
"Hallo Icelle,"
"Kamu apa kabar?!"
Auristella dan Adrian menyapa bergantian ketika Devan menjawab panggilan Rena. Devan langsung menyerahkan ponselnya pada kedua anaknya.
Grizelle melambai antusias ke layar ponsel neneknya. "Hallo, aku baik,"
"Icelle, apa kabar?!" tanya Adrian lagi dengan tak santai.
Grizelle mendengus. Entah memang Adrian benar-benar tak mendengar jawabannya tadi atau Ia hanya jahil mengulang pertanyaan.
"Ishh aku baik," jawabnya sekali lagi dengan ketus. Adrian terkekeh kemudian Ia baru sadar kalau sepertinya Grizelle bukan di rumahnya.
"Kamu sedang berada dimana?"
"Memang Griz pergi? coba aku mau lihat,"
Auristella ingin merebut ponsel Devan dari tangan kakaknya namun Adrian tak mau. Akhirnya mereka bertengkar.
"Hei, Griz menelpon kalian itu untuk tanya kabar bukan mau lihat kalian bertengkar," suara Devan terdengar melerai.
Auristella berteriak saat daun telinganya ditarik oleh sang kakak kemudian Ia dijauhi.
"Adrian aku juga mau bicara dengan Griz!"
"Aku dulu," sahut Adrian yang kini dikejar Auristella hingga ponsel dalam genggamannya bergerak tak menentu.
"Ya ampun, aku jadi pusing lagi kalau melihat mereka sepelti(seperti) ini, Glandma,"
Tawa Rena pecah mendengar keluhan cucu keempatnya yang kini menggeleng pelan menyaksikan perdebatan kedua kakak sepupunya.
Ponsel tak lagi berayun. Kini wajah Adrian yang memenuhi layar. Entah dia bersembunyi dimana dari Auristella.
"Kamu dimana?"
"Di lumah(rumah) sakit,"
"Kamu sakit apa, Griz?"
Brakk
Suara pintu yang dibuka tak sabaran membuat Adrian tampak menoleh begitupun Grizele yang penasaran hingga akhirnya terlihat wajah Auristella di samping wajah Adrian.
"Kamu mau merusak pintu kamarku ya?!" sentak Adrian tak terima. Ia menatap pintunya, beruntung tidak ada yang rusak.
"Bar-bar sekali kamu,"
Jhico pun turut mendengar perdebatan mereka. Ia hanya tersenyum, terdengar ramai sekali kalau sudah berhubungan dengan mereka. Ia tidak heran. Auristella dan kakak keduanya itu memang seperti tom and jerry.
"Aku sakit demam, biasa lah,"
"Hah? kamu diopname ya, Griz?" tanya Auristella.
"Iya, Aulis (Auris),"
"Ya ampun, kenapa bisa sakit?"
Adrian menatap tajam adiknya yang bertanya polos. Ia menyahut asal, "Ya namanya makhluk hidup pasti bisa sakit."
Grizelle mengangguki ucapan Adrian," Daya tahan tubuh bisa menulun(menurun),"
__ADS_1
"Hah ternyata kamu tidak lebih pintar dari Icelle," ledek Adrian pada adik perempuan di sampingnya.
"Oh iya, kalian juga sedang ditinggal Aunty Lovi ke Dubai ya?"
"Iya, kami sedih, Icelle,"
Auristella melengkungkan bibirnya ke bawah, Grizelle yang melihatnya terkekeh. Kemudian Ia menyahut, menyamakan nasibnya yang kini juga tidak bersama sang ibu.
"Mumu juga pelgi (pergi),"
"Oh ya? kemana?"
"Ke Dubai, Ian. Sama sepelti (seperti) Aunty,"
"Oh jadi mereka bertemu ya. Sementara kita tidak,"
"Kamu pulang, Aulis(Auris),"
"Aku juga mau pulang. Bosan tinggal di sini. Hei Icelle, aku sudah punya kuteks yang banyak untukmu,"
"Nanti dibawa ya?"
"Tentu saja, aku belikan khusus untukmu,"
"Apaan, kamu beli punya Icelle karena kamu juga mau beli,"
"Iya, tapi 'kan itu khusus buat Icelle,"
Cklek
Devan memasuki kamar Adrian dan menemukan kedua anaknya yang duduk di lantai.
"Iya, ini kerjaan si Ian buruk rupa,"
Adrian melotot tajam. Tangannya siap untuk mencubit kaki adiknya namun Auristella berhasil menghindar.
"Sudah selesai bicara dengan Griz?"
"Belum, Dad,"
Devan mengangguk, kemudian meninggalkan kedua anaknya yang masih melepas rindu.
"Kalian kenapa sih jallang (jarang) telepon aku,"
"Kamu sibuk, kata Daddy dan Mommy begitu. Jadi kita tidak dibolehkan sering menghubungi kamu,"
"Iya, Icelle. Memang kamu sibuk apa sih? kamu sudah bekerja? aduh aku kalah cepat dengan kamu ya? sekecil kamu sudah bekerja," ujar Adrian sembarangan. Mengundang tatapan sinis dari Auristella.
"Sibuk sekolah, belajar! memang kamu sibuknya main saja!"
"Aku rajin belajar, tapi tidak serajin Ean," jawab Adrian dengan santai.
"Aku sekolah saja, tidak bekelja (bekerja) Aku masih kecil. Kalian juga 'kan masih kecil, belum sibuk apa-apa selain belajal (belajar) dan belmain (bermain), kenapa jallang (jarang) telepon aku? pasti kalena (karena)sudah nyaman ada di sana ya? jadi melupakan aku yang di sini,"
"Astaga, tidak, Icelle. Ya sudah, maaf ya kalau kami jarang telepon kamu,"
"Nanti aku yang akan seling (sering) telepon kalian, kalau pelu (perlu) tiap jam,"
"Jangan tiap jam juga,"
Grizelle terkekeh melihat Adrian yang menjawab dengan raut terkejut, yakin saja dia kalau Grizelle akan menghubungi tiap jam.
__ADS_1
*****
Lovi tersenyum berseri ketika melihat Vanila dari sekian banyak orang yang ikut menjadi bagian dari acara.
Ia menghampiri Vanila yang menyambutnya dengan pelukan. "Ya ampun, akhirnya kita bertemu juga di sini ya, tidak melalui pesan singkat lagi," ujar Vanilla.
"Aku senang sekali saat tahu kamu juga akan hadir,"
"Iya, tapi aku sempat bimbang sebenarnya. Ingin hadir atau tidak. Karena aku sulit sekali meninggalkan Griz di rumah sakit hanya dengan Jhico. Tapi syukurnya, Griz sudah membaik, dan Jhico juga mengizinkan sejak awal. Akhirnya aku pergi,"
"Ya Tuhan, jadi anak manis itu sedang sakit sekarang?"
Vanilla mengangguk, kemudian meminta Lovi untuk duduk di sampingnya.
"Nanti datang ke hotel tempatku menginap ya. Kita bisa berbincang lebih lama. Griz juga ingin bicara padamu katanya. Ingin menanyakan tentang ketiga temannya itu,"
Lovi terkekeh menyetujui. Ia akan datang ke hotel dimana Vanilla bermalam selama di Dubai.
Kalau berbincang di tempat mereka saat ini memang kurang nyaman karena banyak orang dan tidak bisa lama sebab acara yang mereka hadiri akan segera dimulai.
*****
Turun dari catwalk, Vanilla merasa perutnya benar-benar sakit. Ia bertumpu dengan Nein yang langsung menyambutnya.
"Hei, kamu kenapa?"
Nein merasa pegangan Vanilla di lengannya erat sekali. "Perutku sakit,"
"Mulas? ayo, kita ke toilet,"
Vanilla mengangguk kemudian dibantu oleh Nein berjalan menuju toilet.
Vanilla menahan sakit diperutnya selama berjalan di atas catwalk. Ia memasang senyum seindah mungkin. Berusaha porofesional dalam bekerja. Karena tujuannya ke sini pun untuk itu. Bahkan sampai harus meninggalkan anaknya sementara.
"Aku kedatangan tamu bulanan hari ini. Beruntungnya sudah ada persiapan karena aku sudah prediksi," ujar Vanilla setelah keluar dari kamar mandi.
"Kita sudah selesai. Langsung kembali ke penginapan saja,"
Vanilla mengangguk setuju. Nein segera menghubungi Joana yang Ia ketahui masih bergelut dengan semua perlengkapan Vanilla di belakang catwalk.
"Kamu mau lebih dulu ke penginapan? aku ingin membantu Joana dulu,"
"Iya, aku pergi dulu ya,"
******
Grizelle sudah diperbolehkan pulang oleh dokter hari ini. Reaksinya benar-benar sesuai perkiraan Jhico. Karena sebelumnya anak itu sudah mengeluh bosan bahkan setelah diajak keliling rumah sakit.
"Pulang-pulang, yeaayy,"
Tangannya baru saja terbebas dari infus. Perawat yang melepas infusnya tersenyum melihat antusias Grizelle yang akan pulang.
"Jangan kelelahan ya, Grizelle,"
"Okay, Sustel(suster),"
Nada membereskan semua perlengkapan Grizelle dibantu Rena. Setelah itu Jhico turun ke basment membawa semuanya untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
------
Eyooo semuanyaa. Hari senin nih. Semangat yaa. Jgn lupa tetap jaga kesehatan. Tinggalkan jejak yaa. Makasih🙏
__ADS_1