
Vanilla merasa kondisinya sudah sangat baik sehingga pagi ini Ia memutuskan untuk bangun dan membuat sarapan. Suaminya tak tahu bahwa di sampingnya tidak ada orang lagi yang menjadi teman tidurnya.
"Vanilla benar-benar sudah pulih? lebih baik istirahat di kamar saja. Biar Bibi dibantu Ariella yang membuat sarapan,"
Begitu Ia tiba di ruang kesibukannya belakangan ini, Ia langsung disambut dengan pertanyaan seperti itu oleh Bibi. Ia meyakinkan Bibi bahwa Ia sudah baik-baik saja dan membuat sarapan tak akan membuatnya tumbang.
Maka Bibi membiarkan Ia melakukan apa yang Ia inginkan. Jujur Ia tidak nyaman bila berada di atas tempat tidur terus. Ia ingin memiliki kegiatan seperti biasa. Ia sudah jenuh diminta istirahat. Padahal menurutnya Ia sudah cukup beristirahat. Yang biasanya sangat jarang tidur di siang hari, setelah tak lagi bekerja hampir setiap hari tidur saat siang tepatnya usai memastikan Grizelle pulang dari sekolah.
"Ian, bangun, kita harus pulang dari sini, dan sekolah,"
Andrean mengetuk pintu kamar yang digunakan adiknya. Lima kali Ia memberi ketukan, Adrian menimbulkan wujudunya di depan pintu dengan wajah khas bangun tidur dan rambut yang acak-acakan.
"Iya, aku akan bersiap,"
Andrean kembali ke kamar dinana Ia tidur semalam. Ia pun akan mempersiapkan diri. Nanti drivernya akan datang menjemput dan langsung mengantar mereka ke sekolah.
Usai membuat sarapan, Vanilla menghampiri kamar putrinya. Ia mengetuk pelan pintu kamar.
"Griz, Auris, bangun, Sayang. Ini sudah pagi dan kalian harus sekolah,"
"Iya, Aunty. Aku sudah bangun,"
Terdengar suara Auristella yang menyambut suaranya. Ia tersenyum menatap pintu sebentar kemudian beranjak ke kamar Andrean dan Adrian. Ia bisa mendengar suara aktifitas dari dalam yang artinya mereka sudah bangun.
Akhirnya Vanilla ke kamarnya sendiri. Ia belum mendengar suara Grizelle tadi, tapi Ia yakin anaknya itu pasti akan dibuat terjaga oleh Auristella yang sudah terjaga lebih dulu terbukti dengan sahutannya tadi.
Ia membangunkan suaminya. Vanilla mengambil posisi berbaring miring ke arah Jhico. Ia menopang tubuhnya dengan siku. Tangannya mengusap dari rambut dan juga wajah Jhico hingga membuat lelaki itu meraa terusik dan akhirnya terjaga. Ketika Jhico membuka mata, Ia tersenyum hangat.
"Selamat pagi, Jhi,"
"Pagi, Nillaku,"
Hah, suara Jhico kalau habis bangun tidur terdengar dalam dan rendah. Sampai membuat telinga Vanilla nyaman sekali mendengarnya.
Apalagi melihat senyum di wajah tampan itu yang walaupun baru bangun tidur tapi tetap mengeluarkan pesonannya sendiri. Ia merasa jatuh cinta lagi dan lagi.
Melihat istrinya yang senyum-senyum sendiri, meletakkan siku di dekat kepalanya dengan menatap lurus padanya, Ia tahu apa yang ada di pikiran perempuan ini.
Jhico tiba-tiba saja merangkum wajah istrinya dan itu membuatnya tersentak.
__ADS_1
"Kamu sedang mengagumi ketampanan aku ya, Nilla?" tanya lelaki itu dengan kadar percaya diri yang begitu tinggi.
Vanilla berdecak kesal. Ia merengek minta agar wajahnya di lepaskan dari kedua tangan Jhico yang kini membelai pipinya dengan lembut.
"Apa sih? terlalu percaya diri,"
Jhico mencibir seraya duduk. Ia menatap remeh istrinya. "Memang benar apa yang aku katakan. Kamu sedang mengagumi aku 'kan?"
Vanilla tak habis pikir bagaimana bisa Jhico tahu? apa sejelas itu Ia mengagumi Jhico yang sialnya memang semakin tampan bila bangun tidur dan itu akan membuatnya sadar kalau setiap saatnya Ia telah dibuat jatuh cinta berkali-kali lipat oleh lelaki dengan gelar dokternya itu.
"Iya, kamu tampan sekali,"
Jhico terkekeh jumawa. Benar dugaannya. Vanilla memang sudah tenggelam dalam pesonanya.
Ia menaik turunkan alisnya bermaksud menggoda istrinya itu. Jhico melihat istrinya memutar nola mata dan Ia terkekeh.
"Bangun, sudah pagi,"
"Iya, Nillaku. Kenpa galak? masa si tampan ini diberi sambutan seperti itu sih?"
Vanilla berdecih kesal. Sudah menyebalkan padahal masih pagi. Lihat saja, puas menggodanya, sekarang Ia tertawa puas.
*****
"Icelle, kamu sekolah 'kan? bangun-bangun,"
"Enghh,"
"Ayo, Icelle. Jangan enghh saja. Tapi bangun, bukalah matamu,"
Auristella menguncang pelan lengan adiknya itu. Seperti memaksa agar Grizelle membuka mata secepatnya.
Grizelle mengakhiri sesi istirahatnya. Ia membuka mata walaupun rasanya berat sekali.
"Hah kamu sudah mandi?" Geizelle terkejut melihat Auristella sudah mengenakan seragam sekolahnya.
"Iya, aku 'kan harus berangkat sekolah dari sini. Kalau dari rumah takut terlambat,"
"Aku mandi dulu ya,"
__ADS_1
"Bisa mandi sendiri?"
Di dalam otaknya Grizelle ingin mengusili kakak sepupunya pagi ini.
Wajahnya yang polos menggeleng pelan, sebagai jawaban bahwa Ia belum bisa mandi sendiri. Tentu saja itu kebohongan. Ia sudah bisa mandi sendiri bahkan sudah sering melakukannya.
"Ya sudah, aku panggilkan Nada ya,"
"Kamu saja yang mandikan aku,"
"Hah?" dengan tampang aneh Auristella menatap sepupunya usai mendengar penuturan Grizelle.
Pecah sudah tawa Grizelle. Ia puas sekali mengerjai sepupunya pagi ini. Perutnya tergelitik melihat wajah Auristella yang kebingungan mungkin tak tahu harus melakukan apa. Di satu sisi Ia ingin membantu adiknya itu tapi di sisi lain tak mungkin Ia yang memandikan Grizelle.
"Ihhh Icelle! kamu mengerjai aku ya!"
Grizelle mengangguk jujur masih dengan sisa tawanya. Ia berlari menuju kamar mandi menghindari lemparan blazer sekolah yang dilayangkan Auristella ke arahnya.
Grizelle menutup pintu kamar mandi dengan cepat khawatir Auristella masih memburunya.
Auristella mendengus kesal. Ia segera mengambil blazernya yang terlempar hampir ke dekat kamar mandi.
"Beruntung tidak kotor," Ia lega karena seragamnya baik-baik saja.
Ia berseru pada Grizelle yang masih kesulitan menghentikan tawanya bahkan sekalipun di kamar mandi.
"Icelle, mandi! bukan tertawa," katanya yang membuat Grizelle menutup mulut dengan tangan agar tawanya tak terdengar lagi.
Auristella menghembuskan napas kasar. Di rumahnya, Ia menjadi korban kejahilan Adrian, di sini ternyata sama saja. Grizelle rupanya bisa juga menjahilinya.
*****
"Padahal aku sudah serius menawarkan agar aku minta tolong pada Nada untuk memandikannya,"
Belum hilang rasa kesalnya untuk Grizelle, Auristella menceritakan kejadian tadi di sela sarapan bersama kedua kakaknya, Aunty, dan Unclenya. Yang menyebabkan itu hanya tertawa saja mendengar cerita Auristella.
"Kenapa tidak kamu mandikan saja? belajar punya adik," kata Vanilla pada keponakannya itu. Ia menggoda anak perempuan satu-satunya dari sang kakak.
"Aku tidak bisa, Aunty. Aku 'kan juga masih kecil. Maka saat Icelle meminta aku untuk memandikamnya, aku bingung. Aku ingin membantunya, tapi aku 'kan tidak bisa,"
__ADS_1
Grizelle tersedak oleh tawanya sendiri. Mengingat kejadian tadi, perutnya tergelitik lagi untuk tertawa. Ia sudah menahannya hingga perut keram, tapi tetap saja bila mengingat kejadian di kamarnya tadi dan mengingat bagaimana ekspresi Auristella, tawanya ingin pecah lagi.