
"Kakek pasti menunggu aku ya?"
Tebaknya dengan sangat percaya diri. Kakeknya jarang ke rumah, kali ini pasti sengaja datang untuk bertemu dengannya. Grizelle yakin itu.
"Bersiap," kata Thanatan setelah cucunya melepas pelukan. Grizelle menautkan kedua alisnya.
"Bersiap? kita mau kemana, Kakek?"
"Jangan banyak bertanya. Ayo bersiap," ujarnya sekali lagi yang langsung diangguki patuh oleh Grizelle bahkan Grizelle memasang sikap hormat. Vanilla terkekeh melihat tingkah gemas putri sulungnya itu.
"Ayo, cepat. Nanti Kakek terlambat,"
Vanilla segera menggenggam tangan putrinya usai mengatakan itu. "Sebentar ya, Pa. aku bantu Icelle bersiap dulu"
Thanatan mengangguk membiarkan dua perempuan beda generasi itu meninggalkannya masuk ke dalam.
"Icelle, ya ampun, akhirnya kamu pulang. Ayo kita bermain,"
Grizelle berhenti melangkah begitupun Mumunya. Grizelle mendongak menatap sang ibu. Ia tidak menyangka ada Keyfa sekarang.
Saat ini Ia ingin pergi dengan kakeknya tapi ada Keyfa yang ternyata sudah menunggunya juga sejak tadi. Apa yang harus Grizelle lakukan? maka Grizelle bertanya pada Mumunya. Tapi Vanilla pun sungkan mengatakan pada Keyfa kalau sekarang Grizelle belum bisa bermain dengannya sebab diajak kakeknya pergi.
Keyfa menggenggam satu tangan Grizelle yang menganggur dan akan mengajaknya ke playground Grizelle di rumah.
"Hmm, Keyfa, aku minta maaf ya,"
Keyfa melepas tautan tangan mereka dan menatap Grizelle bingung. Ia tidak tahu kenapa Grizelle meminta maaf padanya. Biasanya Grizelle akan semangat bermain dengannya bukan malah diam seperti saat ini.
"Maaf, aku diajak perrlgi (pergi) oleh Kakek. Aku belum bisa berrlmain (bermain) dengan kamu kalau sekarrlang (sekarang). Tapi kalau kamu berrlsedia (bersedia) menunggu aku pulang, tidak apa. Nanti kita berrlmain (bermain) setelah aku pulang,"
"Karlena (karena) aku tidak menginap 'kan, Mu?" tanya Grizelle memastikan bahwa kepergiannya dengan Thanatan tidak sampai menghabiskan waktu sampai satu malam. Sehingga Ia bisa pulang dan bermain dengan Keyfa. Vanilla menggeleng sebagai jawaban.
"Oh begitu. Ya sudah, tidak apa. Aku pulang saja ya, Grizelle. Nanti lain kali saja aku ke sini lagi,"
Grizelle menatapnya penuh rasa bersalah. Grizelle tidak pernah menolak ajakan siapapun yang ingin bermain dengannya, termasuk Keyfa. Oleh sebab itu kali ini Ia merasa sangat bersalah.
"Maaf ya, Keyfa. Aku minta maaf padamu,"
__ADS_1
Keyfa tersenyum, Ia memahami rencana Grizelle dan kakeknya. Ia tentu tidak akan marah. Paling hanya kecewa saja. Tapi tidak apa, masih ada waktu lain untuk bermain dengan Keyfa.
"Besok Keyfa datang saja ke sini. Besok akhir pekan," saran Vanilla yang juga tidak mau membuat Keyfa kecewa. Ia sudah memberikan pilihan agar Keyfa datang besok barangkali itu bisa mengusir kekecawaan Keyfa.
"Okay, aku akan datang besok,"
"Iya, aku tunggu ya," ujar Grizelle apda temannya itu.
Thanatan memasuki rumah dan ia memgerinyit ketika melihat Grizelle masih ada di ruang tamu belum bersiap.
"Grizelle, Kakek menunggumu"
"Oh iya, Kakek. Maaf, sebentarrl (sebentar) ya,"
Cepat-cepat Grizelle mengajak Mumunya ke kamar untuk membantu ia bersiap.
Kini tersisa Thanatan dan Keyfa saja. Keyfa menunduk singkat, menyapa Kakek Grizelle yang kelihatan dingin sekali auranya sampai Ia sangat segan untuk sekedar menyapa dengan lisan.
"Kamu sudah sembuh?" tanya Thanatan pada Keyfa sebab Ia tahu Keyfa memiliki penyakit cukup serius yang membuat Putranya begitu dekat dengan anak itu karena pernah ditolong Jhico ketika mengalami keadaan darurat.
"Sudah, Kakek,"
Ketika tahu bahwa Keyfa menderita suatu penyakit, Ia merasa iba. Tapi setelah melihat bahwa Keyfa sangat dekat dengan Jhico, membuat Thanatan waktu itu khawatir cucunya lahir dengan kekuragan kasih sayang Jhico. karena Ia benar-benar bisa melihat sedekat apa Jhico padanya. Itulah sebabnya Ia sinis dengan Keyfa.
Tapi beruntungnya saat Grizelle hadir Jhico tidak lantas menomor duakan anaknya. Mungkin karena sudah berdebat juga dengan Vanilla yang tidak suka Jhico terlalu berlebihan menanggapi Keyfa. Yang pernah ditolong Jhico tidak hanya dia saja. Keyfa bertemu Jhico saat ia terpaksa maauk rumah sakit karena keadaan darurat. Kebetulan saat iu Jhico yang masih praktik di rumah sakit langsung tangkas menanganinya dan meminta pada dokter spesialis yang lebih berhak menangani keluhan Keyfa. Saat itu dokter spesialis sedang berada di jalan pulang dari rumah sakit. Mungkin itu sebabnya Jhico sanhat membekas di hati keluarga Keyfa khususnya Keyfa sendiri yang saat itu tahu kejadiannya.
"Memangnya aku ingin diajak kemana, Mu?"
"Kakek ada acara di ballroom hotel. Icelle diajak ke sana karena Evelyn ikut dan dia menanyai Icelle terus kata Kakek,"
"Oh begitu. Tapi tidak menginap?"
"Tidak, Sayang. Hanya ada pertemuan saja di sana. Tapi tadi Kakek bilang, Icelle boleh bermain dengan Evelyn di kamar,"
"Hmm okay,"
Grizelle berputar saat Mumunya sudah selesai menarik zipper di baju yang Ia kenakan. Grizelle mengenakan blouse berwarna hitam, dan juga midi skirt sebatas lututnya.
__ADS_1
Grizelle memilih sendiri sepatu yang akan Ia gunakan. dengan pintar ia mengambil sepatu casual berwarna senada dengan skirt yaitu mocca.
"Ini bagus ya, Mu?" Ia tetap meminta pendapat Mumunya yang langsung memberikan ibu jari.
"Bagus, cantik sekali anak Mumu,"
Grizelle tampil sangat perempuan saat ini sebab rambutnya diikat ke atas dan menggunakan skirt.
Saat akan keluar kamar, Ia baru ingat kalau ada yang kurang dari penampilannya.
"Jam tanganku dari kakek,"
Vanilla segera mengambilnya kemudian melingkarkan di pergelangan tangan putri cantiknya itu.
Grizelle menghampiri Kakeknya yang duduk di sofa bersama Keyfa.
"Ah ini Grizelle. Aku mau berpamitan dulu sebelum pulang,"
Keyfa tidak sopan bila langsung pulang belum izin dulu pada tuan rumahnya. Usai Keyfa pergi, Grizelle langsung mengajak kakeknya berangkat.
Thanatan berdiri dan ruas jemarinya langsung terisi dengan tangan-tangan mungil Grizelle.
Anak itu panit pada Mumunya terlebih dahulu. Kemudian Vanilla mengantar sampai Grizelle dan Thanatan masuk ke dalam mobil yang sudah ditunggui oleh seorang driver Thanatan.
Grizelle membuka jendela mobil untuk melambai pada Mumunya, "Bye, Mumu. Hati-hati di rrlumah (rumah) ya,"
"Iya, Sayang. Icelle baik-baik dengan Kakek ya. Jangan susah kalau diberi tahu. Kakek di sana harus bekerja. Okay?"
"Okay, Mu,"
Vanilla tersenyum, semoga saja Grizelle tidak melupakan semua pesan-pesannya. Tidak hanya 'okay' di rumah saja, Vanilla berharap sampai di sana nanti Grizelle menuruti apa yang Ia katakan.
Setelah roda mobil membawanya menjauh dari rumah, Grizelle menutup kembali jendela mobil kakeknya.
Thanatan menatap sebentar anak kecil di sampingnya ini. Grizelle sedang duduk tenang, menunduk memainkan jam tangan pemberiannya. Saat Grizelle mengangkat kepala dan menoleh padanya, Ia segera tersenyum.
"Kakek, aku pakai jam tangan darrli (dari) Kakek. Aku sangat menyukainya jadi serrling (sering) aku pakai,"
__ADS_1
Thanatan mengangguk dengan perasaan senangnya. Ternyata Grizelle benar-benar menggunakan barang pemberiannya bahkan masih mengakui kalau ia sangat suka dengan benda yang berguna untuk memberi informasi mengenai waktu.