jujur aku gerah melihatnya yang begitu manja padamu,"
Pip
Jhico berhasil membuka pintu apartemen dengan lock card nya. Lalu Ia menyuruh Vanilla yang menggerutu untuk masuk ke dalam unit apartemen.
Vanilla segera masuk ke dalam kamarnya. Di sana, Ia melihat Karina tengah menimang Grizelle yang sepertinya ingin tidur.
"Oh sudah pulang?"
"Maaf lama, Ma."
"Tidak lama. Griz juga pintar, tidak rewel sama sekali."
"Aku bersih-bersih dulu, Ma."
Karina mengangguk dan kembali fokus pada cucunya yang sudah mulai memejamkan mata hingga saat Ia bicara dengan Vanilla tadi, suaranya sengaja Ia pelankan agar tidak mengganggu Grizelle.
Jhico menyusul istrinya masuk ke dalam kamar. Karina menoleh pada pintu yang baru terbuka. Jhico menghembuskan napas ketika melihat Vanilla sudah masuk ke dalam kamar mandi. Tadinya Ia ingin bicara dengan Vanilla. Tapi sepertinya perempuan itu benar-benar sedang kesal padanya.
"Lama ya, Ma?"
"Tidak, kenapa wajahmu suntuk begitu?"
Jhico menggeleng, Ia tidak mau kalau Mamanya tahu Ia dan istrinya baru saja berdebat hanya karena Keyfa.
Ia tak habis pikir dengan Vanilla. Grizelle baik-baik saja di apartemen bersama Mamanya tapi Vanilla begitu mengkhawatirkan Grizelle. Ia menggeleng pelan. Seharusnya Ia tahu, Vanilla tentu merasa berat meninggalkan Grizelle lama-lama karena sebelumnya Vanilla tidak pernah pisah dengan Grizelle. Banyak hal yang membebani pikiran Vanilla ketika Grizelle ditinggal sekalipun dengan orang yang sangat bisa dipercaya. Seharusnya Ia senang karena artinya perempuan itu sangat menyayangi anak mereka sampai-sampai tidak tega untuk meninggalkannya walau hanya sebentar.
--------
Komen kalian buat ep ini apa? spam komen kuyy. Aku tunggu yaa😚 Addicted up, Ex part 2 MCH up. Cek yaaa :)
__ADS_1