Nillaku

Nillaku
Nillaku 435 Semangat kalau diajak olahraga bersama Pupu


__ADS_3

"Icelle, seluruh staf di sekolah Icelle ada rapat kerja jadi diliburkan,"


"Yah...aku tidak sekolah, Mu?"


Vanilla mengangguk dan menunjukkan surat pemberi tahuan resmi dari pihak sekolah dimana Grizelle menuntut ilmu.


"Hmm ya sudah, berarti aku libur ya, Mu,"


"Iya, Sayang. Seharusnya kamu senang,"


"Aku lebih suka sekolah daripada di rumah,"


Vanilla tersenyum menyadari anaknya ini memang berbeda dengan dirinya yang dulu paling anti datang tepat waktu saat belajar, kemudian tidak pernah usaha untuk mendapat nilai sempurna, berkelakuan tidak baik, dan sebaginya. Sampai sekarang Ia bersyukur anaknya tidak seperti itu.


Padahal kalau sifat, Grizelle lebih banyak mewarisi sifat-sifat yang terdapat dalam dirinya. Salah satu contoh, keras kepala. Kesukaannya juga sama. Suka pedas, dan juga manis seperti ice cream dan cokelat.


Waktu masih pukul lima pagi dan Vanilla sudah mendapat kabar mengenai sekolah anaknya yang untuk hari ini sengaja menonaktifkan kegiatan belajar dan mengajar.


"Ya sudah, Icelle tidur lagi,"


Grizelle belum mandi. Ia pikir dibangunkan Vanilla karena disuruh mandi seperti pagi biasanya ternyata malah diberitahu bahwa Ia libur sekolah.


"Aku tidak mau tidur lagi. Aku mau membangunkan Pupu"


"Nanti saja, Sayang. Pupu praktik tidak terlalu pagi," kata Vanilla tidak mengizinkan sang putri membangunkan ayahnya.


Berhubung jadwal praktiknya tidak begitu pagi, maka Vanilla ingin membiarkan suaminya istirahat lebih lama.


"Ya sudah, tapi aku mau ke kamar Mumu dan Pupu,"


"Iya, boleh,"


"Mumu sedang memasak ya?"


Sudah hampir selesai. Kenapa? kamu sudah lapar?"


"Belum, nanti saja aku makan,"


"Okay, Mumu ke dapur lagi ya,"


"Iya, Mu,"


Grizelle ke kamar orangtuanya sementara sang ibu memilih kembali ke tempat dimana Ia memiliki kesibukan setiap saat terutama ketika pagi hari.


Grizelle bergabung dengan ayahnya di ranjang. Ia bernaring miring tak berniat untuk memeluk ayahnya khawatir Jhico bangun sebab ayahnya termasuk orang yang mudah terjaga dari tidur.


Ia hanya menatap Jhico dengan posisinya yang berbaring miring. Sampai akhirnya rasa kantuk kembali datang. Ia yang tadi sempat mengatakan tidak mau tidur lagi, nyatanya malah tidur juga.


*****


"Vanilla,"

__ADS_1


"Eh Astaga,"


Vanilla geram dan hampir saja melempari Jane dengan sendok. Jane datang tiba-tiba di belakangnya hingga Ia terlonjak kaget.


"Kenapa?"


"Aku bantu apa?"


"Ah tidak usah. Tidak biasanya mau bantu aku. Lagipula tamu tidak boleh memegang ini," kata Vanilla seraya menekan kata 'tamu' karena Jane sendiri yang mengatakan waktu itu kalau Ia tamu tidak boleh diminta melakukan ini dan itu.


Jane tertawa mendengarnya. Ia mendorong bahu Vanilla "Bercanda,"


"Jangan pegang! nanti kulitku gatal," kata Vanilla dengan tidak sopannya seraya mengusa-usap bahunya.


Jane segera mendorong kepala sepupunya itu enggan kesal. "Sembarangan! memang aku kuman?! hah?!"


Vanilla yang sedang memotong mengacungkan pisaunya ke arah Jane yang langsung meneguk salifa.


"Jangan macam-macam ya. Menjauh! kamu ganggu aku tahu tidak?!"


Dengan cepat Jane menghindar. Ia takut Vanilla kebetulan dirasuki setan jahat sehingga bisa jadi pisau itu menembusnya.


"Kamu itu mantan penjahat, jadi aku takut,"


"Sialan mulutmu," geram Vanilla yang mengundang tawa Jane.


Vanilla segera melotot ada sepupunya itu. "Ini masih pagi ya. Jangan berisik,"


"Ck! rindu-rindu. Yang ada juga kamu yang merindukan aku karena aku ini baik sekali sebagai sepupu kamu,"


Jane langsung memasang ekspresi ingin muntah yang membuat alis Vanilla bertaut. Sialan ucapannya memang menggelikan? sampai-sampai Jane mau muntah.


"Anakmu dimana? belum bangun? memang dia tidak sekolah?"


"Tidak, para pengajarnya ada rapat kerja,"


"Woahh menyenangkan sekali. Aku ajak dia berenang lah hari ini,"


"Ya ajak saja. Dia mudah bosan kalau sudah di rumah,"


Sepeeti biasa Jane hanya menemani Vanilla memasak saja tanpa membantu seperti apa yang dikatakannya bahwa Ia itu 'tamu'. Sebenarnya itu sebagai pengalihan saja. Lebih tepatnya Ia malas. Di rumah sudah sering memasak untuk Richard. Jadi kalau di sini, Ia ingin libur dulu dan menikmati penuh masakan Vanilla serta Bibi.


Tak ada suara Jane yang bicara setelah beberapa menit, membuat Vanilla menoleh pada sepupunya yang ternyata kembali terlelap dengan meletakkan kepalanya di meja pantry.


Vanilla menggeleng pelan bingung dengan sepupunya. "Kalau masih mengantuk kenapa malah bangun?"


Vanilla membangunkan Jane dan menyuruhnya untuk tidur di kamarnya saja, tapi Jane hanya menyahuti dengan gumaman tak jelas dan Ia menggeleng.


"Jane, kepalamu akan sakit kalau seperti itu terus,"


Tak ada jawaban dari Jane. Akhirnya Vanilla biarkan sepupunya itu terlelap di meja. Yang terpenting sudah Ia suruh kembali ke kamar, tapi dia malah menolak.

__ADS_1


Tak lama kemudian Vanilla berhasil menyelesaikan kegiatannya. Ia lantas membangunkan Jane lagi yang kali ini akhirnya terbangun.


"Bangun karena sudah bisa mencium aroma masakan aku yang sudah matang ya,"


Jane tertawa, mungkin iya, atau mungkin juga karena Vanilla yang mulai jahil ketika membanguninya dengan cara menekan hidungnya hingga Ia kesulitan bernapas.


"Aku banguni Icelle dan Jhico. Kamu sarapan saja dulu,"


"Jhico pagi ini mau bersepeda. Mungkin sarapannya nanti setelah pulang,"


"Ya sudah, aku ingin makan bersama kamu dan Icelle,"


Vanilla mengangguk,lantas Ia segera bergegas ke kamarnya dimana Grizelle dan auaminya berada. Vanilla tersenyum melihat Grizelle yang ternyata tidur kembali.


Ia menyingkirkan selimut yang membalut keduanya. Ia membangunkan Jhico terlebih dahulu. Suaminya tak lama langsung bangun.


"Kamu jadi bersepeda hari ini?"


"Jadi, Nillaku,"


Kemudian Jhico menoleh ke samping. Ia mengerinyit mendapati keberadaan anaknya.


"Icelle kenapa belum bersiap ke sekolah? memang jam berapa sekarang?"


Jhico melihat waktu. biasnaya Grizelle sudah bersiap. Tidak lagi bergelung di ranjang.


"Para pengajarnya ada rapat kerja. Jadi kegiatan belajar mengajar dinonaktifkan,"


"Oh begitu. Ya sudah, aku ajak Icelle bersepeda saja,"


Vanilla mengangguk, anaknya juga pasti tak menolak ketika diajak ayahnya bersepeda pagi ini. Sudah lumayan lama juga Ia dan Jhico tidak menghabiskan waktu pagi hari dengan sepeda masing-masing.


"Icelle, mau bersepeda dengan Pupu?"


Jhico membangunkan dengan mengusap kening anaknya yang malah membuat Ia semakin nyaman dalam tidur.


"Kalau begitu membangunkannya, Ia justru semakin pulas," kekeh Vanilla yang menganggp cara Jhico tidak efektif.


Vanilla kini mengapit salah satu pipi anaknya dengan bibir dan Grizelle langsung melenguh karena terganggu.


"Bersepeda dengan Pupu mau tidak?" tanya Jhico yang kini sudah beranjak meninggalkan tempat tidur.


"Sayang, bangun. Diajak Pupu olahraga itu,"


Grizelle perlahan membuka matanya. Vanilla tidak lagi mengganggu sebab anaknya sudah tak lagi memejamkan matanya.


Grizelle dengan manja mengulurkan tangan minta dibanguni oleh ayahnya. Langsung Jhico menerima uluran tangan anaknya dan tangan lain Ia gunakan untuk mengangkat tengkuk Grizelle.


"Ganti baju dulu, setelah itu kita bersepeda. Okay, Sayang?"


Grizelle mengangguk cepat. Ia tak lagi lesu. Nyawanya perlahan mulai terkumpul sempurna. Ia segera bergegas melakukan apa yang diucapkan ayahnya tadi.

__ADS_1


  


__ADS_2