
Adrian mengetuk pintu kamar kakaknya. Ia sedang butuh bantuan dalam mengerjakan tugas.
"Ean, boleh aku masuk?"
"Ya," terdengar sahutan singkat dari dalam. Adrian tersenyum kemudian membuka pintu kamar Andrean.
"Aku butuh bantuanmu, Ean,"
"Apa? tugas?" tanya Andrean tepat sasaran. Adrin tersenyum lebar seraya mengangguk. Ia yang telah membawa buku, kemudian memberikannya pada sang kakak beserta iPad nya juga.
"Bukankah kamu sudah paham? tadi di sekolah bisa mengerjakan di depan,"
"Iya, tapi aku masih bingung,"
Andrean memperlihatkan tugasnya yang sudah Ia kerjakan. Ia menyuruh Adrian untuk mengamati dan mempelajari sendiri terlebih dahulu. Kalau memang masih tidak bisa, Ia akan menjelaskan.
"Jangan disalin, tapi dimengerti dulu,"
"Iya, memang siapa yang mau menyalin. Aku bisa mengerjakan sendiri kalau sudah paham,"
Ia mendengkus ketika kakaknya berpesan seperti itu. Terlalu besar rasa curiga Andrean padanya.
"Aku coba kerjakan sendiri," katanya setelah mengamati sekian menit.
Andrean mengangguk membiarkan adiknya berusaha terlebih dahulu. Ia pun masih mengerjakan tugas lain. Tapi Ia akan dengan senang hati menjelaskan bila memang adiknya masih kesulitan.
******
Berbeda dengan Andrean dan Adrian yang tengah sibuk mengerjaan tugas, Auristella justru sibuk bermain dengan cooking set.
Ia bermain bersama Grizelle. Seolah mereka adalah chef sungguhan. Cooking set itu milik Auristella dan Grizelle langsung jatuh cinta karena alat-alat masaknya seperti asli hanya saja dalam ukuran yang kecil.
"Kamu beli saja cooking set seperti ini. Sudah punya belum?"
"Belum," aku Grizelle dengan jujur. Ia punya cooking set tapi tidak selengkap Auristella dan alatnya juga tak begitu mirip dengan yang asli seperti milik Auristella.
"Ya sudah, minta belikan pada Mumu dan Pupu kamu, Icelle. Apalagi kalau nanti adikmu perempuan. Ugh, seru sekali bermain ini. Seperti kita sekarang 'kan?"
Grizelle mengangguk setuju. Ia akan meminta ini pada kedua orangtuanya. Dan benar kata Auristella bermain cooking set sangat menyenangkan terlebih bila dimainkannya tak hanya seorang diri.
"Tapi 'kan adikku masih kecil. Tida bisa berrlmain (bermain) ini,"
"Buat nanti kalau Ia sudah sedikit bsar, Icelle,"
"Oh iya-iya,"
Grizelle kali ini menjadi pembeli dan Auristella adalah juru masak. Tadi Grizelle sudah menjadi juru masak. Mereka bergantian agar prmainan semakin terasa nyata, maka harus ada yang menjadi juru masak dan pembeli.
"Aku mau hotdog dua ya,"
__ADS_1
"Siap, Nona Icelle. Akan aku buatkan,"
Grizelle terkekeh melihat Auristella yang mengangguk sopan padanya seperti pelayan sesungguhnya yang begitu sopan memperlakukan pembeli. Ia pun demikian tadi.
Usai berimajinasi menjadi juru masak dan pembeli, mereka juga bermain barbie dan boneka.
Grizelle menggunakan barbie pemberian Auristella. Sepupunya itu benar-benar membawakannya banyak mainan usai pergi. Dan Grizelle senang sekali.
Tak sampai di sana saja, mereka pun mulai berimajinasi menjadi seorang model dan make up artis. Lagi-lagi Grizelle terlebih dahulu yang menjadi objek untuk di make up oleh Auristella.
"Ya ampun, aku cantik sekali," Grizelle menatap cermin melihat hasil make up Auristella.
"Kenapa kamu pintarrl (pintar) sekali sih? padahal masih kecil,"
"Aku suka menonton cara-caranya, Icelle, lalu aku belajar,"
"Bukannya belajarrl (belajar) materrli (materi) sekolah, malah belajarrl (belajar) make up?"
Auristella berdecak. Ia menggeleng seraya mengembalikan alat-alat make upnya ke dalam pouch.
"Aku menonton video tentang make up itu setelah belajar materi sekolah,"
Grizelle mengangguk paham. Tapi kalau Ia perhatikan memang benar apa yang dikatakan Auristella. Sepupunya itu mengutamakan urusan sekolah dulu barulah kesenangannya.
Auristella sempat bermain gadget tadi setelah belajar dan menyelesaikan tugas sekolahnya. Grizelle pun demikian.
Kemudian Auristella dan Grizelle bermain game, lantas menonton video-video yang menghibur dan juga video tentang make up. Setelah itu barulah mereka bermain bersama.
"Iya, tenang. Aku juga bisa, bahkan lebih hebat," Grizelle menatap Auristella dengan jumawa yang mengundang tawa geli dan meremehkan dari Auristella.
"Ayo, buktikan," tantang Auristella membebaskan Grizelle memoles wajahnya.
"Ini boleh dipakai semua?"
"Ya pakai saja. Make up yang kita punya untuk anak kecil, jadi aman," kata Auristella tak membatasi adik sepupunya berkreasi.
"Kamu tidak membawa make up kamu, Icelle?"
"Tidak, aku cuma punya sedikit. Tidak sebanyak kamu,"
Polesan mereka yang ringan-ringan saja. Tak seperti make up orang dewasa. Hanya eye shadow, maskara, blush on dan lipstik saja.
"Kata Mumu jangan terrlalu serrling (terlalu sering) pakai make up, Aurrlis (Auris),"
"Iya, Icelle. Aku pakai hanya sesekali saja itupun kalau aku sedang tidak ada kegiatan dan bosan,"
Grizelle selesai dengan kegiatannya. Auristella segera menilai hasil dari usaha adik sepupunya.
"Woahh lumayan"
__ADS_1
"Hih kenapa lumayan? katakan bagus!"
Auristella menggeleng enggan. Ia tak mau mengatakan bagus karena yang bagus hanyalah hasil make up nya.
Grizelle merengek dan akhirnya Auristella mengalah. Ia langsung memuji, "Iya, bagus sekali. Ya ampun, aku sampai terpesona melihat diriku sendiri,"
Grizelle terenyum puas. Hasil usahanya dihargai. Maka Ia senang.
"Sekarang kita bersihkan," kata Auristella yang ditolak langsung oleh Grizelle.
"Kita photoshoot ya?"
"Hah?" Auristella menatap Grizelle tak paham.
"Photoshoot sendirrli (sendiri) maksudku,"
Tawa Auristella pecah seketika. Biasanya photoshoot benar-benar dipersiapkan matang mulai dari make up, set foto, sampai kostum. Tapi mereka apa? memakai baju tidur, make up hanya seadanya, dan set foto di kamarnya?
"Kenapa? itu namanya krrleatif (kreatif), Aurrlis. Ayo, kita photoshoot sendirrli (sendiri),"
Auristella mau tak mau mengikiti apa yang diinginkan adik sepupunya itu. Ia pikir tak ada salahnya juga. Kamarnya tak seburuk itu untuk dijadikan tempat foto, baju mereka pun tergolong layak untuk dikenakan saat foto, begitupun make up mereka yang sederhana khas anak kecil saja, tanpa foundation atau segala macamnya.
"Sebentar, aku ambil kameraku dulu,"
Auristella mengambil kursi yang berada di depan meja belajarnya. Kemudiam Ia letakkan di dekat almari berisi tas-tas kecilnya. Di posisi paling atas ada kamera miliknya. Ia akan menggunakan itu untuk berfoto.
"Awas, hati-hati," pesan Grizelle pada Auristella.
"Iya, ini tidak terlalu tinggi. Tenang saja,"
Grizelle memegang kursi yang dijadikan sebagai tumpuan Grizelle. Setelah Auristella meraih kameranya, Auristella segera turun dan mengembaliman kursi ke tempatnya.
"Ayo, kita tata dulu supaya cantik,"
"Kita foto dimana sih?"
Grizelle sekarang bingung ingin berfoto dimana. "Di kamarku, tidak mungkin di dapur 'kan, Icelle?," sahut Auristella dengan jengah. Sudah dilihat Ia mulai menata tempat tidurnya, Grizelle masih bertanya ingin foto dimana?
"Bantu aku rapikan ini. Tadi berantakan karena kita jadikan tempat bermain,"
Grizelle melakukan apa yang dikatakan Auristella. Masih ada accecories barbie dan juga cooking set di atas tempat tidur Auristella. Maka harus disingkirkan sebelum mereka foto.
"Seharusnya kita bermain di playground tadi ya. Biar tidak berantakan di sini," kata Auristella menyesali dirinya dan Grizelle yang tak bermain di ruang permainan saja agar tempat tidurnya bisa langsung di gunakan sebagai tempat mereka berpose.
Setelah memastikan tempat tidurnya yang berdesign seperti ranjang seorang princess itu kembali rapi dan cantik, Auristella meletakkan kamera dengan benar.
Kemudian Ia mengajak Grizelle untuk berpose. Mereka berdua bergaya sesuka hati namun tetap terlihat menggemaskan sekaligus cantik.
Mereka melihat hasilnya lalu foto lagi. Begitu terus sampai mengabiskan waktu beberapa menit.
__ADS_1
"Kita mirip ya, Icelle?" tanya Auristella menatap Grizelle sesaat. Grizelle langsung mengangguk, membenarkan ucapan Auristella.
"Katamu, kita berrldua kembarrl (berdua kembar) beda rrlahim (rahim) 'kan?"