
"Ibuku harus ke rumah sakit untuk check up Aku mohon izin,"
"Iya, silahkan."
"Terima kasih, Dokter."
"Okay, cepat pergilah. Sebelum aku berubah pikiran,"
Kenzo terkekeh seraya menepuk bahu temannya itu. Ia segera keluar dari klinik Jhico. Sementara Jhico harus berjaga sampai saatnya klinik tutup nanti.
***
Vanilla sedang menunggu kedatangan suaminya seraya menonton televisi. Setelah Karina pulang dari apartemen, Ia segera mandi lalu sempat tertidur sebentar sampai akhirnya pukul delapan bangun.
Sudah sekitar tiga puluh menit Ia menunggu Jhico tapi suaminya itu belum pulang juga. Agar tidak mengantuk, disela menonton, Vanilla juga menikmati berbagai makanan ringan.
"Yang ini tidak enak," gumam Vanilla setelah mencoba salah satu snack yang baru dibuka. Semenjak hamil, makanan Vanilla sangat diatur oleh Jhico. Sampai snack saja tak luput dari perhatian Jhico. Makanan yang sebenarnya dia suka tapi dianggap kurang sehat oleh Jhico, akan dibuang oleh Jhico dan diganti dengan makanan yang lain.
"Biar saja dia yang makan. Siapa suruh beli makanan begini. Memang sehat, tapi tidak enak,"
Dia yang dimaksud tentu saja Jhico. Lelaki itu sering sekali menghabiskan makan atau minum yang tidak dihabiskan oleh Vanilla entah itu karena tidak suka, atau memang sudah merasa kenyang.
Jhico terlambat pulang karena Ia sempat terlelap sebentar di ruangannya. Sore hari sampai malam seperti ini pasien yang datang hanya sedikit sehingga membuat dirinya bisa rehat sejenak.
"Dokter, mau menginap saja di sini? saya ingin pulang,"
Ghea, perawat yang mendampingi Jhico memunculkan kepalanya disela pintu ruangan Jhico yang terbuka sedikit. Jhico terlihat begitu nyaman tertidur dengan kepala terlungkup di atas meja.
Jhico mengerjapkan matanya seraya menegakkan tubuh. "Harus pulang sekarang,"
"Iya, Dokter. Ayah saya sudah menelpon sejak tadi,"
"Ya sudah, kamu pulang lebih dulu saja. Saya yang akan---"
"Tidak apa, Dok. Saya akan mengunci klinik. Dokter sebaiknya cepat pulang. Istri di rumah sudah menunggu,"
Jhico melihat ponselnya. Sudah ada dua panggilan dari Vanilla. Dan Ia segera bersiap untuk pulang.
"Aku pulang, Ghea."
"Iya, Dokter. Hati-hati, salam untuk Nona Vanilla,"
"Iya, terima kasih."
***
Vanilla menghubungi suaminya selain karena khawatir, Ia juga ingin minta dibelikan makanan oleh Jhico di street food yang tak jauh dari apartemen mereka.
Vanilla menggerutu sejak tadi. Karena keinginannya malam ini sepertinya tidak terpenuhi. Entah sedang apa suaminya sekarang.
"Lebih baik aku melihat-lihat baju yang dibeli Mama Karina,"
Menonton televisi terlalu lama nyatanya membuat Vanilla bosan juga. Akhirnya Ia memutuskan untuk membongkar semua paper bag yang berisi buah tangan dari mertuanya itu.
"Wow cantik sekali bajunya,"
Decak kagum langsung terdengar dari mulutnya begitu melihat baju anak-anak. Ia tidak tahu kalau itulah yang dimaksud Karina untuk cucunya. Tidak hanya baju anak perempuan, Vanilla juga menemukan baju untuk anak laki-laki.
"Astaga, lucu semua. Aku suka sekali,"
Vanilla tersenyum seraya membayangkan betapa cantik dan tampan anaknya nanti setelah mengenakan baju dari nenek mereka itu.
Vanilla membuka buah tangan untuknya dan Jhico. Ia juga senang ketika mendapat baju untuk wanita hamil.
__ADS_1
"Menambah koleksi baju hamilku yang dibelikan Mama,"
Setelah tahu bahwa Vanilla hamil, Rena langsung membelikan banyak baju hamil untuk anaknya. Padahal perutnya belum terlihat menonjol.
Sementara Jhico dibelikan kaus dan celana cargo karena Karina tahu apa yang disukai oleh anaknya itu.
Ia segera memotret banyaknya buah tangan itu lalu dikirimkannya pada Karina. Ia memberi keterangan di foto tersebut, 'Aku suka semuanya, Ma. Terima kasih ya, Ma.'
Vanilla terkejut saat tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Ia melihat Jhico yang wajahnya nampak lelah dan mengantuk.
"Lama sekali pulangnya. Sibuk?"
"Iya, aku mandi dulu ya."
Vanilla hanya bergumam. Dan Jhico beranjak ke kamar mandi tanpa mau bertanya hal apa yang sedang dilakukan istrinya itu. Ia memang bingung melihat Vanilla yang sibuk dengan bingkisan-bingkisan yang entah datangnya darimana.
"Jhi, aku mau soup kentang yang creamy di street food,"
Belum sempat Jhico menutup pintu, lidah Vanilla sudah gatal ingin mengatakan keinginannya.
"Setelah mandi, aku belikan."
"Aku mau sekarang. Menunggu kamu mandi terlalu lama, sedangkan aku sudah sejak tadi menginginkan itu,"
"Aku harus mandi dulu. Kalau seperti ini tidak akan nyaman,"
"Jhico---"
"Vanilla, bisa mengerti aku tidak? aku ini lelah, tapi aku tetap berusaha menuruti keinginan kamu. Aku hanya minta pengertian sedikit, bisa?"
Jhico menatap istrinya sesaat, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa penat sekali.
"Dia itu tidak bisa mengerti aku ya? aku mau sekarang malah ditunda-tunda," Vanilla mencibir sendirian.
Vanilla mencoba beberapa baju hamil pemberian Karina untuk menghilangkan rasa kesalnya.
"Jhico, cepat! aku sudah lapar,"
Jhico mendengar tapi Ia tak ingin menjawab. Karena keinginannya saat ini adalah menjawab dengan teriakan juga. Daripada itu terjadi, lebih baik Ia diam saja.
Ia mendapat beberapa gambar, lalu mengetuk pintu kamar mandi. Kebetulan Jhico keluar dan buku jari istrinya hampir singgah di keningnya.
"Lama! aku mau makan soup kentang sekarang,"
"Tunggu!" Titah Jhico dengan tegas. Membuat Vanilla mendengus. Vanilla lagi menyebalkan menurut Jhico. Kalau manjanya sudah timbul, pasti selalu seperti itu.
Terlalu tidak sabaran sampai setiap gerak gerik Jhico diperhatikan oleh Vanilla. "Sudah selesai?"
"Aku sedang menyisir, Astaga."
"Kamu lama. Aku ikut ya?"
"Kemana?"
"Street food,"
"Tidak,"
"Ikut!"
"Ya sudah, pergi sendiri ke sana. Aku tidak perlu menemani kamu. Sekalian saja begitu,"
Vanilla berdecak kesal dan duduk di tepi ranjang memperhatikan Jhico yang sedang menata rambutnya.
__ADS_1
"Baru beli baju?"
"Ini semua dari Mama kamu,"
"Oh yang dibawa tadi?"
"Ya,"
Jhico berbalik dari cermin, "Okay, aku cari dulu soup kentang yang kamu maksud,"
"Aku ikut--"
"Tidak, mengerti ucapan aku 'kan? aku sudah bicara baik-baik sejak tadi ya,"
Vanilla segera merapikan semua baju yang sudah Ia coba dan Jhico memperhatikan istrinya itu. "Nanti aku yang bereskan,"
"Kamu pergi sana. Tidak usah banyak bicara,"
Alis Jhico menukik bingung. Seharusnya Ia yang kesal karena Vanilla mengganggu dirinya yang seharusnya beristirahat.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Kamu hanya menginginkan itu?"
"Iya, nanti giliran aku banyak mau, kamu kesal, dan marah-marah lagi,"
"Siapa yang marah?!"
"Itu nadanya tinggi!"
"Kamu yang bicara dengan nada tinggi. Sadar tidak?!"
"Kamu!" telunjuk Vanilla sampai berperan juga untuk melampiaskan kesalnya, bukan hanya mulut saja. Ia menunjuk Jhico seraya memberikan tatapan mata yang tajam.
"Terserah, aku tidak mau meladeni kamu,"
Pintu ditutup oleh Jhico, Ia pergi meninggalkan Vanilla yang sepertinya masih belum puas melampiaskan rasa kesalnya.
"Marah-marah terus setelah hamil. Sakit kepalaku,"
Seraya berjalan, batin Jhico mengeluh. Vanilla benar-benar menguji kesabarannya. Diminta untuk menunggu sebentar saja dia tidak mau. Lalu minta untuk ikut pergi bersamanya padahal udara malam-malam seperti ini sangat dingin.
Hanya perlu berjalan beberapa meter, Ia sudah bisa melihat banyaknya makanan di sepanjang jalan. Jhico sebenarnya malas sekali mencari makanan yang dimaksud istrinya karena tidak mudah. Di sini banyak sekali menu makanan. Tapi demi istrinya yang sedang banyak mau itu, Ia rela menjelajahi satu persatu stand makanan yang didirikan.
Hampir lima belas menit Ia mencari, akhirnya Ia menemukan soup kentang creamy yag diinginkan Vanilla. Ia membeli itu empat porsi, barangkali Vanilla tidak cukup satu.
Setelah selesai membeli makanan pesanan sang istri, Jhico membeli makanan yang sedang Ia inginkan. Hanya roti bakar dengan selai jagung.
Karena istrinya hanya menginginkan itu saja, maka Jhico langsung pulang ke apartemen nya. Semoga setelah Ia kembali, Vanilla tidak menyebalkan lagi dan mau menikmati makanan itu dengan lahap.
Ia baru saja tiba di apartemen, ponselnya bunyi. Rupanya Vanilla yang menelpon. Jhico langsung saja mengangkatnya, khawatir dengan istrinya yang tadi Ia tinggal dalam keadaan marah-marah.
Sembari menekan tombol lift, Ia menyapa Vanilla yang menelponnya itu.
"Hallo, Nilla. aku sudah sampai--"
"Aku tidak mau makanan itu lagi! kamu terlalu lama,"
---------
Aku dtg lg nih. Terima kasih untuk dukungannya teman-temanku. Aku senang dapat like, vote, dan komen. Ramein trs yaa.
Jgn lupa mampir di lapak aku yg lain👇
__ADS_1
Ke sini jg yaaa👇